Share

Bab 5. Kepalsuan

Author: Ralonya
last update Last Updated: 2025-10-20 15:03:35

“Kalau boleh tahu, sudah berapa lama Arka dan istrinya menikah?” tanya Veronika, nada suaranya ringan, disertai senyum sopan.

“Setahun, Bu Vero,” jawab Rina, terdengar bangga tapi tetap menjaga nada agar terdengar santai.

“Wah, masih bau-bau bulan madu, ya,” ujar Veronika terkekeh kecil. Tatapannya beralih pada Dina. “Apalagi Dina ini cantik sekali. Beruntung sekali Arka bisa mendapatkan istri secantik ini.”

Rina tertawa lembut, matanya menyipit menahan senang. “Aduh, Ibu Vero bisa saja. Terima kasih, ya, sudah memuji. Tapi anak saya juga beruntung bisa mendapatkan suami seperti Arka.”

Dina mencoba tampak tenang meski pipinya memanas. Ia tahu betul, kalimat pujian yang sederhana bisa berubah menjadi bahan pembicaraan panjang di meja seperti ini.

Arka yang duduk di sebelah Dina, tersenyum lebar. Ia lalu meraih tangan istrinya dan menyentuh punggungnya dengan lembut, gerakan yang tampak penuh kasih.

“Tentu saja, Bu Vero. Saya sangat beruntung memiliki Dina sebagai istri saya,” ujarnya sambil menatap Dina, seolah ingin meyakinkan semua orang di meja itu betapa beruntungnya ia sebagai seorang pria.

Dina menoleh, memberi anggukan dan senyum kecil. “Terima kasih, Mas,” ucapnya pelan.

“Wah, rumah tangga kalian harmonis sekali,” puji Veronika sambil tertawa kecil. “Senang rasanya melihat pasangan muda seperti kalian begitu serasi.”

Dina hanya tersenyum, namun kali ini sedikit lebih kaku. Ia bisa merasakan jari Arka yang masih menekan halus punggung tangannya—bukan lagi sentuhan sayang, tapi isyarat agar tidak bertingkah aneh.

Davin melirik ke arah Arka dan Dina yang tampak begitu harmonis di hadapannya. Tanpa sadar tangannya terkepal di bawah meja. Wajahnya tetap tenang, tapi hangat di matanya perlahan memudar.

Ia menegakkan punggung, menatap gelas di depannya sambil memutar sendok kecil di dalam air putih. Gerakan sederhana, tapi cukup untuk menutupi pandangan yang sempat melirik ke arah Dina beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

“Aku juga berharap anakku memiliki rumah tangga seharmonis kalian berdua,” ujar Veronika sambil menatap lembut ke arah Arka dan Dina.

“Tapi calon istri anakmu juga tak kalah cantik dan berkelas, Bu Vero,” sahut Ester dengan nada riang. “Pasti kehidupan mereka akan sangat harmonis.”

Ucapan itu disambut tawa kecil di meja. Hanya saja, senyum di wajah Rina perlahan memudar. Ada jeda hening yang singkat membuat udara di sekitarnya berubah dingin.

“Berarti kita ini mertua yang beruntung bisa punya menantu yang cantik-cantik,” ujar Veronika sambil tertawa kecil, elegan dan hangat di waktu yang sama.

Ia menoleh lagi pada Dina, senyumnya masih belum luruh. “Berarti sudah punya momongan, ya?”

Pertanyaan itu meluncur ringan terdengar biasa di telinga siapa pun. Namun bagi Dina, kata-kata itu seperti hentakan halus yang langsung menyesak di dada.

“Belum, Bu,” jawab Dina akhirnya, suaranya lembut tapi serak di ujungnya.

Veronika masih tersenyum, tidak menyadari bahwa setiap kata lanjutannya seperti menambah berat udara di ruangan itu.

“Lalu kapan mau punya anak? Jangan ditunda-tunda, apalagi kamu masih muda.”

