Share

Bab 2

Penulis: Lily Aislin
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 10:51:24

Sinar matahari yang masuk dari celah gorden menusuk matanya saat Yura membuka mata. Yura mengerang parau saat kepalanya berdenyut menyakitkan.

Matanya menatap langit-langit kamar yang tampak asing. Yura tersentak, seketika mendudukkan tubuhnya. Dia menatap pakaiannya yang berantakan lalu sekeliling ruangan yang tampak kumal. Ini bukan kamarnya. Bau lembab dan cat dinding yang mengelupas, ini motel murahan.

Ingatannya berputar cepat. Semalam, setelah dia gagal merayu Killian. Yura berjalan keluar dari bar dengan langkah goyah. Saat sedang menunggu taksi, beberapa orang berbadan besar mencegatnya. Sebuah sapu tangan berbau menyengat membekap hidungnya, hingga kesadarannya hilang.

"Aku... dijebak?" Bisik Yura dengan suara bergetar. Tangannya meraba tas kecilnya yang tergeletak di lantai. Dompet dan ponselnya masih ada, Yura menemukan kartu nama hitam metalik milik Killian yang terselip di dalam tasnya.

"Pria itu..." Yura berbisik parau, menyentuh bibirnya saat mengingat kejadian memalukan semalam.

"Leo." Yura langsung bangkit, rasa takut merasuki dadanya saat wajah putranya melintas di pikirannya. Yura merapikan penampilannya dan bergegas keluar dari motel itu.

Yura menghentikan langkah tepat di depan pintu ruang tamu rumah yang selama lima tahun ini dia tinggali. Di tengah ruangan, Adrian dan Rose duduk berdampingan di sofa beludru. Ekspresi mereka sangat berbeda, Adrian memasang wajah murkanya sedangkan Rose duduk dengan ekspresi prihatin di wajahnya. Di depan mereka, pengacara keluarga Valerius sedang duduk menunggu.

Saat Yura masuk, Adrian berdiri dan melemparkan lembaran foto ke atas meja kaca. "Bagus sekali kau, Yura. Baru pulang ke rumah jam segini. Sepertinya pria itu benar-benar memuaskanmu sampai lupa pulang ke rumah!" Adrian membentak, suaranya menggelegar.

Yura mematung, dia mendekat dan menatap foto di atas meja. Itu foto dirinya yang tidak sadarkan diri di atas ranjang dengan pria asing yang bertelanjang dada di sampingnya. Wajah pria itu sengaja dibuat buram, tapi wajah Yura terlihat sangat jelas.

Saat itu Yura tersadar, ini semua jebakan Adrian dan Rose. Yura menatap Adrian lalu beralih pada Rose menunduk menyembunyikan senyum liciknya. Yura mengepalkan tangannya. Kemarin dia melihat bajingan ini bercumbu mesra dengan Rose di ruang kerjanya, lalu hari ini mereka dengan tega memfitnahnya dengan cara yang paling hina.

Yura menarik napas pelan, memaksa dirinya tetap tenang. Dia memutuskan tidak membongkar perselingkuhan mereka. Mengungkitnya sekarang tanpa bukti yang kuat hanya akan membuatnya semakin terpojok. Yura menghela napas kasar.

"Kau menjebakku, Adrian," ucap Yura dengan suara yang sangat tenang.

"Menjebakmu?!" Adrian terkekeh sinis. "Lihatlah penampilanmu saat ini, gaun yang begitu terbuka, tidak pulang ke rumah setelah semalaman..." Adrian menatap Yura dari atas ke bawah dengan tatapan menghina.

"Bukti sejelas ini, kamu masih mengelak? Kau sangat murahan, Yura! Beraninya kau mengkhianati pernikahan kita!"

Pengacara keluarga berdehem, lalu menggeser selembar dokumen ke hadapan Yura. "Nyonya Yura, ini adalah surat gugatan cerai sekaligus hak asuh mutlak atas anak anda, Leo Valerius yang akan jatuh ke tangan tuan Adrian. Berdasarkan bukti penting perselingkuhan dan pelanggaran perjanjian pranikah Tuan dan Nyonya, Anda harus keluar dari rumah ini tanpa hak atas harta bersama sepeser pun."

"Aku tidak akan menandatanganinya! Leo anakku! Kalian tak berhak memisahkan aku dan Leo!"

"Kau tak punya pilihan, jalang!" Adrian mencengkram lengan Yura dengan kasar dan mendorongnya hingga jatuh ke lantai, memaksa memegang pena di atas kertas dan menandatangani surat itu secara paksa. Setelah selesai, Adrian menyeret tubuh ramping Yura menuju pintu keluar. Dari sudut matanya dia melirik pengacara paruh baya yang seolah tak melihat hal aneh.

