LOGINDi dalam kamar utama kediamannya, Adrian dan Rose baru selesai memadu gairah. Pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka, memancarkan cahaya lampu temaram ke arah lorong yang sepi.
Di luar kamar, sepasang kaki kecil melangkah dengan gemetar di atas lantai marmer yang dingin. Bocah itu baru berusia empat tahun, berjalan pelan sambil memeluk erat boneka beruang kecilnya. Matanya sembab dan memerah, tidurnya terusik karena merindukan mamanya yang tiba-tiba menghilang sejak sore tadi. "Mama... Mama di mana..." Bisik Leo lirih dengan suara serak, menahan tangis. Saat melewati kamar orang tuanya, langkah kecil Leo terhenti. Dia mendengar suara-suara aneh. Dengan polos, bocah itu mendekat dan mengintip dari celah pintu yang terbuka. Di atas ranjang mamanya, dia melihat papanya sedang memeluk Tante Rose. Rose yang menghadap ke arah pintu, menyadari kehadiran Leo. Dia menyeringai licik dari bahu Adrian, dengan sengaja mempererat pelukannya pada Adrian. “Kak Adrian, anakmu mengintip.” bisik Rose dengan manja. Adrian yang masih mengatur napas melirik sekilas ke arah pintu dengan tatapan terganggu. “Biarkan saja, dia harus terbiasa melihatmu di rumah ini.” Jawabnya dengan ketus tak peduli dengan anaknya sendiri. Melihat tatapan papanya yang mengerikan, Leo ketakutan. Dia berbalik dan berlari ke Lantai bawah, bersembunyi di sudut dapur yang gelap. Leo menekuk kedua lutut dan menangis dalam diam. Dia sangat merindukan mamanya. Satu jam kemudian Rose turun mengenakan jubah tidur sutra milik Yura. Dia ingin mengambil air minum, tapi saat menghidupkan lampu, dirinya melihat sosok Leo meringkuk di sudut dapur. Rose menyeringai sinis, berjalan mendekat lalu berkacak pinggang di depan bocah itu. “Heh, anak pembawa sial. Kenapa kau menangis di sini? Mau mencari perhatian papamu?” Leo mendongak, matanya yang basah menatap Rose dengan marah. “Tante jahat! Di mana mamaku? Pergi dari rumahku!” Leo berteriak histeris. “Mamamu itu jalang! Dia sudah pergi dengan pria lain dan membuangmu!” Bentak Rose. Dengan kejam menjewer telinga Leo sekuat tenaga, bocah itu menjerit kesakitan. “Sakit! Lepas! Tante jahat!” Leo tak tahan, dia menarik tangan Rose dan menggigitnya sekuat tenaga. “Aaaakh! Kurang ajar!” Rose mendorong tubuh Leo dengan kasar, tubuh kecilnya terdorong ke belakang dan jatuh terjerembab. Kepalanya membentur sudut tajam lemari dapur. BRAK “Mama..” Lirih Leo sebelum dia kehilangan kesadarannya. Bercak darah mulai mengalir dari pelipisnya yang terluka. Rose tersentak mundur, wajahnya memucat melihat darah itu. Dia segera melihat sekitar, memastikan tak ada pelayan yang melihat. Dengan cepat Rose menggendong Leo yang pingsan keluar dari dapur, tak lama dia kembali, membersihkan noda darah yang tertinggal. Setelah bersih dia mematikan lampu dan berbalik kembali ke lantai atas. Keesokan harinya di kantor pusat Valerius Group, Adrian duduk di kursi kebesarannya dengan senyum kemenangan setelah berhasil menyingkirkan Yura tanpa perlu membagi harta bersama sepeser pun. Tok Tok Tok Pintu ruang kerja Adrian diketuk terburu-buru dari luar. Sekretaris pribadinya menerobos masuk dengan wajah pucat, tangannya memegang sebuah map dokumen. “T-Tuan Adrian! Gawat, Tuan!” ucap sekretaris itu terbata-bata. Adrian mengernyit. “Ada apa?! Kenapa lancang sekali masuk tanpa izin?!” Sekretaris itu segera maju dan meletakkan map dokumen ke atas meja kerja Adrian dengan tangan gemetar. “Jalur logistik kita di wilayah utara… tiga pemasok terbesar kita mengirimkan surat pemutusan kontrak eksklusif secara sepihak pagi ini, Tuan!” Adrian menegakkan tubuh, mengambil map itu lalu membaca dokumen di dalamnya. “Apa? Bagaimana mungkin? Kontrak itu dilindungi hukum dengan penalti miliaran. Mereka tidak akan berani