Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 5. Pembantu Kurang Ajar

Share

5. Pembantu Kurang Ajar

Author: Keke Chris
last update Last Updated: 2025-09-30 10:20:43

Binar membeku. Seluruh tubuhnya kaku, terpaku pada sensasi keras dan panas yang menekan bagian belakang tubuhnya. Dia bahkan menahan napas saat bisa rasakan kedutan samar dari benda keras itu.

Gerakan halus itu mengingatkannya pada malam ketika dia tidak sengaja melihat Bhaga di kamarnya, memuaskan dirinya sendiri.

Pipi Binar langsung membara, dan jantungnya berdetak kencang di dadanya. Degup yang saling berkejaran dengan milik Bhaga yang menempel di punggungnya. Ini debar takut, bingung, atau…?

Bhaga juga tidak bergerak. Napasnya berat di dekat telinga Binar. Dia tampak terperangkap dalam momen itu, dalam kedekatan yang tak semestinya ini.

“Jangan bergerak,” bisik Bhaga dengan suara rendah di telinga Binar yang memerah.

Binar bisa merasakan Bhaga menggerakkan pinggulnya perlahan, menggesek badannya pada Binar dengan gerakan yang hampir tak kentara.

Apa ini? Batin Binar kebingungan. Anehnya, badannya terasa panas. Binar menggigit bibir, menahan desah yang hampir lolos.

“Kak Bin... aku haus.”

Suara rengekan dari lorong menyelamatkan situasi canggung mereka berdua.

Mereka berdua langsung menjauh. Bhaga mundur dua langkah, wajahnya tegang menahan malu. Binar perlahan berjalan menyamping dengan wajah merah padam.

"S-Saya urus Tuan muda Ardan dulu, Tuan!" ucap Binar tanpa berani menoleh, lalu melesat keluar ruangan.

Dia menemukan Ardan berdiri di lorong dengan mata berkaca-kaca, memeluk boneka robot. Binar segera menggendongnya. Saat dia membalikkan badan, dia melihat Bhaga berdiri di pintu ruang kerjanya, dengan wajah yang masih tegang.

“Selamat malam, Tuan,” ucap Binar dengan mengangguk sopan sebagai perpisahan.

Bhaga hanya mengangguk singkat, lalu membalikkan badan dan menutup pintu ruang kerjanya dengan agak keras, meninggalkan Binar sendirian dengan Ardan yang masih mengantuk.

Ada campuran rasa di hati Binar. Dia sendiri tak mengerti, tapi perasaan itu membuat tubuhnya terasa penasaran. Dia menggelengkan kepala dan mengatur napas. Tangannya mengelus punggung Ardan pelan.

Setelah membantu Ardan minum, Binar membawanya kembali ke kamar dan menidurkannya untuk kedua kali.

Saat menatap bocah itu tertidur, rasa bersalah menyergapnya. Binar baru saja berbagi momen yang sangat tidak pantas dengan ayah dari anak yang sedang dirawatnya.

Suami dari seorang wanita yang meski menyeramkan, adalah nyonya rumahnya. Dia hanyalah seorang pembantu.

**

Pagi harinya, Binar memandikan Ardan seperti biasa. Saat menyabuni punggung kecil itu dia bertanya dengan hati-hati. “Tuan muda, kalau sama mama sering main bersama?”

Ardan menggeleng, mainan bebek karet bergerak berenang sesuai dengan gerakan tangannya. “Mama sakit,” jawabnya tanpa beban.

"Sakit? Sakit apa, Tuan muda?"

"Pipi mama selalu merah, kayak Ardan kalau demam. Terus kadang mama muntah di kamar mandi. Papa bilang mama sakit, jadi enggak boleh ganggu. Papa juga jadi suka marah karena mama sering sakit," jelas Ardan.

Binar mengerti. Ardan mengira ibunya yang mabuk sebagai penyakit. Dan amarah Bhaga yang dilihatnya adalah akibat dari "penyakit" itu. Pemahaman polosnya menyayat hati Binar.

Masih ada beberapa hal yang mengusik Binar, tapi dia merasa bukan Ardan yang tak sanggup jawab, melainkan hatinya yang tak sanggup menanggung rahasia. Maka, dia fokus menyelesaikan sesi mandi itu dengan cepat.

