Masuk"Lebih gila lagi, kamu mengajak kami ramai-ramai untuk berlibur ke Kota Elarion?! Aisha, kamu dan suamimu memang sudah terlewat segalanya!""Terlewat baik hati, terlewat kaya, pokoknya kalian benaran pasangan terbaik yang sama sekali nggak tanggung-tanggung dalam semua hal-hal yang baik."Karena terlalu menggebu-gebu dalam mengungkapkan kegembiraannya, Reya sampai lupa untuk bernapas.Gadis itu sampai terengah-engah dan hampir pingsan karena kehebohannya sendiri.Untungnya, ada Lora yang mau peduli padanya. Meski dengan ekspresi malas, gadis itu tetap membantu Reya untuk mengatur napas dengan baik. Dia juga menyodorkan air putih agar cairan di tubuh Reya tetap stabil.Sementara itu, Aisha dan Cakrawala hanya bisa saling menggenggam tangan dengan hati yang hangat. Menyenangkan banyak orang sudah cukup membuat pasangan muda itu selalu dalam perasaan yang positif.Waktu berangkat berlibur ke Kota Elarion telah tiba. Persiapan sudah dilakukan dengan matang sejak dua hari yang lalu.Pukul
Cakrawala menerima mikrofon dengan gerakan formal. Dia menatap Aisha yang berada di sampingnya, sebelum beralih kepada seluruh tamu yang memenuhi aula. Pria itu memberikan salam pembuka sekadarnya dan permintaan maaf pada semua orang yang hadir. Baru kemudian, dia mulai mengutarakan maksudnya. "Selama satu tahun terakhir, ada satu kenyataan yang sengaja kami simpan." Suasana semakin terasa sunyi. Semua orang menatap pria itu dengan fokus penuh, sampai tak berani untuk bersuara sepatah kata pun. "Saya dan Aisha ... sebenarnya telah resmi menikah sejak satu tahun yang lalu," kata Cakrawala dengan lugas dan tetap tenang. Tatapan terkejut saling beradu dari segala arah. Mereka terlihat saling menoleh dengan tatapan seolah mempertanyakan kebenaran. Cakrawala melanjutkan dengan suara stabil, "Keputusan untuk merahasiakan pernikahan kami, semata-mata bukan karena malu." Dia menoleh pada Aisha. Mereka sama-sama saling beradu senyum yang tipis. "Tetapi karena dari awal, saya me
Aisha langsung diserbu dengan banyak pertanyaan dari segala arah. Namun, semua mendadak musnah ketika seorang pembawa acara mulai mengumumkan jika acara wisuda segera dimulai.Aisha langsung menghela napas lega. Setidaknya, dia terselamatkan dari banyak pertanyaan yang membuatnya pusing.Saat ini, aula utama kampus telah dipenuhi oleh lautan toga hitam yang tersusun rapi. Di balkon, keluarga para wisudawan sudah mulai memenuhi kursi tamu.Alunan musik orkestra mengalun lembut, menambah sakral suasana wisuda yang tengah berlangsung. Di barisan undangan VVIP, Cakrawala duduk berdampingan dengan keluarga Aisha, juga keluarganya. Pria itu menatap lurus ke panggung, tak pernah lepas dari sosok Aisha yang duduk di barisan ketujuh peserta wisuda.Detik berikutnya, pembawa acara segera naik ke podium."Selamat pagi, dan salam sejahtera bagi kita semua."Suara tepuk tangan sontak bergetar memenuhi udara. "Dengan mengucap puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Prosesi Wisuda Fakultas Ke
Cakrawala menuntun Aisha untuk masuk ke mobil perlahan-lahan. Begitu mereka berdua telah duduk di jok mobil secara berdampingan dengan tenang, Daniel mulai menyalakan mesin. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya Kota Valemont. Di mobil lain yang cukup besar, Philip menyetirnya dengan baik, dengan posisi tepat di belakang mobil Rolls Royce-Ghost. Mobil itu mengangkut seluruh anggota Keluarga Pierce dan Keluarga Willow.Mereka semua ingin menyaksikan keberhasilan Aisha secara langsung.Tak butuh waktu lama, dua mobil telah sampai di rest area Universitas Internasional Eldenford. Saat turun dari mobil, para panitia wisuda bergerak cepat dan profesional untuk mengarahkan keluarga besar itu ke auditorium yang telah dipersiapkan.Cakrawala selalu setia untuk menuntun Aisha hingga sampai di belakang panggung. Pria itu tak perlu menyembunyikan keberadaan dan kebersamaannya lagi. Karena sebentar lagi, tepat bebarengan dengan dipanggilnya Aisha ke atas panggung, Cakrawala aka
