Share

Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!
Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!
Author: Faizal Arjuna

Bab 1

Author: Faizal Arjuna
Istriku mendalami ajaran agama. Hal paling pantang baginya adalah menuruti nafsu.

Urusan suami istri hanya boleh dilakukan setiap tanggal 16 setiap bulan. Waktu berhubungan, baik itu posisi, ritme, bahkan ekspresiku, semuanya harus dia kendalikan dengan ketat. Begitu aku sedikit terlena, dia akan tanpa ragu menghentikan dan pergi dengan dingin.

Lima tahun menikah, meskipun aku tidak puas, aku tetap menuruti semuanya karena mencintainya. Aku selalu mengira bahwa meskipun dia adalah seorang dewi tanpa emosi, setidaknya dia juga mencintaiku.

Sampai pada hari aku ikut tim untuk melakukan penyelamatan di sebuah hotel yang terbakar, barulah aku sadar betapa salahnya aku.

Saat menemukannya, istriku sedang bersandar di pelukan pria lain dengan pakaian yang berantakan. Di antara mereka, ada seorang anak kecil.

Belum pernah aku melihat ekspresi Nindy begitu lembut. Walaupun dia juga ketakutan sampai merinding, dia tetap bersandar erat di pelukan pria itu, menenangkan anak itu dengan suara pelan.

Saat itu, aku terpaku di tempat, tidak tahu harus berbuat apa. Jelas suhu di sekitar sangat panas, tetapi seluruh tubuhku justru gemetar kedinginan. Hatiku seperti ditikam dengan kejam oleh seseorang.

"Ray, jangan bengong! Serahkan keluarga ini kepadaku, kamu cepat ke kamar berikutnya!" Teriakan kapten menyadarkanku. Kemudian, aku melihat kapten langsung berlari masuk.

Nindy Karya menatapku, Ray Ghafari, suami sahnya, dengan ekspresi tak percaya. Meskipun terhalang masker pelindung, aku tahu dia mengenaliku.

Tatapan kami bertemu, hatiku seperti disobek. Kalau mereka bertiga adalah keluarga, lalu aku ini apa?

Kondisi sedang darurat, jadi aku tidak sempat memikirkannya lebih jauh. Aku buru-buru pergi menyelamatkan orang lain yang terjebak di kamar berikutnya. Api baru padam setelah tiga jam penuh. Untungnya, tak ada korban jiwa.

Namun, saat aku keluar dari lokasi dengan hati campur aduk, Nindy, pria itu, dan anak itu semua sudah menghilang. Dia bahkan malas memberikan penjelasan padaku.

Aku tertawa pahit. Seketika, aku merasa bahwa pernikahan lima tahun ini hanyalah lelucon besar.

Saat pulang, Nindy yang biasanya selalu lembur sampai larut malam ternyata ada di rumah, seolah-olah sedang menungguku. Aku mengira dia akan menjelaskannya. Jika dia bisa menjelaskan kenapa dia ada di hotel itu, kenapa dia bersama pria lain, mungkin aku akan memaafkannya.

Rasa sakit yang menusuk hati, mungkin benar-benar tak berarti jika dibanding lima tahun perasaan kami.

Namun, dia malah membuka laptop dan memulai rapat video. Setelah lebih dari satu jam berlalu, dia bahkan tak melirikku sekali pun, seakan-akan di antara kami tidak pernah terjadi apa-apa.

Baru setelah rapat selesai, dia menatapku dengan dingin dan melemparkan sebuah dokumen.

"Surat adopsi?" Dua huruf besar itu menusuk sarafku.

"Ya, itu anak yang kamu lihat di hotel tadi. Mulai sekarang, kita mengadopsinya."

"Kenapa? Apa hubunganmu dengan anak itu dan apa hubunganmu dengan pria itu?"

"Namanya Chicco Kadir, ayahnya Andrew. Kami rekan kerja. Selebihnya bukan urusanmu, jangan tanya."

Ini dianggap penjelasan? Aku sangat kecewa, hanya bisa tersenyum miris. Ini lebih seperti pemberitahuan sepihak. Nada bicaranya bahkan sama sekali tidak memberiku hak untuk menolak.

"Kalau hubungan kerja, kenapa kalian ada di hotel? Kenapa waktu aku melihatmu, pakaianmu berantakan? Nindy, jawab aku! Anak itu punya hubungan darah denganmu atau nggak?"

