เข้าสู่ระบบ“Turun.”
Selina terkesikap, wanita itu menatap ke depan dan sekeliling dari dalam mobil. Saking asiknya melamun selama diperjalanan, Selina sampai tidak sadar kalau mereka sudah sampai di rumah. akan tetapi, keraguan menyelimuti Selina. Haruskah dia turun lalu masuk? Sepertinya tidak semudah itu untuk masuk. Mengingat di dalam rumah itu ada Laras. “Kamu dengar saya ngga? Ayo turun.” Suara Elvano kembali terdengar memecah keheningan. Selina memberanikan diri menatap pria di sampjngnya. Elvano yang ditatap lekat oleh istrinya menaikan sebelah alis. “Saya … saya ngga bisa tinggal di sini, saya mau kembali ke kost aja, Pak.” Sabuk pengaman yang sudah terlepas, memudahkan Elvano untuk memajukan tubuhnya ke arah Selina. “Saya ini suami kamu sekarang. Jadi ngga ada istilah pisah rumah atau apapun itu. Ini rumah kamu juga sekarang, jadi turunlah.” Elvano memundurkan tubuhnya, lalu dia keluar lebih dulu. Dengan sisa-sisa tenaga dia mencoba untuk sabar. Pintu penumpang dibuka oleh Elvano, lalu dengan ragu Selina turun . Setelah istrinya turun, Elvano berjalan lebih dulu meninggalkan Selina di belakang. Selina yang tak bias membantah apa lagi kabur mau tidak mau mengikuti langkah Elvano sambil menunduk. Karena keasikan jalan sambil menunduk, Selina menabrak punggung tegap Elvano yang tiba-tiba berhenti. Merasa punggungnya ditabrak Elvano menoleh ke belakang. Ditariknya pinggang Selina, sampai akhirnya wanita itu berdiri di sampingnya. Baru Elvano ingin membuka pintu, akan tetapi pintu besar di depannya sudah lebih dulu terbuka menampilkan sosok Laras. “Berani kamu bawa wanita ini ke rumah, El?” tanya Laras, menatap sang putra dengan lekat. Jika tadi drama Selina dengan Alvian, sepertinya kali ini gantian dirinya dengan Laras. Jujur, Elvano sudah lelah, dia ingin segera mandi lalu istirahat di kasur. Elvano menatap Laras dengan datar, benar-benar tanpa ekspresi. “Memangnya kenapa, Mah? Selina sekarang istri aku, jadi dia wajib ikut sama aku. Agak ngga masuk akal kalau semisalnya dia ikut orang tuanya lagi,” jawab Elvano dengan tenang. Saat-saat lelah seperti ini dia tak mau terpancing emosi. “Tapi Mama ngga setuju. Kalau Mama ngga setuju kamu bisa apa? Kalau kamu sendiri boleh masuk, tapi engga dengan dia.” Kata-kata yang Laras lontarkan terdengar sangat tajam dan menyakitkan. Akan tetapi Selina juga tak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk sekedar membela diri. Alhasil dia hanya bisa merunduk, sambil meremas kedua tangannya. Keributan kecil antara ibu dan anak itu terus terjadi sampai akhirnya Bara beserta Albert datang menghampiri. “Ada apa lagi ini?” “Mama ngga setuju wanita ini tinggal di sini,” jawab Laras, menatap Selina dengan sinis. Elvano menghela napasnya. Ini kalau diterusin pasti akan jadi keributan besar. Tetapi kalau tidak ditanggapi, mereka akan terus dihadang seperti ini. Elvano maju selangkah, mendekatkan dirinya dengan Laras. “Mah, saya capek, pengen istirahat. Kalau memang Mama ngga berkenan saya sama Selina tinggal di sini, ya gapapa. Besok kami akan pindah. Tapi malam ini izinkan kami berdua di sini dulu.” Setelah mengatakan itu Elvano menarik pinggang Selina, mengajaknya untuk masuk. Namun saat melewati Laras, tangan Selina dicekal. “Kamu apain anak saya sampai mau nikahin kamu? Bahkan sangat mendadak seperti ini. Kamu jebak anak saya, ya?” Dengan cepat Selina menggelengkan kepalanya. “Saya ngga menjebak pak El, Bu, sama sekali engga. Say—” “Ngga usah menjelaskan. Ayo masuk.” Belum selesai Selina menjawab, Elvano sudah