Share

Bab 4. Sudah bertunangan

Author: Ralonya
last update Last Updated: 2025-10-20 15:03:18

Davin tersenyum lembut, ada kehangatan samar di matanya, seolah ia masih sulit percaya bahwa wanita yang kini berdiri di hadapannya adalah sosok yang dulu pernah ia kenal begitu dekat.

“Kalian saling kenal?” tanya Arka sambil melirik bergantian antara Davin dan Dina, nadanya penuh selidik.

Davin menoleh pada Arka, lalu kembali menatap Dina. “Dinarayu ini adik tingkatku semasa kuliah,” ujarnya tenang. “Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu di sini. Dan ternyata kamu istrinya sahabatku.”

Dina menelan ludah. Ada getar halus yang tak mampu ia sembunyikan. Lelaki ini masih membawa sesuatu dalam dirinya. Kenangan yang lembut, tapi menyesakkan.

“Mas… apa kabarmu?” tanyanya tanpa sadar.

Belum sempat Davin menjawab, Arka meremas pinggang Dina sedikit kasar, seolah memberi peringatan tanpa suara. Dina tersentak kecil, berusaha menyamarkan rasa perih dengan senyum kaku di wajahnya.

“Baik,” jawab Davin akhirnya, suaranya tetap tenang, tapi matanya menatap tajam ke arah Arka, menyadari sesuatu di balik gestur kecil tadi.

Meski tak diucapkan terang-terangan, ia bisa merasakan ada ketidaksukaan yang disembunyikan Arka sejak Dina membuka percakapan.

Senyum tipis terbit di wajah Davin, mencoba mencairkan suasana. “Kau masih sama seperti dulu rupanya,” ujarnya ringan. “Masih tipe yang mudah cemburu. Tenang saja, aku tidak akan merebut istri cantikmu ini.”

Arka ikut tersenyum. “Aku tidak berpikir seperti itu,” balasnya, sebelum menoleh pada Dina dengan senyum yang justru membuat wanita itu hampir tak tahu cara bernapas. “Karena istriku ini…” Ia menahan kalimatnya sejenak, menatap dalam ke arah Dina—pandangan yang terasa seperti belenggu. “…tidak akan bisa pergi dariku.”

Ucapan itu membuat bahu Dina menegang. Senyum yang semula ia paksakan perlahan memudar.

“Berarti dia sangat mencintaimu,” ujar Davin, tatapannya meredup penuh tanya, menelusuri wajah Dina, memperhatikan bagaimana wanita itu menatap suaminya—bukan dengan cinta, melainkan ketakutan yang berusaha disembunyikan.

“Tentu saja,” sahut Arka cepat, senyum di wajahnya menipis menjadi garis tajam. “Ia tergila-gila padaku.”

Davin terdiam. Ia menunduk sedikit, menghela napas samar sebelum berkata dengan nada yang lebih lembut, “Ah, syukurlah kalau begitu.” Namun ketika matanya kembali bertemu dengan mata Dina, ada kesedihan yang tak sempat ia sembunyikan.

Arka kemudian mengajak Davin bergabung ke meja panjang bersama keluarga.

Suasana ramai oleh percakapan hangat. Arka tertawa bersama Davin, mengulang kisah lama dan proyek bisnis yang mereka banggakan. Dina hanya diam, menunduk, menyendok makanan di piring tanpa benar-benar tahu apa yang ia kunyah.

Sesekali, ia merasakan tatapan Davin jatuh padanya. Sekilas, tapi berulang. Beberapa kali pandangan mereka bersinggungan. Dina buru-buru mengalihkan mata, pura-pura sibuk dengan gelas di tangannya. Jantungnya berdetak terlalu cepat, ia membenci dirinya karena merasa gugup.

Sementara itu, Arka terlalu sibuk menumpahkan cerita tentang kesuksesan yang seolah tak ada habisnya, dan segala hal yang harus menegaskan citra dirinya di mata semua orang. Suaranya mendominasi meja, riuh dengan kebanggaan yang berlebihan.

Davin mendengarkan, sesekali tersenyum dan menimpali singkat, tapi matanya lebih sering bergerak ke arah Dina yang duduk diam di sebelah Arka.

Sekali waktu ia menimpali percakapan ringan tentang rasa masakan di meja, sebelum akhirnya berkata pelan, nada bicaranya lebih lembut dari percakapan yang lain.

“Masakannya enak sekali,” pujinya. “Rasanya mengingatkanku pada bekal yang dulu sering kamu bawa ke kampus. Masakan ibumu masih seenak dulu, ya?”

Dina tertegun. Ia sempat menatapnya ragu. Ia tak menyangka Davin masih mengingat bekal makan siang yang sering ia bagi diam-diam di taman kampus.

Ia menatap Davin. “Iya,” jawabnya pendek.

