/ Romansa / Di Ranjang Majikanku / 237. Ini Kamar Kita

공유

237. Ini Kamar Kita

작가: Keke Chris
last update 게시일: 2026-03-08 22:45:37

Pagi ini suasana terasa tak sehangat biasanya. Aura tidak nyaman jelas menggelayuti, tapi semua orang berusaha menyamankan diri.

Beberapa koper yang tadi berjejer di halaman rumah Bhaga, kini sudah dimasukkan ke bagasi oleh sopir pribadi Djati. Suara mobil yang dipanaskan terdengar hingga ke paviliun.

Bhaga berdiri di teras paviliun, memandang ke arah rumah utama. Di sampingnya, Binar diam, tangannya menggenggam erat jemari Bhaga.

"Mereka akan pergi," bisik Binar.

“Sepertinya iya."

"Kamu sedih?
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Di Ranjang Majikanku   257. Kelelahan

    Sudah sejak bangun tidur, kepala Binar rasanya berdenyut. Pusing hebat, tapi dia tak bilang pada siapa-siapa dan tetap melakoni rutinitasnya meski sesekali berhenti sejenak untuk meredakan nyeri yang kuat.Ini bukan pertama kalinya. Beberapa hari belakangan sejak jadwalnya mulai padat, dia tak bisa benar-benar istirahat. Dia bahkan bangun tidur dengan rasa pegal yang masih merayapi tubuhnya. Tidurnya kurang, makan tidak teratur, dan tak bisa lagi sekedar duduk santai untuk menjeda napas.Kopi tidak lagi membantu. Hanya menyisakan tambahan perih di perutnya.Dia bahkan masih menguap saat mengantarArdan ke mobil dan bersiap untuk kelas pertama pagi itu.Kesehariannya sudah berjalan dengan ritme yang sudah di luar kepala. Terlebih Ardan yang tiba-tiba rewel karena stegosaurusnya ketinggalan, hingga Binar harus mampir ke sekolahan anak itu untuk mengantar mainannya.Di dalam mobil, kepalanya masih berdenyut, tapi dia hanya memasang wajah datar. Tersenyum saat bertemu Ardan dan tetap bersi

  • Di Ranjang Majikanku   256. Terima Kasih, Sayang.

    Malam itu, setelah Ardan tidur, mereka duduk di teras. Bhaga memegang tangan Binar."Aku pasti tidak akan bisa jawab pertanyaan Ardan."Binar menoleh. "Kamu dengar?""Aku dengar." Bhaga menggenggam tangannya lebih erat. "Aku tidak akan bisa jawab sejelas kamu."Binar diam." Aku... aku tidak akan bisa melakukan itu."Binar memegang balik tangannya. "Kamu bisa. Hanya butuh sedikit kesabaran."Bhaga tersenyum getir. "Mungkin."Mereka diam sebentar. Angin malam berhembus, dingin."Aku sering marah pada Celia," kata Bhaga akhirnya. "Bahkan sampai sekarang. Marah karena dia meninggalkan Ardan. Marah karena dia menyakitimu. Marah karena dia... membuat semua ini jadi begitu rumit."Tak ada sahutan."Tapi kamu bilang dia sakit. Bukan jahat." Bhaga menatap langit. "Aku tidak pernah memikirkannya seperti itu. Aku selalu melihatnya sebagai pilihan.""Kadang sakit juga pilihan."Bhaga menoleh."Tapi bukan pilihan yang dia buat dengan sadar." Binar menatapnya. "Aku tidak membenarkan apa yang Celia

  • Di Ranjang Majikanku   255. Pelakor

    Pelakor.Kata itu masih menggantung di udara, meskipun Ardan sudah tidak lagi memikirkannya. Tapi Binar tahu, untuk anak seusianya, kata-kata seperti itu bisa masuk lebih dalam dari yang kita kira.Malam itu, setelah Ardan tidur, Binar masih duduk di meja makan. Sisa-sisa camilan sore belum dibereskan. Gelas susu Ardan masih di tempatnya, dengan sisa putih di dasar.Bhaga masuk. Duduk di sebelahnya."Mereka bilang pelakor," kata Binar sebelum Bhaga bertanya. "Ardan dengar dari ibu-ibu di sekolah."Bhaga diam. Tapi rahangnya bergerak."Aku sudah jelaskan ke Ardan," lanjut Binar. "Dia paham.""Kamu jelaskan bagaimana?"Binar menatapnya. "Bicara apa adanya saja."Tapi cerita sore itu tidak selesai di meja makan. Dan Bhaga, yang berdiri di balik pintu dapur saat itu, masih mengingat setiap kata.Sore itu, setelah Ardan bertanya, setelah kata pelakor keluar dari mulut anak enam tahun itu, Binar tidak panik.Dia duduk di samping Ardan, satu tangan merangkul bocah itu, tangan satunya di atas

