Share

15. Ingin Rujuk ?

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-06-07 20:15:17

"Oh! Jadi ini kelakuanmu, mas!!" Teriak Raisa murka.

Alvin terkejut bukan main dengan keberadaan istrinya. Apalagi Raisa menatapnya dengan penuh kemarahan.

"Sekarang aku mengerti. Kamu bohong padaku waktu itu, kan? Kamu bilang ingin membeli sarapan rupanya malah mengunjungi mantan istrimu!"

Giliran Arumi yang ditatapnya dengan kesal. Wanita ini baru tahu jika mantan istri suaminya berjualan nasi uduk.

"Raisa.." bisik Alvin. Dia mendekat ke arah istrinya. Su
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Adfazha
Titik balik yaa mak Lampir sm Grandong kena balesannya dr mantu idaman sdgkn Arumi yg dl slalu ditindas skrg mlh dimanja sm Paris ea
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Diceraikan Usai Hajatan   16. Dua Wanita Tidak Akur

    Raisa mengomel lagi karena masakan Nurlela keasinan. Dia pun memuntahkannya secara terang-terangan. "Ibu kayaknya mau buat semua orang di rumah ini jadi darah tinggi kayaknya!" Seru Raisa. "Cukup ibu aja yang sakit! Jangan kami!" "Raisa! Tinggal tambahkan kecap manis aja!" Balas Alvin ikut kesal akan sikap istrinya. "Nggak enak, mas. Aku mau makan diluar aja!" "Raisa.." tegur Alvin lagi. Raisa yang tak perduli lalu bangkit dari duduknya. Namun sebelum mencapai pintu kamar, Nurlela mengeluarkan rasa sakit hatinya. "Ibu bukan pembantu di rumah ini. Kalau kamu mau makan sana masak sendiri! Kalau masakan ibu nggak enak, kamu nggak usah menghinanya." "Yang bilang kalau ibu pembantu siapa?" Raisa lalu berbalik lagi. "Sikapmu itu semena-mena pada ibu!" Desis Nurlela. "Di rumah ini ada tiga orang, kenapa hanya ibu yang disuruh membereskan rumah, memasak sampai mencuci."

  • Diceraikan Usai Hajatan   15. Ingin Rujuk ?

    "Oh! Jadi ini kelakuanmu, mas!!" Teriak Raisa murka.Alvin terkejut bukan main dengan keberadaan istrinya. Apalagi Raisa menatapnya dengan penuh kemarahan."Sekarang aku mengerti. Kamu bohong padaku waktu itu, kan? Kamu bilang ingin membeli sarapan rupanya malah mengunjungi mantan istrimu!"Giliran Arumi yang ditatapnya dengan kesal. Wanita ini baru tahu jika mantan istri suaminya berjualan nasi uduk."Raisa.." bisik Alvin. Dia mendekat ke arah istrinya. Suara tinggi Raisa barusan memancing perhatian membeli."Kamu brengsek, mas!" Raisa memukul dada suaminya dengan kesal dan pergi begitu saja.Astaga! Alvin sampai bingung harus mengatakan apa. Padahal dia belum melakukan apapun, menyapa Arumi saja tidak.Alvin mengusap wajahnya dengan kasar dan memandang Arumi sekilas. Ia lalu pergi tanpa mengucapkan satu katapun. Raisa sendiri langsung masuk ke mobil dan membanting pintu. Sadar akan sikapnya, Raisa langsung me

  • Diceraikan Usai Hajatan   14. Penasaran atau Khawatir?

