Share

Menambatkan Hati

Penulis: She Sheila
last update Tanggal publikasi: 2026-08-19 14:25:30

"Masih sering mual?"

Brian tersenyum ke arah pasiennya dengan sangat ramah. Tangannya membuka lembaran yang dibawa dari laboratorium. Dibacanya hasil pemeriksaan yang baru saja dilakukan oleh sang pasien dengan seksama.

"Hb-nya agak rendah, ya!" katanya. "Ini sering terjadi, apalagi kalau kamu malas minum vitamin. Makanya aku sering bawel kalau kamu enggak minum vitamin, tapi malah ngopi!" celotehnya seolah bercerita.

Kadar hemoglobin yang rendah memang biasa terjadi pada ibu hamil. Jika itu dibiarkan, maka aliran oksigen yang dibawa darah ke janin akan berkurang dan mempengaruhi perkembangan janin itu sendiri. Untuk itu, ibu hamil wajib minum vitamin tambahan.

Brian coba menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, sayangnya sang lawan bicara mengangguk-anggukkan kepala. Bibir bergincunya hanya diam, tak banyak kata, seperti biasa. Perasaannya masih tak menentu, apalagi setiap bertemu dengan sang dokter.

"Ada keluhan selain mual?" tanya Brian mewawancarai sebelum dilakukan pemeriksaan USG.

"Aku kurang enak badan aja," jawab Karina yang kini datang dengan sweter tebal bak sedang musim dingin.

"Wajah aja, Hb segini, enggak minum vitamin, sibuk kerja, makan kurang, tinggal nunggu roboh aja ini, mah!"

"Ish!"

"Beneran! Apalagi susah dikasih tahu, udah pasti besok masuk rawat inap!" tambah Brian menakut-nakuti.

Karina memicingkan mata, tahu bahwa ia sedang dipermainkan, karena ekspresi Brian yang merajuk tapi dengan gemas. Tangannya ingin sekali maju dan mencubit pipi sang dokter, tapi sadar seorang perawat ada di antara mereka, menjadi asisten untuk dokter yang sedang bertugas.

"Let's go kita tengok!" ajak Brian yang langsung mengulurkan tangan ke arah Karina.

Wanita itu terdiam, tak berani menunjukkan gestur apapun, terutama di depan orang asing. Namun Brian malah menarik tangannya dan membantu untuk naik ke atas ranjang.

"Enggak papa, dia salah satu senior di timku. Dia enggak akan banyak omong, dan enggak akan juga koar-koar kayak temen-temen kamu, tuh!" kata Brian yang melirik asistennya.

Wanita itu nampak seusia dengan Brian, namun sikapnya begitu ramah dan lebih banyak diam. Ia bahkan tak banyak bertindak karena sang dokterlah yang melakukan semuanya sendiri. Tak lama ia pergi setelah memastikan bahwa tak ada bantuan yang dibutuhkan.

"Oke, kita coba lihat ya..." Brian mengoceh sendiri, seperti seorang ibu yang bercerita tentang banyak hal pada sang anak. Tangannya bergerak mengelilingi perut Karina, mencari posisi janin yang pas. "Kondisinya bagus, ukurannya sesuai dengan usia, berkembangnya di dalam kantong rahim, harusnya sih aman ya!" jelasnya.

Karina mengembuskan napas penuh kelegaan. Kondisinya cukup drop setelah pertikaian dengan Raga beberapa hari lalu. Ia sempat tak masuk sehari, karena demam. Tapi setelah itu ia harus kembali mempersiapkan program perdananya yang cukup menguras waktu dan energi.

"Tapi aku serius, kamu bisa jatuh sakit kalau terus-teruskan gini!"

Sebagai pasien, wanita itu hanya bisa menunduk malu. Vitamin-vitamin yang diberikan memang tak pernah disentuh. Hatinya masih belum memutuskan, apakah ia yakin akan mempertahankan janin itu, atau melepaskannya.

Mimpi di depan mata, masa depan yang cerah sudah menunggu. Tapi janinnya pun tak punya dosa hingga harus dikorbankan atas kesalahan bodoh yang ia dan Raga lakukan.