Aku melontarkan pertanyaan itu dengan nada yang hampir histeris, tetapi Nindy hanya menatapku dalam diam, keningnya sedikit berkerut. "Kamu berpikir terlalu jauh. Orang yang mempelajari agama pantang melanggar. Aku nggak akan mengkhianati pernikahan kita."

Tidak akan mengkhianati? Tawaku terdengar makin memilukan. "Saking pantangnya kamu untuk melakukan kontak fisik sampai aku cuma boleh menyentuhmu sebulan sekali. Tapi kenapa kamu bisa begitu mudah bersandar di pelukan pria itu?"

Selama 1.800 hari lebih aku tidak pernah meragukannya, bahkan sepenuhnya mendukung keyakinannya. Sekarang, aku mulai merasa bahwa agama hanya alasan baginya.

Kerutan di kening Nindy semakin dalam. Suaranya mendingin. "Orang bersih tak butuh pembelaan. Terserah kamu mau berpikir apa."

"Kalau kamu merasa aku selingkuh dengan pria lain, mulai tanggal 16 setiap bulan, kamu nggak perlu datang lagi ke kamarku. Toh anak juga sudah ada."

"Kalau bukan untuk meneruskan keturunan, aku nggak akan mau melakukan hal yang membosankan itu denganmu."

Ucapannya seperti pisau yang mengiris jantungku. Aku sampai nyaris tidak bisa bernapas saking sakitnya. Ternyata kebersamaan kami sebulan sekali itu begitu menyiksa baginya?

Dewi tanpa emosi, bersih dari keinginan duniawi, tidak pernah mau melanggar aturan demi diriku yang hanya manusia biasa ini …. Pengecualian itu tidak pernah ada untukku.

"Sudah, istirahatlah."

Saat Nindy menutup laptop dan hendak pergi, aku menahan rasa sakit di dada dan memanggilnya. "Aku bisa terima soal adopsi Andrew. Tapi jangan sampai aku melihatmu berhubungan dengan orang yang tak berkepentingan. Setidaknya hormatilah suamimu ini sedikit!"

Langkah Nindy terhenti. "Anak itu belum bisa jauh dari ayah kandungnya. Kamu sendiri yang berpikiran kotor, malah menyalahkanku nggak menghargaimu."

Dia pergi begitu saja.

Malam itu, rasa sakit di dadaku terasa begitu menyiksa sampai aku tidak bisa tidur. Aku berguling-guling di tempat tidur, bahkan merasa berhalusinasi, seperti mendengar suara tawa Nindy dan Chicco dari kamarnya.

Pagi berikutnya, Andrew sudah diantarkan ke rumah. Barang-barang kecilnya memenuhi ruang tamu. Nindy dengan riang membantu membereskannya.

Aku melihat semua itu dengan perasaan campur aduk. Ternyata seorang "dewi" juga bisa tersenyum. Tidak seperti ekpresi datar yang dia tunjukkan saat kami menikah dan pindah ke rumah baru. Katanya orang yang belajar agama tidak boleh terlalu berlebihan dalam emosi, jadi dia selalu memasang wajah kaku. Sekarang aku baru mengerti, hanya aku yang tidak pantas.

Selesai beres-beres, Nindy menggandeng Andrew ke kamar untuk mandi. Entah kenapa, dari kamarnya terdengar suara tangisan anak itu dan suara gemericik shower berhenti.

Aku mulai khawatir. Nindy tidak pernah menjadi ibu, bahkan belum pernah mengurus anak. Andrew masih kecil. Kalau terjadi apa-apa saat mandi, itu akan merepotkan.

Lima tahun menikah, aku sudah terbiasa mengkhawatirkannya. Meskipun kami baru saja bertengkar hebat, aku tidak punya alasan untuk memarahi anak kecil. Sekarang Andrew sudah tinggal di sini, jadi aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja.

Aku mendorong pintu dan masuk. Yang pertama kulihat adalah jaket pria tergantung di dekat pintu. Aku terpaku.

Pintu kamar mandi setengah terbuka, jadi aku bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Andrew menggosok gigi sampai berdarah, lalu menangis ketakutan.

Nindy baru selesai mandi, hanya memakai handuk. Dia menenangkan anak itu dengan suara lembut. Di belakangnya, Chicco sedang membantu mengeringkan rambut Nindy. Sambil tersenyum, dia mengatakan Andrew penakut.

