Share

Profesional

Author: Imay21
last update publish date: 2026-08-06 17:14:54

Usai memastikan rumah kembali rapi, Nadira berganti pakaian kerja berwarna krem dengan blus putih. Ia menyanggul rambut panjangnya secara sederhana dan merapikan riasan tipis di wajahnya. Penampilannya kembali seperti biasa—tenang dan terkontrol. Tidak ada yang bisa menebak apa yang sedang ia rasakan.

Setelah itu, Nadira keluar dari rumah dan langsung menuju mobilnya. Ia duduk di kursi pengemudi, meletakkan tas di samping, Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari Maya.

“Selamat pagi, Bu. Jangan lupa pukul 10.00 kita ada meeting dengan klien dari PT Nusa Maritim. Mereka ingin membahas proposal executive gathering terlebih dahulu sebelum proyek Family Gathering Tahunan. Pesertanya sekitar tiga puluh orang, satu divisi di bawah naungan Pak Dewa selaku Direktur Divisi Pengembangan Bisnis. Konsep yang diminta tiga hari dua malam di Bandung. Menginap di vila di kawasan hutan pinus dekat air terjun, dengan agenda arung jeram, barbecue dinner, fun games, dan team building.”

Nadira membaca pesan itu tanpa perubahan ekspresi. Ia hanya mengetik balasan singkat.

“Siapkan semua data. Kita bahas di meeting.”

Sesampainya di Stasiun Dukuh Atas, Nadira turun dari mobil dan langsung menyatu dengan arus orang yang bergerak cepat menuju pintu masuk MRT.

Di dalam MRT, suasana sudah padat. Nadira duduk di salah satu kursi, tas kerja di pangkuannya, tatapannya kosong ke arah jendela kaca yang memantulkan wajah-wajah asing di sekitarnya. Kereta bergerak stabil, membawa mereka melewati lorong-lorong kota yang terus berganti.

Saat kereta berhenti di salah satu stasiun, seorang penumpang perempuan hamil berdiri dan meminta kursi prioritas. Nadira refleks hendak bangkit, namun sebelum ia bergerak sepenuhnya, pria di sampingnya lebih dulu berdiri dan mempersilakan tempat duduknya.

Perempuan itu berterima kasih, dan Nadira kembali duduk. Ia hanya sempat melirik sekilas ke arah pria itu—wajahnya tertutup masker, topi, dan kacamata hitam. Tidak ada yang terasa istimewa saat itu, hanya bagian kecil dari perjalanan pagi yang panjang.

Ketika MRT tiba di Stasiun Dukuh Atas, arus penumpang langsung bergerak keluar tanpa jeda. Nadira mengikuti aliran itu, melangkah turun ke peron yang mulai padat oleh perpindahan manusia.

Di tengah dorongan orang-orang dari belakang, langkahnya goyah.

Bruk.

Tubuhnya jatuh ke lantai peron. Tasnya terlepas, map di dalamnya sedikit terbuka. Suara langkah dan percakapan di sekitarnya seakan melemah sesaat.

“Nggak apa-apa, Mbak?”

Sebuah tangan terulur. Nadira mendongak.

Pria yang tadi memberinya kursi berdiri di depannya.

“Iya… saya tidak apa-apa.”

Ia menerima uluran tangan itu dan bangkit. Pria tersebut membantu merapikan map yang hampir terjatuh, memastikan tidak ada yang tercecer.

“Coba dicek dulu. Takut ada yang tertinggal,” ucapnya singkat.

Nadira memeriksa sekilas isi tasnya.

“Lengkap. Terima kasih.”

Pria itu hanya mengangguk.

“Hati-hati.”

Lalu ia pergi mengikuti arus penumpang lain, menghilang begitu saja di keramaian stasiun.

Nadira berdiri beberapa detik sebelum akhirnya melanjutkan langkah keluar dari area MRT. Udara pagi kota kembali menyambutnya ketika ia menyeberang dan berjalan menuju gedung kantornya, mengikuti arus pekerja yang sama-sama bergerak tanpa saling mengenal.

Di lobi gedung, ia masuk ke dalam lift bersama beberapa karyawan lain. Suasana hening, hanya suara mesin dan pintu yang sesekali terbuka di lantai tertentu.

Di sudut belakang, ia kembali melihat sosok yang terasa familiar.

Pria itu.

Ia menekan tombol lantai 35. Nadira tidak bereaksi, hanya membiarkan ingatan kecil dari MRT tadi lewat begitu saja.

Lift berhenti di lantai 18. Nadira keluar dan melanjutkan langkah menuju ruangannya. Beberapa karyawan menyapanya saat ia lewat.

“Selamat pagi, Bu Dira.”

“Pagi,” jawabnya singkat.

Di ruang kerja, Maya sudah menunggu dengan beberapa map di tangan.

“Selamat pagi, Bu. Ini berkas untuk meeting jam sepuluh.”

Nadira mengangguk. “Baik. Pastikan semua data lengkap.”

