MasukGedung pencakar langit Volkov Group berdiri megah di pusat kota, cahaya matahari memantul pada dinding kaca gelapnya. Di dalam lobi, sosok Yura menjadi pusat perhatian, gaun hitam polosnya masih sedikit lembab sisa badai hujan tadi. Rambut panjangnya dicepol asal-asalan, wajahnya pucat tanpa riasan.
“Maaf, Nyonya. Anda tidak bisa menemui Tuan Volkov kalau tidak ada janji sebelumnya.” Resepsionis berkata dengan sopan, tapi tatapannya meremehkan penampilan Yura yang berantakan. Yura tak merasa terintimidasi sedikit pun, pengalamannya bertahun-tahun mendampingi Adrian dari balik layar membuatnya sangat memahami tabiat para pekerja seperti ini. Yura membuka tas kecilnya, mengeluarkan kartu nama hitam metalik dengan cetakan emas timbul lalu meletakkannya di atas meja dengan tenang. “Katakan pada atasanmu, Yura Leticia datang sesuai permintaannya.” Melihat kartu nama hitam metalik, wajah resepsionis itu pucat pasi. Itu kartu nama VIP milik bosnya, Killian Volkov yang dicetak terbatas, tak sembarangan orang bisa memilikinya. Jemarinya meraih gagang telepon internal dengan gemetar, setelah berbicara singkat dengan berbisik dan menutup telepon. Dia membungkuk dan meminta maaf pada Yura. "Mohon maaf atas kelancangan saya, Nyonya. Asisten pribadi Tuan Volkov akan segera turun menjemput anda." Tak lama pintu lift berdenting, asisten bertubuh tegap yang dilihat Yura semalam berjalan keluar dari lift, lalu berhenti di hadapannya. Asisten itu membimbing nya ke lift pribadi menuju lantai teratas. Pintu lift kembali berdenting terbuka, lantai ini nyaris terlihat kosong, di tengah ruangan terdapat meja sekretaris dan kursi untuk tamu di sudut jendela besar. Sebuah pintu besar berwarna abu gelap terlihat di ujung lantai. Saat mereka masuk, ruangan kantor luas dan dengan desain minimalis maskulin yang didominasi warna hitam dan abu-abu arang menyambut mereka. Killian tak mengangkat kepala saat Yura masuk, matanya sibuk membaca dokumen di tangannya, sesekali menandatangani dokumen penting. Killian duduk di balik meja kerjanya dengan kemeja yang terbuka dua kancing di bagian atas, bagian lengannya digulung hingga siku. “Kau datang lebih cepat dari perkiraanku, Nyonya Valerius, atau harus kupanggil… Nona Yura Leticia?” Suara Killian terdengar berat menimbulkan getaran aneh di dadanya. Dia mendongak, menatap tajam ke arah Yura. Yura mendekat beberapa langkah. “Adrian menjebakku menggunakan orang suruhannya, dengan foto palsu untuk memaksaku menandatangani surat cerai, bahkan merampas Leo, anakku.” Killian menyandarkan tubuh ke sandaran kursi kebesarannya, tersenyum sinis. “Lalu? Kau datang ke kantorku untuk mengadu atau mengemis belas kasihan padaku?” “Aku tak butuh belas kasihan, Tuan Volkov.” “Benarkah?” Killian menatap Yura dari atas ke bawah, menilai penampilannya yang berantakan. “Bukankah kau yang memintaku untuk datang menemuimu dalam keadaan sadar? Sekarang aku sangat sadar!” “Ya, kau benar, aku yang memintamu datang. Tapi… bukan dengan penampilan seperti ini. Sepertinya kau belum sepenuhnya sadar.” Killian tersenyum meremehkan. “Jangan pedulikan penampilanku saat ini.” Yura mencondongkan tubuhnya ke depan meja Killian, mempersempit jarak mereka berdua. “Aku datang untuk menawarkan kerjasama yang saling menguntungkan. Bukankah Volkov Grup sedang mengincar jalur logistik dari Utara yang sekarang dimonopoli Grup Valerius? Aku tau celah hukum kontrak mereka.” Ekspresi Killian mengeras mendengarnya. Pria itu menurunkan tangannya, menatap Yura dengan lebih serius. “Kau ingin menghancurkan perusahaan yang ikut kau bangun dengan susah payah, hanya demi balas dendam?” “Aku tak peduli. Lagi pula dengan sifat bajingannya, Adrian tak akan mengakui kerja kerasku.” Yura mengangkat bahunya acuh. “Aku ingin bajingan itu merangkak di bawah kakiku memohon ampun, dan mengembalikan putraku. Untuk mencapainya, aku butuh modal dan kekuasaanmu yang besar.” Yura menatap Killian tanpa berkedip, berusaha tetap terlihat tenang meski napasnya sedikit memburu di bawah tekanan aura dominasi pria itu. Killian perlahan