Teilen

Bab 2

Faizal Arjuna
Setelah menikah, Nindy selalu beralasan bahwa mendalami agama membutuhkan ketenangan. Oleh karena itu, dia tidak pernah mengizinkanku tidur di kamarnya. Bahkan pada tanggal 16 setiap bulan, setelah urusan suami istri selesai, aku hanya boleh membantunya merapikan seprai. Setelah itu, aku pergi sendirian.

Sekarang, aku tiba-tiba tersadar bahwa semua aturan ketat yang Nindy buat hanyalah alasannya untuk menjaga jarak dariku. Saat ini, rasa sakit yang begitu dahsyat membuatku sampai tidak bisa bersuara. Tangan dan kakiku mulai mati rasa, seluruh tubuhku seperti kehilangan daya untuk bergerak, dan jantungku …. Aku merasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungku di saat yang sama.

Namun, Nindy tetap tidak berniat menjelaskan apa pun. Dia justru memasang ekspresi dingin. "Siapa yang menyuruhmu masuk tanpa mengetuk? Kamu masih tahu aturan nggak? Keluar!"

Aku menunjuk diriku sendiri, lalu menatap Chicco dan tiba-tiba merasa semuanya sangat menyedihkan. Istriku bisa membiarkan pria asing tidur di kamarnya, bahkan hanya memakai handuk dan membiarkan pria itu mengeringkan rambutnya ....

Sedekat itukah hubungan mereka? Padahal aku adalah suami sahnya, tetapi dia malah berekpektasi agar aku harus mengetuk pintu kamarnya dulu sebelum masuk?

Nindy, kamu bukan hanya tidak menganggapku sebagai suamimu. Kamu bahkan tidak menganggap pernikahan ini ada. Aku benar-benar kecewa padamu.

"Nindy, kita cerai saja."

Lima tahun menikah, apa pun permintaan dingin dan tak masuk akalnya, aku selalu mengiakan. Bertahun-tahun ini, aku terbiasa memperlakukannya dengan lembut. Ini pertama kalinya aku bersikap dingin kepadanya.

"Cerai? Hanya karena ini?" Nindy tertegun, wajahnya penuh keterkejutan. Dia refleks menggeleng dan menolak, "Nggak, aku nggak mau cerai."

Ketegasannya membuatku terkejut. Kupikir hubungannya dengan Chicco sudah jelas dan dia hanya menungguku untuk mundur. Namun, dia menolaknya begitu cepat. Apa dia masih ingin mempertahankan rumah tangga kami?

Lima tahun aku sungguh-sungguh mencintainya sehingga aku secara naluriah mencari alasan untuk membelanya. Namun, kalimat Nindy berikutnya langsung melemparkanku ke dasar neraka!

"Aku lagi dalam masa disiplin. Bercerai sekarang adalah pelanggaran. Kamu mau cerai? Tunggu sampai masa disiplinku selesai."

Wajah Nindy sedingin es, nadanya tak memberi ruang untuk menyanggah. Ternyata selama ini aku hanya menghibur diri. Aku tertawa pahit, bahkan merasa mual oleh rasa perih di hati.

Aku baru sadar, ternyata selama ini dia bukan hanya tidak mengganggapku sebagai suaminya, bahkan baginya aku bukan manusia yang layak untuk dipertimbangkan. Lima tahun pernikahan, aku bahkan tak punya hak untuk mengajukan perceraian. Aku selalu berada di bawah aturan-aturannya.

"Nindy, maaf. Kamu jangan sampai cerai dengan Pak Ray gara-gara aku dan anakku. Aku nggak ingin merusak pernikahan kalian. Kalau memang begini jadinya, sebaiknya aku pergi. Andrew, pakai bajumu. Ini bukan rumah kita."

Chicco menghela napas dengan sedih, menggendong Andrew, dan bersiap pergi. Aku menutup mata, tak ingin melihat sandiwara penuh belas kasihan itu.

Apa yang Chicco katakan memang benar. Ini memang bukan rumah mereka, tetapi rumah yang sudah lima tahun kutata dan kuatur dengan hati-hati. Berani-beraninya mereka mengambil tempatku?