Davin tersenyum kecil. Hanya itu, tapi cukup untuk mengguncang sesuatu di dada Dina, perasaan hangat yang sudah lama terkubur, muncul lagi dengan cara yang begitu tenang.

Dina buru-buru mengalihkan pandangan, meneguk air putih di gelasnya untuk menyamarkan kegugupan. Tapi di ujung mata, ia bisa melihat Davin masih menatapnya.

“Davin,” suara Arka memecah suasana. “Kamu belum cerita, apa alasanmu akhirnya kembali ke Indonesia? Terakhir aku dengar, kamu sudah begitu betah di negara orang.”

Semua mata tertuju pada Davin. Lelaki itu tersenyum kecil.

“Aku pulang untuk menemui tunanganku,” ujarnya tenang, seolah kalimat itu hal yang biasa.

Beberapa orang di meja tersenyum senang. Kecuali Dina yang nampak terkejut.

“Wah, kabar baik itu! Selamat ya, Nak Davin,” sahut Arman ramah.

“Terima kasih, Pak Arman,” jawab Davin sopan.

“Kami akhirnya memaksa dia pulang dan segera menikah,” ujar Veronika. “Usianya sudah cukup matang, sudah saatnya membangun keluarga sendiri.”

Ester menimpali dengan nada setuju, “Benar sekali, Bu Vero. Lagi pula, Nak Davin ini anak tunggal, pewaris satu-satunya keluarga Halim. Sudah sepatutnya ia punya pendamping yang bisa menemani dan menjaga rumah tangga juga bisnis keluarga.”

Arka juga ikut menimpali. “Kamu harus mengenalkan calon istrimu pada kami.”

Davin menatap Arka sebentar, lalu sekilas menatap Dina sebelum mengangguk kecil. “Tentu saja. Akan aku kenalkan. Dia pribadi yang baik dan mudah bergaul.”

Senyum dan ucapannya terdengar ringan, tapi bagi Dina ada debar aneh yang tiba-tiba menyeruak. Sesuatu yang tak seharusnya ia rasakan, apalagi hanya karena alasan sederhana seorang lelaki yang katanya betah di negeri orang kini memilih pulang.

Bodoh, pikirnya, kenapa hatinya terasa sesak padahal tidak ada yang salah dengan alasan itu.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 114. Tertabrak

    Dina mengangguk perlahan, mencoba menyerap setiap kata yang diucapkan Davin sebagai penawar rasa takutnya. ​"Jangan terlalu dipikirkan. Kita masih punya bukti untuk memberatkan Arka di pengadilan nanti," Davin menggenggam tangan Dina, memberikan tekanan yang menenangkan. "Semua akan berakhir begitu kebenaran terungkap." ​Dina kembali mengangguk, meski hatinya masih terasa berat. Sorotan tajam dan penghakiman di media sosial terasa lebih menyakitkan daripada luka fisik; bagaimana orang-orang yang tidak pernah mengenalnya bisa begitu yakin dengan asumsi yang mereka karang sendiri, lalu menggiring opini seolah ia yang paling bersalah. ​Davin menyadari perubahan raut wajah Dina. Ia mengusap kening wanita itu, berusaha menghapus kerutan cemas di sana. "Beristirahatlah. Kamu sudah melalui banyak hal hari ini. Biar aku yang menyiapkan makan malam." ​"Aku saja, Mas," sela Dina, merasa tidak enak jika hanya berdiam diri. ​"Tidak kali ini." Davin menahan bahu Dina dengan lembut, memaksa wa

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 113. Fokus pada diri sendiri

    Dina bisa merasakan setiap pasang mata di sekitarnya seolah menghakimi, meskipun yang ia temui hanya orang tak dikenal yang berpapasan dengannya di jalan. Ia bahkan tidak punya keberanian untuk menyentuh ponselnya; nama dan fotonya telah beredar luas di media sosial dengan narasi yang menyudutkan. Puluhan pesan dari adiknya pun sengaja ia biarkan tanpa respon.​Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kekacauan ini kepada keluarganya tanpa membuat mereka ikut menanggung malu. Namun, di tengah hiruk-pikuk hujatan publik, hanya satu ketakutan yang benar-benar menghimpit dadanya: kondisi ibunya.​Ia takut berita ini sampai ke telinga sang ibu sebelum ia sempat bersimpuh dan memohon maaf secara langsung.​“Mas?” panggil Dina pelan begitu memasuki rumah.​Davin yang tampak gelisah sejak tadi, langsung menyongsongnya. “Gimana tadi?” tanyanya tanpa basa-basi begitu menutup pintu utama.​Dina menghela napas berat, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. “Mas Arka tetap bersikeras tidak mau berc