kecuali ingin bangkrut!” Adrian menatap tajam sekretaris pribadinya. “Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi!” “Mereka tak terkena penalti, Tuan… Tim hukum mereka berhasil menemukan celah hukum pada klausul retribusi yang kita gunakan lima tahun ini. Celah itu membuat kontrak kita batal karena dianggap cacat administrasi di mata hukum.” Sekretaris itu mengatur napasnya yang tersengal sejenak. "Pada lembar berikutnya, Tuan. Di sana tertera bahwa seluruh hak distribusi logistik di wilayah utara telah diambil alih secara resmi oleh Volkov Group. Jaringan kita telah diblokade sepenuhnya, Tuan. Saham Valerius Group langsung anjlok delapan persen dalam satu jam ini.” Adrian ambruk di kursinya. Bagaimana mungkin? Kontrak itu sudah berjalan lima tahun, tidak ada satu pun pakar korporat yang bisa menemukan kelemahannya. Kenapa tiba-tiba Killian Volkov bisa mengendus celah sekecil itu, bahkan melakukan serangan fatal yang bisa mematikan bisnisnya dalam semalam? “Killian Volkov…” desis Adrian. Suaranya bergetar menahan amarah, dia mencengkram tepi meja kerjanya. “Bajingan gila itu… dia sengaja memanfaatkan celah kecil itu untuk menghancurkanku?” Di tengah amarahnya, ponsel di atas meja kerja berdering. Layarnya menampilkan nama Rose.“Ada apa, Rose? Aku sedang sibuk di kantor!” “K-Kak Adrian… hiks… kumohon pulanglah sekarang…” Suara Rose di seberang telepon terdengar bergetar karena isak tangis. Adrian tertegun, amarah sedikit mereda karena bingung. “Ada apa? Kenapa kau menangis?”Langkah kaki yang berat, konstan, dan berwibawa itu bergema di sepanjang koridor VIP St. Mary's Hospital, memecah keheningan yang sempat menyelimuti Adrian dan Rose. Adrian mendongak dengan kening berkerut, tapi kemudian seluruh otot di tubuhnya menegang, saat melihat siapa yang baru saja menapakkan kaki di area steril ini. Killian Volkov. Pria itu berdiri dengan setelan jas hitam yang melekat sempurna pada tubuh tinggi tegapnya. Aura mengintimidasi yang begitu pekat menguar dari tubuh Killian. Di belakangnya, Affan, asisten pribadinya berdiri dengan posisi tegap. Wajahnya tanpa ekspresi, seperti bayangan yang siap menjalankan perintah kapan saja. "Tuan Valerius?" Killian berhenti tepat di beberapa langkah di depan pintu. Sepasang mata elangnya yang gelap melirik sekilas ke arah papan nomor kamar, sebelum kembali ke arah Adrian dengan tatapan menilai. "Menarik. Saya tidak menyangka akan bertemu dengan Anda di bangsal perawatan anak seperti ini." Adrian mengepalkan tangannya ku
“Leo, Kak Adrian… Pelayan menemukan Leo dalam keadaan pingsan di taman belakang rumah. Pelipisnya terluka, badannya juga panas. Aku takut sekali kak Adrian!” Ekspresi Adrian menegang, Meskipun dia tak begitu menyukainya, Leo tetap putra satu-satunya. Pewaris keluarga Valerius terluka membuatnya tak tega. “Di mana Leo sekarang?” “Aku langsung membawanya ke St. Mary’s Hospital. Kumohon cepat datang, kak. Aku tak tau harus berbuat apa…” Rose terisak pelan sebelum mengakhiri panggilan. Adrian segera menyambar jasnya dan berlari keluar ruangan. Di koridor ruang anak St. Mary’s Hospital, Rose duduk di kursi tunggu dengan wajah cemas. Matanya sengaja dikucek hingga memerah agar terlihat habis menangis. Dia mengenakan pakaian kasual yang rapi, bekas gigitan Leo di punggung tangannya sudah ditutupi dengan plester medis. Rose mendongak saat mendengar suara langkah kaki yang tergesa, Adrian berlari ke arahnya dengan wajah panik. Rose langsung berdiri dan memeluk Adrian, menangis sesegukan d