Namun tak kusangka, Nindy justru menghentikan mereka. "Barang-barang Andrew sudah dibereskan. Mana mungkin aku biarkan kalian pindah? Tinggallah. Ini urusan antara aku dan dia, nggak ada hubungannya dengan kalian."

Nindy menatapku, tatapannya setajam pisau. "Yang harus pergi itu bukan dia, tapi kamu. Andrew masih kecil. Kamu laki-laki dewasa nggak bisa sedikit berlapang dada? Apa kamu harus memaksa mereka ke jalan buntu?"

Setiap kata menusukku seperti bilah yang melukai sampai ke usus. Ternyata aku yang memaksa mereka ke jalan buntu? Apa aku harus sebaik itu, sampai ikut bertepuk tangan melihat mereka bermesraan?

Aku ingin bertanya, tetapi saat aku melihat wajah dingin Nindy, semua terasa tak ada artinya lagi. Pergilah. Sampai tahap ini, daripada terus menjadi lelucon, lebih baik semuanya diakhiri.

Aku pergi tanpa suara. Aku kembali ke kamarku, membereskan pakaian dan barang-barang, bersiap pindah dari rumah ini. Ironisnya, lima tahun menikah aku tak pernah membeli apa pun untuk diriku sendiri. Semua pikiranku hanya tertuju pada Nindy dan rumah ini.

Pada akhirnya, barang-barang yang benar-benar milikku hanya cukup memenuhi satu koper kecil, yang bisa dibereskan kurang dari satu jam.

Tak ada lagi jejakku di kamar ini. Lima tahun pernikahan kami pun resmi berakhir.

Sebelum pergi, kutinggalkan sepucuk surat perpisahan. Tak ada banyak kata, hanya memberi tahu bahwa hari Senin depan kami akan bertemu di pengadilan negeri.

Namun, saat membuka pintu, aku melihat Nindy berdiri di luar. Melihatku menenteng koper, keningnya langsung berkerut.

"Kamu mau ke mana?"

"Memberi kalian ruang. Hubungan kita sudah selesai."

Aku mencoba melewatinya, tetapi dia menghalangi dan mendorongku kembali.

"Ray, Andrew masih di rumah. Kamu mau membuat semuanya jadi memalukan di depan seorang anak kecil? Aku menyuruhmu pergi ke kamarmu, bukan pergi dari rumah ini."

Kamarku sudah rapi. Nindy langsung melihat surat itu. Setelah membaca isinya, dia tanpa ragu merobek surat itu dan menatapku dengan marah.

"Ray, aku bilang sekali lagi, aku nggak setuju cerai. Kalau kamu masih berani punya pikiran begitu, kamu tahu akibatnya!"

"Akibat apa?" Dengan hati yang hancur, aku balik menantang. "Melanggar aturanmu? Tapi saat kamu berbaring di pelukan Chicco, hanya memakai handuk dan membiarkan dia mengeringkan rambutmu, saat kamu berlaku seperti ibu Andrew, apa kamu ingat aturanmu? Kamu ingat agamamu?"

Belum selesai aku berbicara, wajah Nindy menggelap dan dia menamparku dengan keras. "Diam! Berani sekali kamu menghina agamaku!"

Aku terpaku. Tak pernah kusangka Nindy akan menamparku. Lima tahun menikah, meskipun sikapnya dingin, kami setidaknya saling menghormati. Tak pernah separah ini. Kini, tamparan itu menghancurkan sisa perasaanku padanya.

"Nindy, anggap saja aku nggak sanggup mengikuti aturanmu lagi. Lebih baik kita pisah baik-baik. Kita pernah hidup bersama, jadi nggak perlu membuat hubungan sekacau ini."

Ketegasanku seperti menyadarkannya sejenak. Wajah dinginnya sedikit melunak. "Aku memang salah karena menamparmu. Aku bisa minta maaf. Tapi kamu tahu itu hal yang paling aku jaga dan justru kamu menyerangku dari sana."

Mendengar dia memutarbalikkan kesalahan, aku hanya mencibir. "Terserah kamu mau pikir apa."

Kata-kata itu kukembalikan padanya bulat-bulat.

Nindy terdiam sejenak, lalu tampak marah lagi. "Ray, kenapa kita nggak bisa saling percaya sedikit? Orang yang mendalami agama nggak berbohong. Kalau aku bilang aku nggak akan mengkhianati pernikahan ini, berarti memang nggak akan. Kenapa kamu harus melawan?"

