Share

Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku
Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku
Author: Ali

Bab 1

Author: Ali
Kaitlyn bersandar dalam pelukan Matthew sambil tersenyum, seolah menghiburku.

“Kami cuma lagi main-main. Kamu nggak akan cemburu, kan?”

Matthew juga mengusap rambut Kaitlyn.

“Sudahlah, nggak usah pedulikan dia, dari kecil dia memang nggak bisa diajak bercanda.”

Pada malam terakhir, mereka mendapatkan kartu gaun pengantin yang sama.

Aturannya, kedua orang itu harus mengadakan pernikahan dadakan.

Kaitlyn mengenakan gaun pengantin yang kubawa.

Matthew melepas cincin pertunanganku, lalu memasangkannya ke jari manis Kaitlyn.

Semua teman kami mengelilingi mereka sambil berseru,

“Cium, dong!”

Detik berikutnya, Matthew benar-benar menunduk dan menciumnya.

Saat semua orang sedang merayakan, aku membuka kotak misteri yang berisi kartu-kartu itu.

Kotak yang menjadi bagianku berisi kartu-kartu kosong.

Sementara kotak milik Matthew dan Kaitlyn dipenuhi kartu bergambar bulan, mawar, dan gaun pengantin yang sama.

Ternyata, bukan karena aku yang kurang beruntung.

Permainan ini memang sejak awal disiapkan khusus untuk mereka berdua.

Aku tersenyum, lalu menghapus semua undangan pernikahan digital yang telah kusiapkan sebelumnya.

Karena dalam perjalanan kami berenam saja, sejak awal tak pernah ada tempat untukku, maka dalam sisa hidupku kelak, aku juga tak perlu lagi menyisakan tempat untuk mereka.

Saat aku menghapus undangan pernikahan digital itu, tiba-tiba terdengar sorak sorai dari belakangku.

Setelah mencium Kaitlyn, Matthew melepaskan tangannya dari pinggang gadis itu.

Pipi Kaitlyn memerah, tetapi jemarinya masih bertumpu di bahu Matthew.

Seseorang yang masih belum puas berseru,

“Cium sekali lagi!”

Matthew tersenyum sambil memaki,

“Pergi sana.”

Namun, dia tetap tidak langsung menjauhkan Kaitlyn darinya.

Hingga setelah Kaitlyn melihatku, dia seolah baru teringat sesuatu.

Dia menundukkan kepala dan menyentuh cincin di jari manisnya.

“Reine, cincinnya tersangkut. Aku nggak bisa melepasnya.”

Dia mengangkat tangannya ke arahku, memperlihatkan cincin itu dengan nada polos dan tak berdosa.

“Semalaman ini aku pakai dulu, boleh?”

Cincin pertunangan itu diberikan Matthew kepadaku pada hari ulang tahunku.

Dia mengatakan bahwa cincin itu dibuat khusus sesuai ukuran jariku.

Namun sekarang, saat dikenakan Kaitlyn, cincin itu justru pas di jarinya.

Aku tidak membongkar itu, hanya mengangguk.

“Baiklah.”

Matthew melirikku.

Dia seperti tidak menyangka aku akan menyetujuinya semudah itu.

Dia mengernyit.

“Reine, jangan pasang wajah seolah-olah kamu yang paling tersakiti.”

“Mereka sudah sengaja meluangkan waktu buat ikut liburan bareng kita. Jangan cuma gara-gara permainan begini, kamu malah merusak suasana.”

Aku menatapnya.

“Aku nggak merusak suasana.”

“Kalau begitu, senyum, dong.”

Alvino sudah mengangkat ponselnya.

“Ayo, pengantin dadakan, lihat ke kamera.”

Yang lain segera berdesakan di sisi Matthew dan Kaitlyn.

Lima orang berdiri berjajar. Posisi mereka pas sekali.

Alvino menyerahkan ponselnya kepadaku.

“Reine, kamu paling jago memotret. Ambil beberapa foto lagi, ya.”

Aku menerima ponsel itu.

Mereka berdiri sangat berdekatan. Matthew berada tepat di tengah.

Kaitlyn mengenakan gaun pengantinku sambil menggandeng lengan Matthew.

Tiga orang lainnya berdiri mengelilingi mereka.

Seolah sedang berfoto bersama dalam sebuah pernikahan sungguhan.

“Reine.”

Matthew mendesakku dengan tidak sabar.

“Kenapa bengong?”

Aku tersadar, lalu mengambil foto mereka.

Satu, dua, belasan foto.

Tidak satu pun di antaranya ada aku.

Saat kami kembali ke hotel, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.

Awalnya, aku sudah memesan tiga kamar suite untuk dua orang.