“Security! Seret keluar wanita jalang ini keluar dari rumahku!” perintah Adrian kejam.

Dua penjaga bertubuh besar langsung memegang kedua lengan Yura, menyeretnya melewati pekarangan lalu mendorongnya ke atas aspal di luar gerbang rumah. Hujan deras turun tiba-tiba saat Yura tersungkur, mengguyur tubuhnya yang tak berdaya.

“Mama! Mama!” Di luar gerbang besi yang tertutup rapat, samar-samar Yura mendengar suara tangisan histeris dari dalam rumah. Itu Leo, putranya menangis mencarinya.

“Leo!” Yura memukul-mukul gerbang dengan kuat sampai jemarinya berdarah, bercampur dengan air hujan. Yura menjerit histeris, lima tahun pengorbanannya dibalas dengan tuduhan palsu, dipisahkan dari putranya. Dia diusir dengan hina.

Yura terduduk di atas aspal dingin, tubuhnya yang basah kuyup bergetar hebat. Rasa sakit di dadanya perlahan berubah menjadi amarah. Yura meraih tas kecilnya yang tergeletak tak jauh darinya, meraba bagian dalam tas itu. Dia mengeluarkan kartu nama milik Killian. Jemarinya yang gemetar menggenggam kartu itu erat-erat.

“Kau menghancurkanku dengan cara sekotor ini… Adrian.” Bisik Yura di tengah deru hujan. Matanya yang sembab menatap dingin ke arah gerbang. “Jangan salahkan aku jika membalas dengan lebih kejam.”

Yura bangkit berdiri, menyeka air mata yang bercampur air hujan di pipinya. Yura menatap gerbang rumah Valerius dengan senyum sinis di bibirnya. Di tengah hujan deras, Yura melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Tujuannya hanya satu, kantor pusat Volkov Group.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dibuang Suami, Dicintai Raja Bisnis    Bab 7

    Langkah kaki yang berat, konstan, dan berwibawa itu bergema di sepanjang koridor VIP St. Mary's Hospital, memecah keheningan yang sempat menyelimuti Adrian dan Rose. Adrian mendongak dengan kening berkerut, tapi kemudian seluruh otot di tubuhnya menegang, saat melihat siapa yang baru saja menapakkan kaki di area steril ini. Killian Volkov. Pria itu berdiri dengan setelan jas hitam yang melekat sempurna pada tubuh tinggi tegapnya. Aura mengintimidasi yang begitu pekat menguar dari tubuh Killian. Di belakangnya, Affan, asisten pribadinya berdiri dengan posisi tegap. Wajahnya tanpa ekspresi, seperti bayangan yang siap menjalankan perintah kapan saja. "Tuan Valerius?" Killian berhenti tepat di beberapa langkah di depan pintu. Sepasang mata elangnya yang gelap melirik sekilas ke arah papan nomor kamar, sebelum kembali ke arah Adrian dengan tatapan menilai. "Menarik. Saya tidak menyangka akan bertemu dengan Anda di bangsal perawatan anak seperti ini." Adrian mengepalkan tangannya ku

  • Dibuang Suami, Dicintai Raja Bisnis    Bab 6

    “Leo, Kak Adrian… Pelayan menemukan Leo dalam keadaan pingsan di taman belakang rumah. Pelipisnya terluka, badannya juga panas. Aku takut sekali kak Adrian!” Ekspresi Adrian menegang, Meskipun dia tak begitu menyukainya, Leo tetap putra satu-satunya. Pewaris keluarga Valerius terluka membuatnya tak tega. “Di mana Leo sekarang?” “Aku langsung membawanya ke St. Mary’s Hospital. Kumohon cepat datang, kak. Aku tak tau harus berbuat apa…” Rose terisak pelan sebelum mengakhiri panggilan. Adrian segera menyambar jasnya dan berlari keluar ruangan. Di koridor ruang anak St. Mary’s Hospital, Rose duduk di kursi tunggu dengan wajah cemas. Matanya sengaja dikucek hingga memerah agar terlihat habis menangis. Dia mengenakan pakaian kasual yang rapi, bekas gigitan Leo di punggung tangannya sudah ditutupi dengan plester medis. Rose mendongak saat mendengar suara langkah kaki yang tergesa, Adrian berlari ke arahnya dengan wajah panik. Rose langsung berdiri dan memeluk Adrian, menangis sesegukan d

