Share

Bab 4

Author: Lily Aislin
last update publish date: 2026-06-03 10:55:24

Killian menyeringai puas, Ekspresi kemenangannya tampan sekaligus mengerikan. Dia mengambil sebuah kunci kartu digital emas metalik dari dalam laci, meletakkannya di depan Yura.

“Pindah ke penthouseku sore ini juga, Asistenku akan mengurus keperluanmu. Mulai besok pagi, permainan balas dendammu akan dimulai.”

Penthouse milik Killian berada di lantai paling atas gedung kondominium paling eksklusif di jantung kota. Pintu lift privat berdenting pelan sebelum terbuka langsung di dalam ruangan, Yura menahan napas.

Ruangan itu sangat luas, dingin, elegan dan mewah. Dominasi warna gelap dengan pencahayaan redup menciptakan kesan intim dan mengintimidasi sejak pandangan pertama.

Yura melangkah perlahan melewati sofa besar di tengah ruangan, dia berhenti tepat di depan dinding kaca besar, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala di kejauhan.

“Nyonya tidak membawa barang apapun, jadi Tuan menyiapkan semuanya untuk anda.” ucap asisten dengan sopan sambil membukakan pintu kamar utama untuk Yura.

Yura menoleh sekilas, lalu melangkah masuk. Kamar utama itu luasnya hampir setara dengan seluruh ruangan lantai pertama di rumah lamanya. Matanya tertuju pada ruang ganti yang pintunya terbuka.

Di sana, deretan gaun malam, pakaian kerja, dan tas dari merek-merek ternama dunia tertata rapi. Yura mendekat perlahan, menyentuh salah satu gaun sutra. Matanya membelalak. Semua ukuran yang ada sama persis dengan tubuhnya. “Pria itu…”

Wajah Yura memerah saat menyadari Killian mengetahui ukuran tubuhnya. Ternyata dia sudah mempersiapkannya sejak awal.”

Setelah asisten itu pergi, Yura membersihkan dirinya. Dia berendam di dalam bak mandi marmer, membiarkan rasa lelah dari hari yang panjang perlahan luruh.

Setelah selesai, Yura keluar dari kamar dengan mengenakan gaun tidur satin berwarna merah marun yang sangat pas dengan bentuk tubuhnya. Rambutnya yang setengah basah dibiarkan tergerai.

Ting

Tepat saat Yura melangkah ke ruang tengah, suara denting pintu lift yang terbuka terdengar, Killian yang baru saja tiba terlihat sedikit lelah. Dia melepas jas hitamnya dan melemparkannya sembarangan ke sofa, gerakannya melepas dasi terlihat begitu sensual.

Killian menoleh, sepasang mata gelapnya menatap Yura yang berdiri di dekat dinding kaca.

Hening.

Dia menatap Yura dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Jauh lebih baik daripada penampilan gelandanganmu tadi siang, Yura Leticia. “Suaranya yang berat bergema di ruangan yang sunyi itu.

Killian mendekat, setiap langkahnya tenang tapi terasa berbahaya. Yura mencium aroma wiski dan tembakau mahal yang melekat di tubuh Killian.

Jantung Yura berdegup kencang tapi dia mencoba tetap tenang. “Aku sudah siap bekerja, apa rencanamu untuk menghadapi Adrian?”

Killian terkekeh rendah, suaranya yang maskulin itu menggetarkan Yura, Killian mengulurkan tangan besarnya, menyelipkan beberapa helai rambut Yura ke belakang telinga. Ujung jarinya membelai leher Yura yang sensitif dengan gerakan sensual.

“Jangan terburu-buru, sayang. Tender proyek besar baru di mulai bulan depan.” Bisik Killian, tatapannya menggelap melihat bibir Yura yang sedikit terbuka karena gugup. “Tapi sebelum itu, kau harus membuktikan seberapa berharga dirimu malam ini.”

“Tuan Volkov…” bisik Yura parau saat Killian memegang pinggangnya, dengan posesif.

Killian mengangkat tubuh Yura dan mendudukkannya di atas meja konsol panjang di depan dinding kaca.

Dengan posisi mereka yang sejajar, berlatar kerlip lampu megapolitan di balik dinding kaca besar. Killian mengurung tubuh Yura dengan kedua tangannya yang kokoh di sisi tubuhnya.

