Share

BAB 7 : Tamu Agung

Aruna berhenti dan berdiri kaku di tempatnya. Jantungnya berdebar cepat dengan sedikit rasa khawatir menyergap. Ia menggigiti bibir bawahnya dan berharap pria itu tidak marah dan tidak akan melampiaskan kemarahan kepadanya.

“Tunggu sebentar,” Pria itu berkata lagi. Ia berdiri dari posisi berjongkoknya sedari tadi.

“Terima kasih,” ungkapnya singkat. Ia lalu menoleh pada Mai, menggandeng tangan kecil gadis itu lalu membawanya pergi menjauh dari pandangan Aruna.

Aruna tersenyum simpul, lalu mengangkat bahunya. Ia pun berbalik kembali ke tujuan semula. Outlet kosmetik langganan ibunya.

Baru lima langkah Aruna berjalan, tampak ia menepuk jidatnya sedikit keras.

“Astaga! Lupa! Uang si Ayah Dingin itu!” Aruna membalikkan tubuh. Matanya memindai mencoba menemukan kedua sosok ayah anak itu. Nihil.

Mereka berdua telah benar-benar hilang dari pandangan Aruna.

* * *

Pagi berikutnya, Aruna telah berada di dalam ruangan kantornya. Aruna telah bekerja sebagai anak magang di PT. Niskala Construction hampir lima belas bulan. Ia datang lebih awal dari biasanya. Beberapa meja tampak masih kosong.

Sepasang mata coklat Aruna menyapu ke seluruh ruangan.

Ia lalu menghempas dirinya di kursi kerja miliknya. Sedikit menghela napas lalu melintas bayangan permasalahan yang masih menggantung dan menyita waktu tidur serta pikirannya.

Julian yang memutuskannya, ibu tirinya yang mengancam ia untuk berkencan dengan Anton, lalu hutang pada sahabat karibnya untuk mengganti motor yang penyok karena ulahnya.  

Aruna berdiri lalu berjalan menuju toilet sembari memijat pelipisnya berulang, berharap tekanan di area itu mampu mengurangi berat di dalam tempurung kepalanya. Ia langsung menuju wastafel dan dengan tenang memutar keran untuk membasuh wajahnya.

“Eh, apa kau dengar? CEO Dananjaya Group akan datang kesini!”

Kepala Aruna terangkat. Suara itu terdengar cukup mengejutkan lorong pendengarannya.

Melalui cermin di depannya, ia dapat melihat dua wanita berpakaian rapi berjalan menuju wastafel di sebelahnya lalu mengeluarkan peralatan make-up untuk membenahi riasan di wajah mereka.

Melihat sekilas dari name tag yang mereka gunakan, keduanya dari Departemen Personalia. Departemen Produksi --tempat Aruna bekerja-- dan Departemen Personalia memang berada dalam satu lantai di gedung berlantai dua puluh tujuh ini.

“Serius??”

“Gue dapet bocoran dari OB yang anter minuman ke ruang pak General Manager kemaren siang,” wanita dengan blazer krem berkata.

“Aslinya? Wah, langka banget tuh. Kita didatangi CEO kita. Gue bisa punya kesempatan lihat beliau secara langsung nih!” antusiasme wanita berblazer hitam menimpali.

“Lu belum pernah lihat dia?”

“Ya mo lihat dari mana, ke sini aja belum pernah,” sungut si blazer hitam. “Emang lu dah pernah?”

“Belon. Makanya gue nanya. Beliau kagak pernah muncul di media,” jawab si blazer krem sambil memulas bibirnya dengan lip tint berwarna pink terang.   

“Antara kagak pernah muncul di media, atau kita berdua kagak ngikutin berita, kali. Secara dia orang penting, masa iya kagak pernah masuk tipi?”

“Iya, kita berdua nontonnya Tek Tok mulu. Kagak pernah liat berita,” gurau si blazer krem yang disambut anggukan dan kekehan si blazer hitam.

Tak lama mereka membenahi peralatan kosmetik mereka lalu beranjak keluar dari ladies room itu, meninggalkan Aruna yang masih berdiri di depan wastafel. Meskipun ia mendengar gosip yang termasuk kejadian langka itu, namun Aruna tidak terlalu peduli.

Baginya, magang di kantor ini hingga diangkat menjadi pegawai tetap, adalah tujuan terpenting. Agar kelak ia bisa membawa sang ayah keluar dari rumah yang dikuasai ibu tirinya dan memberikan tempat tinggal yang layak untuk hidup berdua saja dengannya.

Jam 12.15  siang hari itu.

Semua pegawai tengah beristirahat dan meninggalkan pekerjaan mereka sejenak. Aruna mengeluarkan kotak bekal makan siangnya dari tas. Untuk menghemat pengeluaran, Aruna selalu membawa bekal dari rumah yang ia masak sendiri.

Meski makanan itu telah menjadi dingin, tidak masalah bagi Aruna.

Baru saja tangan Aruna hendak membuka tutup kotak bekalnya, Pak Dharma, manager produksi memanggilnya. Wajahnya terlihat tegang dan sedikit gugup.

“Ya Pak?” tanya Aruna sopan setelah menghampiri dan berdiri di depan pak Dharma.

“Kamu, ini Rooibos Tea. Baca petunjuk cara penyajiannya di sini,” jari telunjuk pak Dharma terarah ke sebuah kertas kecil yang menempel di botol berukuran 220 ml di tangannya. “Teh ini kesukaan pak CEO kita. Kamu segera buatkan tiga cangkir saja, lima belas menit lagi beliau sampai di lantai ini.”

“Li-lima belas menit lagi?”

“Ya. Dan nanti antarkan ke ruang pak Direktur.”

“Ruang pak Direktur?” Aruna membeo lagi. “Saya, Pak?”

“Iya kamu. Sudah sana!” perintah pak Dharma mengabaikan kebingungan Aruna. Ia bergegas kembali menuju ruangan manager sambil mengeluarkan saputangan dari saku dan mengusap keringat di pelipisnya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status