LOGIN"Wow!" seru Arsen fantastis. "Aisha, ternyata kamu sehebat itu, ya." Arsen memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Aisha. Aisha sontak langsung berbuat sedikit salah tingkah ketika dirinya harus dielu-elukan di depan mata sendiri.Sambil menutupi eskpresi wajah dengan malu-malu, Aisha lantas berujar, "Eh, Dokter Arsen, Pak Galang, saya nggak sesempurna yang Anda berdua katakan.""Sudahlah, Aisha. Akui saja kehebatan kamu ini," tegas Galang seraya mengibaskan satu tangan di depan wajah Aisha.Di tengah mereka, Arsen pun menahan senyum takjub sambil geleng-geleng kepala. Sementara Aisha, gadis itu menautkan telapak tangannya sambil tersenyum kikuk."Baiklah, Aisha. Persiapkan diri kamu. Lima belas menit lagi, saya akan kembali ke sini, mengajak kamu untuk mengikuti observasi neurologi ringan siang ini."Arsen undur diri sejenak. Pria itu harus mengoordinasikan tenaga kerja yang bersangkutan untuk mempersiapkan ruangan yang dibutuhkan agar bisa kondusif untuk ruangan belajar Aisha.A
"Pak Galang, stop!"Merasa tidak tahan lagi, Aisha akhirnya mengatakan kalimat itu. Begitu mendengar seruan seperti demikian, Galang langsung menghentikan ucapannya dengan ekspresi rumit."Saya baik-baik saja, Pak," aku Aisha sambil tetap tersenyum seperti biasa."Sekarang, kita makan siang dan istirahat dulu. Satu jam lagi, kita harus menyelesaikan agenda berikutnya." Aisha berusaha mengingatkan dosennya dengan lugas dan realistis agar pria itu tidak semakin salah mengartikan.Galang tak lagi mengeluarkan argumennya. Bagaimanapun, ego sebagai seorang dosen dalam diri pria itu merasa cukup tersentil ketika Aisha mengingatkannya.Tapi untungnya, pria itu cukup sadar dan malu sendiri. Aisha sampai menegurnya karena memang dirinya yang sudah over protektif dan kehilangan kendali.Satu jam pun telah berlalu dengan cukup efektif. Aisha merasa lebih baik setelah mendapat waktu yang cukup untuk beristirahat. Agenda berikutnya kini telah berada di depan mata. Lobi rumah sakit Valemont Med
"Hah?!" Aisha mengerjap tak menyangka."Bertindak aneh-aneh gimana maksudnya, Pak?" tanya gadis itu sambil mengernyit. Dia benar-benar tak mengerti terkait apa yang Galang bicarakan.Bukannya menjawab dengan jelas, Galang justru bersikap seperti sedang bermain tebak-tebakan.Pria itu malah menghela napas kasar sambil menyentuh kepalanya. Ekspresi pria itu pun bertambah lesu tanpa Aisha ketahui apa sebabnya."Aisha, kamu jangan pura-pura nggak tahu." Galang berbicara dengan sangat pelan ketika dua rekannya masih sibuk mengurus urusan lain.Pria itu bahkan celingukan ke sana ke mari, seperti memastikan kedua rekannya tak mengetahui bahwa dia sedang bercakap-cakap dengan Aisha.Kening Aisha semakin berkerut dalam. Dia ingin bertanya apa maksud dari pembicaraan Galang. Namun, sebelum gadis itu angkat bicara, sang dosen telah berujar lagi."Aisha, kemarin kamu bilang, kamu dijemput sama teman, 'kan?" tanya Galang, masih dengan suara yang berbisik. Mata pria itu juga masih sibuk mengawasi
"Dia sahabat aku sejak kami SMA," jawab Cakrawala. "Kalau kamu belajar di sana, pasti akan lebih mudah karena kamu adalah istri aku. Dokter Arsen pasti akan membantu kamu dengan senang hati."Aisha hanya mengangguk samar ketika Cakrawala selesai menjawab."Sini." Aisha mengambil alih gelas dari tangan Cakrawala. Perlahan-lahan, gadis itu menyeruput jus alpukat hingga tersisa setengah gelas.Cakrawala yang melihat itu, tentu saja merasa senang. Senyumnya tampak semringah saat berkata, "Enak, 'kan?"Alih-alih menjawab, Aisha justru mengedikkan bahu, dan malah mendekatkan gelas ke bibir Cakrawala."Coba sendiri," kata Aisha dengan alis mata yang bergerak naik turun."Hm." Cakrawala meneguknya sampai nyaris habis."Enak," aku pria itu, sambil membusungkan dada dengan bangga.Aisha hanya tersenyum cuek. Lalu, dia menghabiskan sisa jus alpukat hingga tandas.Begitu memandang gelas yang telah kosong di waktu yang sama, Cakrawala langsung tersenyum canggung.Sementara Aisha, dia malah membuan