"Mau denger sesuatu?" tawar Brian yang membuat Karina bangun dari lamunan.

Wanita itu mengangguk pelan dan sang dokter mulai beraksi. Tangan besar itu bergerak memutar sesuatu di mesin USG. Setelah itu ia coba mencari posisi yang pas dan akhirnya sesuatu yang ditunggu terdengar begitu lembut.

Dug, dug, dug...!

Karina dan Brian saling melempar pandang. Senyum keduanya terukir, tak menyangka bahwa suaranya akan terdengar walau samar.

"S-sudah ada detaknya?" tanya Karina tak percaya.

"Sudah, tapi memang enggak akan kedengeran banget, karena harusnya pakai USG tranvaginal yang.... ehm... yang..." Brian gelagapan, untuk pertama kalinya ia tak bisa menjelaskan dengan detail pada pasiennya sendiri.

Karina mengernyit, menunggu jawaban. Tapi wajah Brian langsung merah, menahan malu. Bibirnya kelu, bersama keringat yang bercucuran tak jelas.

"Intinya, kamu enggak boleh sakit! Karena itu enggak cuma bahaya buat kamu tapi juga untuk janin ini!" jelas Brian coba mengalihkan pembicaraan.

Suasana kembali hening, terutama untuk Karina yang memandangi benda kecil di layar yang bahkan belum ia rasakan betul keberadaannya, tapi sudah bisa membuat banyak perubahan.

Brian mulai merapikan alat USG-nya. Ia juga membersihkan pelumas di perut Karina. Lalu ia menyerahkan lembar hitam putih dengan senyum puas, karena kondisi janin sehat.

Wanita itu beranjak dan memilih duduk di pinggir ranjang. "Kalau misalnya aku enggak mau anak ini, apa aku salah?" tanya Karina sembari memandangi gambar janin tak berdosa itu.

Tentu saja Brian terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia menyentuh lengan Karina dengan lembut, coba memandang lebih dalam ke sorot manik cokelat yang sudah mengambang air mata.

"Kenapa?" tanyanya.

"Karena dia akan menderita!"

"Kata siapa?"

"Kata aku!"

"Memang kamu siapa? Tuhan?"

"Aku ibunya!" jawab Karina cepat.

"Kalau gitu kamu enggak akan membiarkan dia menderita!" balas Brian. "Karena kamu ibunya, dan aku tahu kamu enggak akan sampai hati melakukan itu!" tambahnya.

Wanita itu menggelengkan kepala. Bayang kelam masa lalunya kembali muncul. Bagaimana ia menikmati setiap malam dengan berpesta. Minuman keras adalah pelipur lelah sepulang bekerja. Belum lagi keputusannya untuk tinggal bersama tanpa status pernikahan dengan sang kekasih.

Semua tindakan tak bertanggung jawab itu mengucilkan hatinya. Ia yakin kehidupannya akan penuh derita. Apalagi jika semua orang tahu kondisinya kini.

"Aku lihat gimana kamu nyiapin semua kebutuhan untuk acara kemarin. Enggak sekalipun kamu biarin, anggota tim kamu kesulitan. Kalau buat orang lain aja kamu bisa, apalagi buat anak ini!"

Karina menutup wajahnya dengan tangan. Otaknya tak bisa berpikir dengan jernih. Ia sungguh tak ingin lagi melakukan dosa. Tapi kondisinya saat ini sangat sulit diterima. Apalagi ia hidup tanpa kasih sayang orang tua. Akan jadi apa hidupnya kelak, ia sendiri tak tahu.

Brian keluar dari ruangan, namun tak lama ia kembali dengan sesuatu di tangan. Dengan satu gerak cepat, ia memindahkan dua sebuah tablet ke tangan Karina.

"Kamu bisa minum obat itu kalau memang kamu enggak mau lanjutin semuanya!"

Karina mendelik, terkejut. Ia tak menyangka bahwa Brian akan memenuhi permintaan bodohnya itu. Tangannya gemetaran, bingung.

