Share

Bab 2 

Author: Entari
Saat naik ke panggung, aku menerima video dan beberapa pesan dari Winny.

[ Tahu nggak? Pernikahan yang kamu persiapkan dengan susah payah itu nggak berarti apa-apa bagi Jancent. Itu cuma caranya ngambek sama aku. ]

[ Apa alasannya? Karena aku pergi ke kencan buta yang diatur sama keluargaku. Dia pikir aku akan menikah, jadi dia mau buat aku marah. ]

Dalam video itu, Jancent yang terengah-engah menggenggam tangan Winny. Dengan suara tercekat dan berlinang air mata, dia mengatakan bahwa untung saja Winny tidak kenapa-napa. Saat emosinya meluap, dia mulai mengungkapkan cintanya.

Kata-kata cinta itu tak pernah Jancent ucapkan kepadaku. Dia pernah mengatakan bahwa dia menganggap kata-kata seperti itu terlalu kekanak-kanakan.

Lihat saja, dia menolak mengucapkannya karena orang itu aku.

Aku tidak menonton video itu sampai habis karena harus naik ke panggung. Yang terjadi selanjutnya adalah tuduhan terhadapku yang mencapai sepuluh menit. Dia menuduhku tidak berperasaan karena mencegah mereka bertemu.

Jika pria dalam video itu bukan tunanganku, aku akan benar-benar berpikir akulah yang memisahkan mereka.

Terdengar suara pembawa acara yang menyadarkanku. Aku berhenti memutar video itu tanpa membalas. Tidak masalah. Semua itu tidak penting lagi sekarang.

Di ujung panggung yang dipenuhi bunga, berdiri seorang pria berperawakan tinggi yang mengenakan setelan putih bersih. Ekspresinya yang agak kewalahan langsung sirna begitu dia melihatku.

Namanya Zion. Dia adalah teman Jancent.

Ayahku yang duduk di kursi roda bersikeras menemaniku berjalan ke arah Zion.

Para tamu sangat diam. Tidak ada yang menyadari kejanggalan.

Sebenarnya, ini sangat ironis. Tidak ada satu pun kerabat Jancent yang muncul dalam daftar tamu. Jancent mengatakan bahwa kerabatnya jarang berkunjung dan orang tuanya sedang pergi ke luar negeri. Jadi, mereka tidak perlu diundang.

Aku mengajukan pernikahan ini dengan tergesa-gesa, sedangkan dia setuju dengan lebih tergesa-gesa lagi. Dia bahkan tidak bersedia menemui ayahku dulu.

Inilah alasan aku memanggil Zion kemari. Ayahku selalu terbaring di ranjang rumah sakit dan tidak pernah bertemu tunanganku. Jadi, aku baru bisa menutupi hal ini.

Resepsi pernikahan ini dibuat ringkas dan sederhana, karena kesehatan ayahku tidak memungkinkannya untuk bertahan lama di luar rumah sakit.

Zion dengan khidmat mengucapkan "aku bersedia" di depan semua orang. Kemudian, kami bertukar cincin. Para tamu bertepuk tangan dan upacara berakhir.

Kami mengantar ayahku kembali ke rumah sakit bersama. Ayahku diam-diam menyeka air matanya sepanjang perjalanan. Saat itu, aku berpikir dia hanya merasa enggan berpisah denganku.

Sampai Zion yang mengemudi dengan tenang sepanjang jalan tiba-tiba berbicara dengan sungguh-sungguh, "Paman, tenang saja, aku akan memperlakukan Claudia dengan baik seumur hidupku. Aku bersumpah demi hidupku."

Ayahku menggenggam tanganku erat-erat. Dia tersenyum dan mengangguk.

Setelah tiba di rumah sakit, kondisi ayahku memburuk. Mendengar katanya yang terputus-putus pada saat-saat terakhirnya, hatiku terasa seperti ditusuk pisau tajam.

Saat itu, aku baru mengetahui bahwa Jancent telah bertemu ayahku setelah meninggalkan belakang panggung. Untuk membalas "kekejaman"-ku, dia memberi tahu ayahku bahwa dia adalah mempelai pria dan akan melarikan diri dari pernikahan. Sementara itu, putrinya tidak akan pernah menemukan suami yang baik lagi.

Jadi, alasan ayahku diam-diam menyeka air matanya sepanjang jalan adalah karena dia tahu semuanya. Begitu bertemu dengan ayahku, Jancent langsung memberinya pukulan telak.

