Share

Sang Mantan

Author: She Sheila
last update publish date: 2026-08-19 08:13:59

"Ngapain ke sini?"

Karina muncul dengan wajah penuh amarah. Puluhan telepon masuk mengganggu pekerjaan dan berasal dari pria menyebalkan yang kini menatap tajam.

"Kenapa kamu enggak angkat telepon aku?" tanya Raga, pria yang tak hanya menghancurkan hidup Karina tapi juga melukai harga dirinya.

Wanita itu tergelak, menertawakan sikap sang mantan kekasih yang minggu lalu baru saja mencampakkannya dengan mudah. Masih segar dalam ingatan, bagaimana Raga tak peduli walau Karina menangis dan memohon.

"Emangnya kita masih ada hubungan?" tanyanya dengan nada mengejek.

Wajah Raga berubah merah, menahan malu. Padahal ia sendiri yang memutuskan perpisahan itu.

"Ada!" kata pria itu menantang. "Aku mau ambil barang-barangku!" tambahnya.

Karina tercekat. Sudah setahun belakang ia dan Raga memutuskan hidup bersama, walau sesekali pria itu pulang ke rumahnya di daerah Tangerang.

Jadi tak salah jika Raga meminta barang-barang yang tertinggal di apartemen. Apalagi ketika rumah tinggal sementaranya itu sudah berganti password. Ya, Karina sengaja menggantinya agar Raga tak bisa masuk sembarangan.

"Tadi aku ke apartemen, tapi enggak bisa masuk!" katanya malu.

Karina menahan tawa, mensyukuri keputusannya. Namun ia juga buru-buru menghitung sebanyak apa barang Raga di apartemen yang ternyata lumayan juga.

"Besok aku beresin, kamu bisa ambil di satpam!" Wanita itu menjawab dengan cepat, tak ingin sang mantan terlalu lama berada di kantor, apalago beberapa orang mengenal dirinya dan bisa saja membuat gosip tak jelas. "Udah, kan? Kamu bisa pergi!" usirnya.

Namun Raga masih diam di tempat. Pria itu menatap serba salah. Dan Karina sangat tahu pasti bahwa ada yang ingin disampaikan.

"Apalagi?" tanya Karina cepat.

"Aku butuh uang apartemen balik!" jawabnya tanpa ragu.

Kali ini Karina tercengang, tak habis pikir pria itu berani meminta setengah uang sewa apartemen yang mereka bayar berdua. Tapi itu jelas, karena Raga ikut menikmati fasilitas apartemen.

"Kan aku udah enggak tinggal di sana, jadi aku enggak perlu lagi ikut patungan kan!" jelasnya tak tahu malu.

Jari-jemari lenting itu bergerak menggenggam, menahan amarah di ubun-ubun. Ia pikir Raga akan sedikit berempati dan menanyakan kondisinya atau mungkin sang jabang bayi. Sayang semua itu hanya mimpi dan hayalan Karina.

Pria yang dikencaninya dua tahun ini benar-benar menunjukkan keburukannya. Pergi meninggalkan Karina dan kini meminta uangnya kembali.

"Kamu bener-bener, ya!" Gigi Karina bergemeretak, menahan setiap emosi untuk menampar wajah sang mantan. "Kamu ikut tinggal di sana kemarin dan sekarang kamu minya duitnya balik? Kamu punya otak enggak?" tanyanya bingung.

Raga menyisir rambutnya dengan kesal. Tak ada ekspresi bersalah.

"Itu kan dulu, sekarang kita udah masing-masing, jadi boleh kan aku minta balik uangnya!" tanggapnya enteng.

Karina melangkah maju, mendekatkan tubuhnya agar pembicaraan kali ini tak terdengar oleh siapapun. Matanya berkaca-kaca, tak menyangka pria yang ia cintai dulu berubah menjadi bajingan.

"Kalau enggak punya malu, minimal kamu punya hati. Aku ini lagi hamil anak kamu!"

Suara Karina gemetaran menahan tangis. Ia sungguh tak sanggup lagi menahan sakit hati karena semua perlakuan Raga padanya.

