Share

Pesan Menggoda

Author: Imay21
last update publish date: 2026-08-06 15:50:05

Pagi selalu datang dengan rutinitas yang sama bagi Nadira, seolah hidupnya telah diprogram tanpa pernah memberinya pilihan. Menyiapkan sarapan, memastikan seragam sekolah putranya rapi, lalu menyeduh secangkir kopi hitam untuk Raka. Semua dikerjakan dengan urutan yang nyaris tak pernah berubah selama bertahun-tahun.

Rumah masih diselimuti suasana tenang. Putranya sedang bersiap di lantai atas, sementara Raka telah duduk di kursi di ujung meja makan dengan kemeja yang baru saja disetrika Nadira. Lelaki itu sibuk menatap layar ponselnya tanpa sekali pun melirik sang istri yang berjalan mendekat.

Nadira membawa teko berisi kopi panas. Ia berdiri di belakang kursi Raka, hendak menuangkan kopi ke dalam cangkir sebelum duduk dan sarapan bersama keluarganya. Saat itulah bunyi notifikasi W******p memecah keheningan.

Raka membuka pesan itu. Tangan Nadira yang menggenggam gagang teko mendadak berhenti. Matanya tanpa sengaja menangkap layar ponsel suaminya.

Nama Shela terpampang di sana. Di bawahnya terdapat sebuah foto perempuan yang tampak sedang berbaring sambil memegang termometer. Wajahnya dibuat pucat, seolah sedang tidak enak badan. Lalu sebuah pesan singkat:

“Mas, aku sakit…”

Hanya empat kata. Namun cukup untuk membuat dada Nadira terasa berat. Ia tidak bergerak. Tidak pula bertanya. Matanya hanya terpaku beberapa detik sebelum perlahan berpaling.

Raka baru menyadari keberadaan istrinya. Dengan cepat ia membalik ponselnya.

“Nad…”

Nadira menatapnya. Wajahnya tenang.

“Kenapa?”

“Sejak kapan kamu di situ?”

Nadira menunduk melihat teko di tangannya. Suaranya terdengar biasa.

“Mau menuangkan kopi.”

Raka mengangguk kecil.

“Oh.”

Nadira menuangkan kopi ke dalam cangkir. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada tatapan penuh curiga. Tidak ada perubahan nada suara. Justru ketenangan itulah yang terasa aneh.

Raka mengambil cangkirnya. Nadira meletakkan teko di atas meja.

“Masih panas.”

“Iya.”

Nadira kemudian duduk di kursinya. Tak lama kemudian Arkana turun dari lantai atas dan ikut duduk di meja makan.

Mereka sarapan sekeluarga seperti biasa. Nadira mengambilkan lauk untuk Arkana, sementara Raka sesekali menyeruput kopinya. Namun pikiran Nadira masih tertinggal pada pesan yang baru saja dilihatnya.

“Shela siapa, Mas?” tanyanya akhirnya, berusaha terdengar biasa.

Raka menatapnya.

“Shela?”

“Iya.”

“Dia karyawan Mas.”

“Karyawan?”

“Iya. Ada urusan pekerjaan. Mungkin dia lagi sakit.”

Nadira mengangguk kecil.

“Oh.”

Raka kembali menyantap sarapannya.

“Itu bukan apa-apa. Kamu jangan berpikir macam-macam.”

Nadira tersenyum tipis.

“Iya. Aku percaya.”

Ia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya, seolah benar-benar percaya pada penjelasan suaminya.

Namun jauh di dalam hati, Nadira mulai curiga. Ia bukan perempuan yang naif. Ia sudah terlalu lama hidup bersama Raka untuk tidak mengenali bahasa yang digunakan perempuan lain kepada suaminya.

“Mas, aku sakit…”

Kalimat yang terlalu sederhana, tetapi terasa terlalu akrab untuk sekadar seorang karyawan. Terlebih lagi, Nadira pernah mengalami hal yang sama. Dulu, Raka pernah selingkuh.

Luka itu memang sudah lama ia kubur. Ia memilih bertahan, memilih memaafkan, dan mencoba kembali percaya kepada suaminya. Bukan karena ia tidak sakit. Melainkan karena selalu ada Arkana yang membuatnya kembali bertahan.

Selama lima belas tahun, Nadira sudah melewati banyak hal dalam rumah tangganya. Ada pertengkaran, ada kekecewaan, ada masa-masa ketika Raka membuatnya merasa tidak cukup baik. Dan entah berapa kali ia memilih diam. Bukan karena tidak sakit. Melainkan karena selalu ada Arkana yang membuatnya kembali bertahan.

Nadira mengusap ujung matanya ketika menyadari pandangannya mulai buram. Ia menarik napas lagi.

Tidak. Bukan sekarang. Ia tidak ingin menangis hanya karena sebuah pesan. Belum tentu ia tahu seluruh ceritanya. Belum tentu perempuan itu benar-benar memiliki hubungan dengan Raka.

Nadira berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Namun jauh di dalam hati, ia tahu alasan sebenarnya mengapa dadanya terasa sesak.

