Compartir

Kebohongan Raka

Autor: Imay21
last update Fecha de publicación: 2026-08-10 12:57:21

Nadira sudah berada diruang kerjanya, dan melakukan aktivitas seperti biasanya tetai pikiranya kembali pada pesan mesra yang tak sengaja ia lihat di ponsel Raka tadi pagi.

“Kalau cuma antar Arkana, harusnya udah sampai kantor,” gumamnya.

Nadira meraih ponsel di meja dan mencari nomor Raka. Jarinya sedikit tegang saat menekan tombol panggil. Panggilan tersambung, tetapi baru pada dering ketiga diangkat.

“Halo, Mas? Kamu di mana?” tanya Nadira, berusaha menahan getaran napas agar suaranya tetap terdengar tenang.

Di ujung telepon, Raka tidak langsung menjawab. Ada jeda dua detik, diisi suara napas berat. Hati Nadira mencelos. Setelah lima belas tahun menikah, ia hafal betul helaan napas Raka saat sedang berada di puncak gairah bercinta.

“A–aku lagi– di toilet, Ra,” jawab Raka terbata-bata. Suaranya sengaja dipelankan seolah menahan sesuatu. “Perutku… agak nggak enak.”

Sesak di dada Nadira semakin menjadi. Instingnya sebagai perempuan yang pernah dibohongi berbunyi nyaring. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memfokuskan pendengarannya ke suara di ujung telepon.

“Di toilet?” tanyanya pelan.

“Hmm…” Suara Raka lebih mirip erangan kenikmatan daripada jawaban. Samar-samar, Nadira menangkap gesekan kain halus serta helaan napas lain yang terdengar sangat dekat dengan mikrofon.

“Ada orang lain di sana,” batinnya.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Nadira menggigit bibir untuk menahan isakan. Semua kepingan puzzle seolah menyatu di kepalanya, membentuk satu fakta yang sulit disangkal: suaminya selingkuh lagi.

Raka jelas sedang bersama Shela. Mereka mungkin bercinta di apartemen wanita itu. Entah permainan gila apa yang sedang mereka lakukan sampai telepon Raka sengaja diangkat dalam posisi seperti itu.

“Mas–” Belum selesai Nadira memanggil, sebuah erangan kencang terdengar tepat di depan speaker, disusul suara klik tanda telepon dimatikan.

Nadira masih terpaku menatap layar. Sambungan telah terputus, tetapi suara terakhir itu seolah masih menggema di telinganya. Jemarinya mencengkeram ponsel hingga buku-buku jarinya memutih.

Beberapa saat kemudian, air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. Ia segera mengusapnya dengan punggung tangan. Ia tidak ingin menangis, setidaknya bukan di tempat seperti ini.

Lima belas tahun.

Lima belas tahun ia menjalani pernikahan bersama Raka. Selama itu pula ia berkali-kali memilih percaya, bahkan ketika ada hal-hal yang membuat hatinya ragu.

Namun, kali ini berbeda.

Nadira membuka percakapan dengan Maya.

“May, kalau informasi tentang Raka dan Shela sudah ada, kabari saya secepatnya.”

Tak lama, balasan masuk. “Baik, Bu. Saya sedang mengusahakannya.”

Nadira meletakkan ponsel dan mencoba kembali fokus pada pekerjaan. Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali bergetar.

“Bu, saya dapat rekaman CCTV dari basement kantor Pak Raka.”

Nadira langsung membuka pesan tersebut. Beberapa foto muncul di layar. Foto pertama memperlihatkan area basement gedung perkantoran pada malam hari, dengan waktu menunjukkan pukul sebelas lewat.

Nadira terdiam.

Itu adalah malam ketika Raka pulang sangat larut.

Maya mengirim foto berikutnya. Terlihat Raka berjalan menuju sebuah mobil bersama seorang perempuan. Nadira memperbesar foto tersebut. Ia tidak mengenal perempuan itu, tetapi sesuatu membuat jantungnya berdebar.

Foto berikutnya menunjukkan keduanya berdiri di dekat mobil. Foto terakhir memperlihatkan mereka berada di dalam mobil yang sama.

Nadira menatap layar cukup lama.

