Home / Romansa / Diantara Dua Cincin / Pengkhianatan Raka

Share

Diantara Dua Cincin
Diantara Dua Cincin
Author: Imay21

Pengkhianatan Raka

Author: Imay21
last update publish date: 2026-08-06 13:45:36

Basemen lantai tiga di sebuah gedung perkantoran sepi, hanya terdengar deru mesin sedan Raka yang sengaja dibiarkan menyala. Di balik kaca film yang gelap, kemeja mahal Raka berantakan, kancingnya terlepas hingga ke dada. Bau parfum Shela yang terlalu manis dan tajam tercium di udara, merusak sisa wangi pelicin pakaian di kerah kemeja Raka—wangi rumahan yang selalu disiapkan istrinya setiap subuh dengan rapi.

Tiba-tiba, ponsel Raka yang tergeletak di dekat tuas persneling bergetar panjang. Layarnya menyala terang, memunculkan satu nama: Nadira.

Shela berhenti sejenak. Ia melirik layar ponsel, mendecak pelan, lalu menatap Raka dengan senyum mengejek. Alih-alih mundur, perempuan itu justru menyingkirkan jarak di antara mereka.

“Angkat, Mas,” bisik Shela persis di depan bibir Raka. Matanya menantang. “Nanti Ibu Direktur panik suaminya belum pulang.”

Raka tersenyum miring, merasa egonya disentuh. Dengan santai, tangannya meraih ponsel itu, menggeser tombol hijau, dan menempelkannya ke telinga.

“Halo, Nad?” Suara Raka begitu tenang, datar, tanpa ada nada bersalah sedikit pun.

Di seberang telpon, terdengar hela napas lelah.

“Masih lama, Mas? Ini udah mau jam dua belas.” Suara Nadira terdengar serak, khas perempuan yang kurang tidur setelah seharian bekerja dan mengurus anak.

Tepat saat Nadira bicara, Shela beraksi. Perempuan itu tak peduli Raka sedang menelepon sang istri. Dengan liar, bibirnya mengecup dan menggigit pelan leher laki-laki itu, sengaja memancing reaksi.

Rahang Raka mengeras seketika. Tangan kirinya spontan mencengkeram pinggang Shela kuat-kuat. Ia mati-matian menahan napas agar erangannya tidak lolos di telepon.

“Masih ada meeting sama klien, Nad,” balas Raka dengan suara tertahan. “Lobi bisnisnya alot, nggak bisa ditinggal.”

Shela tersenyum menang. Ia beralih ke bibir Raka, memaksa laki-laki itu menjauhkan ponselnya sebentar untuk membalas cumbuan itu dengan kasar, sebelum menempelkannya lagi ke telinga.

“Oh… ya udah. Masakan untuk makan malam udah aku tutup di meja makan kalau Mas lapar.”

“Hm. Tidur duluan aja.”

Klik.

Raka mematikan telepon sepihak, melempar ponselnya ke dasbor, lalu menarik tengkuk Shela untuk membalas serangan perempuan itu. Adrenalinnya meledak.

“Jago banget aktingnya,” puji Shela dengan napas tersengal begitu mereka saling melepaskan diri. Ia mengusap sisa lipstiknya di sudut bibir Raka. “Yakin dia nggak curiga? Posisinya direktur lho, Mas. Pergaulannya luas, instingnya pasti jalan.”

Raka tertawa meremehkan. Sambil merapikan sedikit kerah kemejanya, ia bersandar ke jok.

“Mau jabatannya setinggi apa pun di luar sana, di rumah dia tetap istri yang harus nurut,” ucap Raka enteng. “Nadira itu naif. Demi menjaga nama baik dan keluarga utuh, dia rela tutup mata asal aku kasih alasan kerjaan. Dia pikir ngurusin anak dan rumah udah cukup bikin aku diam.”

“Nggak takut dia tiba-tiba minta cerai?”

Raka mendengus geli seolah itu lelucon murahan.

“Nadira nggak akan berani ke mana-mana. Hidupnya terlalu bergantung pada citra keluarga ini. Mau aku bohongi kayak gini seribu kali, dia bakal telan semuanya sendirian demi anak kami. Aku tahu betul kelemahannya, Shela.”

Di ujung telepon, Nadira menatap layar ponselnya selama beberapa saat. Pandangannya kemudian beralih ke meja makan yang tertata rapi. Empat macam lauk, semangkuk sayur, sambal buatan sendiri, dan nasi yang masih tersimpan di dalam rice cooker sudah ia siapkan sejak selepas magrib. Semuanya adalah kesukaan Raka.

Sejak sore, begitu sampai di rumah usai bekerja, Nadira bahkan belum sempat beristirahat. Ia langsung berganti pakaian, masuk ke dapur, lalu memasak sambil sesekali membantu putranya mengerjakan tugas sekolah. Begitulah rutinitasnya hampir setiap hari. Menjadi direktur di sebuah perusahaan tidak pernah membuatnya merasa lebih tinggi dari seorang ibu rumah tangga. Baginya, suami dan anak tetap menjadi prioritas ketika ia menginjakkan kaki di rumah.