bangkit dari kursinya, langkahnya tenang saat berjalan memutari meja. Terlalu dekat, Yura menahan napas saat Killian berhenti di belakang tubuhnya. Aroma maskulin dan tembakau yang sempat mengusiknya semalam kembali tercium olehnya. “Keberanian yang menarik,” bisik Killian di dekat telinganya. Yura menegang. Hawa napas yang hangat pria itu menggelitik kulit lehernya yang sensitif. “Kau sungguh tidak takut padaku?” “Aku lebih takut kehilangan anakku.” Killian tersenyum tipis. “Bagus.” “Aku terima tawaran kerjasamamu, Yura.” Killian kembali ke kursinya dengan tenang, lalu menyandarkan tubuhnya. “Tapi ingat, aku punya satu aturan main yang tak bisa kau usik. Aku tak suka pengkhianatan, Yura.” Killian menatapnya tajam. “Sekali kau memilih berada di pihakku, jangan pernah berpikir untuk berbalik. Kalau kau berani melanggar, aku tak akan segan menghukummu. Paham, Nyonya Valerius?” Yura mengangguk.Mendengar pembelaan Adrian, Rose langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya sengaja dibuat sedikit bergetar, dia melangkah maju untuk memeluk lengan Magnus dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan gerakan perlahan, Rose sengaja memposisikan tangan kanannya yang terbebat perban putih tepat di depan dada Magnus, memastikan sang ayah melihat "pengorbanannya". "Papa... ini semua salah Rose," suaranya bergetar menjadi tangisan lirih yang terdengar sangat menyedihkan. "Harusnya Rose bisa memegang tangan Leo lebih erat semalam. Jangan salahkan Kak Yura. Kakak... dia hanya salah paham, emosinya sedang tidak stabil setelah pergi dari rumah." Rose mengusap sudut matanya yang basah, melirik sekilas lorong koridor yang mengarah ke ruang dokter sebelum melanjutkan hasutannya dengan nada polos. "Kak Yura tidak sengaja membesar-besarkan seolah-olah kami menelantarkan Leo, sampai di dengar oleh dokter, Pa. Kakak pasti masih marah makanya menuduh yang tidak-tidak. Padahal Rose panik, dan
Dokter itu tidak memberi kesempatan Adrian untuk meluapkan arogansinya. Dia langsung berbalik menatap Yura. "Mari, Bu. Ikut ke ruangan saya sekarang." Yura tidak mau membuang waktu lagi. Tanpa melirik sedikit pun pada Adrian yang napasnya memburu, Dia melangkah tegas melewati mantan suaminya. Melangkah menjauh bersama dokter dan perawat. Meninggalkan mereka dalam keheningan koridor yang sarat akan amarah dan kecemasan yang mulai menguasai. Di lantai teratas gedung Volkov Tower, keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja bernuansa monokrom itu. Killian Volkov berdiri membelakangi meja kerjanya yang luas, menatap lurus ke luar dinding kaca raksasa yang memperlihatkan bangunan distrik bisnis di bawahnya. Tangan kanannya memutar-mutar sebuah pena mahal dengan gerakan santai, sementara pikirannya sedang menyusun langkah lain untuk meruntuhkan Valerius Group di lantai bursa nanti. Tok, tok, tok. "Masuk," sahut Killian tanpa berbalik. Suara baritonnya terdengar berat dan d
Dokter yang berdiri di samping perawat menghela napas panjang. Tatapan matanya yang tajam sempat melirik ke arah Rose yang langsung menundukkan kepala karena takut, sebelum beralih menatap Yura yang berdiri dengan pipi memerah dan mata berkaca-kaca. "Siapa ibu kandung dari pasien anak Leo Valerius?" tanya Dokter itu dengan nada suara yang berat. Yura langsung melangkah maju, mengabaikan tatapan tajam Adrian. "Saya, Dok. Saya ibu kandungnya. Bagaimana keadaan anak saya? Tolong katakan pada saya, Dok..." Suara Yura terdengar parau. Dokter itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Mengingat pembicaraannya dengan Killian Volkov sebelumnya, dokter itu tau ada yang tidak beres di antara keluarga ini. "Kondisi pasien saat ini sudah stabil setelah luka di pelipisnya dijahit, Ibu. Namun, karena dia mengalami trauma di kepala dan demam tinggi akibat syok, pasien masih harus diisolasi dan belum bisa dijenguk oleh banyak orang sekaligus," jelas Dokter itu dengan tenang. Mat
