LOGIN"HUWEK! HUWEK!"
Karina memuntahkan kopi yang pagi ini mengisi perutnya. Jari-jari lentiknya menyisir rambut ke belakang, sembari memberikan pijatan pelan di kepala yang terasa pening. "Sial!" makinya kesal. Beberapa hari terakhir kondisi morning sickness-nya semakin menjadi. Hampir setiap pagi ia muntah, terutama saat meminum kopi atau susu. Padahal dua minuman itu adalah sarapan favoritnya yang simple dan cepat. Sang produser menatap pantulan di cermin, coba memberikan semangat pada diri sendiri. Ia tak bisa menyerah di saat semua mimpi di depan mata. Menjadi produser, membanguns ebuah acara sampai nantinya rilis dan dapat dinikmati oleh masyarakat. "Bisa, yok!" katanya menyemangi diri sendiri. Dengan percaya diri, Karina keluar dari toilet. Matanya berkeliling, memastikan persiapan untuk pembuatan teaser acaranya berjalan dengan baik. Mulai dari backdrop, kamera, pencahayaan dan semua perintilan kecil ia pastikan sudah siap. "Dokter, ini script untuk teaser, kalau mau ada ad-lib atau improvisasi, kasih tahu aja!" Karina melirik Sheila yang sedang memberikan penjelasan pada Brian. Pria itu baru saja keluar dari ruang rias. Tak banyak yang berubah, dokter spesialis kandungan itu tetap tampan dan semakin rupawan karena pakaian yang kini melekat sempurna. "Rin, ini uda oke belum?" Sebuah suara langsung memecah lamunan. Karina langsung sibuk memeriksa setiap perlengkapan. Ia tak hanya memerintah tapi juga ikut memecahkan masalah. Tubuh kecilnya bergerak dari depan ke belakang, kanan ke kiri, tanpa kenal lelah. Ia benar-benar memastikan semua sempurna. Beberapa kali ia menepuk dada, berusaha menahan rasa mual yang datang mengganggu. Matanya pun terlihat semakin sayu dan cekungan hitam nan dalam terpampang nyata di bawah mata, menunjukkan bagaimana lelahnya sang produser. Karina melirik sebentar ke arah Brian yang sedang duduk manis membaca script dari Sheila tadi. Kacamatanya membuat aura cerdas tak terbantahkan lagi. Belum lagi tangannya yang ikut bergerak ketika sedang berlatih bicara. Otot tangan dan lengannya terbentuk, dibalutan kemeja putih yang begitu pas di tubuh sang dokter. Namun Karina tercekat begitu mendapati dokter itu menatapnya. Ia buru-buru memalingkan wajah dan mencoba untuk mencari celah yang lain. Karina gelagapan. Ia berusaha untuk menghindar, namun pria itu bergerak lebih cepat. "Kamu baru datang?" sapa Brian. "Hah? Oh, enggak! Aku dari toilet!" jawabnya panik. Keheningan tiba-tiba tercipta, di tengah persiapan yang sedang berjalan. Beberapa orang mulai masuk dan memenuhi ruangan itu. Suasana menjadi sedikit pengap. Dan Karina nampak sekali tidak nyaman. "Semua sudah siap?" "Lima belas menit lagi kita sudah bisa mulai." "Emangnya harus sepenuh ini?" tanya Brian bingung. "Untuk teaser, kita siapkan beberapa pakaian dan konsep, mulai dari yang santai sampai serius. Makanya kita butuh banyak kru. Tapi tenang aja, untuk kegiatan produksinya sendiri enggak akan sebanyak ini, karena kita hanya akan ambil satu konsep per hari." Karina coba menjelaskan pada Brian yang baru pertama kali ini masuk ke dunia hiburan. Walau sudah beberapa kali membuat konten dengan timnya, tentu tak sama dengan tim yang dimiliki rumah produksi yang tentu lebih lengkap dan profesional. "EHM!" "Kenapa?" tanya Brian panik melihat wajah Karina yang merah