Nadira melirik jam dinding. Hampir tengah malam. Sembari mengembuskan napas pelan, tangannya meraih tudung saji lalu menutup kembali seluruh hidangan yang mulai dingin.

“Besok dipanasin lagi aja,” gumamnya lirih.

Sudah berkali-kali makanan yang ia masak berakhir seperti itu. Bukan karena rasanya tak enak, melainkan karena Raka selalu punya alasan untuk pulang larut: rapat, pekerjaan menumpuk, atau perjalanan dinas mendadak. Nadira selalu meyakinkan dirinya untuk percaya kepada Raka, tapi lama-kelamaan alasan itu terdengar semakin hambar.

Nadira mematikan lampu ruang makan dan melangkah menuju lantai dua. Dari pintu kamar yang terbuka sedikit, ia melihat putranya sudah tertidur pulas dengan buku pelajaran yang masih terbuka di samping bantal.

Wanita itu tersenyum. Setelah memindahkan buku itu ke meja belajar, ia menarik selimut hingga menutupi dada putranya.

“Selamat tidur, Sayang.”

Sesampainya di kamar utama, Nadira tidak langsung berbaring. Ia membuka sedikit tirai jendela yang mengarah ke halaman rumah. Belum ada sorot lampu mobil yang memasuki pagar.

“Apa masih lama ya?” pikir Nadira bimbang. Pandangannya kemudian jatuh pada foto pernikahan yang terpajang di atas nakas.

Lima belas tahun. Waktu yang tidak sebentar untuk membangun sebuah rumah tangga. Namun belakangan ini, ia merasa rumah itu semakin sering diisi oleh penantian daripada kebersamaan.

Nadira kembali melirik ponselnya. Tak ada pesan ataupun kabar. Ia hanya bisa berharap bahwa malam ini Raka benar-benar sedang bekerja, seperti yang baru saja dikatakannya lewat telepon.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diantara Dua Cincin   Gemuruh Arus Sungai

    Suara gemuruh arus Sungai Palayangan menyambut rombongan di basecamp. Di bawah rimbunnya pohon pinus, puluhan karyawan sibuk memasang rompi pelampung oranye dan helm pelindung.Dira, yang perutnya sudah jauh lebih nyaman berkat obat lambung tadi, berdiri di tengah area kumpul sambil memegang clipboard.“Perhatian semuanya! Kita bagi tim sekarang,” seru Dira mengalahkan deru air. “Satu perahu maksimal lima orang. Jajaran direksi akan disebar supaya membaur dengan tim lain!”Sorak antusias terdengar. Dira diarahkan ke perahu nomor tiga. Ia harus ikut turun memastikan alur pengarungan aman.“Wah, pucuk dicinta ulam tiba! Kita satu perahu nih, Bu Ketua!” seru Pak Joko heboh. Helmnya terpasang sedikit miring, tetapi tangannya sudah mantap memegang dayung.Dira tertawa pelan sambil mengencangkan tali helmnya. “Biar saya bisa mantau Bapak. Jangan sampai asyik nyanyi terus lupa dayung.”“Aman! Tenaga saya udah full habis makan nasi goren

  • Diantara Dua Cincin   Seporsi Nasi Goreng

    Sesi sarapan pagi itu akhirnya rampung. Area restoran resor perlahan mulai lengang seiring bergeraknya para karyawan PT Nusa Maritim menuju pelataran parkir. Di bawah arahan sigap tim lapangan Aditsa, puluhan peserta mulai berbaris rapi dan menaiki tiga unit bus pariwisata yang mesinnya sudah dipanaskan sejak tadi.Di dekat pilar lobi, Dira berdiri memantau pergerakan dengan saksama. Matanya bergerak lincah menyusuri deretan nama pada lembar presensi, sementara telinganya fokus mendengarkan laporan melalui earpiece.“Bus satu aman, peserta lengkap,” lapor salah satu staf dari ujung saluran.“Bus dua dan tiga juga sudah clear, Bu Dira. Semua peserta terdata lengkap dan siap berangkat,” sambung staf lainnya.Dira mengembuskan napas lega.“Bagus. Pastikan semua perlengkapan keselamatan untuk arung jeram tidak ada yang tertinggal di bagasi. Lima menit lagi kita berangkat,” instruksinya dengan intonasi setenang komandan lapangan.Begitu komunikasi earpiece berakhir, Maya berjalan cepat men