Saat tiba di Rumah Sakit, Yura dengan cemas mencari ruang rawat Leo yang diberikan ayahnya melalui pesan singkat. Tak lama, dia melihat beberapa sosok yang dikenalnya sedang berkumpul di ujung koridor. Yura mempercepat langkahnya dengan emosi campur aduk. “Pa, ada apa dengan Leo?” Tanyanya begitu sampai di depan mereka. “Yura, nak. Akhirnya kau sampai juga.” Maria, ibu tiri Yura mendekat dengan wajah prihatin. Wanita itu merentangkan tangannya hendak memeluk tapi Yura yang dikuasai rasa cemas menepis tangan Maria dengan kasar. “Jangan sentuh aku! Dimana Leo?! Kenapa tidak ada yang menjawab?” Yura menatap Adrian dan Rose bergantian, melihat wajah dingin Adrian dan tatapan polos Rose yang dia yakini palsu. Dia melihat mereka semua yang hanya terdiam. “Tenanglah, Nak. Jangan buat keributan di rumah sakit,” hibur Maria. Mencoba meraih lengan Yura tapi tak digubrisnya. “Papa, katakan padaku, apa yang terjadi pada Leo?” Tanyanya dengan mata yang memerah, menuntut penjelasan dari
"Tuan?" Affan sedikit terkejut. Killian menghentikan rekamannya, layar berhenti pada satu frame. "Simpan rekaman ini." "Baik, Tuan." "Jangan biarkan siapapun tahu kita memiliki ini!" Affan menundukkan kepala. "Saya mengerti, Tuan. " Killian menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya masih dingin. Tapi kemudian sudut bibirnya terangkat tipis. "Menarik." Affan tidak bertanya lebih jauh, karena dia tahu satu hal. Setiap kali Killian Volkov seperti ini, ada yang berhasil menarik minat berburunya, targetnya dipastikan akan hancur tanpa sisa. Malam semakin larut saat pintu lift privat di penthouse mewah itu berdenting pelan. Killian melangkah keluar dengan setelan jas yang sudah sedikit berantakan, dua kancing teratas kemejanya terbuka, dasinya juga telah longgar, menberikan kesan seksi yang maskulin. Di tangannya, dia membawa sebuah map tipis berisi dokumen analisis CCTV yang sudah dicetak oleh Affan. Tatapan mata tajamnya tertuju pada ruang tengah. Di sana, di depan di
Di samping Adrian, Rose meremas jemarinya yang mulai berkeringat dingin. Seringai kemenangannya yang tadi sempat muncul karena berhasil mengelabui Adrian seakan hilang tak bersisa. Setiap kata yang keluar dari mulut Killian terasa seperti pisau bedah yang menguliti kebohongannya satu demi satu. Tatapan sekilas pria itu yang sempat menyapu perban di punggung tangan kanannya seperti membaca setiap inci dosa dan kekerasan yang dia sembunyikan. Adrian menarik napas dalam-dalam, mencoba sekuat tenaga menenangkan emosinya yang nyaris meledak. Dia tidak ingin terlihat semakin menyedihkan di hadapan pria yang sudah merebut jalur logistik utaranya. "Jika Anda hanya kebetulan lewat untuk urusan lain, saya harap Anda tidak mencampuri urusan keluarga saya, Tuan Volkov. Perusahaan saya mungkin sedang menghadapi kendala, tapi urusan internal keluarga, mutlak hak saya. Anda tak perlu ikut campur." Killian terkekeh rendah, suara baritonnya yang maskulin bergema halus di dinding koridor. Dia
Di dalam kamar utama kediamannya, Adrian dan Rose baru selesai memadu gairah. Pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka, memancarkan cahaya lampu temaram ke arah lorong yang sepi. Di luar kamar, sepasang kaki kecil melangkah dengan gemetar di atas lantai marmer yang dingin. Bocah itu baru berusia
Killian menyeringai puas, Ekspresi kemenangannya tampan sekaligus mengerikan. Dia mengambil sebuah kunci kartu digital emas metalik dari dalam laci, meletakkannya di depan Yura. “Pindah ke penthouseku sore ini juga, Asistenku akan mengurus keperluanmu. Mulai besok pagi, permainan balas dendammu a
Sinar matahari yang masuk dari celah gorden menusuk matanya saat Yura membuka mata. Dia mengerang parau saat kepalanya berdenyut menyakitkan. Matanya menatap langit-langit kamar yang tampak asing. Yura tersentak, seketika mendudukkan tubuhnya. Dia menatap pakaiannya yang berantakan lalu sekelilin
"Ah...kak Adrian, pelan-pelan. Bagaimana kalau kak Yura tiba-tiba datang?" Yura membeku di depan pintu. Dari celah kecil pintu, Yura melihat Adrian, suaminya yang selalu bersikap hangat dan penuh kasih di rumah, kini sedang mencium Rose dengan penuh gairah di atas sofa. "Jangan sebut namanya di