Pada akhirnya, masalah tetap timbul. Aku telah berjanji untuk membiarkan ayahku pergi tanpa penyesalan.

Air mata jatuh di punggung tangan ayahku yang menggenggam erat tanganku. Zion yang dari tadi diam di sampingku tiba-tiba bergerak. Dia berlutut dengan satu lutut.

"Ayah, tenang saja. Aku mencintai Claudia. Aku bukan lagi temani dia berakting, ini bukan lelucon. Aku akan selalu melindunginya."

Ayahku mengangguk dan tersenyum tenang. "Aku bisa melihatnya .... Tapi, Claudia sudah ditindas. Ayah nggak bisa lagi melindunginya atau membelanya ...."

Zion melanjutkan dengan suara berat, "Ayah, ada aku. Aku akan buat semua orang yang menindasnya merasakan akibatnya."

Aku mendongak dan menatap Zion dengan terkejut.

Ponsel dalam tasku tiba-tiba berdering. Yang menelepon adalah Jancent. Ekspresi Zion tiba-tiba berubah dingin. Dia langsung menggantikanku menolak panggilan itu.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dia Meninggalkanku di Altar Demi Cinta Pertamanya   Bab 8 

    Akibat dikendalikan secara sengaja, trending topic itu bertahan selama sebulan. Reputasi Jancent dan Winny sudah sepenuhnya hancur. Sementara itu, Grup Setiawan berada dalam keadaan kacau dan di ambang kehancuran.Aku menjalani kehidupan yang nyaman. Zion menyenangkanku dengan berbagai cara setiap hari sehingga aku tidak punya waktu untuk memperhatikan semua ini.Namun, suatu hari saat makan, aku merasa mual dan muntah hebat. Kami berdua menyadari ada sesuatu yang salah dan bergegas ke rumah sakit."Selamat, kalian akan segera menjadi orang tua." Mendengar ini, aku merasa sedikit linglung. Suara Zion terdengar lebih bergetar lagi di belakangku.Saat kami meninggalkan ruang pemeriksaan, dia menyuruhku duduk di kursi dan berlutut di sampingku. Kemudian, aku baru menyadari matanya sudah sangat merah."Jelas-jelas, kita sudah ambil tindakan pencegahan. Melahirkan sangat menyakitkan. Aku takut kamu kesakitan. Kalau nggak, kita gugurkan saja ...." Aku segera menutupi perutku. "Nak, jangan

  • Dia Meninggalkanku di Altar Demi Cinta Pertamanya   Bab 7

    Hari ini adalah kencan pertama resmiku dengan Zion.Sebelum ini, setelah terus bertanya, aku akhirnya tahu bagaimana dia jatuh cinta padaku. Itu adalah kisah cinta pandangan pertama yang klise. Aku tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi padaku.Berhubung aku sudah punya pacar, apalagi aku adalah pacar temannya, Zion hanya bisa menyembunyikan perasaannya. Dia tidak tahan Winny mengejekku bodoh di belakangku, juga tidak terima aku selalu menjadi pihak yang dikelabui. Oleh karena itu, dia baru mengingatkanku.Alhasil, aku malah hampir berpikir bahwa dia adalah orang jahat yang ingin merusak hubunganku dengan Jancent. Untungnya, kami tidak melewatkan satu sama lain.Namun, kencan pertama ini tidak berjalan mulus. Saat suasana mulai hangat, ponselku berdering."Abaikan saja."Namun, ponselku tidak berhenti berdering. Berhubung khawatir itu mungkin hal penting, aku meminta maaf kepada Zion dan mengangkatnya.Terdengar suara yang agak familier dari ujung telepon. Itu sepertinya adalah su

  • Dia Meninggalkanku di Altar Demi Cinta Pertamanya   Bab 6

    Jancent menggeleng dengan kuat. Dia berjalan mendekatiku dan mencoba meraih tanganku, hampir dengan sikap seperti ingin menyenangkanku.Aku mundur beberapa langkah untuk menghindarinya. Tangannya pun membeku di udara."Claudia, aku ... aku cuma nggak bisa kesampingkan egoku. Sebenarnya, selama ini, aku terus memikirkanmu. Saat bangun tidur, aku teringat setelan jas yang kamu setrikakan untukku, kotak bekal yang kamu buat dengan penuh kasih sayang, semua hal kecil yang kamu tangani untukku ....""Aku nggak bisa hidup tanpamu. Aku sepertinya benar-benar nggak bisa hidup tanpamu. Aku nggak punya perasaan seperti itu waktu bersama Winny, cuma waktu sama kamu. Hari itu, waktu Zion jawab telepon dan aku dengar suara yang sangat familier di ujung telepon, aku rasa itu pasti kamu. Waktu itu, aku merasa jantungku hampir berhenti berdetak.""Aku nggak bisa terima. Aku nggak mau kamu yang awalnya milikku malah jadi milik orang lain. Aku pikir kamu akan tunggu dan menunduk padaku selamanya. Maaf,

