LOGINDua hari jatah Arumi menunggu di rumah. Ketika suami dan mertuanya datang, Arumi langsung menyambutnya. Ia bertekad melupakan semua yang terjadi di desa beberapa hari yang lalu.
"Loh, ngapain kamu disini?" Nurlela jadi marah. "Mau mencuri kamu?" "Nggak, bu. Arumi pulang kesini." Nurlela berdecak kesal. Salahnya yang menaruh kunci belakang di pot gantung sehingga Arumi dengan mudah masuk ke rumah ini. Tak hanya Nurlela, Alvin juga menatap istrinya dengan kesal. Padahal dua hari ini dia sudah mulai tenang, tapi melihat wajah istrinya lagi dia jadi muak. "Mas Alvin.." lirih Arumi. "Jangan menjual air matamu itu padaku. Aku sama sekali nggak tergugah, Arumi.." "Mas.. soal kemarin.. aku mohon pertimbangkan lagi. Aku nggak mau berpisah darimu, mas.." "Ah!" Alvin berkacak pinggang. "Kamu ini disuruh berkaca sama suamimu. Ternyata masih nggak sadar juga! Lihat dirimu itu!" Seru Nurlela. "Kalau memang masalah finansial, aku akan membantu, bu. Aku akan bekerja." Jawab Arumi. "Kamu mau bekerja?" Nurlela memandang sinis. "Memang kamu bisa apa?" Arumi terdiam menghadapi pertanyaan Nurlela yang seolah merendahkan dirinya. Alvin sendiri tak mau menanggapi. Ia memilih masuk ke kamar. Tubuhnya lelah karena perjalanan jauh. Melihat suaminya yang masuk begitu saja, Arumi ikut masuk ke kamar. "Mas.. aku mohon berikan aku satu kali kesempatan lagi.. aku janji akan menjadi seperti apa yang kamu inginkan." Memelas Arumi menatap suaminya. Alvin menghela nafas panjang. Dia lalu melihat istrinya. Namun seseorang di belakang yang melotot kepadanya membuat Alvin terpancing emosi lagi. "Sudah cukup rasa malu yang kamu berikan kepada kami, Arumi. Sekarang pergilah dari rumah ini sebelum aku menyeretmu keluar." Air mata Arumi kembali berjatuhan. Padahal dia sudah berusaha melapangkan dadanya. Menerima jika diri ini memang bersalah. Tapi yang didapatkan malah berbeda. Alvin malah mengusirnya keluar. "Nah sudah dengar, kan? Sekarang kamu pergilah dari rumah ini. Jika Alvin sudah mengurus surat perceraian kalian nanti dia menghubungimu." Sambung Nurlela yang sejak tadi berdiri di belakang. "Apa nggak ada kesempatan lagi untukku, mas?" Lirih Arumi tak memperdulikan ocehan Nurlela. "Tidak! Sadar diri, Arumi. Kamu bukan hanya menantu tidak berguna. Tapi juga istri yang mandul! Buktinya sudah enam bulan kamu belum juga hamil!" ucap Nurlela berapi-api. Arumi kini beralih menatap mertuanya. Air mata ini tidak bisa merubah kebencian Nurlela kepadanya. Sekarang dengan tega Arumi dihina sebagai wanita yang mandul. Tak tahan mendengar rengekan menantunya, Nurlela masuk ke kamar. Membuka lemari dan melemparkan pakaian Arumi. Koper besar juga diturunkan dan dibuka. Pakaian tersebut dikasukkan kesana. Wanita muda ini diseret keluar oleh Nurlela. Tubuhnya lagi-lagi dilempar ketika mencapai pintu keluar. "Pergi dan jangan lagi kembali!" Hardik Nurlela. Arumi menangis bersedu-sedu. Ia menatap suaminya meminta agar hati Alvin tersentuh akan kemalangan yang dimilikinya. Waktu enam bulan tidaklah sebentar. Banyak sekali hal yang sudah mereka lalui. Walaupun dalam pernikahan ini Arumi merasa tersiksa karena hinaan mertuanya. Namun perasaan itu dilepaskannya karena dia yang begitu mencintai Alvin. Brak! Pintu ditutup oleh Nurlela. Jangan harap jika Arumi merengek, memohon bahkan meronta ingin diterima lagi. Pintu rumah ini tak akan pernah terbuka untuk wanita yang bernama Arumi. Arumi mengusap air matanya. Ada suara bisik-bisik lagi di belakang. Rupanya ada tetangga yang berhambur keluar untuk melihat apa yang terjadi pada rumah ini. Sekali lagi, Arumi menelan rasa malu karena diusir di muka umum. Wanita ini lalu bangkit berdiri, meraih kopernya dan berjalan pelan keluar dari pagar rumah. Ucapan seseorang melayang di pikirannya. Arumi tak perlu bertahan pada pria yang tak bisa menghargainya. Arumi kembali menoleh ke belakang, berharap ada keajaiban yang membuat dia bisa kembali kesana. Tapi sayang.. Alvin bahkan tak mau memandangnya lagi. "Selamat tinggal, mas.." gumam Arumi sedih. Dia lalu membuka pagar dan pergi sejauh-jauhnya. Sedangkan di sisi lain, Alvin masih membeku memandang keluar jendela. Disana Arumi berjalan hingga tak terlihat lagi. Tiba-tiba saja terbit penyesalan di hati Alvin. Kenapa enteng sekali mulut ini mengucap kata perpisahan? Padahal jika dikulik, apa kesalahan fatal