Mag-log inMendengar ucapan Alisa yang sepertinya membelanya, Marlena seketika menatap penuh harap ke arah Alisa dan berseru, “Tolong aku, Liz! Bebaskan aku! Aku minta maaf karena sudah berbuat jahat padamu.”Ia kemudian meluruhkan lututnya ke lantai. “Kamu tahu sendiri, kalau aku selalu iri padamu. Sejak pertama kali kamu datang ke kelab malam, hidupmu langsung berubah drastis. Hidupmu membaik, mendapat pria kaya yang perhatian, setia dan sayang padamu. Sedangkan aku... aku tidak seberuntung kamu, Liz! Aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Padahal aku juga tak kurang berusaha. Tapi hasilnya tetap sama. Stag, zero, nihil dan zonk.” Lanjut Marlena mengungkap isi hatinya, sambil bersimpuh ke arah Alisa.Tanpa Marlena membeberkan alasannya, Alisa pun sudah tahu mengenai hal itu. Ia tahu dirinya sangat beruntung. Ia juga tahu yang membawanya menuju ke jalan keberuntungan itu adalah Marlena, karena dia lah yang telah mengajaknya pergi ke night club waktu itu. Marlena sangat berjasa atas
Andika menghela nafas kasar sebelum berdecak heran pada Tuan Malik karena rasa khawatirnya yang terlalu berlebihan pada Alisa.“Tenanglah, Mister! Saya Andika. Kakak kelas sekaligus kakak angkat Ally... Maksud saya, Lisa sekarang.” Jawab Andika diujung sana.“Andika?” Mendengar nama Andika, tentu saja dirinya tidak akan lupa siapa dia. Musuh bebuyutan Alisa yang kini berubah menjadi kakak angkatnya. Kakak angkat Alisa? Tuan Malik masih tidak percaya. Dia beranggapan bahwa tidak ada persahabatan sejati antara laki-laki dan perempuan di muka bumi ini tanpa adanya maksud atau pun tujuan yang tersembunyi dibaliknya.Tapi, bagaimana bisa Andika bisa secepat itu menemukan dan menolong calon istrinya? Siapa yang memberitahunya?“Iya, Mister.”“Kau si bungsunya keluarga Adhi Ningrat itu?”Tuan Malik tidak segampang itu mau mempercayai atau menerima info yang belum terbukti kebenarannya. “Benar, Mister! Saya sudah menemukan dan menyelamatkan Ally, maksud saya Lisa, dari perbuatan tak berm
Jika Marlena sengaja ingin mempermainkan dan membuat marah Bos besarnya, well, gadis itu benar-benar sudah berhasil.Marlena pura-pura menatap penuh tanya ke arah Tuan Malik yang tiba-tiba saja berkata seolah menuduh dirinya sengaja. “Apa maksudmu, Bos? Kenapa aku harus mempermainkanmu?” Tentu saja dia harus tetap mempertahankan sandiwaranya seapik mungkin didepan semua orang, terutama Bos besar yang telah menyakiti hatinya karena penolakannya itu, agar terlihat meyakinkan.“Berlagak tidak tahu pula!” Salah satu mata Tuan Malik memicing penuh tuduhan yang membuncah, hingga membuatnya semakin gerah melihat sandiwara Marlena yang tidak kunjung selesai gadis itu mainkan.“Aku sungguh-sungguh tidak tahu. Tidak bisakah Bos memberitahuku agar aku tidak penasaran?” Ekspresi rasa tidak bersalah yang begitu polos, Marlena tampilkan ke arah Tuan Malik agar pria itu percaya bahwa dirinya tidak terlibat.Rahang Tuan Malik mengeras, “Kau berbohong mengenai hotel Genuo Azzuro, Lena! Tidak ada hot
Terdengar bunyi KLIK sebelum handle putar pintu kamar mandi terbuka dengan cepat.Alisa yang masih duduk diatas jamban duduk, menatap nanar kehadiran Farel yang melangkah masuk masih dengan hanya mengenakan celana dalamnya saja.“Ka-kamu mau apa, Rel? Kenapa kamu memaksa masuk? Khan aku belum selesai.” Tanya Alisa dengan suara bergetar menahan takut, tangannya berpegangan kuat disisi kiri kanan closet duduk. Ia takut Farel akan membawanya paksa ke atas ranjang.“Jangan beralasan, Bitch! Kau kira aku tidak tahu kalau kau sengaja mengulur-ulur waktu? Sadarlah, Bos besar tidak akan mencarimu! Dia sudah meninggalkanmu!” Ucap Farel dengan seringai yang mengerikan, ia mencemooh Alisa sesuka hatinya. Berusaha meruntuhkan harapannya.Dia berdiri didepan Alisa, lalu kedua tangannya terulur, memaksa menyusupkan diri di ketiak gadis didepannya, dan dengan sekali sentakan, ia mengangkat tubuh Alisa yang seketika menegang dan gemetaran itu.“Lepaskan aku, Rel! Aku mohon! Kamu tidak perlu berbuat s