Dina memaksa sudut bibirnya tetap terangkat seolah semua baik-baik saja. Namun ia tak punya kata untuk menjawab ucapan wanita itu.

“Aku sudah sering bertanya,” sahut Rina dengan tawa kecil yang terdengar terlalu riang untuk suasana sesempit itu, “tapi jawaban mereka selalu saja sama, katanya masih mau menikmati masa pacaran.”

Veronika terkekeh, sementara Ester hanya mengulas senyum tipis seperti biasanya.

Arka lalu menanggapinya dengan tenang. “Kami masih menunggu waktu yang tepat. Apalagi usia pernikahan kami juga baru setahun, kami masih menikmati waktu berdua,” ujarnya sopan. Tak ada yang menyadari bagaimana rahangnya menegang, atau bagaimana jari-jarinya mengerat di pangkuan Dina, cukup kuat untuk membuat wanita itu nyaris meringis.

Dina menunduk, ia tak berani menatap siapa pun, takut bila tatapan itu membuka sesuatu yang selama ini berusaha ia sembunyikan.

Davin yang sedari tadi memperhatikan perubahan kecil di wajahnya, segera menyela begitu ibunya bersiap membuka percakapan lagi.

“Ma, coba perhatikan aquarium di sana,” ujarnya sambil menunjuk ke arah pojok ruangan. “Bagus, ya? Siapa tahu cocok jadi tambahan koleksi di rumah.”

Veronika spontan menoleh. Matanya berbinar seperti anak kecil menemukan mainan baru. “Indah sekali… warnanya lembut, ya.”

Percakapan di meja mulai bergeser. Para ibu sibuk membahas tren terbaru dari resort mahal sampai perawatan kulit yang katanya sedang populer. Dan topik tentang anak pun lenyap begitu saja.

Sementara para lelaki larut dalam percakapan tentang bisnis. Suara Arka terdengar paling nyaring, seperti tadi penuh keyakinan dan keharusan untuk didengar.

Davin menggeser piring kecil berisi potongan wafer ke arah Dina. Gerakannya menarik perhatian wanita itu.

“Jangan terlalu dipikirkan,” katanya pelan.

Dina menatap potongan wafer di piring, lalu menoleh pada Davin.

“Masih suka, kan?” tanya Davin pelan. Suaranya lembut dan tatapannya hangat, membuat Dina lupa sejenak akan statusnya.

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Kelembutan itu, nada suara, cara bicara, hingga perhatian kecil seperti ini adalah hal-hal sederhana yang dulu membuatnya jatuh cinta. Ironisnya, alasan yang sama pula yang dulu membuatnya yakin menikah dengan Arka.

“Masih, Mas. Terima kasih,” jawabnya pelan lalu mengambil satu potongan dan menikmatinya, rasa manisnya sedikit meredam rasa gugup yang mendera.

Davin mengangguk kecil, tatapannya tak berpaling.

“Aku pikir banyak hal akan berubah darimu,” ucapnya pelan, “ternyata masih sama, ya.”

Dina menatapnya ragu. “Maksudmu, Mas?”

Davin mengisyaratkan tangan ke arah rambut Dina. Refleks tangan Dina terangkat menyentuh kunciran rambutnya.

“Setiap lima belas menit pasti sibuk benerin rambut,” ucap Davin, senyumnya merekah lebar hingga sudut matanya ikut mengerut. Ada tawa kecil di ujung suaranya—hangat dan ringan.

Dina juga ikut tertawa kecil. Ia teringat beberapa kali sejak tadi tangannya sibuk memperbaiki kunciran rambutnya. Sekilas, tawa itu terdengar seperti dirinya yang dulu sebelum semua hal berubah.

Arka sempat melirik sekilas, tapi tak berkata apapun. Perhatiannya kembali ke layar ponsel, namun cukup untuk membuat Dina gugup. Percakapan itu terdengar biasa, tapi ia tahu kalau Arka tak pernah suka melihatnya berbicara terlalu lama dengan pria lain.

