LOGINTanpa Arsen duga, sosok yang sangat memenuhi ruang pikirnya tiba-tiba menghampiri, menatap matanya dengan pandangan menelisik.Sebelum itu, Cakrawala merasa jengah dan berniat ingin mencari udara segar. Dia memutuskan untuk keluar dari ruang rawat sejenak. Namun ketika baru saja berdiri dan memutar badan, pria itu menangkap tubuh Arsen yang telah berjalan menjauh beberapa langkah dari ruang rawat Aisha."Arsen, kenapa gerak langkahnya terlihat nggak seperti biasanya? Apa dia sedang sakit, atau berada dalam suatu masalah?" renung Cakrawala ketika terus melanjutkan langkah dan telah berada di luar ruang rawat. Dia mengerutkan kening, seraya terus mengikuti intuisinya untuk masuk ke ruang pribadi Arsen."Ck, ck, ck, luar biasa, Arsen!" seru Cakrawala sambil menepuk tangan dan menggelengkan kepala. Dia merasa tak habis pikir dengan tingkah sang sahabat yang agak lalai.Detik itu juga, Arsen sontak tertarik dan kelyar dari tabir lamunannya. Untuk sesaat, dia hanya bisa terdiam, lalu menol
Daphne mengatupkan bibir, lalu mendesah pelan. Wanita itu tak menyangka jika putri kecilnya yang baru saja beranjak dewasa, tapi sudah berhadapan dengan situasi yang mengancam nyawa. "Kenapa harus putri kecilku yang mengalami semua ini? Kenapa bukan aku saja yang sudah tua?" gumam Daphne pilu. Suaranya terdengar sangat tak memiliki daya.Saat itu, perawat wanita telah melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruang rawat. Namun ketika tak sengaja mendengar gumaman itu, dia tersenyum kecil, lalu membalikkan badan ke sumber suara."Nyonya, justru itulah keistimewaan putri Anda!" seru sang perawat wanita dengan ekspresi yakin.Daphne merasa sedikit terkejut dan membeku selama beberapa saat. Kala selesai menghela napas cepat, wanita itu menengok ke samping, menatap sosok perawat wanita yang sedang tersenyum dengan apa adanya."Yang diuji oleh Tuhan adalah manusia terpilih dan hebat. Putri Anda dipilih oleh Tuhan untuk mengalami ujian ini karena dia akan menjadi individu yang kuat dan bernilai
"Lalu, apa manfaat dari ini semua untuk mereka?" Daphne segera merespon dengan menyodorkan sebuah pertanyaan. Wanita itu berniat masuk semakin jauh ke pembahasan para muda-mudi di hadapannya, agar mereka tak sampai mencium aroma pernikahan dadakan Aisha dan bosnya. Lora langsung tersenyum simpul setelah mendengar pertanyaan dari Daphne yang memang tampak polos. "Bibi, tentu saja itu akan membuat mereka samgat puas," terang gadis itu, sambil memperagakan kemungkinan yang terjadi dengan kedua tangan yang bergerak lincah. Reya ikut merasa gemas sambil menahan senyum. Dia hanya bertolak pinggang, seraya mengamati Lora yang masih menjelaskan dengan menggebu-gebu. Sementara itu, Nate mengajak Elias dan Keenan untuk mencari udara segar dulu di luar, karena Bibi Daphne mereka sepertinya sudah lebih baik ketika mendapat penghiburan dari Lora dan Reya. "Baiklah." "Ya." Keenan dan Elias menanggapi ajakan Nate bersamaan, tapi dengan kata yang berbeda. Mereka bertiga pun memberi kode pada
"Apa?! Berita macam apa ini?" Daphne mengerutkan kening, lalu refleks menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan ketika baru saja melihat berita dari ponsel Reya.Dahi Reya ikut berkerut. Gadis itu merasa iba dengan respon Daphne yang terlihat kebingunan. Dia mendekap tubuh ibu sahabatnya itu dengan gerakan refleks."Bibi, tenanglah dulu." Lora ikut mendekat. Dia juga terlihat terpukul dengan semua yang telah terjadi pada Aisha, juga berita nyeleneh yang beredar, sehingga makin memperkeruh suasana. "Siapa yang membuat berita seperti itu? Bagaimana orang lain tahu jika Aisha telah kecelakaan, sementara aku yang ibunya saja baru mengetahuinya?" Daphne mengusap lengannya berkali-kali ketika dia mencoba berpikir dengan jernih.Tiga teman laki-laki Aisha tiba-tiba berdiri serempak. Nate, Elias, juga Keenan. Mereka saling pandang, hingga Keenan-lah yang akhirnya berjalan mendekati Daphne yang sedang ditenangkan oleh Reya dan Lora. "Bibi, saya adalah teman dekat Aisha sejak kecil." Keena
