Início / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 272. Terima Kasih, Papi.

Compartilhar

272. Terima Kasih, Papi.

Autor: Keke Chris
last update Data de publicação: 2026-04-08 23:19:24

Hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu.

Ardan sudah naik ke kamarnya, ditemani oleh Sari. Langkah kecilnya yang semakin tak terdengar, membuat ketegangan semakin meningkat di tengah keheningan itu.

Tak ada yang membuka suara lebih dulu. Beberapa kali mereka beradu tatap dengan beragam emosi, tapi keduanya msih tetap diam.

Binar duduk di kursi seberang. Tidak terlalu jauh, masih bisa mendengar bahkan bila Nurma berbisik sekalipun. Jarinya sesekali saling meremat di atas meja, dia gugup, tapi
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
MahaRaanie
makasih dah update ya thorr,ditunggu kelanjutan nya...
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Di Ranjang Majikanku   273. Tidak Pernah Sebaik Ini

    Bhaga menuruni tangga dengan santai. Dia baru menyelesaikan sisa pekerjaannya dan sekarang ingin makan malam. Tapi saat tiba di bawah, dia mengernyit.Kenapa sepi sekali? Tanyanya dalam hati. Rasanya tadi Binar sedang bermain bersama Ardan, tapi kemana semua orang sekarang.Kepalanya menoleh, menyisir seluruh ruangan dan benar-benar hening. Dia kemudian melangkah ke meja makan dan duduk di sana, menunggu."Selamat sore, Tuan.""Bi." Bhaga menumpukan tangan di atas meja. "Ardan?""Di kamarnya. Sebentar lagi mungkin akan turun juga." Maryam menjeda. Tangannya meremas ujung apron. "Em, Tuan … Nyonya Nurma, beliau tadi datang dan baru saja pulang."Bhaga menegakkan tubuhnya.“Nona Binar sepertinya masih di depan, mengantar beliau pulang.”Dia mendongak dengan cepat, menatap wajah Maryam yang pias."Mengapa tak ada yang memberitahukanku?!"Maryam menunduk sedikit. “Nyonya Nurma yang melarang, karena kedatangannya memang untuk berbicara dengan Nona Binar.” Dia terdiam sesaat. “Mohon maaf, T

  • Di Ranjang Majikanku   272. Terima Kasih, Papi.

    Hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu.Ardan sudah naik ke kamarnya, ditemani oleh Sari. Langkah kecilnya yang semakin tak terdengar, membuat ketegangan semakin meningkat di tengah keheningan itu.Tak ada yang membuka suara lebih dulu. Beberapa kali mereka beradu tatap dengan beragam emosi, tapi keduanya msih tetap diam.Binar duduk di kursi seberang. Tidak terlalu jauh, masih bisa mendengar bahkan bila Nurma berbisik sekalipun. Jarinya sesekali saling meremat di atas meja, dia gugup, tapi bisa menguasai diri.Nurma menatapnya. Mendengus dan matanya menyisir tiap inci dari Binar. “Kamu terlihat lebih terawat.” Nadanya penuh dengan cibiran. “Ya, Baguslah. Setidaknya enggak terlalu memalukan.”Binar menatap balik. Tidak tersenyum berlebihan. Tapi tak ada kalimat pembelaan atas sekedar jawaban basa basi. Dia masih setia menunggu, inti dari apa yang ingin Nurma sampaikan.Nurma menarik napas panjang dan melepaskannya dengan cepat. Seolah membuang segala apa yang dia rasakan sejak tad

  • Di Ranjang Majikanku   271. Kedatangan Nurma

    Tak ada yang tahu Nurma akan datang ke rumah Bhaga malam itu. Nurma tidak menghubungi siapa pun sebelum datang, dia pergi secara impulsif karena terpicu oleh rasa penasaran.Mobilnya terparkir di halaman rumah Bhaga saat hari mulai malam. Sopirnya baru saja turun, berniat untuk membukakan pintu, tapi Nurma sudah berjalan duluan. Saking terburu-burunya, dia tak mengganti pakaiannya dan masih mengenakan sandal rumah. Tak ada barang lain yang dibawanya kecuali tas yang kini ada di genggamannya. Dia mengetuk pintu dan Maryam yang membukakannya dengan wajah yang sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum ramah. “Nyonya Besar,” sapanya. “Silakan masuk.” “Dimana semua orang?” Tanya Nurma saat dia melangkah masuk. “Sedang di ruang makan, Nyonya. Bersiap untuk makan malam. Mari saya antar, Nyonya.” Tangan Nurma terangkat. “Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Maka, Maryam pun sedikit membungkuk dan undur diri dari sana. Nurma melangkah dengan langkah cepat. Dari dalam terdengar suara tawa