“May, ini siapa?” ketiknya.

Beberapa saat kemudian, balasan masuk.

“Menurut informasi yang saya dapat, Bu, perempuan itu Shela. Staf yang bekerja di divisi yang sama dengan Pak Raka.”

Nadira terdiam.

Jadi, inilah Shela. Perempuan yang namanya muncul di ponsel Raka pagi tadi. Perempuan yang pesannya membuat dadanya terasa sesak sejak awal. Dan sekarang, wajah perempuan itu akhirnya terlihat di hadapannya, meskipun hanya melalui rekaman CCTV.

Maya kembali mengirim pesan. “Rekaman ini dari malam saat Pak Raka pulang larut, Bu. Saya masih coba cari rekaman dari kamera lain untuk mengetahui apakah mereka keluar bersama dari basement.”

Jemari Nadira terasa dingin saat mengetik, “Cari sampai jelas, May.”

“Baik, Bu.”

Nadira mematikan layar ponselnya dan menyandarkan tubuh ke kursi. Ia memejamkan mata sejenak.

Pagi ini ia hanya melihat nama Shela. Siang ini, ia melihat wajah perempuan itu untuk pertama kalinya. Yang lebih menyakitkan, perempuan yang sama terlihat bersama suaminya di dalam sebuah mobil pada malam ketika Raka pulang larut.

Namun, Nadira belum ingin mengambil kesimpulan akhir.

Ia ingin tahu sejak kapan mereka saling mengenal, seberapa jauh hubungan mereka, dan berapa banyak kebohongan yang selama ini disembunyikan Raka darinya.

Nadira membuka mata. Tatapannya berubah dingin.

“Kalau memang ada sesuatu di antara kalian, aku akan menemukan semuanya, Raka.”

Ia meraih laptop dan kembali bekerja. Untuk sementara, Nadira akan tetap menjadi istri yang seolah tidak tahu apa-apa.

Sebab kali ini, ia tidak ingin bertindak berdasarkan amarah. Ia ingin menunggu sampai seluruh kebenaran berada di tangannya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Diantara Dua Cincin   Permainan Dimulai

    Nadira tidak ingin mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Ia tahu kemarahan hanya akan membuatnya kehilangan kendali. Jika Raka memang mengkhianatinya, ia ingin memastikan semuanya terlebih dahulu. Sepanjang sore itu, Nadira tetap bekerja seperti biasa. Ia memeriksa laporan dan menyelesaikan dokumen yang tertunda. Hasil rapat dengan PT Nusa Maritim juga ia pastikan berjalan sesuai rencana. Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore. Nadira merapikan meja dan memasukkan laptop ke dalam tas. Ia lalu berdiri dan keluar dari ruangannya. Maya langsung menoleh saat melihatnya. “Bu Dira?” “Saya pulang dulu, May. Saya harus jemput Kana.” “Baik, Bu.” Nadira sempat berhenti. Ia teringat sesuatu dari rapat pagi tadi. “Oh iya, terkait rapat tadi, kamu kawal sampai proyek ini tuntas, ya.” “Siap, Bu.” “Pastikan revisi proposal dan anggaran sudah dikoordinasikan.” “Siap, Bu. Saya kawal.” “Terima kasih.” “Sama-sama, Bu.” Nadira meninggalkan kantor. Perjalanan menuju seko

  • Diantara Dua Cincin   Kebohongan Raka

    Nadira sudah berada diruang kerjanya, dan melakukan aktivitas seperti biasanya tetai pikiranya kembali pada pesan mesra yang tak sengaja ia lihat di ponsel Raka tadi pagi. “Kalau cuma antar Arkana, harusnya udah sampai kantor,” gumamnya. Nadira meraih ponsel di meja dan mencari nomor Raka. Jarinya sedikit tegang saat menekan tombol panggil. Panggilan tersambung, tetapi baru pada dering ketiga diangkat. “Halo, Mas? Kamu di mana?” tanya Nadira, berusaha menahan getaran napas agar suaranya tetap terdengar tenang. Di ujung telepon, Raka tidak langsung menjawab. Ada jeda dua detik, diisi suara napas berat. Hati Nadira mencelos. Setelah lima belas tahun menikah, ia hafal betul helaan napas Raka saat sedang berada di puncak gairah bercinta. “A–aku lagi– di toilet, Ra,” jawab Raka terbata-bata. Suaranya sengaja dipelankan seolah menahan sesuatu. “Perutku… agak nggak enak.” Sesak di dada Nadira semakin menjadi. Instingnya sebagai perempuan yang pernah dibohongi berbunyi nyaring. Ia menar