Tangan Tuan Malik melayang ke udara, hendak menampar mulut lancang Marlena karena sudah menuduh calon istrinya itu telah melakukan perbuatan hina. Namun, sekuat tenaga ia menahan amarahnya. Ia tidak ingin terbawa arus gelombang hasutan yang sengaja diciptakan Marlena untuk mematik api cemburunya sekaligus membakar emosinya.“Jaga ucapanmu, Lena! Jangan pernah merendahkan Lisa seperti itu! Kau tahu sendiri, dia bukan seperti itu.” Peringatan keras diberikan Tuan Malik pada Marlena lalu mengganti tamparan itu menjadi cengkeraman kuat di rahangnya. “Akh, aku tidak bohong, Bos! Kalau kau tidak percaya padaku, aku punya buktinya. Bukti rencana pelarian mereka!” Sambil merintih, tangan Marlena dengan susah payah bergerak mengambil ponselnya dari dalam tas kecil, dan memperlihatkan semua pesan chat persekongkolan Alisa, Farel serta bantuan dirinya ke arah Tuan Malik. “Bacalah sendiri kalau Bos tidak percaya!”Dengan gusar, Tuan Malik meraih ponsel Marlena dan terpaksa membacanya karena ras
“Cari Marlena sampai dapat!” Titah Tuan Malik dengan suara menggelegar pada semua pengawalnya, termasuk Thomas.Tuan Malik begitu kesal saat mengetahui bahwa Marlena lah yang membawa Farel ke sekolah.Berdasarkan rekaman CCTV yang ada di pintu masuk gerbang sekolah, yang memperlihatkan bahwa Farel datang berboncengan dengan Marlena. Dari situlah Tuan Malik bisa mengambil kesimpulan dengan yakin bahwa Penculikan terhadap Alisa sudah direncanakan sebelumnya oleh dua orang tersebut.Tidak ingin tinggal diam, Tuan Malik menelpon Riko, manajer operasionalnya yang ada di Club untuk mencari tahu dimana alamat rumah Farel, untuk selanjutnya memerintahkan beberapa penjaganya yang ada di kelab untuk menggeledah tempat tinggal bartendernya tersebut.Sambil menunggu hasil pencarian yang dilakukan Riko bersama pengawalnya, Tuan Malik ikut bergerak mencari keberadaan Marlena yang kemungkinan saat ini sedang bersembunyi di area sekolah, mencari di sisi lain dari area sekolah yang belum dijangkau pen
Mulut Alisa menganga tidak percaya usai mendengar ucapan Farel. “Apa? Kita akan menginap disini? Di Vila ini?” Mata Alisa mengamati vila besar dan megah didepannya itu yang jauh dari rumah penduduk dan sepertinya berada di tengah hutan.“Tentu saja, Babe! Kenapa?” Farel membawa motornya memasuki ha
Begitu murkanya Tuan Malik, saat melihat Thomas kembali menghadapnya tanpa membawa Alisa disampingnya.BUGH!“Bodoh! Bagaimana bisa kamu kehilangan jejaknya didalam toilet putri, Thomas?” Hardik Tuan Malik begitu kesal setelah mendaratkan Pukulan keras ke rahang Thomas.Tuan Malik tidak perlu memus
Kegelisahan menyergap diri Alisa. Ia duduk tidak tenang disamping Tuan Malik. Matanya selalu awas menatap siapa saja yang lalu-lalang didepannya. Mencari-cari keberadaan Marlena dan Farel disekitar sana. Ia takut melewatkan isyarat yang akan diberikan oleh dua orang teman dekatnya tersebut.Sudah
Malam ini acara Pentas Seni Pelepasan kelas XII pun digelar.Alisa meletakkan tas olah raganya yang berisikan seragam cheerleader beserta pom-pom miliknya ke dalam bagasi mobil. Didalamnya tak lupa ia membawa serta rambut palsu serta pakaian ganti yang akan ia gunakan untuk mengibuli para pengawal