Tetapi pria itu sungguh kehilangan akal. Tangannya dengan ringan menarik lengan Karina, menekannya sekuat tenaga hingga sang wanita meringis kesakitan.

"Dari mana aku tahu kalau dia anakku? Kamu hobi party, hobi minum, bisa aja kan kalau..."

PLAK!

Karina melesatkan satu tamparan dengan sekuat tenaga ke arah pipi kiri Raga. Air mata itu akhirnya tumpah juga. Tak dipedulikan setiap mata yang kini memandang mereka dengan berbisik-bisik.

Sang produser yang sedang naik daun itu menatap mantan kekasihnya dengan mata basah. Tangannya masih gemetaran, perih dan puas yang menjalar jadi satu.

"Lo tu..."

Raga maju melesat, mendorong bahu Karina dan bersiap membalas tamparan ke pipi sang mantan kekasih.

"Hey, hey, hey!"

Tangan besar dengan suata bariton menahan langkah Raga. Dengan energi yang sama kuatnya, dua pria itu saling berhadapan, menatap tajam.

"Jangan bikin keributan di sini!" kata Brian yang lebih bernada ancaman.

Sang dokter melirik sekeliling, di mana orang-orang sudah berkumpul dan siap menjado tameng bagi Karina yang masih menangis. Brian meringsek maju, membuat jarak antara Raga dan sang produser. Ia bahkan menarik tubuh wanita itu ke balik badan besarnya.

"Kalau ada masalah, kita bicara baik-baik!" tegasnya berusaha menengahi.

"Cih, punya satpam lo sekarang?" ejek Raga pada Karina yang diam bersembunyi. "Lo siapanya? Pacar barunya?" cecar pria itu dengan santai.

Brian mendekatkan dada bidangnya, coba memberikan tekanan. Namun Raga nyatanya tak punya rasa takut sama sekali. Ia malah balas maju dan menabrakkan dirinya.

"Brian, jangan!" pinta Karina berbisik.

Ia tak ingin ada keributan. Wanita itu juga memberi kode agar karyawan lain menyingkir dan memberi waktu untuk mereka menyelesaikan masalah. Beberapa orang menurut, yang lain pergi menjauh dan memandang sembunyi-sembunyi.

"Kalau baru deket aja, mending udahan deh, sebelum nyesel!" nasihat Raga. "Masa lo mau bekas gue?" ejeknya setengah berbisik, memastikan hanya ketiganya yang mendengar.

Karina cukup terkejut mendengar ucapan Raga yang sungguh tak pantas. Harga dirinya jatuh, terjerembab. Hatinya hancur mendengar orang yang dulu mencintainya bisa berubah menjadi orang yang paling membuatnya menderita.

SREK!

Brian melangkah maju, menarik kerah baju Raga dengan cepat. Tangannya menggenggam penuh emosi.

Darahnya mendidih, mendengar seorang pria yang menjatuhkan wanita dengan kalimat yang begitu menyakitkan. Ia bisa merasakan kehancuran Karina.

"Brian, please...!" Karina menarik lengan sang dokter, memaksa tubuh besarnya untuk mundur.

Pria berjas putih itu bisa saja terus maju dan memberikan sedikit pelajaran pada Raga. Namun ia memilih untuk melepaskan tangannya dan mundur.

"Aku bisa selesaikan sendiri," katanya berusaha menarik tangan Brian, walau nyatanya tak membuat tubuh besar itu mundur.

"Dia sudah keterlaluan!" kata Brian menatap tak suka.

"I know, tapi tolong... ini urusanku," pinta sang produser dengan wajah memelas.

Matanya kembali berkeliling, memandangi lobi kosong yang menjadi saksi bisu pertikaian mereka. Namun ia dapat melihat jelas beberapa orang masih memandang dari jauh. Dan besok, semua itu akan menjadi headline news di berbagai unit.

"Dia harus dikasih..."

"Aku tahu apa yang dia mau," potong Karina cepat.

Wanita itu maju dan menarik ponselnya dari kantong dengan cepat. Jari-jari lentik itu menekan sebuah nominal yang cukup besar dan membuat manik Brian membulat.

"Kamu ngapain?" tanya Brian bingung.