Di dalam kamar utama kediamannya, Adrian dan Rose baru selesai memadu gairah. Pintu kamar yang sengaja dibiarkan terbuka, memancarkan cahaya lampu temaram ke arah lorong yang sepi. Di luar kamar, sepasang kaki kecil melangkah dengan gemetar di atas lantai marmer yang dingin. Bocah itu baru berusia empat tahun, berjalan pelan sambil memeluk erat boneka beruang kecilnya. Matanya sembab dan memerah, tidurnya terusik karena merindukan mamanya yang tiba-tiba menghilang sejak sore tadi. "Mama... Mama di mana..." Bisik Leo lirih dengan suara serak, menahan tangis. Saat melewati kamar orang tuanya, langkah kecil Leo terhenti. Dia mendengar suara-suara aneh. Dengan polos, bocah itu mendekat dan mengintip dari celah pintu yang terbuka. Di atas ranjang mamanya, dia melihat papanya sedang memeluk Tante Rose. Rose yang menghadap ke arah pintu, menyadari kehadiran Leo. Dia menyeringai licik dari bahu Adrian, dengan sengaja mempererat pelukannya pada Adrian. “Kak Adrian, anakmu mengintip.” b
Killian menyeringai puas, Ekspresi kemenangannya tampan sekaligus mengerikan. Dia mengambil sebuah kunci kartu digital emas metalik dari dalam laci, meletakkannya di depan Yura. “Pindah ke penthouseku sore ini juga, Asistenku akan mengurus keperluanmu. Mulai besok pagi, permainan balas dendammu akan dimulai.” Penthouse milik Killian berada di lantai paling atas gedung kondominium paling eksklusif di jantung kota. Pintu lift privat berdenting pelan sebelum terbuka langsung di dalam ruangan, Yura menahan napas. Ruangan itu sangat luas, dingin, elegan dan mewah. Dominasi warna gelap dengan pencahayaan redup menciptakan kesan intim dan mengintimidasi sejak pandangan pertama. Yura melangkah perlahan melewati sofa besar di tengah ruangan, dia berhenti tepat di depan dinding kaca besar, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala di kejauhan. “Nyonya tidak membawa barang apapun, jadi Tuan menyiapkan semuanya untuk anda.” ucap asisten dengan sopan sambil membukakan pintu kamar utama
Gedung pencakar langit Volkov Group berdiri megah di pusat kota, cahaya matahari memantul pada dinding kaca gelapnya. Di dalam lobi, sosok Yura menjadi pusat perhatian, gaun hitam polosnya masih sedikit lembab sisa badai hujan tadi. Rambut panjangnya dicepol asal-asalan, wajahnya pucat tanpa riasan. “Maaf, Nyonya. Anda tidak bisa menemui Tuan Volkov kalau tidak ada janji sebelumnya.” Resepsionis berkata dengan sopan, tapi tatapannya meremehkan penampilan Yura yang berantakan. Yura tak merasa terintimidasi sedikit pun, pengalamannya bertahun-tahun mendampingi Adrian dari balik layar membuatnya sangat memahami tabiat para pekerja seperti ini. Yura membuka tas kecilnya, mengeluarkan kartu nama hitam metalik dengan cetakan emas timbul lalu meletakkannya di atas meja dengan tenang. “Katakan pada atasanmu, Yura Leticia datang sesuai permintaannya.” Melihat kartu nama hitam metalik, wajah resepsionis itu pucat pasi. Itu kartu nama VIP milik bosnya, Killian Volkov yang dicetak terb
Sinar matahari yang masuk dari celah gorden menusuk matanya saat Yura membuka mata. Yura mengerang parau saat kepalanya berdenyut menyakitkan. Matanya menatap langit-langit kamar yang tampak asing. Yura tersentak, seketika mendudukkan tubuhnya. Dia menatap pakaiannya yang berantakan lalu sekeliling ruangan yang tampak kumal. Ini bukan kamarnya. Bau lembab dan cat dinding yang mengelupas, ini motel murahan. Ingatannya berputar cepat. Semalam, setelah dia gagal merayu Killian. Yura berjalan keluar dari bar dengan langkah goyah. Saat sedang menunggu taksi, beberapa orang berbadan besar mencegatnya. Sebuah sapu tangan berbau menyengat membekap hidungnya, hingga kesadarannya hilang. "Aku... dijebak?" Bisik Yura dengan suara bergetar. Tangannya meraba tas kecilnya yang tergeletak di lantai. Dompet dan ponselnya masih ada, Yura menemukan kartu nama hitam metalik milik Killian yang terselip di dalam tasnya. "Pria itu..." Yura berbisik parau, menyentuh bibirnya saat mengingat kejadian mem