  • Dibuang Suami, Dicintai Raja Bisnis    Bab 5

    Di dalam kamar utama kediamannya, Adrian dan Rose baru selesai memadu gairah. Pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka, memancarkan cahaya lampu temaram ke arah lorong yang sepi. Di luar kamar, sepasang kaki kecil melangkah dengan gemetar di atas lantai marmer yang dingin. Bocah itu baru berusia empat tahun, berjalan pelan sambil memeluk erat boneka beruang kecilnya. Matanya sembab dan memerah, tidurnya terusik karena merindukan mamanya yang tiba-tiba menghilang sejak sore tadi. "Mama... Mama di mana..." Bisik Leo lirih dengan suara serak, menahan tangis. Saat melewati kamar orang tuanya, langkah kecil Leo terhenti. Dia mendengar suara-suara aneh. Dengan polos, bocah itu mendekat dan mengintip dari celah pintu yang terbuka. Di atas ranjang mamanya, dia melihat papanya sedang memeluk Tante Rose. Rose yang menghadap ke arah pintu, menyadari kehadiran Leo. Dia menyeringai licik dari bahu Adrian, dengan sengaja mempererat pelukannya pada Adrian. “Kak Adrian, anakmu mengintip.” b

  • Dibuang Suami, Dicintai Raja Bisnis    Bab 4

    Killian menyeringai puas, Ekspresi kemenangannya tampan sekaligus mengerikan. Dia mengambil sebuah kunci kartu digital emas metalik dari dalam laci, meletakkannya di depan Yura. “Pindah ke penthouseku sore ini juga, Asistenku akan mengurus keperluanmu. Mulai besok pagi, permainan balas dendammu akan dimulai.” Penthouse milik Killian berada di lantai paling atas gedung kondominium paling eksklusif di jantung kota. Pintu lift privat berdenting pelan sebelum terbuka langsung di dalam ruangan, Yura menahan napas. Ruangan itu sangat luas, dingin, elegan dan mewah. Dominasi warna gelap dengan pencahayaan redup menciptakan kesan intim dan mengintimidasi sejak pandangan pertama. Yura melangkah perlahan melewati sofa besar di tengah ruangan, dia berhenti tepat di depan dinding kaca besar, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala di kejauhan. “Nyonya tidak membawa barang apapun, jadi Tuan menyiapkan semuanya untuk anda.” ucap asisten dengan sopan sambil membukakan pintu kamar utama

  • Dibuang Suami, Dicintai Raja Bisnis    Bab 3

    Gedung pencakar langit Volkov Group berdiri megah di pusat kota, cahaya matahari memantul pada dinding kaca gelapnya. Di dalam lobi, sosok Yura menjadi pusat perhatian, gaun hitam polosnya masih sedikit lembab sisa badai hujan tadi. Rambut panjangnya dicepol asal-asalan, wajahnya pucat tanpa riasan. “Maaf, Nyonya. Anda tidak bisa menemui Tuan Volkov kalau tidak ada janji sebelumnya.” Resepsionis berkata dengan sopan, tapi tatapannya meremehkan penampilan Yura yang berantakan. Yura tak merasa terintimidasi sedikit pun, pengalamannya bertahun-tahun mendampingi Adrian dari balik layar membuatnya sangat memahami tabiat para pekerja seperti ini. Yura membuka tas kecilnya, mengeluarkan kartu nama hitam metalik dengan cetakan emas timbul lalu meletakkannya di atas meja dengan tenang. “Katakan pada atasanmu, Yura Leticia datang sesuai permintaannya.” Melihat kartu nama hitam metalik, wajah resepsionis itu pucat pasi. Itu kartu nama VIP milik bosnya, Killian Volkov yang dicetak terb

  • Dibuang Suami, Dicintai Raja Bisnis    Bab 2

    Sinar matahari yang masuk dari celah gorden menusuk matanya saat Yura membuka mata. Yura mengerang parau saat kepalanya berdenyut menyakitkan. Matanya menatap langit-langit kamar yang tampak asing. Yura tersentak, seketika mendudukkan tubuhnya. Dia menatap pakaiannya yang berantakan lalu sekeliling ruangan yang tampak kumal. Ini bukan kamarnya. Bau lembab dan cat dinding yang mengelupas, ini motel murahan. Ingatannya berputar cepat. Semalam, setelah dia gagal merayu Killian. Yura berjalan keluar dari bar dengan langkah goyah. Saat sedang menunggu taksi, beberapa orang berbadan besar mencegatnya. Sebuah sapu tangan berbau menyengat membekap hidungnya, hingga kesadarannya hilang. "Aku... dijebak?" Bisik Yura dengan suara bergetar. Tangannya meraba tas kecilnya yang tergeletak di lantai. Dompet dan ponselnya masih ada, Yura menemukan kartu nama hitam metalik milik Killian yang terselip di dalam tasnya. "Pria itu..." Yura berbisik parau, menyentuh bibirnya saat mengingat kejadian mem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status