padam, seolah menahan sesuatu. "Ehm, eng... aku permi..." Karina berlari tanpa menyelesaikan kalimatnya. Langkahnya begitu cepat karena rasa mual yang menganggu. "HUWEK! HUWEK!" Wanita itu kembali memuntahkan isi perutnya, hingga tandas. Hanya tersisa air yang mungkin diminumnya pagi tadi. Sisanya hanya angin. "Rin, are you okay?" Sebuah suara muncul dari balik pintu toilet, membuat Karina sadar bahwa Brian mengikuti. Ia buru-buru menarik tisu, membersihkan diri dan menunjukkan sikap baik-baik saja. KREK! Pintu terbuka dan Karina menunjukkan senyum yang tersungging dengan manis. Bibirnya masih terkatup rapat, namun tatapannya terlihat sayu. "Kamu sudah minum vitaminnya?" tanya Brian yang hanya dijawab dengan senyuman. "Ck! Sudah kuduga!" katanya seraya menarik tangan Karina menuju ruang riasnya tadi. Karina gelagapan, tak ingin kejadian itu menjadi tontonan apalagi gosip timnya. Sebagai produser, ia berusaha untuk tetap profesional. Namun tenaga Brian bukan tandingannya. Pria itu berhasil mendudukknya di sofa dan mengusir beberapa perias untuk dapat meninggalkan ruangan. "Brian, aku enggak papa, ini cuma morning sickness dan aku sudah biasa. Sebentar lagi juga baikan." Karina coba beralasan. Sayangnya itu tak mempan bagi Brian yang sudah mengenal baik tubuh pasiennya. Pria itu memeriksa wajah sang produser, mulai dari mata, lidah sampai kulit pucat yang merupakan pertanda tak baik. Tangannya bergerak cepat mengambil beberapa obat yang ternyata sudah disiapkan. Brian baru mengenal Karina, tapi ia cukup tahu bahwa wanita itu tak hanya keras kepala tapi juga tak suka mendengarkan nasihat orang lain. "Kamu sudah janji sama aku!" katanya setelah memberikan beberapa vitamin ke tangan Karina. Wanita itu manyun, tak suka diperintah. Namun Brian juga tak suka dibantah. Ia menyodorkan sebotol minuman yang sudah terbuka, dan menatap lekat sampai semua obat tertelan. "Puas?" tanya Karina setelah menjulurkan lidah, memastikan semua vitamin selamat sampai tujuan. "Banget!" balas Brian yang diakhiri elusan lembut di puncak kepala Karina. Pria itu beranjak, dan hendak bersiap, begitu pula dengan Karina yang ikut bersiap. Tapi kali ini Brian langsung memelototi dan menggelengkan kepalanya. "Kamu di sini! Kamu harus istirahat!" tegasnya. Karina mengernyitkan kening, ia jelas menolak perintah untuk diam di saat semua timnya bergerak. Acara perdananya tak boleh berantakan, untuk itu ia harus hadir dan memastikan semuanya sesuai rencana. Namun Brian juga tak mau kalah. Ia menggendok Karina dan mendudukknya kembali di sofa. Tubunya merunduk, menahan sang produser yang terus saja memaksa untuk pergi. "Aku pastikan semuanya sesuai dengan keinginan kamu, karena aku akan lakukan yang terbaik, tapi kamu harus di sini, istirahat!" pintanya. Karina memegangi kepalanya yang semakin pening. Rasanya ia ingin sekali menyandarkan kepalanya sebentar, tapi tanggung jawab dan beban berat ada di pundaknya kini. "Aku janji!" tambah Brian yang tak bisa lagi ditolak Karina. "Tapi..." KREK! Pintu ruangan terbuka, Sheila masuk dengan senyuman manis yang membuat wajahnya semakin cantik. Sayangnya, itu hanya untuk Brian seorang. "Semua sudah siap, Dokter!" katanya begitu ramah. Brian mengangguk cepat dan menepuk lengan Karina sebelum akhirnya meninggalkan ruangan. Sementara Sheila masih diam