MasukSore itu Nurma tiba-tiba saja menelepon ke rumah Bhaga. Semua sedang sibuk dengan urusannya masing-masing dan Maryam yang menerima panggilan itu.Seperti biasa, Ardan adalah hal pertama yang ditanyakan. Setelahnya keadaan rumah dan kesehatan Bhaga. Dan Maryam menjawab semua dengan jujur."Iya, Nyonya. Den Ardan sehat. Minggu lalu baru saja mengadakan piknik kecil di halaman belakang rumah dengan beberapa teman sekolahnya.""Piknik? Siapa yang urus?""Non Binar dengan Tuan Bhaga, Nyonya. "Nurma diam sebentar di ujung telepon. Maryam tidak menyadari keheningan itu sebagai sesuatu yang salah. Dia kembali melanjutkan ceritanya, karena Nurma bertanya lagi, "Apa-apa saja yang disiapkan?"Maryam bercerita dengan detil tentang acara kecil itu dan Nurma mendengarkan dengan suara yang masih terdengar ramah.Lalu Maryam menyebutkan sesuatu yang membuat Nurma terdiam lebih lama."Tuan besar juga beberapa kali datang dan bicara dengan Non Binar di ruang kerja, Nyonya. Dan belakangan Non Binar dis
Matahari masih cukup tinggi, saat Bhaga memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Dia pulang dengan wajah tanpa beban, tak seperti hari-hari sebelumnya. Kakinya melangkah dengan ringan ketika masuk ke dalam rumah, dan menyaksikan kebersamaan yang selalu dia sukai.Binar dan Ardan sedang duduk di karpet ruang keluarga, tenggelam dalam potongan mainan puzzle bergambar dinosaurus. Potongan-potongan kecil tersebar di antara mereka, dan keduanya begitu antusias dalam merangkai gambar itu, sampai tidak menyadari kedatangan Bhaga.Ardan sangat serius, dia kadang sampai mengernyit, dan menggigit bibirnya. Sedangkan Binar di sampingnya, begitu sabar membantu menemukan potongan yang tepat.Bhaga melewati ruang keluarga sambil menyapa keduanya, membuat Binar mengangkat kepala. "Besok aku mau ke toko buku sama Ardan. Jam dua siang."Bhaga berhenti. Sejenak dia menatap Binar, lalu mengangguk. "Oke.""Aku akan hubungi Hendra."Sedetik. Mata Bhaga berkilat lega dan menahan senyuman. "Baiklah."Dia lanj
Dua hari terlewat tanpa ada yang lagi membahas tentang hari itu. Seolah semua sudah baik-baik saja, tapi ada yang berubah.Bhaga menghabiskan waktu lebih lama di meja makan. Dia makan dengan lebih lambat, membuka ponsel di sana, bahkan terkadang sembari membalas beberapa pekerjaan.Pria itu selalu teratur, dia melakukan semua sesuai tempat dan waktunya.Binar sempat melirik dan memperhatikan beberapa kali, tapi dia tak mengubris. Mungkin memang belum ada hal penting di kantor, atau pria itu hanya mau menghabiskan waktu lebih lama bersama Ardan.Namun, saat Ardan sudah berangkat ke sekolah, Bhaga masih di rumah. Hanya duduk sambil sibuk dengan ponselnya.Binar membereskan piring. Dari dapur, dia melihat Bhaga berdiri, mengambil jas, menyampirkannya di lengan, lalu duduk lagi. Dia mengernyit, apa yang dilakukan Bhaga sebenarnya?Jam delapan kurang lima, Bhaga berdiri. Menghampiri Binar, mencium kening dengan cepat dan pergi tanpa kata. Binar hanya diam sambil menatap punggung itu menjau
Binar tidak bisa tidur tenang. Beberapa kali dia terbangun dan berusaha untuk tidur lagi.Pintu kamar terbuka. Binar tidak bergerak. Matanya terbuka, menatap ke arah jendela yang tertutup. Pikirannya ke mana-mana. Memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang.Dia tidak menoleh, dan mendengar langkah Bhaga masuk. Pria itu berhenti sebentar. Binar merasakan tatapan di punggungnya. Lalu langkah itu bergerak ke kamar mandi.Pintu kamar mandi tertutup. Suara air menyala.Menit terlewati, dan sekarang, suara air berhenti. Pintu kamar mandi terbuka.Langkah Bhaga keluar kembali terdengar, kini suara pintu lemari. Ada benda ringan yang terjatuh, lalu langkah itu menjauh dari ranjang.Binar menahan napas.Langkah itu berhenti. Sofa.Binar mendengar tangan Bhaga menepuk pelan bantal di sofa. Lalu suara tubuh besarnya duduk, berbaring. Binar menahan sejenak, merasakan sesak, tapi dia tetap diam.Dia berbaring menatap gelap, mendengarkan suara detak jam dinding di kamar yang sunyi. Binar menutu