Namun ia langsung tahu ketika nomor rekening dengan nama Raga Atmaja terbaca jelas di layar. Karina baru saja akan menekan tombol 'OK' sebelum akhirnya tangan sang dokter merampas ponsel Karina dengan cepat.

"Brian!"

"Biar aku yang bayar!" katanya dengan tegas. "Berapa?" tanyanya yang sudah menatap Raga dengan sepasang mata elang siap menerkam.

Dan dengan tak tahu malu, pria itu menyebutkan sebuah nominal yang ia keluarkan untuk membayar sewa apartemen Karina. Dengan gerak matanya, Raga memastikan bahwa Brian benar-benar mengirimkan uang itu ke rekeningnya.

"Hm?" Brian menunjukkan bukti pengiriman yang berhasil dan membuat senyum sumringah terukir di wajah Raga.

Pria kurang ajar itu mengacungkan jempol dan langsung melambaikan tangan tanda perpisahan. Namun sebelum sempat ia melewati pintu keluar, Brian menarik bahunya dan mendaratkan satu bogem mentah, sekuat tenaga.

BUGH!

"Jangan pernah temui Karina lagi!" ancamnya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Kejutan Karina

    "Emangnya kita mau ke mana, sih?" tanya Brian penasaran.Sudah hampir satu jam keduanya mengendarai mobil yang entah ke mana tujuannya. Karina bahkan mengambil alih di bangku kemudi, walau dengan pengawasan khusus dari sang kekasih."Sabar, sebentar lagi kamu pasti tahu, ini udah deket kok!" katanya seraya terkekeh.Entah apa yang membuat Karina begitu bahagia. Wanita itu muncul di tempat praktik Brian tanpa konfirmasi, lalu menjemputnya penuh paksa. Dan kini keduanya masih di perjalanan yang begitu asing dan menjauhi Ibu Kota, menuju Kota seberang yang banyak ditumbuhi tanaman hijau dan sejuk."Kamu enggak capek nyetirnya? Sini deh, aku ganti!" kata Brian.Namun dengan tegas Karina menggelengkan kepala. Wanita itu malah membuka jendela mobil, menikmati udara yang begitu jarang jika di kota besar. Rambutnya terbang, mengikuti arah angin."Seger....!" serunya senang.Brian tersenyum. Pria itu ikut menurunkan jendela dan m

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Belum Selesai

    "Masih ada pasien?" "Sudah tidak ada, tapi Dokter Panji katanya mau bertemu Dokter," jawa sang perawat. Brian diam sejenak. Sang senior muncul tiba-tiba setelah beberapa bulan lalu berpisah di sidang kode etik. Hubungan keduanya bahkan tak terlalu baik untuk sampai mengunjungi satu sama lain. "Suruh masuk aja!" Perawat tersebut keluar sebentar dan tak lama kembali bersama seorang pria tambun dengan jas dokter melekat tanpa dikancing. Ekspresinya kesal karena penantian yang begitu lama untuk bertemu juniornya. "Sibuk banget ya, sampe mau ketemu aja harus buat janji!" ledeknya. "Sorry, pasiennya suka banyak kalau abis weekend!" jawab Brian tenang. "Gimana, gimana? Ada yang bisa gue bantu?" tanyanya langsung. Brian paling tak suka berbasa-basi terutama dengan orang yang tak terlalu dekat bahkan bisa dibilang musuh bebuyutan. Walaupun Panji adalah senior, tapi untuk kompetensi dan pembuktian di lapangan, jumlah pasien dan kemampuan Brian dalam operasi jauh di atasnya. Sehingga in

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Tentang Masa Depan

    "Rating sejauh ini bagus, komentar orang juga makin oke, hampir semuanya lupa tentang kasus-kasus kemarin."Laporan dari Sheila membuat wajah Karina makin cerah, berbahagia. Setelah berbulan-bulan mereka diserang banyak masalah, ide tiap episode yang bongkar-pasang, bergonta-ganti, akhirnya kini program Inside Her makin bersinar. "Dokter Brian juga kayaknya makin enjoy tiap syuting, ide-idenya baru dan fresh, Inside Her sekrang identik dengan wajah beliau."Tim marketing ikut menyampaikan bagaimana program ini juga ikut mengubah banyak hal, terutama Brian yang terkenal tak hanya profesional tapi juga beritegritas. Sang dokter saat ini lebih luwes dan banyak diundang dibeberapa talkshow karena perannya di Inside Her."Walau waktu syuting jadi padat dan jadwal terbatas karena makin banyak pasien dan tindakannya!" celetuk Sheila membuat seisi ruangan tertawa.Broto tersenyum, bangga mendengar banyaknya kemajuan dari produser baru yang walau banyak masalah, tapi juga mendatangkan banyak