Betapa harmonis keluarga yang beranggotakan tiga orang itu. Padahal ini rumahku dan Nindy adalah istriku. Namun, saat ini aku justru terlihat seperti orang luar.

Wajahku seketika pucat, hatiku seperti disobek-sobek. Pemandangan itu bagaikan petir yang menghantam diriku. Kakiku lemas. Aku mundur beberapa langkah sampai menabrak dinding.

Suara itu membuat Chicco menoleh. Dia pun terlihat panik. "Pak Ray, jangan salah paham. Semalam aku mengantar Andrew. Dia masih kecil, nggak membiarkanku pergi, jadi aku menginap semalam. Aku hanya menemani anak, nggak ada hal lain ...."

Ucapannya membuat dadaku sakit tak tertahankan, lalu menyadarkanku pada sesuatu. Ternyata dia sudah datang sejak semalam. Suara yang kudengar saat setengah tertidur itu bukan halusinasi.

Chicco menghabiskan malam di kamar Nindy. Itu adalah sesuatu yang bahkan aku, suaminya, tidak pernah dapatkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 50

    Aku mengernyit. Setelah mengalami sendiri betapa tidak tahu malunya Nindy hari ini, aku sengaja mengambil perjanjian cerai yang sudah ditandatangani itu dan memeriksanya dengan teliti.Terutama bagian pembagian harta.Awalnya aku pikir, karena Nindy sudah menandatanganinya, dia seharusnya tidak akan memainkan trik apa pun lagi. Namun ketika kuperiksa, ternyata memang ada yang aneh."Tunggu. Bagian pembagian harta ini ... apa maksudnya 50 persen dari nilai pasaran vila pernikahan saat ini?"Mendengar ucapan itu, Nindy melirikku sekilas, lalu berkata dengan suara datar, "Nggak ada masalah. Bahkan kamu lebih diuntungkan.""Nilai vila itu sudah naik dua kali lipat dibanding lima tahun lalu. Jumlah yang kamu terima akan lebih banyak dari modalmu dulu.""Nggak perlu. Aku tidak mau mengambil keuntungan darimu. Aku hanya ingin kembali ke bagianku yang dulu. Lalu bagaimana dengan kontrak agunan rumah orang tuaku?"Aku mengangkat kepala dan menatapnya, tetapi ekspresi Nindy mendadak tampak aneh.

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 49

    "Nindy, kalau kamu masih punya hati nurani, kamu seharusnya tahu bahwa dalam pernikahan ini, aku jauh lebih banyak berkorban dibanding kamu.""Dan meskipun nggak membahas soal pengorbanan, hanya membahas soal aset, aku tetap berhak atas setengahnya. Karena vila itu memang setengah milikku. Jangan pura-pura lupa."Lima tahun lalu, ketika aku dan Nindy memutuskan menikah, tabunganku memang tidak sedikit. Namun dibandingkan keluarganya yang kaya raya, uangku jelas terkesan tidak cukup.Meski begitu, aku tetap bersikeras ingin membayar setengah dari rumah pernikahan kami. Tabunganku ditambah rumah orang tuaku di kampung yang diagunkan, cukup untuk menutupi setengah harga vila itu.Saat itu, rumah orang tuaku diagunkan kepada Nindy. Seluruh tabunganku juga kuserahkan. Setelah itu, barulah dia melengkapi kekurangannya dan membeli vila tersebut sebagai rumah kami.Ketika aku menyerahkan semua yang kumiliki kepadanya, berniat membangun rumah tangga ini dengan sungguh-sungguh, Nindy sampai terh

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 48

    "Ray, kamu itu sebenarnya punya hati atau nggak? Jelas-jelas aku ini istrimu yang sudah hidup bersamamu selama lima tahun .... Buang saja keinginanmu untuk cerai itu! Aku nggak akan setuju. Aku akan menahanmu seumur hidup."Begitu kalimat itu keluar dari mulutnya, barulah Nindy seperti melepas seluruh emosinya. Dia duduk kembali, menarik napas, lalu berbicara dengan lebih stabil. "Asal nggak bercerai, aku bisa menyetujui apa pun permintaanmu.""Bahkan aturan tanggal 16 setiap bulan itu juga bisa aku batalkan ...."Saat mengatakan kalimat terakhir, suara Nindy mulai bergetar. Itu sudah merupakan batas tertinggi dari kompromi yang bisa dia berikan.Meskipun dia sudah melihat wanita itu dengan mata kepala sendiri, Nindy tetap tidak ingin percaya bahwa Ray sama sekali tidak memiliki sedikit pun rasa terhadapnya. Bagaimanapun, lima tahun pernikahan bukanlah waktu yang singkat. Dalam hati Nindy, dia yakin bahwa dia paling mengerti Ray.Tanggal 16 setiap bulan, itu adalah hari yang diidam-ida