Suasana terasa begitu canggung. Meja makan yang biasa berisi obrolan ringan dan ramai dengan celotehan Ardan, malam ini begitu sepi. Hanya ada denting piring dan sendok, juga helaan napas Ardan yang makan dengan malas.Mata Ardan berulang kali menatap ke arah Bhaga dna Binar, dan mukanya sedikit merengut.“Papa sama Bunda lagi berantem ya? Kok pada diem aja, sih, dari tadi?”Binar tersentak kecil, dia melirik Bhaga sesaat yang tetap datar dan fokus pada makanannya, lalu menoleh pada Ardan. “Enggak kok, Sayang. Papa cuma lagi kecapean aja.”Ardan mengangguk, lalu menatap Bhaga dengan serius. “Tadi aku jatuh, Pah, pas kejar burung merpati.”Bhaga melirik tajam ke arah Binar, mendengkus kecil, dan berdeham pelan. “Burung sudah pasti akan terbang saat merasa terancam, Nak. Otak punya sistem sendiri, saat merasa akan sesuatu yang berbahaya dia akan memerintahkan tubuh untuk berlindung.”Binar tersedak kecil dan tangannya dengan cepat meraih gelas minumnya dan meminumnya rakus.Ardan turun
Tak terasa sudah dua jam mereka bermain di taman. Matahari semakin terik dan keringat sudah membasahi pelipis keduanya.Ardan baru saja berhenti menangis karena terjatuh setelah mengejar burung merpati yang tak bisa dia tangkap. Lututnya merah, beruntung tidak sampai berdarah, hingga dia bisa berhenti menangis lebih cepat.Keduanya memutuskan membeli es krim dari penjual yang sejak tadi tidak berhenti dikerumuni orang-orang. Mereka duduk di bangku di bawah pohon besar, makan es krim sambil beristirahat sejenak. "Bunda.""Hm.""Kalau dinosaurus masih ada, mereka suka es krim tidak?""Tergantung dinosaurusnya.""T-Rex?""Mungkin lebih suka kamu daripada es krimnya."Ardan berkedip cepat, memproses kalimat itu. Lalu pindah duduk lebih dekat ke Binar.Binar menahan tawa sambil terus menikmati es krim.Melihat Ardan sudah kelelahan, Binar akhirnya menelepon sopir untuk menjemput mereka dan sekarang sedang berhenti di supermarket.Ardan mendorong troli kecil dengan wajah serius, mengamati
“Kak Bin, Ardan nunggu Kak Bin dari tadi,” Ardan menarik Binar masuk, melewati ketegangan di ruang tamu.Binar tak enak masuk begitu saja melewati Nurma dan Selene, tapi tak bisa berbuat banyak saat Ardan dengan semangat menarik lengannya.“Ardan, ada Tante Selene di sini, ayo sapa dulu,” kata Nurm
Uap panas tipis sedikit menutupi tubuh Binar dan Bhaga di dalam bilik shower. Mereka saling meraba dan saling mencumbu.Tangan Bhaga yang nakal itu bergerak di antara paha Binar, sementara tangan lainnya melingkari pinggangnya agar tak jatuh.Kenikmatan dari permainan jari Bhaga membuat tubuh Binar
“Astaga! Kalian ini ngapain sih, sampai Selene jatuh begini!” omel Nurma.Bhaga membantu Selene duduk di sofa setelah memapahnya dari taman belakang.“Maryam, ambilkan salep dan es batu,” titah Bhaga tegas. Maryam di sudut ruangan mengangguk patuh dan pergi melaksanakan perintah.Nurma menatap taja
Kecanggungan jelas terasa sangat kuat di dalam bilik ruang gawat darurat itu. Binar sudah sadar tapi bibirnya tetap merapat sejak tadi. Hanya diam dan melihat kosong, sesekali melirik Bhaga dan perempuan itu. “Jadi, calon istri saya kenapa, Dok?” tanya Bhaga serius. Selene terkikik geli. “Calon i