"Minum sekarang!" perintah Brian sembari menyodorkan segelas air minum.

Keduanya saling pandang. Satu detik, dua detik, tapi di detik ketiga, tangan Karina jatuh bersama obat yang bergulir di lantai. Tangisnya pecah.

Brian menyentuh bahu yang bergetar hebat itu dan membawanya ke dalam pelukan. Ia sungguh tak benar-benar ingin Karina meminum obat itu. Semua ia lakukan untuk menghilangkan niat buruk yang kadang datang karena keterpaksaan.

"Kamu bisa percaya aku! Sungguh!" bisik Brian sembari menengadahkan wajah Karina hingga mata mereka bertemu. "Aku pasti jagain kalian!" tambahnya seraya menambatkan bibirnya ke arah Karina yang menyambutnya lembut.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Gara-gara Pandji

    "Saya diintimidasi, dipaksa melakukan pemeriksaan itu dan kemungkinan besar hasilnya juga dimanipulasi hingga saya tidak bisa mendapatkan keadilan."Wanita dalam layar menunduk dan menangis. Pria-pria bertubuh besar di sisinya mendekat dan merangkul, coba memberi ketenangan. Lalu tak lama mereka mengamuk, menunjuk-nunjuk dan mengelukan nama Brian yang menjadi tokoh utama dalam pemberitaan ini.CKLIK!Brian mematikan layar, merundukkan kepala dan mengingat alur di mana ia menemukan Mawar, pasien yang dibawanya dalam program Inside Her. Tak hanya itu, ia juga mulai menelusur, di mana letak kesalahannya.Lirikannya berubah tajam begitu layar ponsel menyala. Nama Karina ada di sana, dengan emot tanda cinta berwarna merah menyala. Namun ia malah menekan tombol merah sebagai tanda menolak. Tabgannya bertaut dengan wajah menunduk dalam. Kepalanya terasa penuh, memutar cerita lama tentang pertemuannya dengan Mawar dan bagaimana ia melayani wanita itu dengan sangat baik.TING!Sebuah pesan m

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Dokter Pandji atai Bandji?

    "Dokter, ada yang mau bertemu."Pandji menengadah, menatap perawat yang masuk di saat semua pasien sudah selesai diperiksa. Ekspresi penu tanya itu langsung terjawab begitu seorang wanita muncul di ambang pintu. Wajahnya tak asing, begitu pula tatapan tajam yang menunjukkan alasan dari kemunculannya."Oke, terima kasih!" katanya seraya mempersilakan perawat itu untuk keluar.Karina masuk dengan langkah pasti. Matanya tak lepas dari wajah dokter yang membuatnya muak bahkan hanya dengan melihat senyum menyebalkannya."Ada yang bisa saya bantu, Ibu Karina?" tanyanya terdengar sok akrab. Senyumnya menyimpan sejuta arti, mulai dari ledekan hingga puas, karena bisa membuat wanita itu hadir di ruangannya, atas kesadaran sendiri. "Atau Nona, karena Anda belum menikah, kan?" selorohnya kali ini dengan nada mengejek.Air muka si cantik semakin merah, menahan malu dan kesal yang sudah ada di ubun-ubun. Keduanya tak saling mengenal, tapi cerita satu sama lain sepertinya sudah jelas pernah didenga

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Sutradara Sesungguhnya

    "Dokter Brian di mana?"Karina menatap sekeliling, tapi tak menemukan pujaan hatinya di sana. Seorang kameramen menunjuk ruang ganti, posisi sang dokter berada saat ini."Thank you!"Wanita itu bergerak dengan cepat menuju ke tempat sang kekasih. Seperti biasa, ia disapa dengan senyuman manis dan tatapan penuh kasih dari Brian. Pria itu bahkan tak malu mengelus lembut perut buncit yang menggemaskan itu di depan para perias."Sorry, gue mau ngobrol bentar, bisa?" pintanya pada beberapa orang yang langsung mengangguk tanda mengerti.Karina tak ingin membuang waktu. Inside Her terus berjalan, rating harus dipertahankan, tapi masalah kembali datang. Semua masalah harus diselesaikan sesegera mungkin, atau ini akan membuat Inside Her dan Brian dalam masalah besar. Utamanya bagi sang kekasih yang tentu memiliki etika profesi."Ada apa?" tanya Brian langsung sadar bahwa ada yang tak beres dari kedatangan sang kekasih.Wajah Karina nampak cemas, bingung harus mulai dari mana. Ia menarik kursi,