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 47

    Saat dia melihat wajahku yang muram dan penuh amarah, tubuhnya langsung menegang. Dia buru-buru berkata, "Pak Ray, kenapa Bapak datang ke sini?"Aku tidak menanggapi pertanyaannya. Dengan suara dingin, aku berkata, "Nindy ada di kantor nggak?""Ada ....""Kalau begitu ini bukan urusanmu. Pulang saja."Begitu kalimat itu dilontarkan, aku langsung melangkah keluar dari lift dan melewati Lasso tanpa menoleh, lalu berjalan lurus menuju kantor Nindy.Selama lima tahun menikah, jumlah kunjunganku ke kantornya bisa dihitung dengan jari. Justru karena sedikitnya kunjungan itu, lokasi kantornya benar-benar mudah kuingat.Beberapa langkah saja, aku sudah tiba di depan pintu kantornya. Tanpa mengetuk, aku langsung menendang pintu itu!Brak!Suara keras itu membuat Nindy terkejut. Begitu mengangkat kepala, dia melihat aku masuk dengan wajah kelam. "Ray, apa kamu nggak bisa mengetuk pintu dengan benar?""Kalau kamu saja nggak bisa bicara dengan benar, kenapa aku harus mengetuk pintu dengan benar?"

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 46

    [ Tentu saja aku nggak akan mengganggumu, tapi apa yang kukatakan padamu tadi malam tetap berlaku. Kalau kamu masih merasa aku cukup memuaskan dan bersedia menjadi pacarku untuk kebutuhan akting, aku akan sangat senang. Setidaknya, itu berarti kita pernah menjalani waktu yang indah bersama .... ][ Lalu, aku juga akan membayarmu. Menjadi pacarku untuk sementara waktu, ditambah performamu tadi malam yang sangat ... ganas, hmm ... totalnya 10 miliar. Gimana, mau dipertimbangkan? ][ Catatan: Kalau kamu nggak mau, anggap saja aku nggak pernah mengucapkan kalimat terakhir. Sampai jumpa, Pak Ray. ]Di akhir catatan itu, Nisha bahkan menuliskan nomor ponsel pribadinya.Dia juga menggambar sebuah karakter kecil yang lucu, dengan gelembung pikiran bertuliskan "Semoga kamu akan meneleponku".Melihat tulisan tangan Nisha yang indah itu, aku tanpa sadar teringat ekspresinya yang jenaka saat menulis surat. Aku hanya bisa tersenyum pahit. "Sepuluh miliar untuk sebuah pertunjukan plus satu malam, pe

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 45

    Begitu perkataannya diucapkan, aku menatap mata Nisha yang hampir hancur itu dan aku terdiam.Ternyata dia tidak mabuk. Ternyata dia tahu semuanya."Sekarang Hamid sudah nggak mengakui perjodohan kalian. Mungkin keluargamu berubah pikiran. Bisa jadi masih ada jalan keluar.""Kalau memang bukan Hamid, lalu apa? Akan ada pria-pria lainnya lagi. Aku lahir sebagai anak Keluarga Bastian. Takdirku memang hanya menjadi alat pernikahan politik untuk keluarga besar.""Karena itu, aku hanya ingin mati-matian menemukan seorang laki-laki yang benar-benar kusukai."Nisha menangis sambil memelukku semakin erat. Suaranya gemetar ketika berbisik di dekat telingaku. "Ray, apa yang masih kamu ragukan? Aku nggak cukup cantik? Nggak cukup menarik? Atau kamu masih memikirkan istrimu?"Saat Nisha menyebut Nindy, kepalaku seperti tersambar listrik. Gambaran Nindy dan Chicco bersama kembali muncul. Wanita yang penuh pengkhianatan dan standar ganda yang menjijikkan itu sudah tidak layak disebut lagi.Mungkin k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status