“Dengarkan aturanku ,” Killian memajukan wajahnya hingga kedua hidung mereka nyaris bersentuhan. “Di siang hari, kau ahli strategiku untuk menghancurkan Valerius. Tapi di malam hari… kau hanya milikku.” Yura menegang, Killian menatapnya dalam.

“Jangan bawa masa lalumu ke dalam ruang ini, jangan pikirkan siapapun saat bersamaku.”

Ibu jarinya mengusap bibir Yura dengan lembut. “Satu hal lagi … Aku tak suka pengkhianatan. Kalau kau melanggar, aku benar-benar tak akan segan menghukummu.”

Aku datang untuk bekerja sama, bukan untuk menjadi bonekamu.” Ucapnya tegas.

Killian tersenyum tipis. “Baiklah…”

Dia mundur selangkah, tapi tatapannya tak lepas dari Yura. “Kita lihat berapa lama kau akan bertahan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibuang Suami, Dicintai Raja Bisnis    Bab 7

    Langkah kaki yang berat, konstan, dan berwibawa itu bergema di sepanjang koridor VIP St. Mary's Hospital, memecah keheningan yang sempat menyelimuti Adrian dan Rose. Adrian mendongak dengan kening berkerut, tapi kemudian seluruh otot di tubuhnya menegang, saat melihat siapa yang baru saja menapakkan kaki di area steril ini. Killian Volkov. Pria itu berdiri dengan setelan jas hitam yang melekat sempurna pada tubuh tinggi tegapnya. Aura mengintimidasi yang begitu pekat menguar dari tubuh Killian. Di belakangnya, Affan, asisten pribadinya berdiri dengan posisi tegap. Wajahnya tanpa ekspresi, seperti bayangan yang siap menjalankan perintah kapan saja. "Tuan Valerius?" Killian berhenti tepat di beberapa langkah di depan pintu. Sepasang mata elangnya yang gelap melirik sekilas ke arah papan nomor kamar, sebelum kembali ke arah Adrian dengan tatapan menilai. "Menarik. Saya tidak menyangka akan bertemu dengan Anda di bangsal perawatan anak seperti ini." Adrian mengepalkan tangannya ku

  • Dibuang Suami, Dicintai Raja Bisnis    Bab 6

    “Leo, Kak Adrian… Pelayan menemukan Leo dalam keadaan pingsan di taman belakang rumah. Pelipisnya terluka, badannya juga panas. Aku takut sekali kak Adrian!” Ekspresi Adrian menegang, Meskipun dia tak begitu menyukainya, Leo tetap putra satu-satunya. Pewaris keluarga Valerius terluka membuatnya tak tega. “Di mana Leo sekarang?” “Aku langsung membawanya ke St. Mary’s Hospital. Kumohon cepat datang, kak. Aku tak tau harus berbuat apa…” Rose terisak pelan sebelum mengakhiri panggilan. Adrian segera menyambar jasnya dan berlari keluar ruangan. Di koridor ruang anak St. Mary’s Hospital, Rose duduk di kursi tunggu dengan wajah cemas. Matanya sengaja dikucek hingga memerah agar terlihat habis menangis. Dia mengenakan pakaian kasual yang rapi, bekas gigitan Leo di punggung tangannya sudah ditutupi dengan plester medis. Rose mendongak saat mendengar suara langkah kaki yang tergesa, Adrian berlari ke arahnya dengan wajah panik. Rose langsung berdiri dan memeluk Adrian, menangis sesegukan d

  • Dibuang Suami, Dicintai Raja Bisnis    Bab 5

    Di dalam kamar utama kediamannya, Adrian dan Rose baru selesai memadu gairah. Pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka, memancarkan cahaya lampu temaram ke arah lorong yang sepi. Di luar kamar, sepasang kaki kecil melangkah dengan gemetar di atas lantai marmer yang dingin. Bocah itu baru berusia empat tahun, berjalan pelan sambil memeluk erat boneka beruang kecilnya. Matanya sembab dan memerah, tidurnya terusik karena merindukan mamanya yang tiba-tiba menghilang sejak sore tadi. "Mama... Mama di mana..." Bisik Leo lirih dengan suara serak, menahan tangis. Saat melewati kamar orang tuanya, langkah kecil Leo terhenti. Dia mendengar suara-suara aneh. Dengan polos, bocah itu mendekat dan mengintip dari celah pintu yang terbuka. Di atas ranjang mamanya, dia melihat papanya sedang memeluk Tante Rose. Rose yang menghadap ke arah pintu, menyadari kehadiran Leo. Dia menyeringai licik dari bahu Adrian, dengan sengaja mempererat pelukannya pada Adrian. “Kak Adrian, anakmu mengintip.” b