  • Dia Meninggalkanku di Altar Demi Cinta Pertamanya   Bab 5 

    Di pagi hari, aku dibangunkan oleh dering telepon. Itu adalah nada dering ponsel Zion.Aku meraba ponsel itu dan tanpa sengaja menekan tombol jawab. Panggilan itu sudah tersambung. Aku menyerahkan telepon itu kepada Zion dengan suara yang masih terdengar mengantuk."Zion, ini teleponmu. Cepat jawab ...." Tiba-tiba, terdengar suara marah seseorang dari ujung telepon."Sialan, ternyata benar-benar kamu! Claudia, buka pintunya! Kamu bahkan tidur dengan temanku .... Bangsat!" Kemudian, aku mendengar serangkaian ketukan keras di pintu.Suara Jancent sangat nyaring hingga menembus pintu kedap suara."Claudia, buka pintunya! Zion, aku anggap kamu teman, tapi kamu malah tidur dengan wanitaku! Buka pintunya!" Ketukan itu makin keras dan rasa kantukku sudah sirna.Begitu Zion membuka pintu, Jancent langsung menerobos masuk. Dia tidak bercukur, matanya merah, dan wajahnya terlihat lesu.Dia terlebih dahulu meraih pergelangan tanganku. Wajahnya penuh dengan amarah."Claudia, pantas saja kamu ng

  • Dia Meninggalkanku di Altar Demi Cinta Pertamanya   Bab 4

    "Zion! Apa-apaan kamu!"Jancent sangat marah, tetapi tidak bisa melepaskan diri.Andre memimpin sekelompok orang untuk melerai perkelahian itu. Begitu Andre mendekat, Zion langsung meninjunya juga.Winny duduk lemas di kursi, terlalu takut untuk bergerak. Air mata menggenang di matanya."Kak Zion ...."Zion tiba-tiba menyela ucapannya, "Diam. Aku nggak punya adik yang begitu munafik dan manipulatif."Jancent juga melayangkan pukulan, tetapi berhasil dihindari Zion."Sialan! Jangan ngomong begitu ke Winny!"Winny terlalu takut untuk berbicara lagi.Dari sudut pandang ini, aku bisa melihat wajah Zion dengan jelas. Aku menyadari ekspresinya menjadi makin dingin. Tiba-tiba, aku merasa ingin menghiburnya. Jadi, aku meletakkan tabletku dan mematikan suara di tempatku sebelum menghubungi nomornya.Nada dering yang familier terdengar dari panggilan video.Zion langsung melepaskan Jancent. Ekspresinya melembut saat menjawab telepon. Suaranya yang dalam dan memikat terdengar dari ujung telepon.

  • Dia Meninggalkanku di Altar Demi Cinta Pertamanya   Bab 3 

    Sebenarnya, aku juga sedang bertaruh ketika memanggil Zion datang. Kami tidak terlalu dekat. Dia hanya berkali-kali memperingatkanku untuk jangan selalu tertipu oleh Jancent. Dia memberitahuku bahwa Winny adalah teman yang tumbuh besar bersama Jancent dan hubungan mereka tidaklah sederhana. Apalagi motif Jancent bersamaku, itu lebih tidak murni lagi. Aku menganggapnya sebagai upaya untuk menebarkan perselisihan dan memutuskan untuk menjauh dari orang seperti itu. Tak disangka, semua yang Zion katakan benar dan dia bersedia melakukan hal sejauh ini untukku. Aku benar-benar tidak pernah berpikir bahwa dia dan Jancent akan berubah menjadi musuh. Namun, aku merasa itu mungkin hanya sekadar omong kosong. Bagaimanapun juga, keluarga mereka sudah menjalin hubungan selama beberapa generasi dan memiliki banyak kerja sama bisnis. Berselisih secara terang-terangan akan terlihat sangat buruk.Akan tetapi, aku sudah sangat berterima kasih pada Zion. Ayahku meninggal dengan tenang, dengan senyum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status