MasukNaira telah mengorbankan segalanya untuk Reyhan dan keluarganya, namun yang ia terima hanya penghinaan dan pengkhianatan. Setelah dibuang oleh Reyhan, Naira justru dinikahi teman lamanya yang ternyata sekarang adalah pewaris dari perusahaan tempat Reyhan bekerja. Naira akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Dendam harus dibayar tuntas!
Lihat lebih banyakCHAPTER ONE
TYLER
Tyler Reyes – National Championship Final
Northbridge Hawks vs Silverhollow Storm
The arena was shaking. Deafening. The kind of loud that rattled inside your chest.
“Thirty seconds!” Coach’s voice thundered behind me.
I gripped my stick tighter, my gloves damp with sweat. My heart thudded like a war drum.
One–one. Final period. Championship game.
Twenty thousand people screaming from the stands, but I only saw him.
Mason Grant.
Silverhollow’s golden boy. Big, tattooed, fast as hell.
Wearing that stupid cocky grin. Like he already knew he’d win.
Not tonight. No fucking way.
“Eyes on the puck, Reyes,” Malik snapped, skating to my left.
“I am on the puck,” I muttered.
“No, you’re on Grant.”
I didn’t answer. Because yeah, I was.
Grant had the puck now, weaving past center ice. Fluid, sharp, stupidly smooth.
God, I hated how good he was.
“He’s coming left!” I shouted. “Double him!”
I lunged forward, blade stretched out—
—caught the edge of his stick—
—but he spun, dropped his shoulder, and slipped right past me.
“Fuck!”
I turned hard and chased. I was fast, but he was faster.
“Cover the net!” our goalie, Liam, screamed.
Grant faked left, then slammed the puck right between Liam’s pads—
Ping.
The red light lit up behind the net. The siren howled.
Goal.
My body froze. My breath caught.
I just stood there. Stick limp in my hands. Helmet pressing tight against my head.
“Are you fucking kidding me…” Malik whispered beside me.
I heard the roar of Silverhollow fans. Mason’s name echoing like thunder.
“GRANT! GRANT! GRANT!”
He didn’t even celebrate. Just turned, skated past me slow.
Arrogant. Calm. Like he expected to win.
I looked up at the clock.
3.4 seconds left.
We weren’t coming back from that.
The final buzzer felt like a punch.
We lost.
We lost.
I wanted to throw my stick across the ice.
Instead, I forced myself to skate to the handshake line.
Sportsmanship. Always.
I wanted to scream.
One by one, our team lined up. We bumped gloves with the Silverhollow boys. Some polite nods. Some gritted teeth.
Then he was there.
Mason.
Towering over me. Black curls damp with sweat. Tattoos peeking from under his sleeves.
His eyes locked on mine. Hazel. Sharp. Knowing.
He gripped my glove. Tight.
Leaned in.
His breath hit the side of my cheek.
His voice low, smug.
“Better luck next year, Reyes.”
I didn’t speak.
Not when the buzzer went off.
Not when the trophy was lifted.
Not during the handshake line.
Not even when my coach tried to say “you gave it your best.”
I didn’t give it my best.
I gave everything.
And still lost.
The locker room door slammed shut behind me. I threw my helmet across the bench. It bounced, hit the wall, dropped with a thunk.
“Whoa,” Malik muttered behind me. “Chill, man.”
“I had him,” I hissed. “I had that bastard—”
“You had air,” said Liam. “You let him walk right through.”
I spun on him. “You let him score five-hole!”
“Guys,” Coach warned from the corner. “Not now.”
The room buzzed with low voices. Gritted teeth. Gutted silence.
Everyone else was undressing. Taping off skates. Sighing into towels.
I sat, breathing hard, sweat dripping down my back, gloves still on.
Then the door opened.
Voices outside. Laughter.
Someone said, “You sure this is their room?”
And then—
“Oh, hell no,” Liam muttered.
I looked up.
And there he was.
Mason. Fucking. Grant.
Wearing nothing but compression shorts and a cocky-ass grin.
Shirtless. Chest gleaming with sweat. Arms flexed. Hair damp and messy.
He looked like a fucking ad. Like someone dropped a Calvin Klein model in the middle of our locker room.
“What the hell do you want?” Malik snapped, stepping in front of me.
“I came to say hi,” Mason said casually. “Didn’t get to catch up after the game.”
“We’re not in the mood,” Liam growled.
Mason’s eyes found mine.
He ignored everyone else. Like they didn’t exist.
Like it was just me and him.
“You folded again,” he said.
I didn’t move.
“Last minute,” he added. “You choked. Classic Reyes.”
My fingers curled tight around the edge of the bench.
“You done?” I said, voice low.
“Thought you’d have grown some balls by now,” he said, stepping closer. “Guess not.”
I stood.
My skates scraped the floor. We were nose to nose.
Or… well. Chin to nose. He was taller now. Broader. Still had that face I hated. Still had that voice that crawled under my skin.
“Get the fuck out, Grant,” I said.
He just smiled.
I shoved him.
Hard.
He stumbled back a step, but didn’t fall. He laughed. Actually laughed.
“Ohhh,” he said, grinning. “There’s the temper.”
“Tyler!” Coach barked. “Sit down.”
“Tell him to leave.”
“I will. Sit your ass down first.”
Malik pulled me back by my jersey. “He’s not worth it,” he muttered in my ear.