  • Diantara Dua Cincin   Profesional

    Usai memastikan rumah kembali rapi, Nadira berganti pakaian kerja berwarna krem dengan blus putih. Ia menyanggul rambut panjangnya secara sederhana dan merapikan riasan tipis di wajahnya. Penampilannya kembali seperti biasa—tenang dan terkontrol. Tidak ada yang bisa menebak apa yang sedang ia rasakan. Setelah itu, Nadira keluar dari rumah dan langsung menuju mobilnya. Ia duduk di kursi pengemudi, meletakkan tas di samping, Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari Maya. “Selamat pagi, Bu. Jangan lupa pukul 10.00 kita ada meeting dengan klien dari PT Nusa Maritim. Mereka ingin membahas proposal executive gathering terlebih dahulu sebelum proyek Family Gathering Tahunan. Pesertanya sekitar tiga puluh orang, satu divisi di bawah naungan Pak Dewa selaku Direktur Divisi Pengembangan Bisnis. Konsep yang diminta tiga hari dua malam di Bandung. Menginap di vila di kawasan hutan pinus dekat air terjun, dengan agenda arung jeram, barbecue dinner, fun games, dan team building.” Nadira memba

  • Diantara Dua Cincin   Pesan Menggoda

    Pagi selalu datang dengan rutinitas yang sama bagi Nadira, seolah hidupnya telah diprogram tanpa pernah memberinya pilihan. Menyiapkan sarapan, memastikan seragam sekolah putranya rapi, lalu menyeduh secangkir kopi hitam untuk Raka. Semua dikerjakan dengan urutan yang nyaris tak pernah berubah selama bertahun-tahun.Rumah masih diselimuti suasana tenang. Putranya sedang bersiap di lantai atas, sementara Raka telah duduk di kursi di ujung meja makan dengan kemeja yang baru saja disetrika Nadira. Lelaki itu sibuk menatap layar ponselnya tanpa sekali pun melirik sang istri yang berjalan mendekat.Nadira membawa teko berisi kopi panas. Ia berdiri di belakang kursi Raka, hendak menuangkan kopi ke dalam cangkir sebelum duduk dan sarapan bersama keluarganya. Saat itulah bunyi notifikasi WhatsApp memecah keheningan.Raka membuka pesan itu. Tangan Nadira yang menggenggam gagang teko mendadak berhenti. Matanya tanpa sengaja menangkap layar ponsel suaminya.Nama Shela terpampang di sana. Di bawa

  • Diantara Dua Cincin   Pengkhianatan Raka

    Basemen lantai tiga di sebuah gedung perkantoran sepi, hanya terdengar deru mesin sedan Raka yang sengaja dibiarkan menyala. Di balik kaca film yang gelap, kemeja mahal Raka berantakan, kancingnya terlepas hingga ke dada. Bau parfum Shela yang terlalu manis dan tajam tercium di udara, merusak sisa wangi pelicin pakaian di kerah kemeja Raka—wangi rumahan yang selalu disiapkan istrinya setiap subuh dengan rapi. Tiba-tiba, ponsel Raka yang tergeletak di dekat tuas persneling bergetar panjang. Layarnya menyala terang, memunculkan satu nama: Nadira. Shela berhenti sejenak. Ia melirik layar ponsel, mendecak pelan, lalu menatap Raka dengan senyum mengejek. Alih-alih mundur, perempuan itu justru menyingkirkan jarak di antara mereka. “Angkat, Mas,” bisik Shela persis di depan bibir Raka. Matanya menantang. “Nanti Ibu Direktur panik suaminya belum pulang.” Raka tersenyum miring, merasa egonya disentuh. Dengan santai, tangannya meraih ponsel itu, menggeser tombol hijau, dan menempelkannya k

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status