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Ngambek

    "Kamu mau makan apa?"Brian sibuk mengeluarkan hasil belanja ke meja dapur. Pria itu cukup sering melakukan hal ini, terutama selama berhubungan dengan Karina yang ternyata selama ini jarang sekali memasak. Bahakan karena hidup seorang diri, kekasihnya itu lebih sering membeli makanan dari luar."Terserah aja!"Karina langsung merebahkan diri di atas sofa. Ia sama sekali tak tertarik dengan aktifitas dapur yang biasa dilakukan sang kekasih. Apalagi sejak tadi ia sedang menjalani perang dingin karena merasa dibohongi oleh pria itu.Sepanjang jalan, Brian coba menjelaskan, merayu bahkan memberi perhatian-perhatian kecil, namun sang kekasih tetap bersikukuh untuk melakukan aksi diam. Lelucon yang biasanya mampu membuat wanita itu tertawa malah mendapat balasan tatapan tajam.Pria itu coba untuk tetap bertahan untuk memberikan perhatian walau tak mampu menghilangkan amarah itu dengan cepat. Perubahan hormon, berat badan dan kondisi fisik memb

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Masalah di Rumah Sakit

    "Jadi yang diomongin orang-orang itu bener?"Karina berteriak, meluapkan semua kekesalan karena ketidak jujuran Brian padanya. Sebagai sepasang kekasih, mereka telah berjanji untuk saling terbuka untuk masalah apapun."Iya, tapi kan...""Jadi kamu tutupin semuanya dari aku? Mau sampai kapan?"Emosi sang produser menggebu-gebu. Ia sudah tak tahan dibohongi seperti ini. Walau Brian kukuh pendirian bahwa ia hanya belum cerita saja. Namun Karina menolak alasan itu.Setelah ditekan, barulah Brian bercerita bahwa semua itu benar. Ia memang dipanggil oleh manajemen rumah sakit terkait berita-berita yang terus berseliweran di media.Awalnya, pihak rumah sakit memberikan apresiasi atas kinerja Brian yang aktif baik di dalam ataupun di luar. Sayangnya, semakin lama berita yang muncul adalah berita-berita negatif yang juga ikut mencoreng nama citra rumah sakit.Manajemen dianggap melindungi Brian yang merupakan salah satu anak dokter senior dan orang terpandang. Lalu muncul juga laporan dari kom

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Hot News

    "Kondisinya bagus, plasenta juga uda mulai geser, jadi sudah mulai bisa olahraga ringan!" Brian mengamati layar, sembari mulutnya berceloteh tentang kondisi Karina dan sang jabang bayi saat ini. Memasuki usia lima bulan, perutnya mulai membesar dan terlihat walau mengenakan pakaian longgar sekalipun."Tadi sudah cek darah, kan?" Seorang perawat menyodorkan hasil pemeriksaan darah yang dilakukan sebelum masuk ke ruangan. "Semuanya bagus, tinggal naikin Hb aja, ya! Jadi, jangan lupa tablet tambah darah, sayurannya juga yang banyak!" nasihatnya setengah memarahi.Karina tergelak, senang merasa diperhatikan. Beberapa hari terakhir ia memang merasa lemas dan lebih ingin tidur. Kebetulan sekali ia masih diberi waktu libur untuk istirahat."Kalau besok masih lemes, aku enggak akan ijinin kamu buat kerja!" tegas sang dokter dengan pelotototan tajam. Sang pasien memberi tanda hormat kecil sembari tersenyum. Esok memang akan menjadi hari pertama Karina bekera lagi setelah kurang lebih satu mi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status