Empat orang lainnya menempati dua kamar, sementara aku dan Matthew menempati satu kamar.

Namun, saat mengambil kartu kamar, Declan tiba-tiba mengumumkan sesuatu sambil tersenyum.

“Permainan tukar pasangan ini masih sisa dua belas jam.”

“Sesuai aturan permainan, Matthew harus menginap bersama Kaitlyn malam ini.”

Tanganku yang memegang kartu kamar seketika membeku.

“Sekamar juga aturan mainnya?”

Kaitlyn langsung menjelaskan seolah itu hal yang wajar.

“Kami cuma tidur di kamar yang sama, kok. Kamar suite juga ada dua tempat tidur.”

“Kami juga nggak akan melakukan apa-apa.”

Wajah Matthew langsung berubah muram.

“Di depan semua orang seperti ini, apa yang sebenarnya kamu takutkan?”

Aku menatapnya. “Terus aku tidur di mana?”

Mereka saling berpandangan.

Alvino menunjuk ke arah ujung koridor.

“Kamar Matthew dan Kaitlyn itu suite keluarga.”

“Di ruang tamu ada sofa yang bisa dipakai untuk tidur. Kamu tidur di situ saja, beres, kan?”

Dengan kata lain, aku harus tidur di luar kamar tunanganku dan sahabatku sendiri.

Mendengarkan suara pintu yang mereka tutup dan menunggu permainan dua puluh empat jam itu berakhir.

Tiba-tiba, aku merasa semua ini begitu menggelikan.

“Aku akan pesan kamar lain.”

Declan langsung mencegahku.

“Eh, jangan.”

“Harga semalam di sini sampai belasan juta rupiah. Buat apa buang-buang uang sebanyak itu?”

“Lagipula, kita semua tumbuh bersama sejak kecil. Kita semua sudah saling kenal satu sama lain, kan?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 10

    Dulu, aku sudah terlalu lama menunggu kalimat itu.Kalau saja dia mengatakannya lebih awal, saat pertama kali aku ditinggalkan.Saat pertama kali aku melihat mereka berlima berfoto bersama.Saat pertama kali aku menyadari bahwa ulang tahunku sendiri ternyata tidak sepenting air mata Kaitlyn.Mungkin saat itu aku masih akan kembali.Namun sekarang, aku hanya berkata dengan tenang, “Aku nggak perlu kamu berubah lagi.”“Mulai sekarang, siapa yang kamu cintai, siapa yang kamu pilih, dan dengan siapa kamu berdiri, semuanya sudah nggak ada hubungannya denganku.”Matthew menggenggam cincin itu erat-erat hingga lingkarannya menekan telapak tangannya.Sama seperti dulu, saat cincin itu melukai tanganku.“Kamu benar-benar sudah nggak mencintaiku lagi?”Aku terdiam sejenak.“Pernah.”Matanya sedikit berbinar.Namun detik berikutnya, aku menambahkan, “Tapi semua itu sudah terkikis oleh tujuh kartu kosong itu.”“Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya habis.”Matthew tidak langsung pergi. Dia tinggal

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 9

    Tiga bulan kemudian, Matthew akhirnya mendapat kabar tentangku.Aku pergi ke sebuah kota kecil di pesisir yang terletak di tepi laut.Aku bergabung dengan sebuah tim dokumenter dan bertugas merekam para perajin perempuan di daerah terpencil.Dia langsung bergegas ke sana malam itu juga, hingga akhirnya menemukanku di dekat sebuah dermaga tua.Aku mengenakan jaket tahan dingin, dengan rambut yang berantakan diterpa angin laut.Saat itu aku sedang memegang kamera dan merekam seorang lansia yang sedang menenun jaring.Matthew berdiri dari kejauhan dan memandangiku cukup lama.Untuk pertama kalinya, dia melihat diriku saat kamera tidak sedang diarahkan kepada mereka berlima.Aku sedang tersenyum.Bukan untuk menyenangkan siapa pun, juga bukan karena ada seseorang yang menyuruhku untuk tidak merusak suasana.Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah melihat senyum selepas itu dariku.Setelah selesai merekam, aku berbalik dan melihatnya. Senyum di wajahku perlahan memudar.“Kenapa kamu datang?”