"Aisha, kapan kamu akan bangun?" Cakrawala membungkuk sedikit. Dia mengusap bahu sang istri lembut ketika hendak beranjak dari ruang rawat karena harus bekerja."Sayang, aku harus bekerja. Nanti akan aku kabari Ibu Daphne untuk menjaga kamu," ujar pria itu lagi.Dia mulai mengayunkan langkah ke depan, meski teramat berat dirasa olehnya. Sesekali, Cakrawala menoleh pada Aisha, seperti meyakinkan diri sendiri jika istrinya itu masih tetap di tempat dengan penuh keamanan.Cakrawala berjalan dengan tenang menyusuri koridor rumah sakit. Saat ini juga, dia berpapasan dengan Daniel.Anak buah Cakrawala itu terlihat seperti baru saja menjalani pemeriksaan. Terlihat jelas jika tangan kanannya memang sedikit cidera dan sedang dibungkus perban putih."Tuan, maaf, saya bahkan belum bisa menjaga Nyonya Aisha sesuai kesepakatan," ujar Daniel yang tiba-tiba bersimpuh di kaki Cakrawala. Cakrawala mengerutkan kening. Dia menunduk sedikit dan menatap Daniel yang memang terlihat sangat menyesal."Bangu
"Cakra, tetap saja aku lebih baik dari kamu!" tegas Arsen dengan senyum yang terlihat menusuk. Di kursinya, Cakrawala mengepalkan tangan."Apa maksud dia?" gumam Cakrawala, mengepalkan kedua telapak tangan kuat-kuat. Namun, dia tetap bertahan di tempat, tak menampakkan kemarahannya pada Arsen. Cakrawala menanti kelanjutan kalimat yang akan diucapkan oleh Arsen untuk menjatuhkan dirinya."Apa menurut kamu, aku ini pulang ke tanah air tanpa tujuan?" Arsen menepuk bahu Cakrawala, seolah dengan hangat, seperti tidak sedang berdebat."Hmh!" Cakrawala melipat tangan di dada, malas menanggapi. "Lalu apa kalau bukan tanpa tujuan?" tanya pria itu seketika. Arsen menimbang sejenak. Dia berjalan santai ke arah pintu, kemudian berujar, "Sangat menakjubkan. Jatuh cinta, ternyata bisa membuat seorang Cakrawala melupakan apa pun. Bahkan hari penting di hidupnya."Saat ini juga, Cakrawala langsung bereaksi. Pria itu menegakkan kepala, tercengang selama beberapa detik.Dia mulai memutar pikiran, hi
Menanggapi pertanyaan itu, Arsen sempat terkekeh kecil. Bukan karena lucu, tapi dia hanya merasa sangat ironis. "Cakra, aku hanya ingin tahu apa yang membuat kamu bisa jatuh cinta dan menikah, bahkan tanpa memberi kabar padaku?" Arsen maju selangkah. Rahang pria itu sedikit mengencang. "Jatuh cint
Puluhan panggilan tak terjawab telah memenuhi bilah notifikasi ponsel pria itu, membuat dua alisnya yang hitam pun berkerut secara bersamaan. Namun, dia tak lantas balik memanggil Cakrawala. Dia memeriksa pesan lokasi Cakrawala, dan ssgera melacak dengan cepat. "Ah, syukurlah. Tempatnya berada di
Pria itu baru saja menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, setelah hampir lima tahun menempuh pendidikan di luar negeri. Logat asing telah menggulung lidahnya tanpa sisa, tetapi tak lantas membuatnya lupa dengan tanah di mana dirinya dia dilahirkan.Dia merasa tak mengenal siapa pun, kecuali Cakr
"Satu ... dua ...." Daniel telah berhitung. Pria itu sedang mencari momen terakurat untuk sang nyonya besar kabur dari mobil kematian ini. Sementara untuk saat ini, mobil di dalam kendali Daniel masih meluncur liar di jalan raya. Meski Daniel telah mengetahui rem mobil yang telah tak berfungsi, pr