Saat mereka turun untuk sarapan, Bhaga sudah duduk di meja makan, membaca tablet. Dia tidak menyapa, tetapi ketika Binar menyuapi Ardan, dia berkata tanpa menatap, "Ardan sudah bisa makan sendiri. Jangan manjakan dia terlalu berlebihan."

Binar terkejut. "Tapi, Tuan—"

"Biarkan dia belajar mandiri," potong Bhaga, akhirnya menatapnya. Tatapannya tajam, tapi akhirnya Binar paham.

"Baik, Tuan," jawab Binar lembut. Dia meletakkan sendok dan tersenyum pada Ardan. “Tuan muda kan sudah besar. Walau makan sendiri, kakak tetap menemani di sini.” 

Binar menyerahkan sendok pada Ardan dan membiarkannya mulai mencoba menyuapi sendiri.

Awalnya Ardan ragu, tapi akhirnya mau mencoba walau masih sering berjatuhan makanannya.

Bhaga mengamati sebentar, lalu meletakkan tabletnya. "Ayo, Boy. Pegang sendoknya seperti ini," ujarnya, tiba-tiba berdiri dan membetulkan genggaman Ardan.

Itu adalah momen langka di mana Bhaga menunjukkan sisi kebapakan yang lembut, dan Binar terpesona. Dia sampai lupa berkedip.

Tetapi detik berikutnya, dia sadar dan memalingkan muka. Binar mundur sedikit, berdiri di belakang Ardan. Membiarkan momen itu dinikmati oleh keduanya.

Setelah itu, Bhaga berangkat kerja dengan wajah masih dingin, tetapi sempat melirik Binar sebentar sebelum pergi.

Tak lama kemudian, Celia pulang.

Dia masuk dengan langkah terhuyung-huyung, mengenakan gaun hitam ketat yang sudah kusut. Riasan wajahnya berantakan, lipstik memudar di sekitar bibir, eyeliner-nya menghitam di bawah mata. Aroma alkohol dan parfum tercium menyengat begitu dia melewati pintu.

"Bhaga! Di mana kamu?! Keluar!" teriaknya dengan intonasi tak jelas, tangannya sibuk melepas sepatu hak tingginya dengan kasar, dan melemparnya sembarang arah.

Para pelayan, termasuk Maryam, langsung menghilang ke belakang, menghindar jauh. Binar masih berdiri dengan Ardan di gendongannya.

"Kartu kreditku! Aku mau belanja! Dia berani-beraninya masih memblokirnya!" gerutu Celia entah pada siapa.

Dia menoleh. Matanya lalu jatuh pada Binar. "Kamu! Pembantu baru! Bilang pada majikanmu yang pelit itu untuk buka blokir kartuku! Sekarang!"

"Tuan sudah pergi ke kantor, Nyonya," jawab Binar dengan suara kecil, memeluk Ardan lebih erat.

Ardan memeluk leher Binar, ketakutan melihat ibunya marah-marah.

Celia menggerutu dan akhirnya berjalan cepat ke atas, ke kamarnya, sambil terus mengumpat. Tak lama, terdengar bunyi barang-barang yang pecah.

Binar tak mau ambil pusing. Dia memilih menenangkan Ardan dengan mengajaknya bermain.

Beberapa jam kemudian, menjelang petang, saat Binar menemani Ardan menggambar di ruang keluarga, Celia muncul lagi. Wajahnya masih merah, tapi dia sudah berganti baju tidur berbahan sutra. Meski terlihat lebih segar, tapi Binar tahu kalau wanita itu masih sedikit mabuk.

"Ardan, sayang Mama..." Celia mendekat dengan langkah sempoyongan dan mencoba memeluk Ardan.

Ardan ketakutan dan menjauh, bersembunyi di balik punggung Binar.

Celia cemberut, dia mencebik manja. Lalu berpura-pura memasang wajah sedih dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu harus bantu Mama, ya, Sayang. Papa kamu sengaja enggak menafkahi Mama dan mau mengurung Mama di sini. Bilang ke Papa kamu untuk buka kartunya, ya? Bilang kalau Papa itu jahat.”

Tangan Ardan semakin keras meremas pakaian Binar.

Hati Binar seperti diremat kuat saat mendengarnya. "Nyonya, tolong. Jangan. Tuan muda masih kecil. Dia tidak seharusnya—"

"Jangan ikut campur, kamu!" potong Celia dengan suara melengking. Dia mencoba meraih lengan Ardan. "Dengar Mama, Ardan."