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 8

    Selama seminggu berikutnya, Matthew mencari ke semua tempat yang mungkin kudatangi.Namun, tidak ada yang tahu ke mana aku pergi.Pesan-pesan yang dikirimkannya kepadaku pun berubah, dari perintah menjadi penjelasan.[Reine, pulanglah.][Soal permainan itu, aku bisa minta maaf.][Pernikahannya bisa kita adakan lagi.][Cincin itu bukan aku berikan ke Kaitlyn.][Aku sudah suruh dia mengembalikannya.][Asalkan kamu pulang, mulai sekarang kamu akan selalu ikut dalam setiap pertemuan.]Dia menatap kalimat terakhir itu cukup lama, lalu tiba-tiba merasa semuanya terdengar begitu menggelikan.Padahal, selama ini aku selalu ada.Merekalah yang tidak pernah benar-benar membiarkanku menjadi bagian dari mereka.Sekarang setelah aku pergi, dia baru bersedia memberiku satu tempat.Semua pesannya tetap tidak mendapat balasan.Pada hari kedelapan, Kaitlyn datang. Dia meletakkan cincin itu di atas meja, dengan mata yang merah dan bengkak.“Matthew, bukannya kita yang seharusnya bersama?”“Sebelum Reine

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 7

    Setelah pesawat mendarat, Matthew tidak pulang ke rumah, melainkan langsung menuju apartemenku.Kode pintunya sudah tidak berlaku.Dia mengetuk pintu cukup lama sebelum pemilik apartemen akhirnya naik dari bawah.“Cari Nona Reine? Dia sudah mengakhiri masa sewanya dari kemarin.”Wajah Matthew seketika membeku.“Dia pindah ke mana?”“Itu saya nggak tahu.”Pemilik apartemen itu menyerahkan sebuah kardus kepadanya.“Dia bilang, kalau kamu datang, kasih kardus ini.”Matthew segera menerimanya. Kardus itu terasa sangat ringan.Di dalamnya tersimpan semua barang yang selama ini pernah dia berikan kepadaku.Sebuah jam tangan yang sudah tidak lagi diproduksi, beberapa buku, dan sebuah sweter lama.Kamera yang pernah dia hadiahkan kepadaku juga ada di dalamnya.Kamera itu dibelinya pada tahun kedua hubungan kami. Saat itu, dia berkata, “Foto-fotomu bagus. Mulai sekarang, semua foto kami berlima serahkan saja ke kamu.”Saat itu, aku tidak menangkap ada yang aneh. Padahal, jumlah kami jelas enam

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 6

    Matthew membuka pintu kamar. Tempat tidur sofa di ruang tamu itu sudah kosong.Koperku juga sudah tidak ada.Dia tertegun sejenak, lalu tanpa sadar meraih kunci mobil.Namun, Kaitlyn memeluknya dari belakang.“Matthew, kamu mau ke mana? Reine cuma mau kamu kejar.”“Kalau kamu benar-benar pergi kejar dia, nanti setiap kali marah, dia akan mengancammu dengan pergi.”Gerakan Matthew seketika terhenti.Dulu, setiap kali aku menangis, Kaitlyn selalu mengatakan bahwa aku hanya berpura-pura mengasihani diri sendiri.Setiap kali aku marah, dia akan mengingatkan Matthew agar tidak memanjakanku.Oleh karena itu, setiap kali kami bertengkar, dia selalu menunggu sampai aku yang lebih dulu mengalah.Kali ini pun sama.Dia berdiri lama di ambang pintu sebelum akhirnya meletakkan kembali kunci mobil itu.“Benar juga. Biar dia tenang sendiri semalaman.”“Besok dia akan pulang sendiri.”Keesokan paginya, aku tidak kembali.Setelah melihat undangan digital yang sudah dihapus, akhirnya dia menelepon pere

  • Di grup Mereka Berlima, Tak Pernah Ada Aku   Bab 5

    Saat aku menyeret koper meninggalkan hotel, tawa dari teras masih belum berhenti.Matthew mungkin mengira aku hanya seperti yang sudah-sudah, bersembunyi dan menunggu dia membujukku.Ponselku bergetar. Ada pesan darinya.[Kalau sudah puas marahnya, pulanglah.]Beberapa menit kemudian, masuk satu pesan lagi.[Kaitlyn mabuk.][Obat pereda mabuk yang kamu beli ditaruh di mana?]Aku menatap kedua pesan itu cukup lama sebelum akhirnya mematikan ponsel.Ternyata, bahkan setelah aku pergi, hal pertama yang dipikirkannya bukanlah ke mana aku pergi.Melainkan apakah aku sudah menyiapkan obat untuk pereda mabuk bagi Kaitlyn.Saat tiba di bandara, masih tersisa empat puluh menit sebelum pesawat lepas landas.Aku menyelesaikan proses check-in dan menyerahkan koper terakhirku untuk dimasukkan ke bagasi.Selama tujuh tahun, entah sudah berapa kali aku membayangkan pernikahanku dengan Matthew.Seperti apa gaun pengantin yang kuinginkan, kata-kata apa yang akan kutulis di undangan, hingga warna apa ya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status