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Pasien Bermasalah

    "Happy banget Bumil!" puji Sheila yang muncul dari arah pintu masuk. Karina tergelak. Ia baru saja menekan tombol lift, dan keduanya masuk bersamaan. Wajahnya nampak berseri-seri dan cerah ceria, persis menggambarkan suasana hatinya yang tengah berbahagia, seperti dugaan rekan kerjanya itu."Kelihatan banget, ya?" tanya Karina sembari melihat pantulan diri dari dinding lift yang menunjukkan bagaimana wajah cantik itu berpuluh kali lipat lebih cerah dari biasanya."Bukan lagi!" jawab Sheila menggeleng-gelengkan kepala.Semenjak hubungan keduanya membaik, Sheila dan Karina sering terlihat jalan berdua, berbincang terkait pekerjaan atau bahkan hanya bersenda gurau layaknya sahabat. Hubungan ini membuat sebagian orang memandang tak suka, karena perpaduan mereka dalam pekerjaan malah membuat semuanya semakin baik."Abis dapat apa? Duit? Berlian?" Sheila mencecar dengan penasaran.Sesekali tangannya menyentuh perut Karina yang kian membesar. Ia begitu gemas melihat sembulan itu, dan kadang

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Rahasia Brian

    "Rasanya udah lama kita enggak makan, terus ngobrol kayak gini!" Karina berseru kegirangan. Sepiring nasi dengan sup buatan Brian membuat nafsu makannya bertambah. Apalagi ditemani sang kekasih yang akhirnya tak jadi pulang."Terakhir setahun lalu enggak, sih?" celetuk Brian yang langsung disambut tawa Karina.Keduanya terbahak. Guyonan khas bapak-bapak yang membuat suasana semakin mencair terasa begitu pas bagi mereka. Tangan yang bertaut, manik saling memandang dan elusan lembut satu sama lain yang tiada henti, rasanya begitu hangat dan indah."Tapi..." Kalimat itu mengambang, tatapan mata Karina mendadak ragu. "Kamu enggak lagi ngehindarin aku, kan?" tanyanya tiba-tiba.Sang dokter mengernyitkan kening, bingung. Ia merasa tak menghindari sang kekasih. Kesibukannya memang di luar kebiasaan.Jika Brian masih bisa membagi waktu untuk sekedar menelepon atau mengunjungi sang kekasih, kali ini memang tidak. Mulutnya mulai bergerak, menceritakan semua kegiatannya dari pagi hingga sore, b

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Kangen

    "Nginep enggak?"Karina memasang wajah memohon. Sudah seminggu ini ia tidur sendiri. Jadwal bertemu dengan sang dokter pun terhitung jarang, keduanya menyempatkan diri di jam-jam makan siang dan mengantar pulang seperti saat ini."Hmmm... aku cek jadwal sebentar!" Brian mendesah pelan sembari menatap layar ponsel, di mana semua jadwal tersedia di sana. Mulai dari jadwal praktik, visit sampai konsultasi naskah dengan Sheila."Besok aku memang ada acara ke kantor kamu buat penulisan naskah bareng anak-anak, tapi abis makan siang. Paginya aku ada praktik." Sang dokter memasang wajah sedih, karena kemungkinan besar dirinya menginap semakin kecil.Lokasi rumah sakit memang cukup jauh dari tempat Karina, sehingga ia memperhitungkan jarak dan juga waktu tempuhnya. Belum lagi kemacetan di pagi hari yang sering membuat panik duluan."Beneran enggak bisa?" tanya Karina memelas.Wanita itu memasang wajah sedih dan nestapa karena tak ditemani lagi. Walau bukan yang pertama, namun entah mengapa p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status