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 112. Beban dipundak

    Arka terpaku. Seluruh aliran dana untuk reservasi hotel dan pembelian barang mewah yang ia sembunyikan ternyata tercatat rapi di bawah pengawasan kakeknya. Ia tidak menyangka Arman akan melangkah sejauh itu. “Setelah mendapat bukti kekerasanmu pada Dina dan keterlibatanmu dalam pembakaran restorannya, Kakek menyuruh orang untuk menelusuri segalanya. Termasuk semua transaksi yang kamu rahasiakan itu,” jelas Arman dingin. Arka kehilangan kata-kata. Kebohongannya runtuh tanpa sisa. Ester yang tadinya vokal, kini terpaku menatap putranya dengan ekspresi syok yang mendalam.“Nak? Katakan sesuatu. Bilang kalau semua itu bohong!” tuntut Ester lirih. Ia menatap cemas, berharap ada satu saja kalimat bantahan dari Arka. Namun, Arka hanya diam membisu.“Sudahlah, Ma. Terima saja kalau anak kita memang bersalah,” sela Hendrik. Ia menatap Arka dengan kekecewaan yang nyata, lalu beralih pada istrinya. “Aku setuju mereka bercerai. Bukankah dari dulu kamu bilang Dina tidak pantas menjadi menantu ke

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 111. Catatan transaksi

    Keheningan berat menyusul ucapan Arman. Ester terdiam tak berani membantah. Sementara itu, Hendrik menarik napas panjang, ia tahu jika ayahnya sudah berbicara, maka tak ada lagi ruang untuk membantah. “Aku tidak akan menceraikan Dina, Kek,” ujar Arka tegas. “Kakek pikir dengan bercerai semua masalah selesai? Nama baikku sudah terlanjur rusak karena skandal perselingkuhannya. Melepaskannya sekarang hanya akan membuatnya merasa menang!” Arman menatap cucunya dengan sorot mata kecewa. “Masalahnya bukan siapa yang menang atau kalah, Arka. Masalahnya adalah kamu sudah menjadi monster dalam pernikahanmu sendiri.”“Dina yang memulainya, Kek! Dia yang mencari laki-laki lain!” bantah Arka, suaranya naik satu oktaf.“Dia mencari laki-laki lain karena kamu tidak pernah menganggapnya ada!” Arman memotong dengan tegas. Ester tidak tahan untuk tidak membela putranya. “Apa perselingkuhan itu bisa dibenarkan, Pa? Apa pun alasannya, Dina sudah berkhianat!”“Lalu menurutmu, perbuatan Arka selama ini

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 110. Perlindungan Arman

    “Kekerasan? Apa maksudmu, Dina?” tanya Ester dengan nada menuduh, matanya beralih menatap Dina dan Arka bergantian, mencari kebohongan di sana.Arka mendengus, seolah tuduhan itu adalah lelucon. “Aku memukulnya kemarin karena dia ketahuan selingkuh. Apa salah seorang suami memberi pelajaran pada istri yang tidak tahu malu?”“Bukan itu!” seru Dina. Ia menoleh ke arah Ester dan Hendrik, matanya berkilat penuh amarah yang sudah ia pendam bertahun-tahun.“Anak kalian ini bukan hanya memukuliku kemarin. Dia menyiksaku dengan kata-kata tajam setiap hari. Dia merendahkanku seolah aku ini sampah di rumah!” Dina menunjuk Arka, suaranya naik satu oktaf. “Bahkan sejak malam pertama pernikahan kami sampai detik ini, dia tidak pernah mau menyentuhku. Tidak sekalipun!”​Ester dan Hendrik ternganga, wajah mereka memucat mendengar kejujuran itu.“Semua itu dia lakukan dengan sengaja,” lanjut Dina dengan napas memburu. “Dia menikahiku hanya untuk menjadikanku tawanan. Dia ingin melihatku menderita set

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 109. Membusuk di Penjara

    "Kenapa kamu harus ke sana sendirian, Dina?” suara panik Davin terdengar sangat kontras dengan ketenangan yang mulai menyelimuti Dina. Dina menatap keluar jendela taksi, memperhatikan deretan kendaraan yang berlalu. “Tenang, Mas. Aku tahu apa yang aku lakukan,” sahutnya pelan. “Aku harus menyelesaikan ini. Mertuaku memintaku datang untuk menandatangani surat cerai. Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini.”“Tapi mereka bisa menyakitimu, Dina. Aku tidak tenang membiarkanmu menghadapi mereka sendirian, apalagi dalam situasi panas seperti sekarang.” Davin bersikeras, kecemasan terdengar jelas dari nada bicaranya. Dina menghembuskan napas panjang, mencoba memantapkan hatinya. “Mas, selama ini aku selalu bersembunyi. Kali ini tidak lagi. Aku akan ke sana untuk mengambil kembali sisa harga diriku. Kalau mereka mau cerai, akan aku sanggupi. Bukankah ini yang kita tunggu?” “Baiklah-baiklah. Tapi beritahu aku posisi kamu sekarang. Aku jemput dan kita ke sana bersama,” seru Davin. Di seberan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status