  • Diantara Dua Cincin   Sarapan Pagi

    Pagi di restoran resor Lembang sudah ramai oleh keriuhan sarapan. Rombongan PT Nusa Maritim tampil kompak. Para staf mengenakan seragam kaus merah muda dan biru bertopi putih, sementara jajaran direksi tampil kasual dengan kemeja bernuansa kuning mentega (butter yellow) dan topi yang senada.Di salah satu meja dekat jendela, Dewa sedang menikmati roti bakar dan kopi hitamnya. Celana pendek putih selutut dan kemeja yang kancing atasnya dibiarkan terbuka membuat pria itu tampak jauh lebih santai. Rambut gondrongnya dibiarkan tergerai, masih agak lembap sehabis keramas.“Wah, segar bener, Mas Dewa! Keramas subuh ini luntur dong sisa-sisa saweran dangdut semalam?” goda Pak Joko yang tiba-tiba melintas membawa sepiring penuh nasi goreng. Tak lupa, pria itu menepuk pundak atasannya dengan akrab.Dewa tergelak santai. “Harus luntur dong, Pak Joko. Kalau nggak keramas, nanti saya malah disuruh nyanyi koplo lagi di atas perahu karet.”“Hahaha! Tapi gaya rambut lepek agak basah begitu malah kel

  • Diantara Dua Cincin   Keyakinan Hati

    Malam ini, batas antara direktur perusahaan klien dan penyedia jasa travel seolah tak lagi berarti. Di hadapan satu sama lain, mereka hanyalah dua manusia yang sama-sama mengenal pahitnya luka dan berusaha menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup.“Bagaimana dengan persidanganmu sendiri, Dira? Sudah sampai tahap mana sekarang?” tanya Dewa lembut.“Sudah tinggal tahap pembagian harta gono-gini dan hak asuh anak, Mas,” jawabnya lirih.“Jujur saja, aku takut banget kalau Arkana sampai jatuh ke tangan mantan suamiku. Pihak mereka pintar sekali memutarbalikkan fakta di depan hakim.”Dewa tampak sedikit tertegun mendengar nama yang disebutkan Dira. Ia berdeham pelan, kemudian kembali menatap perempuan di sampingnya dengan senyum tipis.“Arkana?” ulangnya. “Nama putramu Arkana? Bagus sekali namanya.”Dewa mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Perhatiannya kini tertuju sepenuhnya kepada Dira, yang masih terlihat gelisah meskipun berusaha mengendalikan perasaannya.“Sudah kelas berapa

  • Diantara Dua Cincin   Dua Porsi Kambing Guling

    Pria itu melangkah menuruni undakan panggung, diiringi tepukan bahu dan pujian dari beberapa rekan kerjanya. Bukannya kembali ke mejanya, Dewa justru berjalan tenang membelah sisa keriuhan aula menuju sudut ruangan tempat meja operator berada. Melihat sosok tegap itu berjalan ke arahnya, Dira buru-buru mengatur napas. Tangannya sigap mengambil sebotol air mineral dingin yang tergeletak di atas meja. Begitu Dewa tiba di hadapannya, Dira menyodorkan botol tersebut dengan seulas senyum tulus. “Minum dulu, Mas Dewa,” ucap Dira lembut. “Luar biasa penampilannya tadi. Suaranya sudah cocok banget jadi penyanyi.” Dewa terkekeh renyah menerima botol tersebut, membiarkan ujung jemarinya bersentuhan sekilas dengan telapak tangan Dira. “Terima kasih airnya, Dira. Kalau saya banting setir jadi penyanyi betulan, nanti orang-orang di kantor pada demo karena kerjaannya saya tinggal.” Dira tertawa kecil mendengar candaan itu. Di sebelahnya, Maya yang sejak tadi menahan senyum usil perlahan me

  • Diantara Dua Cincin   Suasana hangat

    Pukul tujuh malam, aula resor di Lembang mulai riuh. Hawa dingin pegunungan kalah oleh aroma panggangan daging dan obrolan hangat puluhan karyawan PT Nusa Maritim.Dira berdiri di dekat meja operator bersama Maya, memastikan susunan acara berjalan sesuai jadwal.“Bu Dira, makan malam sudah hampir selesai semua. Mau dimulai sekarang?” bisik Maya.“Mulai aja, May. Kasih kode ke MC,” jawab Dira.MC bertubuh gempal itu langsung mengambil alih panggung dengan gaya santainya. Setelah melempar candaan pembuka, ia menunjuk ke meja divisi kreatif.“Sebelum masuk sesi hiburan, kita minta perwakilan yang paling berjiwa muda buat kasih sepatah kata. Mas Dewa, maju dong sebentar!” seru MC.Sorak-sorai dan siulan langsung menggema dari tim kreatif. Dewa yang sedang minum teh sempat tergelak pelan. Tahu tak bisa mengelak dari dorongan anak buahnya, ia meletakkan cangkir lalu melangkah santai ke panggung.Penampilannya sederhana malam itu. Ia hanya mengenakan kemeja flanel gelap dengan lengan digulun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status