“Dan masih ada satu lagi.” Dina menaikan kedua alisnya, menunggu dengan sabar. “Tidak bisa lepas dari yang namanya air putih,” ujar Davin lembut, matanya menatap gelas bening di depan Dina yang sejak tadi tak berubah warna.

“Tidak banyak yang berubah,” balas Davin pelan. “Hanya... bertambah cantik saja.”

Untuk sesaat Dina lupa bahwa dirinya sudah bersuami, dan penyesalan itu baru terasa saat ia mulai tersenyum.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 114. Tertabrak

    Dina mengangguk perlahan, mencoba menyerap setiap kata yang diucapkan Davin sebagai penawar rasa takutnya. ​"Jangan terlalu dipikirkan. Kita masih punya bukti untuk memberatkan Arka di pengadilan nanti," Davin menggenggam tangan Dina, memberikan tekanan yang menenangkan. "Semua akan berakhir begitu kebenaran terungkap." ​Dina kembali mengangguk, meski hatinya masih terasa berat. Sorotan tajam dan penghakiman di media sosial terasa lebih menyakitkan daripada luka fisik; bagaimana orang-orang yang tidak pernah mengenalnya bisa begitu yakin dengan asumsi yang mereka karang sendiri, lalu menggiring opini seolah ia yang paling bersalah. ​Davin menyadari perubahan raut wajah Dina. Ia mengusap kening wanita itu, berusaha menghapus kerutan cemas di sana. "Beristirahatlah. Kamu sudah melalui banyak hal hari ini. Biar aku yang menyiapkan makan malam." ​"Aku saja, Mas," sela Dina, merasa tidak enak jika hanya berdiam diri. ​"Tidak kali ini." Davin menahan bahu Dina dengan lembut, memaksa wa

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 113. Fokus pada diri sendiri

    Dina bisa merasakan setiap pasang mata di sekitarnya seolah menghakimi, meskipun yang ia temui hanya orang tak dikenal yang berpapasan dengannya di jalan. Ia bahkan tidak punya keberanian untuk menyentuh ponselnya; nama dan fotonya telah beredar luas di media sosial dengan narasi yang menyudutkan. Puluhan pesan dari adiknya pun sengaja ia biarkan tanpa respon.​Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kekacauan ini kepada keluarganya tanpa membuat mereka ikut menanggung malu. Namun, di tengah hiruk-pikuk hujatan publik, hanya satu ketakutan yang benar-benar menghimpit dadanya: kondisi ibunya.​Ia takut berita ini sampai ke telinga sang ibu sebelum ia sempat bersimpuh dan memohon maaf secara langsung.​“Mas?” panggil Dina pelan begitu memasuki rumah.​Davin yang tampak gelisah sejak tadi, langsung menyongsongnya. “Gimana tadi?” tanyanya tanpa basa-basi begitu menutup pintu utama.​Dina menghela napas berat, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. “Mas Arka tetap bersikeras tidak mau berc

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 112. Beban dipundak

    Arka terpaku. Seluruh aliran dana untuk reservasi hotel dan pembelian barang mewah yang ia sembunyikan ternyata tercatat rapi di bawah pengawasan kakeknya. Ia tidak menyangka Arman akan melangkah sejauh itu. “Setelah mendapat bukti kekerasanmu pada Dina dan keterlibatanmu dalam pembakaran restorannya, Kakek menyuruh orang untuk menelusuri segalanya. Termasuk semua transaksi yang kamu rahasiakan itu,” jelas Arman dingin. Arka kehilangan kata-kata. Kebohongannya runtuh tanpa sisa. Ester yang tadinya vokal, kini terpaku menatap putranya dengan ekspresi syok yang mendalam.“Nak? Katakan sesuatu. Bilang kalau semua itu bohong!” tuntut Ester lirih. Ia menatap cemas, berharap ada satu saja kalimat bantahan dari Arka. Namun, Arka hanya diam membisu.“Sudahlah, Ma. Terima saja kalau anak kita memang bersalah,” sela Hendrik. Ia menatap Arka dengan kekecewaan yang nyata, lalu beralih pada istrinya. “Aku setuju mereka bercerai. Bukankah dari dulu kamu bilang Dina tidak pantas menjadi menantu ke