di ambang pintu, menatap Karina dengan kesal. "Biarin aja Karina di sana, kayaknya dia lagi kurang enak badan!" kata Brian sebelum meninggalkan Sheila yang hanya diam dengan senyum kecutnya. Sheila masih di ambang pintu, melirik Karina yang memijat keningnya pelan. Tatapan tak suka jelas terlihat. Wanita itu merasa perlakuan Brian terkesan berlebihan, mengingat keduanya juga baru bekerja sama. Harusnya Karina bisa lebih profesional. "Kenapa?" tanya Karina, membuat wajah Sheila semakin kesal. "Enggak, enggak papa! Heran aja, baru ini aja gue lihat produser kerjaannya caper mulu sama pemeran utama!" ejeknya seraya pergi dengan amarah. ***"Awas, jangan lari!" Brian membuka payung dan merangkul Karina agar merapat. Keduanya berjalan dengan cepat, membelah hujan menuju salah satu cafe yang menjadi lokasi pengambilan gambar untuk episode pertama. "Selamat datang!" Seorang pelayan menyapa dengan ramah. Namun Brian nampak tak tertarik. Pria itu malah menarik sapu tangan dari kantong, lalu mengeringkan rambut dan wajah Karina yang basah. Wanita itu tersipu. Ia tak pernah mendapatkan perlakuan seistimewa itu. Dokter spesialis kandungan itu tak ragu untuk menggandeng tangannya dan menarik kursi untuknya saat duduk. Semua hal kecil itu terbaca jelas oleh Karina yang biasa melakukan semuanya seorang diri. Apalagi ia besar hanya bersama sang nenek. Ia dipaksa dewasa saat usianya masih membutuhkan kasih sayang. "Kamu mau pesan apa?" tanya Brian yang menyodorkan menu dengan cepat. "Burn Cheesecake-nya, enak banget!" katanya berpromosi. "Kok tahu? Kamu langganan?" "Temen aku yang punya cafenya," jawabnya seraya memame
"Masih sering mual?" Brian tersenyum ke arah pasiennya dengan sangat ramah. Tangannya membuka lembaran yang dibawa dari laboratorium. Dibacanya hasil pemeriksaan yang baru saja dilakukan oleh sang pasien dengan seksama. "Hb-nya agak rendah, ya!" katanya. "Ini sering terjadi, apalagi kalau kamu malas minum vitamin. Makanya aku sering bawel kalau kamu enggak minum vitamin, tapi malah ngopi!" celotehnya seolah bercerita. Kadar hemoglobin yang rendah memang biasa terjadi pada ibu hamil. Jika itu dibiarkan, maka aliran oksigen yang dibawa darah ke janin akan berkurang dan mempengaruhi perkembangan janin itu sendiri. Untuk itu, ibu hamil wajib minum vitamin tambahan. Brian coba menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, sayangnya sang lawan bicara mengangguk-anggukkan kepala. Bibir bergincunya hanya diam, tak banyak kata, seperti biasa. Perasaannya masih tak menentu, apalagi setiap bertemu dengan sang dokter. "Ada keluhan selain mual?" tanya Brian mewawancarai sebelum dilakukan pe
"Ngapain ke sini?" Karina muncul dengan wajah penuh amarah. Puluhan telepon masuk mengganggu pekerjaan dan berasal dari pria menyebalkan yang kini menatap tajam. "Kenapa kamu enggak angkat telepon aku?" tanya Raga, pria yang tak hanya menghancurkan hidup Karina tapi juga melukai harga dirinya. Wanita itu tergelak, menertawakan sikap sang mantan kekasih yang minggu lalu baru saja mencampakkannya dengan mudah. Masih segar dalam ingatan, bagaimana Raga tak peduli walau Karina menangis dan memohon. "Emangnya kita masih ada hubungan?" tanyanya dengan nada mengejek. Wajah Raga berubah merah, menahan malu. Padahal ia sendiri yang memutuskan perpisahan itu. "Ada!" kata pria itu menantang. "Aku mau ambil barang-barangku!" tambahnya. Karina tercekat. Sudah setahun belakang ia dan Raga memutuskan hidup bersama, walau sesekali pria itu pulang ke rumahnya di daerah Tangerang. Jadi tak salah jika Raga meminta barang-barang yang tertinggal di apartemen. Apalagi ketika rumah tinggal sementara