  • Di Ranjang Majikanku   254. Isi Surat Celia

    Tak seperti biasanya, pagi ini Ardan berangkat sekolah dengan riang. Dia sibuk berceloteh tentang banyak hal kepada Maryam sambil sesekali melompat kecil ketika berjalan ke arah mobil."Bi, Ardan bawa gambar semalam ke sekolah. Bu Guru pasti suka."Maryam hanya tersenyum, menanggapi dengan jawaban singkat, menggandeng tangan kecil itu menuju halaman depan.Setelah mobil yang mengantar Ardan keluar gerbang, Maryam menyusul keluar dengan mobil lain untuk berbelanja, dan pelayan di rumah sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.Rumah utama hanya berisi Bhaga dan Binar, dengan amplop putih yang semalaman mengganggu pikiran mereka berdua.Bhaga duduk di meja makan.Amplop itu sudah di depannya sejak tadi, diletakkan agak ke tengah meja. Tangan kanannya terus memegang cangkir kopi hitam, tapi tak juga meminumnya.Binar duduk di sebelahnya. Menyesap teh hangat dalam diam.Tidak ada yang berbicara dulu. Lalu Bhaga mengambil amplop itu.Dia membukanya dengan rapi. Tidak disobek. Lalu dik

  • Di Ranjang Majikanku   253. Perdebatan Kecil

    Bhaga keluar dari ruang kerjanya. Dua jam lebih dia di sana sejak setelah makan malam. Tidak. Dia tidak bekerja. Hanya duduk dengan layar komputer yang mati, memikirkan isi surat itu.Celia selalu penuh dengan akal bulus dan licik. Bahkan di saat dia sudah bersalah dan terpojok, dia masih berani melakukan kejahatan baru tanpa memikirkan risiko jangka panjangya. Dan ini adalah tentang Ardan, dia tak mau kejadian terakhir yang menimpa putra tunggalnya itu terulang lagi. Sudah cukup. Tapi bagaimana pun, Celia tetap ibu dari anaknya.Dia harus segera memutuskan.Rumah sudah sunyi, ketika dia melangkah menyusuri tiap ruang.Ardan sudah tidur sejam lalu. Binar sendiri yang menidurkannya malam ini, sambil membacakan cerita sampai bocah itu terlelap di tengah buku. Para pelayan sudah istirahat setengah jam yang lalu. Lampu-lampu rumah utama sudah dimatikan sebagian, hanya menyisakan lampu sudut di ruang keluarga yang temaram, membuat bayangan-bayangan lembut di dinding.Binar duduk di sofa.S

  • Di Ranjang Majikanku   252. Surat Celia

    Pesan dari Rudi itu masuk ke ponsel Bhaga tepat saat lift baru saja naik.[Pak, ada surat dari RSJ Grahasia. Dari Bu Celia, ditujukan untuk Ardan. Saya taruh di meja Bapak.]Bhaga membaca dengan wajah datar, tapi hatinya berdebar sedikit lebih cepat.Lift terus naik, hingga akhirnya denting dan pintu yang terbuka, membuat Bhaga menghela napas. Dia memasukkan ponselnya dan melangkah menuju ruangannya.Lorong yang biasanya terdengar suara lirih beberapa karyawan, kini begitu sepi. Dia tak menoleh atau menjawab semua sapaan, hanya diam dengan wajah kaku dan menatap lurus ke depan.Dia masuk begitu saja ke ruangannya. Tak lagi mencari kopi atau meletakkan tas, tangannya langsung bergerak mencari surat yang dimaksud begitu langkah cepatnya berhenti di depan meja kerjanya.“Untuk Ardan Anakku Sayang.” Bhaga membacanya dengan suara lirih.Tulisan tangan Celia.Bhaga duduk di kursinya, memegang amplop itu, tapi dia tidak membukanya. Hanya menatap, tapi dadanya seperti kena hantaman benda kera

  • Di Ranjang Majikanku   73. Serangan Cinta di Pagi Hari

    “Tidak!” jerit Binar dan bangun terduduk dengan napas tersengal. Tubuhnya dibanjiri keringat dingin dan kegelisahan masih memeluknya erat. Bhaga yang terkejut akan jeritan itu turut terbangun. “ Kenapa, Sayang?” Binar masih mengatur napasnya. “ Aku mimpi buruk. Celia dan Kevin kembali menyiksaku.

    last update최신 업데이트 : 2026-03-22
  • Di Ranjang Majikanku   80. Benih Yang Tumbuh

    Bhaga menatap laporan yang diberikan Rudi, jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme tenang. "Apa yang sebenarnya kalian tutupi?” ucapnya dengan lirih. Rudi memandang Bhaga dengan ragu. “Pak, salah satu perawat yang merawat Nyonya Celia mengatakan mendengar pembicaraan tentang Nona Binar.” Dia b

    last update최신 업데이트 : 2026-03-22
  • Di Ranjang Majikanku   74. Saling Menjatuhkan

    Bhaga melangkah dengan cepat menuju ruangannya, menampikkan pandangan semua orang terhadapnya. Beberapa sapaan hanya dijawabnya dengan anggukan kecil. Dia benar-benar dalam suasana hati yang buruk. Di belakangnya, Rudi berjalan sama cepatnya dalam diam. Dia tahu, atasannya akan meledakkan amarahny

    last update최신 업데이트 : 2026-03-22
  • Di Ranjang Majikanku   75. Aku Butuh Kamu

    Ardan masih gemetar ketakutan di pelukan Nurma. Pelukan itu terasa dingin, karena Nurma sendiri masih terguncang oleh konfrontasi dengan Bhaga. "Nggak papa, Sayang, Papamu cuma lagi… banyak pikiran," bisik Nurma, menepuk punggung kecil cucunya. "Ardan belum makan siang. Makan dulu ya, Sayang."Ard

    last update최신 업데이트 : 2026-03-22
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status