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 111. Catatan transaksi

    Keheningan berat menyusul ucapan Arman. Ester terdiam tak berani membantah. Sementara itu, Hendrik menarik napas panjang, ia tahu jika ayahnya sudah berbicara, maka tak ada lagi ruang untuk membantah. “Aku tidak akan menceraikan Dina, Kek,” ujar Arka tegas. “Kakek pikir dengan bercerai semua masalah selesai? Nama baikku sudah terlanjur rusak karena skandal perselingkuhannya. Melepaskannya sekarang hanya akan membuatnya merasa menang!” Arman menatap cucunya dengan sorot mata kecewa. “Masalahnya bukan siapa yang menang atau kalah, Arka. Masalahnya adalah kamu sudah menjadi monster dalam pernikahanmu sendiri.”“Dina yang memulainya, Kek! Dia yang mencari laki-laki lain!” bantah Arka, suaranya naik satu oktaf.“Dia mencari laki-laki lain karena kamu tidak pernah menganggapnya ada!” Arman memotong dengan tegas. Ester tidak tahan untuk tidak membela putranya. “Apa perselingkuhan itu bisa dibenarkan, Pa? Apa pun alasannya, Dina sudah berkhianat!”“Lalu menurutmu, perbuatan Arka selama ini

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 110. Perlindungan Arman

    “Kekerasan? Apa maksudmu, Dina?” tanya Ester dengan nada menuduh, matanya beralih menatap Dina dan Arka bergantian, mencari kebohongan di sana.Arka mendengus, seolah tuduhan itu adalah lelucon. “Aku memukulnya kemarin karena dia ketahuan selingkuh. Apa salah seorang suami memberi pelajaran pada istri yang tidak tahu malu?”“Bukan itu!” seru Dina. Ia menoleh ke arah Ester dan Hendrik, matanya berkilat penuh amarah yang sudah ia pendam bertahun-tahun.“Anak kalian ini bukan hanya memukuliku kemarin. Dia menyiksaku dengan kata-kata tajam setiap hari. Dia merendahkanku seolah aku ini sampah di rumah!” Dina menunjuk Arka, suaranya naik satu oktaf. “Bahkan sejak malam pertama pernikahan kami sampai detik ini, dia tidak pernah mau menyentuhku. Tidak sekalipun!”​Ester dan Hendrik ternganga, wajah mereka memucat mendengar kejujuran itu.“Semua itu dia lakukan dengan sengaja,” lanjut Dina dengan napas memburu. “Dia menikahiku hanya untuk menjadikanku tawanan. Dia ingin melihatku menderita set

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 109. Membusuk di Penjara

    "Kenapa kamu harus ke sana sendirian, Dina?” suara panik Davin terdengar sangat kontras dengan ketenangan yang mulai menyelimuti Dina. Dina menatap keluar jendela taksi, memperhatikan deretan kendaraan yang berlalu. “Tenang, Mas. Aku tahu apa yang aku lakukan,” sahutnya pelan. “Aku harus menyelesaikan ini. Mertuaku memintaku datang untuk menandatangani surat cerai. Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini.”“Tapi mereka bisa menyakitimu, Dina. Aku tidak tenang membiarkanmu menghadapi mereka sendirian, apalagi dalam situasi panas seperti sekarang.” Davin bersikeras, kecemasan terdengar jelas dari nada bicaranya. Dina menghembuskan napas panjang, mencoba memantapkan hatinya. “Mas, selama ini aku selalu bersembunyi. Kali ini tidak lagi. Aku akan ke sana untuk mengambil kembali sisa harga diriku. Kalau mereka mau cerai, akan aku sanggupi. Bukankah ini yang kita tunggu?” “Baiklah-baiklah. Tapi beritahu aku posisi kamu sekarang. Aku jemput dan kita ke sana bersama,” seru Davin. Di seberan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status