LOGINBibir Binar mencebik seperti anak kecil. Matanya berkaca, wajahnya memerah menahan emosi yang campur aduk. Dia masih terdiam di ambang pintu mobil, mengerjab tak percaya dengan apa yang terlihat di depan matanya.Di sana. Seseorang yang tak pernah dia sangka akan bertemu, berdiri dengan senyuman lebar dan wajah semringah. Berdiri merentangkan tangan sambil terus memanggil namanya, tapi kaki Binar terasa lunglai hingga tak mampu untuk melangkah mendekat, justru hampir jatuh andai dia tak berpegangan pada pintu mobil.“Binar, kamu tak apa-apa?”Pertanyaan itu keluar dengan penuh kekuatiran, tapi bukan pemilik suara yang kini berlari mendekat. Justru pria kecil dengan ransel dinosaurus yang bergerak memantul di punggungnya, sedang berlari dan menerjang Binar ke dalam pelukan. “Bunda.”Satu tangan Binar menangkap tubuh kecil kesayangannya itu dan tangan lainnya berpegangan pada pintu mobil karena limbung ketika dipeluk erat oleh Ardan dalam keadaan belum siap.Anak itu memeluk erat. Kedu
Mobil berjalan cukup kencang, meninggalkan area kampung kelahiran Binar. Beberapa kali dia menoleh ke jendela belakang, berharap ada yang mengejarnya atau apalah. Tapi tak ada sama sekali, ibunya tadi bahkan tak terlihat kuatir atau menangis meneriakkan namanya.Dia menghela napas kasar, mengangkat tangannya yang masih memegang plastik berisi bawang merah. Dengan muka tertekuk, dia mendesah berat dan mengambil tangan pria di sampingnya lalu menyerahkan plastik bawang itu dengan kasar.Pria itu hanya melirik, membuka jendela lalu melemparkan bawang itu keluar begitu saja.“Itu aku beli pakai uang ya, malah dibuang.” Dumal Binar, walau sebenarnya dia tak peduli.Binar duduk kaku di jok tengah, terapit dua pria yang badannya kaku tegap. Udara dingin dari AC mobil menusuk kulit, berbaur dengan aroma pengharum mobil setelah tak ada lagi aroma bawang. Di depan, ada sopir dan seorang pria lagi yang hanya diam menatap lurus ke jalan.Dia sebenarnya agak bingung, karena pria-pria itu tak meluk
Di kantor, Bhaga menghela napas lelah. Maryam baru saja melaporkan apa yang terjadi di rumahnya dan dia tak ingin memikirkan hal itu.Dia justru langsung meraih ponsel dan menekan nomor Binar. Jari-jarinya bergerak cepat, tak sabar ingin segera mendengar suara Binar. Begitu panggilan tersambung, dia tidak menunggu lama. Tidak ada basa-basi atau salam."Sayang?""Iya. Kamu apa kabar? Ardan gimana? Udah berangkat sekolah?" Suara Binar langsung terdengar cemas di ujung telepon."Baik. Aku dan Ardan baik, dan dia udah berangkat tadi.""Kalian ... masih marah ya sama aku?" Suara Binar memelan, terdengar sedih dan berat."Sepertinya Ardan masih belum terima," jawab Bhaga pendek. Dia memijat pangkal hidungnya. "Dia masih diam. Jarang bicara dan belum mau membahas soal kamu."Di seberang sana, Binar tidak menjawab. Bhaga hanya mendengar hembusan napasnya dan isak kecil. Sepertinya Binar sedang berusaha keras untuk tidak menangis."Maafin aku ya ..." akhirnya Binar bicara, tangisnya pecah di u
Celia kembali berkeliling, menyisir setiap sudut rumah dengan ketenangan yang mengerikan. Langkahnya teratur, matanya awas mencari setiap jejak keberadaan perempuan itu. Dalam hatinya dia terus mengumpat, ternyata Binar sudah menguasai semua sudut rumah itu bahkan sampai ke hati penghuninya.“Perempuan sialan.”Tangannya mengambil pigura di ruang makan. Di sana ada Binar dan Ardan sedang memasak bersama, Ardan memakai celemek yang terlalu besar dengan noda tepung di hidungnya. Detik berikutnya, turun dari dinding dan masuk tempat sampah.Selanjutnya, pigura di lorong bawah. Foto keluarga yang tampak formal, Bhaga, Binar, dan Ardan berpose di depan rumah ini, Ardan berdiri di tengah sambil menggandeng tangan keduanya. Bernasib sama, dilempar masuk tempat sampah.Kemudian, foto kecil di rak buku. Dengan pigura sederhana yang memperlihatkan Binar sendirian. Kelihatannya foto itu diambil oleh Ardan karena sudutnya miring ke bawah, menangkap senyum tulus Binar dari mata seorang anak kecil.
Celia masih mencibir dengan wajah yang menyebalkan. Dia tak lagi memperhatikan Ardan, terutama setelah ada Maryam yang mendekat dengan langkah ragu. Wajah tua pengurus rumah itu kelihatan kaku, setelah mendengar tentang penjabaran Celia tentang "babu" barusan, jelas sekali dia kehilangan segan dan kenyamanan.Tanpa suara, tangan Maryam dengan cekatan merapikan letak kancing seragam Ardan yang berantakan dan menyisir rambut anak itu dengan sigap.Celia melirik malas ke arah Maryam sekilas, lalu nada ketus pelan menusuk keluar. "Mereka itu bersikap baik ya buat apa lagi kalau bukan karena uang.""Tapi Bunda Binar yang kasih tahu Ardan banyak hal," sela Ardan. "Soal Mama juga. Waktu Ardan tanya kenapa Mama sibuk terus dan nggak mau ngurusin Ardan, kata Bunda Binar ... Mama lagi belajar buat jadi lebih baik."Celia mendengus, melipat tangan di dada. "Sok tahu banget.""Ardan juga diajarin Bunda Binar buat doain Mama Celia," tambah Ardan polos.Celia berdecak kesal. Kalimat itu justru memb
“Jangan bicara macam-macam? Ih, suka-suka aku lah, Bhaga!” Celia terus mencibir meski Bhaga sudah tak terlihat lagi.Dia masih berdiri di halaman, berkacak pinggang, gumaman ketus terus keluar dari bibir berpemulas merah menyala itu. Senyum manis yang tadi dipajangnya langsung menyeringai licik begitu mobil Bhaga benar-benar hilang dari belokan jalan. Wajahnya berubah masam dan berdecak kesal.Matanya melirik ke arah pintu rumah yang masih tertutup. Di dalam sana, ada semua yang dulu pernah menjadi miliknya, sebelum dia kehilangan segalanya. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku-kuku panjangnya menekan telapak tangan.Namun, ekspresi masam itu langsung berubah menjadi ramah nan ceria begitu mendengar pintu depan terbuka.Ardan muncul dari sana, sudah memakai seragam sekolah tapi belum rapi karena kerah bajunya miring ke kiri, dan rambutnya masih mencuat berantakan di beberapa bagian. Di tangannya, dinosaurus kecil setia menemani, meskipun sudah waktunya berangkat sekolah.“Mama!”“He