  • Dibuang Suami, Dicintai Raja Bisnis    Bab 4

    Killian menyeringai puas, Ekspresi kemenangannya tampan sekaligus mengerikan. Dia mengambil sebuah kunci kartu digital emas metalik dari dalam laci, meletakkannya di depan Yura. “Pindah ke penthouseku sore ini juga, Asistenku akan mengurus keperluanmu. Mulai besok pagi, permainan balas dendammu akan dimulai.” Penthouse milik Killian berada di lantai paling atas gedung kondominium paling eksklusif di jantung kota. Pintu lift privat berdenting pelan sebelum terbuka langsung di dalam ruangan, Yura menahan napas. Ruangan itu sangat luas, dingin, elegan dan mewah. Dominasi warna gelap dengan pencahayaan redup menciptakan kesan intim dan mengintimidasi sejak pandangan pertama. Yura melangkah perlahan melewati sofa besar di tengah ruangan, dia berhenti tepat di depan dinding kaca besar, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala di kejauhan. “Nyonya tidak membawa barang apapun, jadi Tuan menyiapkan semuanya untuk anda.” ucap asisten dengan sopan sambil membukakan pintu kamar utama

  • Dibuang Suami, Dicintai Raja Bisnis    Bab 3

    Gedung pencakar langit Volkov Group berdiri megah di pusat kota, cahaya matahari memantul pada dinding kaca gelapnya. Di dalam lobi, sosok Yura menjadi pusat perhatian, gaun hitam polosnya masih sedikit lembab sisa badai hujan tadi. Rambut panjangnya dicepol asal-asalan, wajahnya pucat tanpa riasan. “Maaf, Nyonya. Anda tidak bisa menemui Tuan Volkov kalau tidak ada janji sebelumnya.” Resepsionis berkata dengan sopan, tapi tatapannya meremehkan penampilan Yura yang berantakan. Yura tak merasa terintimidasi sedikit pun, pengalamannya bertahun-tahun mendampingi Adrian dari balik layar membuatnya sangat memahami tabiat para pekerja seperti ini. Yura membuka tas kecilnya, mengeluarkan kartu nama hitam metalik dengan cetakan emas timbul lalu meletakkannya di atas meja dengan tenang. “Katakan pada atasanmu, Yura Leticia datang sesuai permintaannya.” Melihat kartu nama hitam metalik, wajah resepsionis itu pucat pasi. Itu kartu nama VIP milik bosnya, Killian Volkov yang dicetak terb

  • Dibuang Suami, Dicintai Raja Bisnis    Bab 2

    Sinar matahari yang masuk dari celah gorden menusuk matanya saat Yura membuka mata. Yura mengerang parau saat kepalanya berdenyut menyakitkan. Matanya menatap langit-langit kamar yang tampak asing. Yura tersentak, seketika mendudukkan tubuhnya. Dia menatap pakaiannya yang berantakan lalu sekeliling ruangan yang tampak kumal. Ini bukan kamarnya. Bau lembab dan cat dinding yang mengelupas, ini motel murahan. Ingatannya berputar cepat. Semalam, setelah dia gagal merayu Killian. Yura berjalan keluar dari bar dengan langkah goyah. Saat sedang menunggu taksi, beberapa orang berbadan besar mencegatnya. Sebuah sapu tangan berbau menyengat membekap hidungnya, hingga kesadarannya hilang. "Aku... dijebak?" Bisik Yura dengan suara bergetar. Tangannya meraba tas kecilnya yang tergeletak di lantai. Dompet dan ponselnya masih ada, Yura menemukan kartu nama hitam metalik milik Killian yang terselip di dalam tasnya. "Pria itu..." Yura berbisik parau, menyentuh bibirnya saat mengingat kejadian mem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status