Hari ini, wisuda kelulusan untuk Aisha akan dilaksanakan. Sejak fajar menyingsing, mata gadis itu sudah tak bisa lagi dipejamkan.Dia sudah terbangun dengan kesadaran penuh karena merasa sangat terharu, tak menyangka, bangga, sekaligus antusias.Tadi malam, Aisha dan Cakrawala memang sengaja untuk tidur, sekaligus menghabiskan detik-detik terakhir menjelang wisuda di villa mewah pemberian Silas. Di samping letak villa yang strategis, semua juga agar pikiran Aisha semakin rileks dan bahagia. Cakrawala belum terbangun dari tidurnya. Jadi, Aisha memutuskan untuk membangunkan suaminya pelan-pelan."Pak Cakra, ayo bangun. Ini sudah subuh." Aisha menepuk-nepuk pipi Cakrawala lembut, sampai pria itu bergerak sedikit dan mulai mengeliat."Argh ...." Cakrawala mengerang sedikit, kemudian membuka matanya perlahan-lahan."Sudah pagi, ya?" tanya Cakrawala pelan sambil mulai duduk dan mengucek mata.Aisha menjawab dengan penuh semangat, "Ya, sebentar lagi MUA yang aku pesan kemarin pasti datang.
"Wah, wah, wah. Sepertinya, ada yang baru saja menerima hadiah besar nih karena prestasinya."Lilly yang kembali dengan membawa beberapa piring menu jamuan tiba-tiba ikut bersuara."Nenek, aku dapat villa dari Ayah." Sontak, Aisha langsung melompat dari tempat duduknya.Dia berjalan cepat ke arah Lilly, lalu membantu wanita tua itu meletakkan piring-piring yang telah berisi beragam menu masakan ke atas meja."Aisha, Nenek ikut senang mendengarnya, Sayang." Lilly menahan haru saat Aisha memeluk tubuhnya dengan gerakan spontan."Ya, Nenek. Akhirnya, Tuhan sudah mengabulkan doa-doaku." Aisha mengeratkan pelukannya."Itu memang bagus, Sayang. Kamu sudah terlalu lama berjuang dan bersabar. Mungkin, sekarang saatnya kamu menikmati buah dari kesabaran kamu." Lilly membimbing cucu menantunya untuk duduk kembali di sofa dengan tenang."Hm, makan yang banyak, Nak. Siapkan energi yang besar untuk menyambut hadiah dari suami kamu nanti." Lilly menyodorkan sepiring nasi beserta pelengkap yang tela
Mata indah Aisha berkilat nanar, tubuhnya terasa nyaris ambruk dengan kalimat sang CEO yang baru saja meluncur. Kalimat yang jatuh dengan sempurna. Tanpa pemanis, atau pun filter.Sang CEO melihat perubahan emosi Aisha. Rona kepuasan sedikit menyembul dari mata hitamnya. Senyum samar yang manipulat
"Aku harus bisa keluar dari sini dengan keadaan hidup!"Hanya ada dua kemungkinan di ruang yang kejam ini. Serupa antara hidup dan mati bagi seorang manusia. Entah apa yang membuatnya begitu kuat menghadapi dunia. Ruang yang dingin ini, kini mencekik seorang gadis dalam kesunyian.Aisha Nasywah Wil
Gadis itu merasa sangat khawatir dan iba, hingga insting seorang manusia menggerakkan Aisha untuk menggenggam jemari Cakrawala."Jangan sentuh saya sembarangan!" potong Cakrawala, gemetar. "Tapi ...." Aisha tak benar-benar menggubris perkataan sang CEO. Dia hanya mengikuti kata hati untuk menggeng
Aisha sedikit berjingkat karena merasa terkejut dan takut. Bibir merah muda wanita itu tergigit dengan keras, hingga dia benar-benar bisa mengingat kembali ucapan sang bos kemarin.Sementara itu, pandangan Cakra belum berpindah dari mata Aisha, membuat wanita muda itu sulit untuk bernapas di tempat