Aku berkata tanpa ekspresi, "Aku hanya ingin menghentikan kerugianku."

Nindy tampak frustrasi, lalu merebut koperku. "Kamu mau ke mana terserah. Tapi aku nggak setuju cerai."

Setelah mengatakan itu, dia pergi.

Barulah aku sadar tubuhku pun gemetar disertai rasa sakit yang menghantam. Jantungku seperti diremas oleh tangan tak kasatmata, membuatku sulit bernapas.

Apa Nindy berpikir hanya karena dia mengambil koperku, aku tidak bisa pergi? Dia salah. Itu hanya pakaian dan barang-barang harian. Aku bisa membelinya lagi. Yang aku tidak tahan adalah tinggal di sini.

Jadi, aku tetap pergi. Begitu keluar, aku menerima telepon dari tim.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 50

    Aku mengernyit. Setelah mengalami sendiri betapa tidak tahu malunya Nindy hari ini, aku sengaja mengambil perjanjian cerai yang sudah ditandatangani itu dan memeriksanya dengan teliti.Terutama bagian pembagian harta.Awalnya aku pikir, karena Nindy sudah menandatanganinya, dia seharusnya tidak akan memainkan trik apa pun lagi. Namun ketika kuperiksa, ternyata memang ada yang aneh."Tunggu. Bagian pembagian harta ini ... apa maksudnya 50 persen dari nilai pasaran vila pernikahan saat ini?"Mendengar ucapan itu, Nindy melirikku sekilas, lalu berkata dengan suara datar, "Nggak ada masalah. Bahkan kamu lebih diuntungkan.""Nilai vila itu sudah naik dua kali lipat dibanding lima tahun lalu. Jumlah yang kamu terima akan lebih banyak dari modalmu dulu.""Nggak perlu. Aku tidak mau mengambil keuntungan darimu. Aku hanya ingin kembali ke bagianku yang dulu. Lalu bagaimana dengan kontrak agunan rumah orang tuaku?"Aku mengangkat kepala dan menatapnya, tetapi ekspresi Nindy mendadak tampak aneh.

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 49

    "Nindy, kalau kamu masih punya hati nurani, kamu seharusnya tahu bahwa dalam pernikahan ini, aku jauh lebih banyak berkorban dibanding kamu.""Dan meskipun nggak membahas soal pengorbanan, hanya membahas soal aset, aku tetap berhak atas setengahnya. Karena vila itu memang setengah milikku. Jangan pura-pura lupa."Lima tahun lalu, ketika aku dan Nindy memutuskan menikah, tabunganku memang tidak sedikit. Namun dibandingkan keluarganya yang kaya raya, uangku jelas terkesan tidak cukup.Meski begitu, aku tetap bersikeras ingin membayar setengah dari rumah pernikahan kami. Tabunganku ditambah rumah orang tuaku di kampung yang diagunkan, cukup untuk menutupi setengah harga vila itu.Saat itu, rumah orang tuaku diagunkan kepada Nindy. Seluruh tabunganku juga kuserahkan. Setelah itu, barulah dia melengkapi kekurangannya dan membeli vila tersebut sebagai rumah kami.Ketika aku menyerahkan semua yang kumiliki kepadanya, berniat membangun rumah tangga ini dengan sungguh-sungguh, Nindy sampai terh

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 48

    "Ray, kamu itu sebenarnya punya hati atau nggak? Jelas-jelas aku ini istrimu yang sudah hidup bersamamu selama lima tahun .... Buang saja keinginanmu untuk cerai itu! Aku nggak akan setuju. Aku akan menahanmu seumur hidup."Begitu kalimat itu keluar dari mulutnya, barulah Nindy seperti melepas seluruh emosinya. Dia duduk kembali, menarik napas, lalu berbicara dengan lebih stabil. "Asal nggak bercerai, aku bisa menyetujui apa pun permintaanmu.""Bahkan aturan tanggal 16 setiap bulan itu juga bisa aku batalkan ...."Saat mengatakan kalimat terakhir, suara Nindy mulai bergetar. Itu sudah merupakan batas tertinggi dari kompromi yang bisa dia berikan.Meskipun dia sudah melihat wanita itu dengan mata kepala sendiri, Nindy tetap tidak ingin percaya bahwa Ray sama sekali tidak memiliki sedikit pun rasa terhadapnya. Bagaimanapun, lima tahun pernikahan bukanlah waktu yang singkat. Dalam hati Nindy, dia yakin bahwa dia paling mengerti Ray.Tanggal 16 setiap bulan, itu adalah hari yang diidam-ida