  • Di Ranjang Majikanku   270. Nurma Penasaran

    Sore itu Nurma tiba-tiba saja menelepon ke rumah Bhaga. Semua sedang sibuk dengan urusannya masing-masing dan Maryam yang menerima panggilan itu.Seperti biasa, Ardan adalah hal pertama yang ditanyakan. Setelahnya keadaan rumah dan kesehatan Bhaga. Dan Maryam menjawab semua dengan jujur."Iya, Nyonya. Den Ardan sehat. Minggu lalu baru saja mengadakan piknik kecil di halaman belakang rumah dengan beberapa teman sekolahnya.""Piknik? Siapa yang urus?""Non Binar dengan Tuan Bhaga, Nyonya. "Nurma diam sebentar di ujung telepon. Maryam tidak menyadari keheningan itu sebagai sesuatu yang salah. Dia kembali melanjutkan ceritanya, karena Nurma bertanya lagi, "Apa-apa saja yang disiapkan?"Maryam bercerita dengan detil tentang acara kecil itu dan Nurma mendengarkan dengan suara yang masih terdengar ramah.Lalu Maryam menyebutkan sesuatu yang membuat Nurma terdiam lebih lama."Tuan besar juga beberapa kali datang dan bicara dengan Non Binar di ruang kerja, Nyonya. Dan belakangan Non Binar dis

  • Di Ranjang Majikanku   269. Cium Yang Banyak

    Matahari masih cukup tinggi, saat Bhaga memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Dia pulang dengan wajah tanpa beban, tak seperti hari-hari sebelumnya. Kakinya melangkah dengan ringan ketika masuk ke dalam rumah, dan menyaksikan kebersamaan yang selalu dia sukai.Binar dan Ardan sedang duduk di karpet ruang keluarga, tenggelam dalam potongan mainan puzzle bergambar dinosaurus. Potongan-potongan kecil tersebar di antara mereka, dan keduanya begitu antusias dalam merangkai gambar itu, sampai tidak menyadari kedatangan Bhaga.Ardan sangat serius, dia kadang sampai mengernyit, dan menggigit bibirnya. Sedangkan Binar di sampingnya, begitu sabar membantu menemukan potongan yang tepat.Bhaga melewati ruang keluarga sambil menyapa keduanya, membuat Binar mengangkat kepala. "Besok aku mau ke toko buku sama Ardan. Jam dua siang."Bhaga berhenti. Sejenak dia menatap Binar, lalu mengangguk. "Oke.""Aku akan hubungi Hendra."Sedetik. Mata Bhaga berkilat lega dan menahan senyuman. "Baiklah."Dia lanj

  • Di Ranjang Majikanku   268. Pengawal Baru

    Dua hari terlewat tanpa ada yang lagi membahas tentang hari itu. Seolah semua sudah baik-baik saja, tapi ada yang berubah.Bhaga menghabiskan waktu lebih lama di meja makan. Dia makan dengan lebih lambat, membuka ponsel di sana, bahkan terkadang sembari membalas beberapa pekerjaan.Pria itu selalu teratur, dia melakukan semua sesuai tempat dan waktunya.Binar sempat melirik dan memperhatikan beberapa kali, tapi dia tak mengubris. Mungkin memang belum ada hal penting di kantor, atau pria itu hanya mau menghabiskan waktu lebih lama bersama Ardan.Namun, saat Ardan sudah berangkat ke sekolah, Bhaga masih di rumah. Hanya duduk sambil sibuk dengan ponselnya.Binar membereskan piring. Dari dapur, dia melihat Bhaga berdiri, mengambil jas, menyampirkannya di lengan, lalu duduk lagi. Dia mengernyit, apa yang dilakukan Bhaga sebenarnya?Jam delapan kurang lima, Bhaga berdiri. Menghampiri Binar, mencium kening dengan cepat dan pergi tanpa kata. Binar hanya diam sambil menatap punggung itu menjau

  • Di Ranjang Majikanku   99. Sentuh Aku Di Sini

    Binar mengangguk dan mulai menggambar pola abstrak di dada Bhaga dengan jarinya. Bhaga menangkap jari itu dan berbisik. “Menungginglah.” Binar menuruti perkataan Bhaga dan terkesiap saat Bhaga mengusap tubuh bagian belakangnya dengan sedikit meremas.Bhaga kembali menarik pinggangnya dan tangan

    last updateÚltima atualização : 2026-03-24
  • Di Ranjang Majikanku   85. Pertahanan Terakhir

    Celia terbaring tak berdaya di atas kasur sutra. Dia berulang kali mendengus kesal. “Bhaga sialan, dia kembali mengurungku.” Dia mengusak rambutnya dan menjerit frustrasi. Rasanya setiap sudut kamar megah itu menyempit, mencekiknya. Di beberapa sudut kamar, lensa kamera mengintip tak henti-henti

    last updateÚltima atualização : 2026-03-23
  • Di Ranjang Majikanku   94. Gerak-Gerik Mencurigakan

    Binar semakin tertekan. Setiap pagi dia akan mual muntah dan kehilangan tenaga. Lemas sampai siang, sedangkan otaknya masih harus terus dipakai untuk berfikir dari mana lagi uang untuk membiayai ayahnya. Uang tabungannya sudah terkuras habis, sedangkan uang dari Bhaga untuk keperluan hariannya tak

    last updateÚltima atualização : 2026-03-24
  • Di Ranjang Majikanku   90. Jangan Siksa Aku, Sayang

    Suara cecapan bibir mengisi halaman belakang yang senyap.Bibir Bhaga dengan liar mencari bibir Binar, dan tak butuh aba-aba untuk memulainya. Ciuman itu panas. Tangan Binar meremas lengan Bhaga, menyalurkan rasa tak percaya. “Haahh…!” desah Binar saat akhirnya ciumannya terlepas. Wajahnya memerah

    last updateÚltima atualização : 2026-03-23
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status