menarik tubuhnya. Kepergian Elvano dan Selina membuat Laras sangat kesal. Baru dia ingin mengejar, Albert menahan lengannya. “Kamu ini kenapa sih, Laras? Anak kamu udah punya pilihannya sendiri, udah sah menikah. Kalau udah seperti ini kamu bisa apa?” Laras yang masih tidak terima menggelengkan kepalanya. Pilihan anaknya benar-benar jatuh, jauh dari ekspektasi Laras. Padahal Laras sudah setuju dengan rencana perjodohan Elvano dengan Jihan. Selain keluarga mereka sudah saling kenal, Jihan sangat setara dengan Elvano. Karena tak dapat jawaban dari anaknya, Albert berniat untuk masuk. Namun tepat di belakang Laras, wanita itu bersuara, membuat Albert menoleh ke belakang. “Tapi dia ngga setara sama keluarga kita, Yah. Mau ditaruh mana mukaku di depan teman-teman arisan? Aku udah kasih tau kalau El akan menikah dengan Jihan, putri dari pak Angga. Tapi kenyataannya apa? Aku ini Ibunya El, aku juga berhak menentukan calon istrinya.” Laras berujar sembari membalikkan tubuhnya menatap Albert. Albert yang tidak ingin berdebat memilih melanjutan jalannya. Sedangkan di kamar, Selina kembali dibuat terdiam. Kamar yang dia masuki sangatlah asing, baru ini Selina masuk. Sedang asik menatap keseliling, Selina dibuat kaget saat matanya melihat sosok Elvano membuka kemeja putihnya dengan santai. Sontak memalingkan wajahnya ke arah lain. “Kenapa kamu?” tanya Elvano. “Bapak kenapa buka baju di sini? Kamar mandi ‘kan ada, kenapa ngga di sana?” Elvano tidak menanggapi, dia tetap membuka kemeja yang melekat di tubuhnya. “Siapa yang mau mandi duluan? Kamu atau saya? Atau … mau mandi bersama aja?” “Bapak duluan aja, saya belakangan.” Mendengar jawaban Selina, Elvano mengangguk-anggukan kepalanya. Tanpa membuang waktu, Elvano yang sudah bertelanjang dada langsung masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Selina yang masih memalingkan wajah. Setelah terdengar suara pintu terkunci, barulah Selina bernapas lega. Sambil menunggu giliran mandi, Selina berjalan ke arah kasur. Wanita itu duduk di tepi ranjang. Kamar Elvano sangat luas dan rapih. Beda sekali dengan kost-annya yang super berantakan. Lelah duduk, Selina perlahan merebahkan tubuhnya. Wanita itu menatap lurus ke atas, seketika matanya berkaca-kaca mengingat pertemuannya dengan Raka tadi. Selina tidak menyangka kalau pada akhirnya Rakka menyalahkan dirinya. Padahal jelas, yang membatalkan dia. Sudut mata Selina berair, namun cepat-cepat dia menghapusnya. Sekitar tiga puluh menit, Elvano sudah selesai mandi. Pria itu keluar dengan kondisi rambut masih basah. Sambil mengeringkan dia menatap Selina yang sedang rebahan. “Ngantuk? Mandilah, habis itu baru istirahat.” Mendengar suara Elvano, Selina langsung berubah posisi dari rebahan menjadi duduk. Dia menatap Elvano seraya menjawab, “sedikit. Saya mau mandi, tapi saya baru ingat kalau ngga bawa baju. Harus saya pakai gaun lagi?” Elvano berjalan ke arah lemari, dia mengambil baju tidur yang sudah disiapkan oleh asistennya siang tadi. diberikannya baju itu kepada Selina, seketika Selina melotot melihat baju tidur yang Elvano berikan. Itu baju tidur kurang bahan! Sebelum salah satu dari keduanya buka suara, pintu kamar sudah lebih dulu diketuk dari luar. Selina mundur, Elvano maju membuka pintu kamar. Di depan, sosok Laras tengah berdiri dengan wajah angkuhnya. “Ada apa, Mah?” “Segera makan malam, tapi ngga usah ajak wanita itu.” ***“Arghh! Kenapa harus kamu kecilin AC-nya, Mas?”