Karena jauh sebelum melihat nama Shela pagi itu, ia sudah pernah merasakan perasaan yang sama. Perasaan ketika seorang istri mulai menyadari bahwa dirinya mungkin bukan lagi satu-satunya perempuan dalam kehidupan suaminya.

Suara langkah kaki yang menuruni tangga memecah sepi.

“Bu!” panggil Arkana sambil menyesuaikan tali tas di bahunya.

Nadira buru-buru menyapu ujung matanya, lalu berbalik sambil memasang senyum.

“Kenapa, Nak?”

“Bekalku sudah?”

“Sudah. Ini,” Nadira menyerahkan kotak makan yang rapi. “Sarapan dulu sedikit, ganjal perut.”

Arkana menggeleng pelan.

“Nanti saja di sekolah, Bu, takut terlambat.”

Raka yang tadinya membisu ikut berdiri dari meja makan dan merapikan kemejanya.

“Ya sudah, Ayah antar sekalian.”

Arkana mengangguk, lalu berjalan mengekor ayahnya menuju pintu depan.

“Bu, nanti sore jemput, kan?”

Nadira mengangguk hangat.

“Kalau urusan kantor selesai cepat, Ibu jemput ya.”

“Sip!” sahut Arkana singkat.

Pintu depan terdengar mengatup rapat. Rumah seketika kembali sunyi.

Nadira berdiri mematung di ruang makan, menatap cangkir kopi yang baru saja ditinggalkan suaminya. Ia mendekat, jemarinya menyentuh keramik yang masih menyisakan hangat itu. Saat itulah rasa lelah menghantamnya—bukan lelah fisik karena mengurus rumah atau pekerjaan kantor, melainkan lelah yang mengendap bertahun-tahun karena terus berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja.

Pintu rumah tertutup. Tak lama kemudian suara mesin mobil Raka menghilang dari halaman. Kantor Raka memang searah dengan sekolah Arkana, sehingga setiap pagi lelaki itu yang mengantar putra semata wayang mereka.

Rumah yang semula ramai mendadak terasa sunyi. Nadira membereskan meja makan seorang diri. Cangkir kopi Raka yang masih menyisakan sedikit endapan ia angkat tanpa ekspresi. Semua luka yang baru saja ia telan dipaksa terkunci rapat di balik wajah tenangnya.

Ia pura-pura percaya pada alasan Raka. Namun di dalam hati, kecurigaan itu mulai tumbuh lagi.

Karena Nadira tahu, orang yang pernah menyakitinya sekali bisa saja benar-benar berubah. Tetapi bisa juga hanya menjadi lebih pandai menyembunyikan kesalahan yang sama..

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diantara Dua Cincin   Gemuruh Arus Sungai

    Suara gemuruh arus Sungai Palayangan menyambut rombongan di basecamp. Di bawah rimbunnya pohon pinus, puluhan karyawan sibuk memasang rompi pelampung oranye dan helm pelindung.Dira, yang perutnya sudah jauh lebih nyaman berkat obat lambung tadi, berdiri di tengah area kumpul sambil memegang clipboard.“Perhatian semuanya! Kita bagi tim sekarang,” seru Dira mengalahkan deru air. “Satu perahu maksimal lima orang. Jajaran direksi akan disebar supaya membaur dengan tim lain!”Sorak antusias terdengar. Dira diarahkan ke perahu nomor tiga. Ia harus ikut turun memastikan alur pengarungan aman.“Wah, pucuk dicinta ulam tiba! Kita satu perahu nih, Bu Ketua!” seru Pak Joko heboh. Helmnya terpasang sedikit miring, tetapi tangannya sudah mantap memegang dayung.Dira tertawa pelan sambil mengencangkan tali helmnya. “Biar saya bisa mantau Bapak. Jangan sampai asyik nyanyi terus lupa dayung.”“Aman! Tenaga saya udah full habis makan nasi goren

  • Diantara Dua Cincin   Seporsi Nasi Goreng

    Sesi sarapan pagi itu akhirnya rampung. Area restoran resor perlahan mulai lengang seiring bergeraknya para karyawan PT Nusa Maritim menuju pelataran parkir. Di bawah arahan sigap tim lapangan Aditsa, puluhan peserta mulai berbaris rapi dan menaiki tiga unit bus pariwisata yang mesinnya sudah dipanaskan sejak tadi.Di dekat pilar lobi, Dira berdiri memantau pergerakan dengan saksama. Matanya bergerak lincah menyusuri deretan nama pada lembar presensi, sementara telinganya fokus mendengarkan laporan melalui earpiece.“Bus satu aman, peserta lengkap,” lapor salah satu staf dari ujung saluran.“Bus dua dan tiga juga sudah clear, Bu Dira. Semua peserta terdata lengkap dan siap berangkat,” sambung staf lainnya.Dira mengembuskan napas lega.“Bagus. Pastikan semua perlengkapan keselamatan untuk arung jeram tidak ada yang tertinggal di bagasi. Lima menit lagi kita berangkat,” instruksinya dengan intonasi setenang komandan lapangan.Begitu komunikasi earpiece berakhir, Maya berjalan cepat men

