ログインMendengar pembelaan Adrian, Rose langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya sengaja dibuat sedikit bergetar, dia melangkah maju untuk memeluk lengan Magnus dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan gerakan perlahan, Rose sengaja memposisikan tangan kanannya yang terbebat perban putih tepat di depan dada Magnus, memastikan sang ayah melihat "pengorbanannya". "Papa... ini semua salah Rose," suaranya bergetar menjadi tangisan lirih yang terdengar sangat menyedihkan. "Harusnya Rose bisa memegang tangan Leo lebih erat semalam. Jangan salahkan Kak Yura. Kakak... dia hanya salah paham, emosinya sedang tidak stabil setelah pergi dari rumah." Rose mengusap sudut matanya yang basah, melirik sekilas lorong koridor yang mengarah ke ruang dokter sebelum melanjutkan hasutannya dengan nada polos. "Kak Yura tidak sengaja membesar-besarkan seolah-olah kami menelantarkan Leo, sampai di dengar oleh dokter, Pa. Kakak pasti masih marah makanya menuduh yang tidak-tidak. Padahal Rose panik, dan
Dokter itu tidak memberi kesempatan Adrian untuk meluapkan arogansinya. Dia langsung berbalik menatap Yura. "Mari, Bu. Ikut ke ruangan saya sekarang." Yura tidak mau membuang waktu lagi. Tanpa melirik sedikit pun pada Adrian yang napasnya memburu, Dia melangkah tegas melewati mantan suaminya. Melangkah menjauh bersama dokter dan perawat. Meninggalkan mereka dalam keheningan koridor yang sarat akan amarah dan kecemasan yang mulai menguasai. Di lantai teratas gedung Volkov Tower, keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja bernuansa monokrom itu. Killian Volkov berdiri membelakangi meja kerjanya yang luas, menatap lurus ke luar dinding kaca raksasa yang memperlihatkan bangunan distrik bisnis di bawahnya. Tangan kanannya memutar-mutar sebuah pena mahal dengan gerakan santai, sementara pikirannya sedang menyusun langkah lain untuk meruntuhkan Valerius Group di lantai bursa nanti. Tok, tok, tok. "Masuk," sahut Killian tanpa berbalik. Suara baritonnya terdengar berat dan d
Dokter yang berdiri di samping perawat menghela napas panjang. Tatapan matanya yang tajam sempat melirik ke arah Rose yang langsung menundukkan kepala karena takut, sebelum beralih menatap Yura yang berdiri dengan pipi memerah dan mata berkaca-kaca. "Siapa ibu kandung dari pasien anak Leo Valerius?" tanya Dokter itu dengan nada suara yang berat. Yura langsung melangkah maju, mengabaikan tatapan tajam Adrian. "Saya, Dok. Saya ibu kandungnya. Bagaimana keadaan anak saya? Tolong katakan pada saya, Dok..." Suara Yura terdengar parau. Dokter itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Mengingat pembicaraannya dengan Killian Volkov sebelumnya, dokter itu tau ada yang tidak beres di antara keluarga ini. "Kondisi pasien saat ini sudah stabil setelah luka di pelipisnya dijahit, Ibu. Namun, karena dia mengalami trauma di kepala dan demam tinggi akibat syok, pasien masih harus diisolasi dan belum bisa dijenguk oleh banyak orang sekaligus," jelas Dokter itu dengan tenang. Mat
Saat tiba di Rumah Sakit, Yura dengan cemas mencari ruang rawat Leo yang diberikan ayahnya melalui pesan singkat. Tak lama, dia melihat beberapa sosok yang dikenalnya sedang berkumpul di ujung koridor. Yura mempercepat langkahnya dengan emosi campur aduk. “Pa, ada apa dengan Leo?” Tanyanya begitu sampai di depan mereka. “Yura, nak. Akhirnya kau sampai juga.” Maria, ibu tiri Yura mendekat dengan wajah prihatin. Wanita itu merentangkan tangannya hendak memeluk tapi Yura yang dikuasai rasa cemas menepis tangan Maria dengan kasar. “Jangan sentuh aku! Dimana Leo?! Kenapa tidak ada yang menjawab?” Yura menatap Adrian dan Rose bergantian, melihat wajah dingin Adrian dan tatapan polos Rose yang dia yakini palsu. Dia melihat mereka semua yang hanya terdiam. “Tenanglah, Nak. Jangan buat keributan di rumah sakit,” hibur Maria. Mencoba meraih lengan Yura tapi tak digubrisnya. “Papa, katakan padaku, apa yang terjadi pada Leo?” Tanyanya dengan mata yang memerah, menuntut penjelasan dari