“Saya ngga kecilin, Selina, bahkan ini udah naik,” jawab Elvano dengan nada rendah. Pria itu sedang mati-matian menahan gejolak yang ada di dalam dirinya.Napas pria itu sedikit memburu, membuat Selina menoleh. Selina bangkit dari posisi rebahannya, dia jadi duduk di samping Elvano yang sedang menundukkan kepala. Tangan Selina terulur, menyentuh pundak Elvano. Sentuhan lembut tangan Selina semakin membuat Elvano hilang akal. Pria itu menoleh, menatap istrinya.“Panas, Mas.”Elvano semakin dibuat kelimpungan saat Selina mencoba melepas kimononya. Sebisa mungkin Elvano menahan. Karena kalau tidak ditahan, situasinya akan berbeda. “Jangan, Sel, jangan bodoh kamu. Saya ngga mau ambil kesempatan dalam situasi seperti ini.”Kedua mata Selina menyipit, dia menatap wajah Elvano dengan lekat. Tangannya terulur, menyentuh pipi. “Wajah kamu … kenapa merah banget? Apa kamu sakit, Mas?”Dihempasnya tangan Selina dari pipinya, lalu Elvano kembali mena
“Kalian ngga pulang, ‘kan? Kalian nginap, ‘kan? Kamu jangan alasan baju, El. Baju kerja kamu di sini masih banyak.”Elvano menghembuskan napasnya perlahan. Lagi-lagi situasi sulit menghimpitnya. Menginap? Sudah jelas Selina tidak akan berkenan. Tapi kalau tidak dituruti, Kakeknya akan terus memaksa. Elvano melirik Selina yang berdiri di sampingnya. Wanita itu hanya menunduk, meremas ujung bajunya. Lagi-lagi Elvano menghela napas.“Kalau saya tergantung Selina aja, Kek. Kalau memang Selina mau, ya gapapa. Tapi kalau dia ngga mau juga saya ngga bisa maksa,” jawab Elvano sambil menatap Albert.Terlihat raut kekecewaan di wajah Albert. Selina yang menangkap itu sontak meremas lengan Elvano, membuat pria itu menoleh menatapnya. Kepala Elvano sedikit merunduk, lalu bertanya, “kenapa, Sel?”“Kita … malam ini gapapa kita nginap di sini, Mas.”Mendengar kata-kata itu ke luar dari mulut Selina, wajah Albert seketika langsung cerah. Pria paruh baya itu mendekati Selina, meraih satu tangannya. “T
“Mas.”“Ayo turun, Kakek udah nunggu daritadi.”“Aku takut.”Elvano menoleh, menatap wajah istrinya. Sepertinya semakin dekat dengan pintu rumah, nyali Selina semakin menciut layaknya kerupuk terkena air. Akan tetapi Elvano berusaha untuk menenangkan istrinya yang terlihat gugup. Elvano meraih tangan Selina, menggenggamnya dengan erat. Sial, hanya ingin bertemu Laras, tangan istrinya sampai sedingin ini.“Ada saya, Sel, saya ngga akan ke mana-mana. Saya juga jamin di dalam ngga akan terjadi apapun. jadi, kamu tenang aja,” ujar Elvano dengan tenang.Tenang katanya. Bagaimana Selina bisa tenang?! Bagaimana caranya?Elvano melepaskan genggamannya, lalu dia turun lebih dulu dari dalam mobil. Pria itu memutari depan mobil, lalu membuka pintu penumpang untuk Selina. Selina menghela napasnya dengan berat. Kalau sudah seperti ini bagaimana dia bisa menghindar? Mau tidak mau Selina harus masuk ke rumah itu dan bertemu Laras. Selina tidak takut, hanya saja dia tak mau sakit hati mendengar perka
Sekitar jam enam sore pekerjaan Elvano baru selesai semua. Dia juga baru beberapa menit yang lalu selesai meeting dengan klien yang cukup penting. Syukurlah semuanya berjalan lancar tanpa ada masalah. Mereka juga tidak marah karena meeting yang seharusnya beberapa hari yang lalu, harus diundur hari ini.Setelah merapihkan barang-barang, memasukkan ponsel ke dalam saku jas, Elvano berniat untuk beranjak dari kursi. Akan tetapi saat diam au berdiri, ponsel di dalam sakunya berdering. Elvano kembali bersandar, mengeluarkan ponselnya.Kakek calling…Mendapati sang Kakek yang menelepon, Elvano langsung menjawabnya.“Hallo, Kek?”‘Kamu di mana? Udah jalan ke sini?’“Belum, saya masih di kantor. Ini baru selesai meeting, dan baru mau pulang.”‘Loh, iya kah? Yaudah Kakek tunggu, ya.’“Baik. Saya sama Selina akan segera datang. Ditunggu ya.”Tut.Elvano menghembuskan napasnya. Sejujurnya dia ragu untuk membawa Selina ke rumahnya. membawa Selina sama saja menyakiti hati wanita itu. mengingat ba