“I swear—”
“He’s not worth it,” he repeated.
Mason just stood there, arms spread.
“Touchy today, Reyes.”
“Why are you even here?” Liam asked.
“I was bored,” Mason said with a shrug. “Besides, I wanted to see how second pla
ce feels.”
“Get out,” Coach snapped. “Before I make you.”
Mason finally backed up a step. Turned halfway toward the door.
Paused.
Looked over his shoulder at me one last time.
And smirked.
“Have fun, loser.”
Hari H pernikahan akhirnya tiba setelah 1 bulan lamanya mengurus segala hal.Gedung megah di pusat kota Jakarta dipenuhi tamu penting. Kilatan kamera, musik klasik yang lembut, dan hiasan bunga mawar putih menambah kemewahan pesta pernikahan Arga dan Arumi.Media berdatangan, dan semua mata tertuju pada pasangan “calon pengantin” yang kini berdiri di pelaminan, bersiap mengucap janji suci.Arga mengenakan jas hitam klasik, sementara Arumi tampak cantik memesona dalam gaun putih mewah, menyembunyikan kegelisahan dalam senyumnya.Tepat saat MC bersiap memulai prosesi janji nikah, pintu utama terbuka keras.“HENTIKAN!”Semua mata menoleh. Tamu-tamu terdiam. Kamera-kamera berputar ke arah wanita cantik bergaun biru tua yang berjalan penuh keyakinan ke tengah aula.Itu Naira.Di belakangnya, Reyhan mengejar, mencoba menahannya.“Naira, cukup. Kau tak harus lakukan ini. Kembalilah padaku. Aku akan terima kau apa adanya asal bukan bersamanya.”Tapi Naira menepis tangan Reyhan, lalu berjalan
Dirumah besar keluarga Wijaya.Di halaman belakang rumah besar keluarga Wijaya, Arga sedang duduk bersila di atas rumput, bermain dengan Gio. Bocah itu tertawa-tawa riang, melemparkan bola kecil ke pelukan Arga yang berpura-pura menangkap dengan susah payah.Sesekali, Arga memandangi wajah bocah itu diam-diam. Ia tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa anak itu menggemaskan dan pintar.Tapi hatinya masih penuh sangsi. Maka saat Gio berlari mengejar bola dan rambutnya tersibak angin, Arga diam-diam mengambil sehelai rambut Gio dengan modus ada serangga.Dengan gerakan halus, ia memasukkannya ke dalam amplop kecil. Tak lama setelahnya, di parkiran rumah, Bima datang dengan mobil hitamnya.Tanpa banyak bicara, Arga menyerahkan amplop itu.“Lakukan secepatnya. Aku ingin hasilnya sebelum pesta ulang tahun perusahaan,” bisiknya.Bima mengangguk.“Anda yakin, Pak?”“Jelas Aku yakin, pilih rumah sakit terbaik,” jawab Arga, suaranya pelan tapi mantap.Sementara itu, di ruang keluarga, suasan
Beberapa hari setelah Naira menghilang…Arga mulai bergerak diam-diam, namun bukan untuk menyelamatkan pernikahannya melainkan untuk mengungkap kebenaran di balik semua kekacauan.Dia tahu, kunci dari semua kekacauan ini bukan hanya Arumi atau Gio, tapi seseorang yang selama ini berada di balik layar.Arga menghubungi seorang mantan detektif yang pernah menyelidiki kasus internal perusahaan, dan nama pertama yang muncul… Alex.Alex yang telah membawa Arumi dan Gio ke kota ini, juga dia yang membiayai seluruh keperluan Arumi selama di Jakarta termasuk menentukan hari dimana penobatan Arga baru dia muncul.“Jika memang itu maumu, aku akan layani kamu Alex!” Lirih Arga menatap lurus ke depan mengepalkan tangannya.Arga lalu meminta Bima menyampaikan pada Arumi jika ia akan bertanggung jawab untuk segala hal termasuk menikahinya.Tapi kenyataannya? Itu semua hanya sandiwara dingin.Di belakang layar, ia menyelidiki lebih dalam. Ia memasang CCTV tersembunyi di kamar Arumi. Ia menanam track
Flashback – Sehari Sebelum Hasil Tes DNA KeluarLangit di luar mendung. Kantor mulai sepi setelah rapat evaluasi bulanan. Liza melangkah masuk ke pantry dengan langkah malas. Ia lelah secara fisik, tapi lebih dari itu hatinya terasa kosong.Di sudut ruangan Tina, asisten pribadi Naira, sedang merapikan map yang berserakan. Liza hanya melirik sekilas, lalu membuka lemari es mengambil air mineral.Sebuah map jatuh dan isinya tercecer ke lantai. Kak Tina membungkuk cepat, tapi sebelum ia sempat meraih semua, Liza ikut jongkok membantunya. Tanpa banyak bicara."Terima kasih, Liza..." ucap Tina pelan.Liza diam. Lalu tiba-tiba bertanya sambil menatap kosong ke lantai, “Kak Tina… Kakak udah lama ya kerja sama Naira?”Tina mengangguk pelan. “Sejak awal Bu Naira masuk Wijaya Group. Waktu itu dia langsung jadi wakil direktur dan banyak diragukan. Tapi dia kerja keras banget untuk diakui… Bahkan saat semua orang termasuk aku ragu sama dia.”Liza tertawa kecut. “Kerja keras, tapi akhirnya jadi pa


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.