  • Diantara Dua Cincin   Sarapan Pagi

    Pagi di restoran resor Lembang sudah ramai oleh keriuhan sarapan. Rombongan PT Nusa Maritim tampil kompak. Para staf mengenakan seragam kaus merah muda dan biru bertopi putih, sementara jajaran direksi tampil kasual dengan kemeja bernuansa kuning mentega (butter yellow) dan topi yang senada.Di salah satu meja dekat jendela, Dewa sedang menikmati roti bakar dan kopi hitamnya. Celana pendek putih selutut dan kemeja yang kancing atasnya dibiarkan terbuka membuat pria itu tampak jauh lebih santai. Rambut gondrongnya dibiarkan tergerai, masih agak lembap sehabis keramas.“Wah, segar bener, Mas Dewa! Keramas subuh ini luntur dong sisa-sisa saweran dangdut semalam?” goda Pak Joko yang tiba-tiba melintas membawa sepiring penuh nasi goreng. Tak lupa, pria itu menepuk pundak atasannya dengan akrab.Dewa tergelak santai. “Harus luntur dong, Pak Joko. Kalau nggak keramas, nanti saya malah disuruh nyanyi koplo lagi di atas perahu karet.”“Hahaha! Tapi gaya rambut lepek agak basah begitu malah kel

  • Diantara Dua Cincin   Keyakinan Hati

    Malam ini, batas antara direktur perusahaan klien dan penyedia jasa travel seolah tak lagi berarti. Di hadapan satu sama lain, mereka hanyalah dua manusia yang sama-sama mengenal pahitnya luka dan berusaha menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup.“Bagaimana dengan persidanganmu sendiri, Dira? Sudah sampai tahap mana sekarang?” tanya Dewa lembut.“Sudah tinggal tahap pembagian harta gono-gini dan hak asuh anak, Mas,” jawabnya lirih.“Jujur saja, aku takut banget kalau Arkana sampai jatuh ke tangan mantan suamiku. Pihak mereka pintar sekali memutarbalikkan fakta di depan hakim.”Dewa tampak sedikit tertegun mendengar nama yang disebutkan Dira. Ia berdeham pelan, kemudian kembali menatap perempuan di sampingnya dengan senyum tipis.“Arkana?” ulangnya. “Nama putramu Arkana? Bagus sekali namanya.”Dewa mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Perhatiannya kini tertuju sepenuhnya kepada Dira, yang masih terlihat gelisah meskipun berusaha mengendalikan perasaannya.“Sudah kelas berapa

  • Diantara Dua Cincin   Dua Porsi Kambing Guling

    Pria itu melangkah menuruni undakan panggung, diiringi tepukan bahu dan pujian dari beberapa rekan kerjanya. Bukannya kembali ke mejanya, Dewa justru berjalan tenang membelah sisa keriuhan aula menuju sudut ruangan tempat meja operator berada. Melihat sosok tegap itu berjalan ke arahnya, Dira buru-buru mengatur napas. Tangannya sigap mengambil sebotol air mineral dingin yang tergeletak di atas meja. Begitu Dewa tiba di hadapannya, Dira menyodorkan botol tersebut dengan seulas senyum tulus. “Minum dulu, Mas Dewa,” ucap Dira lembut. “Luar biasa penampilannya tadi. Suaranya sudah cocok banget jadi penyanyi.” Dewa terkekeh renyah menerima botol tersebut, membiarkan ujung jemarinya bersentuhan sekilas dengan telapak tangan Dira. “Terima kasih airnya, Dira. Kalau saya banting setir jadi penyanyi betulan, nanti orang-orang di kantor pada demo karena kerjaannya saya tinggal.” Dira tertawa kecil mendengar candaan itu. Di sebelahnya, Maya yang sejak tadi menahan senyum usil perlahan me

  • Diantara Dua Cincin   Suasana hangat

    Pukul tujuh malam, aula resor di Lembang mulai riuh. Hawa dingin pegunungan kalah oleh aroma panggangan daging dan obrolan hangat puluhan karyawan PT Nusa Maritim.Dira berdiri di dekat meja operator bersama Maya, memastikan susunan acara berjalan sesuai jadwal.“Bu Dira, makan malam sudah hampir selesai semua. Mau dimulai sekarang?” bisik Maya.“Mulai aja, May. Kasih kode ke MC,” jawab Dira.MC bertubuh gempal itu langsung mengambil alih panggung dengan gaya santainya. Setelah melempar candaan pembuka, ia menunjuk ke meja divisi kreatif.“Sebelum masuk sesi hiburan, kita minta perwakilan yang paling berjiwa muda buat kasih sepatah kata. Mas Dewa, maju dong sebentar!” seru MC.Sorak-sorai dan siulan langsung menggema dari tim kreatif. Dewa yang sedang minum teh sempat tergelak pelan. Tahu tak bisa mengelak dari dorongan anak buahnya, ia meletakkan cangkir lalu melangkah santai ke panggung.Penampilannya sederhana malam itu. Ia hanya mengenakan kemeja flanel gelap dengan lengan digulun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status