Maya ragu sejenak sebelum berbicara lagi. “Bu Dira kelihatan pucat. Mau saya buatkan teh?”

“Nggak usah. Kamu ada vitamin?”

“Ada, Bu. Saya ambilkan.”

“Terima kasih.”

Maya hendak keluar, lalu berhenti saat Nadira memanggilnya lagi.

“May.”

“Iya, Bu?”

Nadira menatapnya sebentar sebelum berkata pelan, “Saya mau minta tolong. Cari informasi tentang suami saya.”

Maya terdiam.

“Pak Raka, Bu?”

Nadira mengangguk. “Aktivitasnya akhir-akhir ini. Siapa yang sering menemuinya. Ke mana dia pergi. Dan… kalau bisa, apakah ada perempuan lain di dekatnya.”

“Baik, Bu.”

“Satu lagi. Shela.”

“Shela, Bu?”

“Iya. Cari tahu siapa dia.”

“Baik, Bu Nadira.”

Tanpa banyak pertanyaan lagi, Maya keluar dari ruangan.

Waktu berjalan menuju pukul sepuluh.

Di ruang rapat, Nadira sudah berdiri di depan layar bersama timnya. Ia menjelaskan konsep executive gathering dengan tenang, runtut, dan profesional. Tidak ada yang menunjukkan bahwa pikirannya baru saja melewati pagi yang penuh gangguan kecil.

Diskusi berjalan lancar. Masukan diberikan, dan semua dijawab dengan solusi. Hampir satu jam kemudian, rapat selesai.

Saat para peserta mulai meninggalkan ruangan, salah satu dari mereka—Dewa—menghampiri Nadira dan menjabat tangannya.

“Terima kasih atas waktunya, Bu Dira.”

“Sama-sama, Pak.”

Sebelum melepas tangan itu, Dewa menatapnya.

“Tadi pagi tidak ada yang luka, kan? Waktu di MRT.”

Nadira tertegun sejenak.

“Oh… Bapak yang tadi membantu saya?”

Dewa mengangguk.

Wajah Nadira sedikit melunak. “Pantas…”

Ia tersenyum tipis. “Dunia memang sempit sekali.”

“Yang penting Ibu tidak apa-apa.”

“Terima kasih sudah membantu tadi pagi.”

“Sama-sama, Bu Dira.”

Dewa kemudian berpamitan.

Nadira kembali ke ruangannya. Ia duduk, membuka dokumen di depannya, dan mencoba kembali ke ritme kerja seperti biasa.

Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang belum benar-benar selesai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diantara Dua Cincin   Gemuruh Arus Sungai

    Suara gemuruh arus Sungai Palayangan menyambut rombongan di basecamp. Di bawah rimbunnya pohon pinus, puluhan karyawan sibuk memasang rompi pelampung oranye dan helm pelindung.Dira, yang perutnya sudah jauh lebih nyaman berkat obat lambung tadi, berdiri di tengah area kumpul sambil memegang clipboard.“Perhatian semuanya! Kita bagi tim sekarang,” seru Dira mengalahkan deru air. “Satu perahu maksimal lima orang. Jajaran direksi akan disebar supaya membaur dengan tim lain!”Sorak antusias terdengar. Dira diarahkan ke perahu nomor tiga. Ia harus ikut turun memastikan alur pengarungan aman.“Wah, pucuk dicinta ulam tiba! Kita satu perahu nih, Bu Ketua!” seru Pak Joko heboh. Helmnya terpasang sedikit miring, tetapi tangannya sudah mantap memegang dayung.Dira tertawa pelan sambil mengencangkan tali helmnya. “Biar saya bisa mantau Bapak. Jangan sampai asyik nyanyi terus lupa dayung.”“Aman! Tenaga saya udah full habis makan nasi goren

  • Diantara Dua Cincin   Seporsi Nasi Goreng

    Sesi sarapan pagi itu akhirnya rampung. Area restoran resor perlahan mulai lengang seiring bergeraknya para karyawan PT Nusa Maritim menuju pelataran parkir. Di bawah arahan sigap tim lapangan Aditsa, puluhan peserta mulai berbaris rapi dan menaiki tiga unit bus pariwisata yang mesinnya sudah dipanaskan sejak tadi.Di dekat pilar lobi, Dira berdiri memantau pergerakan dengan saksama. Matanya bergerak lincah menyusuri deretan nama pada lembar presensi, sementara telinganya fokus mendengarkan laporan melalui earpiece.“Bus satu aman, peserta lengkap,” lapor salah satu staf dari ujung saluran.“Bus dua dan tiga juga sudah clear, Bu Dira. Semua peserta terdata lengkap dan siap berangkat,” sambung staf lainnya.Dira mengembuskan napas lega.“Bagus. Pastikan semua perlengkapan keselamatan untuk arung jeram tidak ada yang tertinggal di bagasi. Lima menit lagi kita berangkat,” instruksinya dengan intonasi setenang komandan lapangan.Begitu komunikasi earpiece berakhir, Maya berjalan cepat men