“Muka lo kusut banget? Kenapa, Sel?”“Gimana ngga kusut.”“Kenapa? Masih mikirin Raka?”Selina menghela napasnya. Saat ini dirinya sedang berada di sebuah taman bersama Vania—sahabatnya. Niat awal mau ke supermarket, tetapi tujuannya berganti. Ke supermarket bisa nanti, yang jelas sekarang dia butuh teman cerita.“Lo udah nikah, Sel, begitupun Raka. Udahlah, lebih baik lo lupain dia aja, mulai hidup baru sama suami lo itu,” ujar Vania dengan santai dan apa adanya.“Lo gampang bilang begitu, Van. Di sini yang jalanin gue. Gimana bisa gue mulai hidup baru kalau gue aja nikah sama orang yang … ngga gue suka. Ini rasanya aneh. Aneh banget. Ini gue akan terpenjara seumur hidup sama dia. Gimana caranya gue mau bahagia?”Vania menyandarkan punggungnya kesanggahan kursi. Wanita itu tidak langsung menjawab, melainkan memilih menikmati ice creamnya yang dibelikan oleh Selina. Vania tahu dan mengerti sama permasalahan Selina. Dia juga tahu tidak akan mudah menerima orang baru yang sama sekali ti
Sudah tiga hari Selina menjabat sebagai istri Elvano. Walaupun pernikahan ini terkesan mendadak dan seperti paksaan, tetapi Selina tetap menjalani tugasnya sebagai seorang istri dengan baik. Semenjak pindah ke apartemen makan Elvano sangat terjamin. Itu semua karena Selina sering masak. Dan masakan wanita itu tak buruk-buruk banget, masih bisa dinikmati.Seperti pagi ini, Selina sudah berkutik di dapur sejak beberapa menit yang lalu. Dia sedikit bangun kesiangan, maka dari itu sebelum mandi langsu buru-buru bikin sarapan untuk suaminya. Makanan yang Selina buat juga simple, yaitu hanya nasi goreng dengan telur dadar. Lagipula bahan makanan belum komplit, dan baru hari ini Selina ingin belanja ke supermarket.Sambil mengaduk nasi di dalam wajan sesekali Selina menguap. Demi apapun, dia masih sangat ngantuk. Walaupun sudah terbiasa bangun pagi untuk bekerja, tetapi tidak dengan hari ini. Tubuh Selina sangat lelah, inginnya rebahan di kasur sepanjang hari, itu semua karena semalam dia ik
Sejak jam enam pagi Selina sudah bangun, dan setengah tujuh dia sudah mandi. Akan tetapi masih pakai baju yang semalam, kemeja milik Elvano. Sejak beberapa menit Selina berdiri di balkon sambil menatap lurus ke depan. Ini baru hari pertama dirinya menajdi istri Elvano, istri yang tidak direstui ole
“Saya terima nikah dan kawinnya Selina Aurora Adzkiya binti Alvian Putra Wicaksana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”“Bagaimana para saksi?”“Saya ngga setuju.”Semuanya menoleh, menatap ke arah belakang. Termasuk Elvano. Dari suara, dia sudah mengenali itu siapa. Elvano menatap Laras yang
Untuk memastikan ucapan Elvano, Selina mengikuti laki-laki itu ke acara pernikahan sepupunya setelah mengganti gaun pengantinnya. Di dalam hatinya, Selina masih berharap Raka tidak akan mengkhianatinya. Namun, harapan itu pupus saat Selina tiba di gedung pernikahan. Di depan gedung tertulis nama
Beberapa menit lagi acara pernikahan akan dimulai. Suara MC dari depan juga terdengar sampai ke dalam ruangan. Seharusnya hari ini Selina berbahagia karena dia sudah sangat rapi dan siap menuju tempat akad. Akan tetapi, sayangnya, sampai detik ini calon suaminya belum juga menampakkan diri. Seharus