"Kamu percaya diri banget sih!" Aisha berseru dengan raut wajah tak peduli ketika memutar badan dan menatap Cakrawala dengan intens.Cakrawala mengerjapkan mata perlahan. Dia nyaris tak percaya dengan sikap Aisha yang bisa sefrontal ini."Kenapa kamu bisa yakin kalau jus alpukat itu aku yang buat? Kalau yang buat orang lain, gimana?"Aisha kembali bersuara dengan emosi yang meluap. Beberapa hari ini, hormon menstruasi memang membuat suasana hatinya sering memburuk.Cakrawala masih bertahan di posisinya. Pria itu tetap berdiri tenang dan tak goyah sedikit pun. Meski Aisha sudah bersikap dingin padanya, tapi Cakrawala dapat melihat ketidaksesuaian di kerling mata sang istri tercinta.Pria itu tahu jika Aisha bersikap demikian bukan murni atas kemauan hatinya, melainkan karena ego dan suasana hati yang lapar, lalu menuntutnya untuk bersikap demikian."Aisha, apa kamu tahu tentang naluri cinta?" Cakrawala tetap mempertahankan senyumnya yang tulus. Dia menatap Aisha dengan begitu fokus.S
"Akhirnya, jus spesial buatanku untuk Aisha sudah siap!"Cakrawala berjingkat kegirangan begitu mesin blender telah berhenti berdengung. Dengan penuh semangat, pria itu mengambil gelas cantik dan nampan kecil. Pelan-pelan, dia mulai menuangkan cairan hijau muda itu ke dalam gelas hingga habis."Ya, aku harus bisa memperbaiki keadaan kacau yang aku buat sendiri," gumamnya ketika kedua tangan pria itu telah disibukkan membawa nampan kecil berisi segelas jus alpukat.Tanpa menunggu lagi, Cakrawala pun segera meluncur ke taman halaman rumah di mana Aisha berada.Begitu sampai di teras, Cakrawala langsung melihat sosok Aisha yang tengah berjongkok menghadap depan.Cakrawala mencoba tersenyum dengan natural. Setelah yakin dan merasa tenang, pria itu berjalan menuju bangku panjang taman, kemudian meletakkan jus alpukat di sana.Pria itu menegakkan punggung, seraya menghela napas pelan. Dia menggesek-gesekkan kedua telapak tangan agar hatinya lebih rileks."Aisha, kamu lagi ngapain?" tanya C
"Eh, maksudku ...." Cakrawala mengusap tengkuk. Dia kebingungan dalam menyederhanakan maksudnya.Aisha masih bersedekap dengan wajah garang, ekspresi wanita itu menuntut sang suami untuk menjelaskan semuanya hingga tuntas."Kamu ... kamu memang seorang wanita dari dulu, tapi aku belum pernah lihat
Pertanyaan dari seorang direktur senior memang terasa biasa, tapi nadanya tampak sedang menguji. Dan Aisha telah memahaminya.Aisha mengatupkan bibir. Dia membuka map dengan gerakan rapi, lalu menatap lurus pada sang lawan bicara.Gadis muda itu menahan napas beberapa detik, lalu menjelaskan, "Angk
"Em." Nihla ikut terhenti secara mendadak. Jantungnya terlonjak dengan ritme cepat saat dia menatap mata hitam Cakrawala yang terlihat dingin. Ada rasa harap yang menyala di kerling mata wanita muda itu."Tenangkan diri kamu dulu, Nihla," ucap Cakrawala rendah, menarik tangan Nihla untuk menggiring
"Apa?!" Aisha mengangkat wajah karena gerakan refleks dari rasa terkejutnya.'Ayah tahu aku diantar pulang oleh Pak Cakra?! Tapi Ayah memang nggak seperti orang yang baru bangun tidur. Apa Ayah mengawasi aku dari semenjak aku keluar mobil?' Pikiran Aisha berputar-putar, dia benar-benar tak punya ja