  • Diantara Dua Cincin   Sarapan Pagi

    Pagi di restoran resor Lembang sudah ramai oleh keriuhan sarapan. Rombongan PT Nusa Maritim tampil kompak. Para staf mengenakan seragam kaus merah muda dan biru bertopi putih, sementara jajaran direksi tampil kasual dengan kemeja bernuansa kuning mentega (butter yellow) dan topi yang senada.Di salah satu meja dekat jendela, Dewa sedang menikmati roti bakar dan kopi hitamnya. Celana pendek putih selutut dan kemeja yang kancing atasnya dibiarkan terbuka membuat pria itu tampak jauh lebih santai. Rambut gondrongnya dibiarkan tergerai, masih agak lembap sehabis keramas.“Wah, segar bener, Mas Dewa! Keramas subuh ini luntur dong sisa-sisa saweran dangdut semalam?” goda Pak Joko yang tiba-tiba melintas membawa sepiring penuh nasi goreng. Tak lupa, pria itu menepuk pundak atasannya dengan akrab.Dewa tergelak santai. “Harus luntur dong, Pak Joko. Kalau nggak keramas, nanti saya malah disuruh nyanyi koplo lagi di atas perahu karet.”“Hahaha! Tapi gaya rambut lepek agak basah begitu malah kel

  • Diantara Dua Cincin   Keyakinan Hati

    Malam ini, batas antara direktur perusahaan klien dan penyedia jasa travel seolah tak lagi berarti. Di hadapan satu sama lain, mereka hanyalah dua manusia yang sama-sama mengenal pahitnya luka dan berusaha menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup.“Bagaimana dengan persidanganmu sendiri, Dira? Sudah sampai tahap mana sekarang?” tanya Dewa lembut.“Sudah tinggal tahap pembagian harta gono-gini dan hak asuh anak, Mas,” jawabnya lirih.“Jujur saja, aku takut banget kalau Arkana sampai jatuh ke tangan mantan suamiku. Pihak mereka pintar sekali memutarbalikkan fakta di depan hakim.”Dewa tampak sedikit tertegun mendengar nama yang disebutkan Dira. Ia berdeham pelan, kemudian kembali menatap perempuan di sampingnya dengan senyum tipis.“Arkana?” ulangnya. “Nama putramu Arkana? Bagus sekali namanya.”Dewa mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Perhatiannya kini tertuju sepenuhnya kepada Dira, yang masih terlihat gelisah meskipun berusaha mengendalikan perasaannya.“Sudah kelas berapa

  • Diantara Dua Cincin   Dua Porsi Kambing Guling

    Pria itu melangkah menuruni undakan panggung, diiringi tepukan bahu dan pujian dari beberapa rekan kerjanya. Bukannya kembali ke mejanya, Dewa justru berjalan tenang membelah sisa keriuhan aula menuju sudut ruangan tempat meja operator berada. Melihat sosok tegap itu berjalan ke arahnya, Dira buru-buru mengatur napas. Tangannya sigap mengambil sebotol air mineral dingin yang tergeletak di atas meja. Begitu Dewa tiba di hadapannya, Dira menyodorkan botol tersebut dengan seulas senyum tulus. “Minum dulu, Mas Dewa,” ucap Dira lembut. “Luar biasa penampilannya tadi. Suaranya sudah cocok banget jadi penyanyi.” Dewa terkekeh renyah menerima botol tersebut, membiarkan ujung jemarinya bersentuhan sekilas dengan telapak tangan Dira. “Terima kasih airnya, Dira. Kalau saya banting setir jadi penyanyi betulan, nanti orang-orang di kantor pada demo karena kerjaannya saya tinggal.” Dira tertawa kecil mendengar candaan itu. Di sebelahnya, Maya yang sejak tadi menahan senyum usil perlahan me

  • Diantara Dua Cincin   Suasana hangat

    Pukul tujuh malam, aula resor di Lembang mulai riuh. Hawa dingin pegunungan kalah oleh aroma panggangan daging dan obrolan hangat puluhan karyawan PT Nusa Maritim.Dira berdiri di dekat meja operator bersama Maya, memastikan susunan acara berjalan sesuai jadwal.“Bu Dira, makan malam sudah hampir selesai semua. Mau dimulai sekarang?” bisik Maya.“Mulai aja, May. Kasih kode ke MC,” jawab Dira.MC bertubuh gempal itu langsung mengambil alih panggung dengan gaya santainya. Setelah melempar candaan pembuka, ia menunjuk ke meja divisi kreatif.“Sebelum masuk sesi hiburan, kita minta perwakilan yang paling berjiwa muda buat kasih sepatah kata. Mas Dewa, maju dong sebentar!” seru MC.Sorak-sorai dan siulan langsung menggema dari tim kreatif. Dewa yang sedang minum teh sempat tergelak pelan. Tahu tak bisa mengelak dari dorongan anak buahnya, ia meletakkan cangkir lalu melangkah santai ke panggung.Penampilannya sederhana malam itu. Ia hanya mengenakan kemeja flanel gelap dengan lengan digulun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status