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 47

    Saat dia melihat wajahku yang muram dan penuh amarah, tubuhnya langsung menegang. Dia buru-buru berkata, "Pak Ray, kenapa Bapak datang ke sini?"Aku tidak menanggapi pertanyaannya. Dengan suara dingin, aku berkata, "Nindy ada di kantor nggak?""Ada ....""Kalau begitu ini bukan urusanmu. Pulang saja."Begitu kalimat itu dilontarkan, aku langsung melangkah keluar dari lift dan melewati Lasso tanpa menoleh, lalu berjalan lurus menuju kantor Nindy.Selama lima tahun menikah, jumlah kunjunganku ke kantornya bisa dihitung dengan jari. Justru karena sedikitnya kunjungan itu, lokasi kantornya benar-benar mudah kuingat.Beberapa langkah saja, aku sudah tiba di depan pintu kantornya. Tanpa mengetuk, aku langsung menendang pintu itu!Brak!Suara keras itu membuat Nindy terkejut. Begitu mengangkat kepala, dia melihat aku masuk dengan wajah kelam. "Ray, apa kamu nggak bisa mengetuk pintu dengan benar?""Kalau kamu saja nggak bisa bicara dengan benar, kenapa aku harus mengetuk pintu dengan benar?"

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 46

    [ Tentu saja aku nggak akan mengganggumu, tapi apa yang kukatakan padamu tadi malam tetap berlaku. Kalau kamu masih merasa aku cukup memuaskan dan bersedia menjadi pacarku untuk kebutuhan akting, aku akan sangat senang. Setidaknya, itu berarti kita pernah menjalani waktu yang indah bersama .... ][ Lalu, aku juga akan membayarmu. Menjadi pacarku untuk sementara waktu, ditambah performamu tadi malam yang sangat ... ganas, hmm ... totalnya 10 miliar. Gimana, mau dipertimbangkan? ][ Catatan: Kalau kamu nggak mau, anggap saja aku nggak pernah mengucapkan kalimat terakhir. Sampai jumpa, Pak Ray. ]Di akhir catatan itu, Nisha bahkan menuliskan nomor ponsel pribadinya.Dia juga menggambar sebuah karakter kecil yang lucu, dengan gelembung pikiran bertuliskan "Semoga kamu akan meneleponku".Melihat tulisan tangan Nisha yang indah itu, aku tanpa sadar teringat ekspresinya yang jenaka saat menulis surat. Aku hanya bisa tersenyum pahit. "Sepuluh miliar untuk sebuah pertunjukan plus satu malam, pe

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 45

    Begitu perkataannya diucapkan, aku menatap mata Nisha yang hampir hancur itu dan aku terdiam.Ternyata dia tidak mabuk. Ternyata dia tahu semuanya."Sekarang Hamid sudah nggak mengakui perjodohan kalian. Mungkin keluargamu berubah pikiran. Bisa jadi masih ada jalan keluar.""Kalau memang bukan Hamid, lalu apa? Akan ada pria-pria lainnya lagi. Aku lahir sebagai anak Keluarga Bastian. Takdirku memang hanya menjadi alat pernikahan politik untuk keluarga besar.""Karena itu, aku hanya ingin mati-matian menemukan seorang laki-laki yang benar-benar kusukai."Nisha menangis sambil memelukku semakin erat. Suaranya gemetar ketika berbisik di dekat telingaku. "Ray, apa yang masih kamu ragukan? Aku nggak cukup cantik? Nggak cukup menarik? Atau kamu masih memikirkan istrimu?"Saat Nisha menyebut Nindy, kepalaku seperti tersambar listrik. Gambaran Nindy dan Chicco bersama kembali muncul. Wanita yang penuh pengkhianatan dan standar ganda yang menjijikkan itu sudah tidak layak disebut lagi.Mungkin k

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status