"HUWEK! HUWEK!"Karina memuntahkan kopi yang pagi ini mengisi perutnya. Jari-jari lentiknya menyisir rambut ke belakang, sembari memberikan pijatan pelan di kepala yang terasa pening. "Sial!" makinya kesal.Beberapa hari terakhir kondisi morning sickness-nya semakin menjadi. Hampir setiap pagi ia muntah, terutama saat meminum kopi atau susu. Padahal dua minuman itu adalah sarapan favoritnya yang simple dan cepat.Sang produser menatap pantulan di cermin, coba memberikan semangat pada diri sendiri. Ia tak bisa menyerah di saat semua mimpi di depan mata. Menjadi produser, membanguns ebuah acara sampai nantinya rilis dan dapat dinikmati oleh masyarakat."Bisa, yok!" katanya menyemangi diri sendiri.Dengan percaya diri, Karina keluar dari toilet. Matanya berkeliling, memastikan persiapan untuk pembuatan teaser acaranya berjalan dengan baik. Mulai dari backdrop, kamera, pencahayaan dan semua perintilan kecil ia pastikan sudah siap."Dokter, ini script untuk teaser, kalau mau ada ad-lib at
SREK! SREK! SREK!Karina menutup semua jendela di ruangan. Matanya melirik beberapa orang anggota timnya yang penasaran. Namun wanita itu bersikap masa bodoh dan mengunci rapat-rapat.Tubuhnya berbalik, menatap tajam pria yang sudah duduk manis di kursi tamu. Ia tersenyum, seolah tak terjadi apa-apa."Kamu sengaja, kan?" tebak Karina."Sengaja apa?""Ya ini!""Yang mana?" Brian memasang wajah bodoh dan berhasil membuat Karina merah padam karena marah.Brian mengangkat bahu, tetap pada pendiriannya. Ia sendiri tak mengerti apa yang membuat Karina marah."Kamu sengaja datang ke sini dan jadi pengisi acata yang aku buat!" jawab Karina.Sayangnya ia malah membuat Brian tergelak. Pria itu menggeleng pelan, sesuai kenyataan yang ada.Penawaran dari Pak Broto datang seminggu lalu dan Brian tidak tahu jika Karina ikut bekerja di program ini. Ia bahkan masih mencari Karina beberapa menit sebelum masuk ke ruang rapat."Bohong!" seru Karina menolak alibi yang tak meyakinkan. "Kamu bisa dengan mu
"Karina, kenalkan, ini Dokter Brian, bintang utama kita!"Ruang rapat mendadak sunyi senyap, begitu Brian masuk. Jas putih khas dokter membuat pesonanya semakin menjadi. Semua mata kini tertuju pada pria tampan dengan tubuh proporsional yang tersenyum menyapa semua peserta rapat, termasuk Karina.Wanita itu tercekat, tak menyangka bahwa dunia begitu sempit hingga mempertemukannya kembali dengan Brian. Wajahnya tertunduk, memaki diri sendiri.Untuk pertama kalinya ia berhasil menjadi produser, setelah sepuluh tahun lamanya bekerja di Onestar House, sebuah production yang kini tengah naik daun berkat program-program yang lekat dengan masyarakat. Memulai karir sebagai writer atau penulis skenario, lalu merangkak perlahan sampai di posisinya saat ini."Karina!" Broto Kusumo, sang Direktur Operasional memanggil sang produser dengan penuh penekanan. Pria berkumis itu mempersilakan Karina berdiri, dan memperkenalkan diri. Tatapannya setengah memaksa, karena wanita itu nampak setengah hati b