Binar dengan spontan melangkah, menghalangi Celia dan dengan lembut menjauhkan Ardan. "Nyonya, dia hanya anak-anak. Ini bukan urusannya. Mari saya antar Nyonya kembali ke kamar."

Wajah Celia yang tadinya lembut menatap Ardan, kini berubah marah dengan mata membara. Penolakan dan perlindungan Binar terhadap Ardan dianggapnya sebagai pembangkangan. “Pembantu kurang ajar!”

"Beraninya kau menghalangiku dari anakku sendiri?”

Sebelum Binar bisa bereaksi, tangan Celia yang penuh cincin sudah melayang dengan cepat dan keras.

PLAK!

Tamparan itu mendarat di pipi Binar dengan suara yang kencang, meninggalkan bekas merah dan rasa perih juga nyeri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rna 1122
pasti ni celia swlingkuh di luar sana
goodnovel comment avatar
Fauzila Handayani Damanik
ga jelas ini celia.. ibu kok gitu Ama anaknya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   224. Perlahan Kembali

    Daniel ditarik pergi. Para staf yang berkumpul di luar berbisik-bisik.“Ternyata biang keroknya Pak Daniel.”“Jangan lupa juga si Alya yang sok seksi itu.”“Iya. Sukurin, sekarang mereka berdua dijebloskan ke penjara.”“Biar pun kena skandal terus, tapi Pak Bhaga tetep keren.”Mereka terkikik bersama, tapi segera bubar saat Rudi melirik mereka.Kini, di ruang rapat dewan komisaris, suasana tegang namun penuh kelegaan. Para pemegang saham utama duduk di kursi mereka dengan wajah tenang. Beberapa di antaranya adalah yang kemarin makan siang dengan Daniel, dan kini terlihat menyesal.Pak Herman, membuka suara. "Bhaga, kami minta maaf. Kami hampir saja terhasut oleh Daniel. Kami tidak tahu dia sejahat itu."Bhaga duduk di kursi kepala, wajahnya datar. "Tidak perlu minta maaf. Yang penting sekarang kita fokus pada masa depan perusahaan.""Kami sudah mendengar tentang rencana tender di Kalimantan. Apa yang bisa kami bantu?"Bhaga tersenyum tipis. "Saya butuh dukungan penuh. Dan saya butuh k

  • Di Ranjang Majikanku   223. Dijemput Polisi

    Di dalam restoran, Daniel duduk terpaku. Para pemegang saham mulai memandangnya dengan curiga. Satu per satu mereka pamit, meninggalkan Daniel sendirian di meja.Ponselnya berdering. Alya."Bagaimana?" tanyanya.Daniel menghela napas. "Dia datang. Dengan bukti.""Apa?! Dia tahu?""Dia tahu semuanya. Tapi dia tidak melaporkan ke polisi. Dia hanya minta aku mundur."Alya diam. Lalu, "Apa yang akan kau lakukan?"Daniel tersenyum tipis. Menyeringai licik. "Aku tidak akan mundur. Aku akan menghancurkan dia, apapun caranya. Dan kau akan membantuku.""Aku akan selalu siap.""Temui aku malam ini. Kita susun rencana baru."Telepon ditutup. Daniel menatap ke luar jendela, ke arah Bhaga yang sedang masuk ke mobil. Di matanya, ada api kebencian yang tak akan padam."Ini belum selesai, Bhaga."**Malam semakin larut ketika Daniel dan Alya duduk berhadapan di ruang tamu apartemen mewah milik Daniel. Tumpukan dokumen berserakan di meja, laptop terbuka dengan deretan data.Alya dengan gaun merah yang

  • Di Ranjang Majikanku   222. Bergerak Sendiri

    Bhaga memutuskan untuk mengambil tindakan sendiri. Sebelum melaporkan Daniel ke polisi atau dewan komisaris, dia ingin mengonfrontasinya langsung. Mungkin masih ada cara untuk menyelesaikan ini secara internal.Dia menuju lantai tempat ruang kerja Daniel. Tanpa mengetuk, dia langsung membuka pintu.Daniel sedang duduk di kursinya, tersenyum melihat Bhaga masuk. Seolah sudah menunggu."Ah, sepupuku yang terhormat. Ada apa? Kehilangan tender lagi?" sindirnya, tidak berusaha menyembunyikan kepuasan.Bhaga menutup pintu, mendekati meja Daniel. Dia meletakkan flash drive Rudi di atas meja."Aku tahu semuanya, Dan. Semuanya."Senyum Daniel lesap sesaat, lalu berubah menjadi tawa. "Kau tidak tahu apa-apa, Bhaga.""Aku punya bukti.""Bukti?" Daniel berdiri, tangannya menekan ke meja dan mencondongkan badan. "Apa yang akan kau lakukan dengan bukti itu? Laporkan aku ke polisi? Hancurkan perusahaan yang sudah dibangun paman?” Dia berdecih, “Kau pikir pemegang saham akan senang tahu bahwa pemimpi