    "Kamu mencari pak Paris? Mau apa? Ah.. kamu pasti ingin melamar pekerjaan disini, kan? Kebetulan sekali kalau kami memang membutuhkan cleaning service. Kamu bisa melamar disini." Mata Arumi memerah karena mendengar ucapan Raisa barusan. Bukan karena perkataannya tapi lebih pada tatapan wanita ini yang seakan meremehkannya. Tin! Suara klakson menyadarkan Raisa. "Udah, ya. Aku pergi dulu." Raisa melenggang masuk ke sebuah mobil yang baru saja berhenti di lobi perusahaan tersebut. Setelah itu, Arumi tertunduk dengan sedih. "Masih mau ketemu pak Parisnya, mbak? Kayaknya beliau sibuk." Arumi menggeleng. "Boleh dititip saja, pak?" "Boleh. Nanti saya titipkan ke sekretaris beliau." "Terima kasih banyak.." Arumi lalu pulang dengan perasaan sedih. Niatnya memang ingin bertemu dengan Paris, tapi status hingga pakaian yang ia pakai rasanya tak

  • Diceraikan Usai Hajatan   13. Meragukan Kejujuran

    "Siapa?" Tanya Arumi lagi setelah memastikan ketukan pintu itu berasal dari depan kamarnya. Dengan tertatih, Arumi beringsut bangun dan membuka pintu. Rupanya, ia mendapatkan tamu tak terduga. "Mas Alvin.." Arumi tak menyangka. "Mas tahu dari mana rumahku disini?" Alvin menyapu kamar sempit yang ditempati Arumi ini. Matanya lalu menangkap buah, makanan dan juga susu hamil yang ada disana. "Jadi kamu benar-benar hamil?" Tanya Alvin tercekat. "Apa aku pernah berbohong padamu, mas?" Alvin menghela nafas panjang. "Berapa bulan?" "Sudah jalan 3 bulan sekarang." "Laki-laki atau perempuan?" "Kenapa mas menanyakan hal itu?" Dahi Arumi sampai mengernyit. "Aku hanya ingin memastikan kalau anak itu memang benar anakku." Arumi tersenyum pahit. Alvin memang benar-benar sudah berubah. Atau mungkin.. inilah sifat aslinya?

  • Diceraikan Usai Hajatan   12. Perhatian Paris

    "Arumi! Maaf.. nunggu lama, ya?" Paris datang terduduk di sisi Arumi, membuka botol air minum dan menyerahkannya pada wanita ini. "Eh, kamu nangis?" Paris baru sadar melihat bekas air mata di wajah sayu Arumi. "Nggak.. cuma kelilipan." Jawab Arumi cepat sembari mengambil botol air minum. "Kita pulang sekarang?" Arumi mengangguk. Jika tidak ada Paris yang menangkap tubuhnya, mungkin Arumi sudah terjatuh dan tergeletak di jalanan. Untunglah pria ini tadi sedang berada di dalam lorong yang berada di samping kantin. Ketika melihat Arumi limbung, Paris segera menolongnya. Keduanya lalu menuju lorong kecil yang tak bisa dilalui oleh mobil. Dibantu Paris, Arumi berjalan ke kamar sewanya. "Jadi ini tempatmu?" Tanya Paris menatap keliling. Ada 8 kamar kost kecil yang saling berhadapan. Kurangnya ventilasi lalu pencahayaan yang minim. Dan juga tumpukan sampah

  • Diceraikan Usai Hajatan   11. Bertemu Lagi

    "Pak Paris???" Astaga! Raisa tak salah mengenali pria berjas rapi yang baru saja melakukan pembayaran di kasir ini."Raisa.." tegur Paris datar. "Bagaimana keadaan ibu mertuamu?""Syukurlah nggak apa-apa, pak. Cuma darah tinggi aja." Jawab Raisa tak enak.Tadi di kantor, Paris, Raisa beserta sopir tengah di perjalanan untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan asing. Tapi telepon dari luar memecah konsentrasi Raisa. Jadilah wanita ini berpamitan hingga Paris terpaksa membatalkan pertemuan hari ini."Syukurlah kalau begitu.""Bapak di rumah sakit juga? Apa ada yang sakit?" Tanya Raisa menatap bungkusan plastik obat yang dipegang oleh manajernya."Iya. Saya ke igd dulu.""Oh, baik." Raisa menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda hormat ketika Paris melewatinya.Wanita ini lalu melihat Paris yang masuk ke igd, nah ternyata benar. Jadi penasaran! Raisa mempercepat proses pembayarannya di kasir. Dia ingin tahu siapa yang dibawa manajernya berobat sampai ke IGD.Paris, manajer yang baru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status