"Tuan?" Affan sedikit terkejut. Killian menghentikan rekamannya, layar berhenti pada satu frame. "Simpan rekaman ini." "Baik, Tuan." "Jangan biarkan siapapun tahu kita memiliki ini!" Affan menundukkan kepala. "Saya mengerti, Tuan. " Killian menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya masih dingin. Tapi kemudian sudut bibirnya terangkat tipis. "Menarik." Affan tidak bertanya lebih jauh, karena dia tahu satu hal. Setiap kali Killian Volkov seperti ini, ada yang berhasil menarik minat berburunya, targetnya dipastikan akan hancur tanpa sisa. Malam semakin larut saat pintu lift privat di penthouse mewah itu berdenting pelan. Killian melangkah keluar dengan setelan jas yang sudah sedikit berantakan, dua kancing teratas kemejanya terbuka, dasinya juga telah longgar, menberikan kesan seksi yang maskulin. Di tangannya, dia membawa sebuah map tipis berisi dokumen analisis CCTV yang sudah dicetak oleh Affan. Tatapan mata tajamnya tertuju pada ruang tengah. Di sana, di depan di
Di samping Adrian, Rose meremas jemarinya yang mulai berkeringat dingin. Seringai kemenangannya yang tadi sempat muncul karena berhasil mengelabui Adrian seakan hilang tak bersisa. Setiap kata yang keluar dari mulut Killian terasa seperti pisau bedah yang menguliti kebohongannya satu demi satu. Tatapan sekilas pria itu yang sempat menyapu perban di punggung tangan kanannya seperti membaca setiap inci dosa dan kekerasan yang dia sembunyikan. Adrian menarik napas dalam-dalam, mencoba sekuat tenaga menenangkan emosinya yang nyaris meledak. Dia tidak ingin terlihat semakin menyedihkan di hadapan pria yang sudah merebut jalur logistik utaranya. "Jika Anda hanya kebetulan lewat untuk urusan lain, saya harap Anda tidak mencampuri urusan keluarga saya, Tuan Volkov. Perusahaan saya mungkin sedang menghadapi kendala, tapi urusan internal keluarga, mutlak hak saya. Anda tak perlu ikut campur." Killian terkekeh rendah, suara baritonnya yang maskulin bergema halus di dinding koridor. Dia
Di dalam kamar utama kediamannya, Adrian dan Rose baru selesai memadu gairah. Pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka, memancarkan cahaya lampu temaram ke arah lorong yang sepi. Di luar kamar, sepasang kaki kecil melangkah dengan gemetar di atas lantai marmer yang dingin. Bocah itu baru berusia
Killian menyeringai puas, Ekspresi kemenangannya tampan sekaligus mengerikan. Dia mengambil sebuah kunci kartu digital emas metalik dari dalam laci, meletakkannya di depan Yura. “Pindah ke penthouseku sore ini juga, Asistenku akan mengurus keperluanmu. Mulai besok pagi, permainan balas dendammu a
Gedung pencakar langit Volkov Group berdiri megah di pusat kota, cahaya matahari memantul pada dinding kaca gelapnya. Di dalam lobi, sosok Yura menjadi pusat perhatian, gaun hitam polosnya masih sedikit lembab sisa badai hujan tadi. Rambut panjangnya dicepol asal-asalan, wajahnya pucat tanpa riasan.
"Ah...kak Adrian, pelan-pelan. Bagaimana kalau kak Yura tiba-tiba datang?" Yura membeku di depan pintu. Dari celah kecil pintu, Yura melihat Adrian, suaminya yang selalu bersikap hangat dan penuh kasih di rumah, kini sedang mencium Rose dengan penuh gairah di atas sofa. "Jangan sebut namanya di