  • Di Ranjang Majikanku   221. Mulai Terkuak

    Matahari belum sepenuhnya muncul ketika Bhaga terbangun. Kedua matanya membuka dengan perlahan, disambut oleh langit-langit paviliun yang sudah akrab di penglihatan. Untuk beberapa detik, dia hanya terbaring diam, merasakan kehangatan tubuh Binar yang masih terlelap di pelukan.Malam tadi telah melepaskan sebagian besar kegelisahannya. Tapi saat kesadaran kembali, beban itu juga ikut kembali, membuatnya kehilangan kantuk sepenuhnya.Binar bergerak dalam tidurnya, membalikkan badan menghadap Bhaga. Wajahnya tenang, bibirnya sedikit terbuka, napasnya pelan dan teratur.Bhaga menatapnya lama, bersyukur pada alam semesta karena telah mempertemukannya dengan perempuan ini. Di tengah semua kekacauan, Binar adalah satu-satunya hal yang paling dia syukuri.Tak pernah mengeluh, menghakimi, hanya diam di sampingnya sambil memeluknya.Dukungan itu terasa begitu berharga.Dia mengecup kening Binar pelan, lalu dengan hati-hati melepaskan pelukannya. Bangkit, mengambil jubah tidur yang masih tersam

  • Di Ranjang Majikanku   220. Maaf Aku Membuatmu Lelah

    Ruangan rapat itu terasa seperti ruang eksekusi. Bhaga duduk di ujung meja panjang, dikelilingi oleh wajah-wajah yang menghindari tatapannya."Keputusan akhir jatuh kepada Mitra Sejati. Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasinya."Tepuk tangan menggema di ruangan. Bhaga tidak mendengarnya, pikirannya tiba-tiba kosong. Suara gemuruh ucapan selamat kepada perusahaan saingannya terasa bagai pukulan telak.Kalah. Lagi.Rapat usai. Satu per satu rekanan keluar, beberapa meliriknya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan, dan lainnya dengan rasa puas yang samar-samar disembunyikan.Bhaga tetap duduk di kursinya, mematung."Pak Bhaga?" suara Alya, memecah keheningan. "Ada yang bisa saya ...""Tidak." Suaranya menegaskan tak ingin diganggu. "Kau boleh pulang."Alya terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk dan pergi. Ruangan itu kini hanya milik Bhaga dan kekalahannya.Ponselnya bergetar."Pak, saya sedang berjalan ke sana,” ujar Rudi. Bhaga tidak membalas. Dia memutus panggilan, menghe

  • Di Ranjang Majikanku   219. Kekalahan Pertama

    Pintu ruang kerja Bhaga tertutup dengan cepat. Rudi yang sejak tadi mengekori Bhaga kini bisa melihat wajah bosnya lebih jelas.Rahang Bhaga mengeras, mata berkilat dengan kekecewaan. Tak ada suara yang keluar sejak mereka meninggalkan ruang rapat terakhir.Bhaga melempar map merah berisi dokumen tender ke atas meja. Map itu meluncur, menabrak tumpukan kertas lain, lalu jatuh ke lantai dengan suara gemerisik yang sayup.Dia tidak mengambilnya dan hanya berdiri di belakang kursi kerja, kedua tangan mencengkeram sandaran kursi, kepala menunduk."Kita kalah, Rud." Suaranya parau, seperti orang yang kehilangan tenaga. "Penawaran kita ditolak. Proyek itu jatuh ke tangan perusahaan lain."Rudi tertegun. Proyek itu adalah tender terbesar tahun ini. Proyek yang sudah mereka kejar selama enam bulan, menyusun proposal, melakukan lobi, membangun aliansi. Proyek yang seharusnya menjadi tiang penyangga keuangan perusahaan untuk dua tahun ke depan.Bagaimana bisa? pikir Rudi."Padahal kita sudah s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status