yang Arumi lakukan? Dia sudah baik menjalani tugasnya sebagai seorang istri. Hanya karena dia tidak bekerja dan belum hamil membuatnya sehina itu di mata keluarganya. Mulai tersadar akan sikapnya, tangan Alvin terayun membuka handle pintu. Namun suara menggelegar mencegahnya. "Mau kemana kamu, Alvin?" "Mengejar Arumi. Kayaknya aku keterlaluan, bu." Nurlela sampai tak habis pikir. "Yang sudah kita lakukan ini benar, Alvin. Arumi itu hanya benalu dalam keluarga kita." "Tapi dia nggak punya siapa-siapa lagi selain kita, bu. Dia cuma yatim piatu. Rumah aja nggak punya." "Lalu itu menjadikannya sebagai alasan untuk dipertahankan? Apa kamu nggak ingat betapa dicemoohnya kamu di depan kakak dan kakak iparmu. Menikahi gadis yang tidak berpendidikan. Belum lagi dia mandul! Ingat, Alvin. Jangan mengotori martabat keluarga." Nurlela mendekat dan menyentuh bahu anaknya. "Kamu tampan, nak. Pekerjaanmu juga bagus sebagai pegawai negeri. Harusnya kamu mendapatkan pasangan yang sepadan yang bisa kamu pamerkan di depan orang lain. Sedangkan Arumi tak punya kebaikan apapun. Keputusanmu sudah benar. Ceraikan Arumi dan lanjutkan hidupmu." Alvin menghela nafas panjang. Nurlela selalu bisa mengendalikan dirinya. Ia pun langsung mengangguk setuju. "Bagus." Nurlela tersenyum. "Besok kamu urus perceraianmu. Kamu harus lepas dari neraka pernikahan yang dibuat oleh Arumi. Jika Alvin sudah kekeuh dengan keputusanya, kini Arumi terseok-seok menjalani kehidupannya. Ia sudah tak memiliki tempat untuk berlindung maupun bergantung. "Aku harus kemana?" Lirih Arumi sambil menangis. Rasanya dia sudah berjalan sejauh kilometer, tapi tetap saja dia tak memiliki tujuan untuk berteduh. Matahari bersinar terik di atas kepalanya. Arumi merasakan sesuatu yang berat seperti menimpa kepalanya, tiba-tiba saja nafas ini menjadi sesak. Oh, dia seperti kekurangan oksigen. Pandangan mata ini juga menjadi kabur. Tangan Arumi terlepas dari kopernya, semua yang dilihatnya hilang seketika.."Ini.. namanya test pack, kan?" Tanya Paris setelah kesadarannya kembali. Arumi mengangguk. "Garis dua itu.. artinya hamil?" Kali ini, Arumi mengedikkan bahu. Dia pura-pura tak tahu saja untuk melihat ekspresi suaminya. Dahi Paris mengkerut. Ia memang orang awam tapi pernah mendengar makna garis dua yang tertulis di atas benda pipih ini. Dan untuk memastikannya, Paris harus melakukan sesuatu. "Ganti bajumu!" Paris beranjak dari duduknya. Ia menarik tangan Arumi dan mengajaknya berjalan ke lemari. "Mau kemana, mas?" Tanya Arumi keheranan. "Periksa ke tante Winda. Aku ingin memastikannya." Yang membuat sebal adalah tanggapan Paris saat ini. Suaminya Arumi ini tak berjingkrak senang atau memeluk istrinya. Membuat Arumi jadi curiga kalau sebenarnya Paris terbebani dengan kehamilan ini.
Tidak ada yang kekal. Semua akan kembali ke Sang Pencipta di saat yang telah ditentukan. Inilah akhir kisah Nurlela. Tak lama kepergian dari Arumi, wanita itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Wanita yang dulu sombong namun segera memikul penyakit untuk menebus dosa-dosanya di masa lalu. Di akhir hayatnya, diri ini terkunci karena kesalahan yang belum sempat diutarakannya. Hingga keikhlasan keluar dari mulut wanita yang disakitinya, Nurlela akhirnya bisa melepas beban yang menjeratnya selama ini. Berita duka ini sampai kepada pengantin baru. Padahal keduanya baru sampai ke rumah, Arumi baru saja bermain dengan Hannan. Tapi kabar kesedihan ini didapatkannya dari Alvin. Oleh karena sudah melihat tadi di rumah sakit, Paris dan Arumi akan pergi ke rumah duka saja. Kebetulan almarhumah juga akan dimakamkan besok pagi. Tak hanya pasangan suami istri ini, Lesti
Malam pertama dan kedua selesai. Waktunya Paris kembali ke rumah bersama istrinya. Kali ini dia tinggal di rumah warisan neneknya, ibu dari Lesti. "Kalian nggak mau bulan madu?" Tanya Lesti saat mengantar Paris pindahan. "Mau sih. Tapi aku cuma cuti seminggu." "Pergi saja bulan madu kemana kek. Kasihan istrimu masak dikurung terus dirumah." Arumi jadi tersenyum. "Nggak apa-apa kok, ma. Kasihan mas Paris capek juga." "Apa karena Hannan?" Lesti menebak. "Nggak usah risau. Ada papa dan mama yang menjaganya." Paris menatap ibunya lekat, terutama ayahnya. "Beneran nggak apa-apa kami titipkan Hannan?" "Nggak masalah. Ya kan, pa?" Wirawan mengangguk. "Bersenang-senanglah. Jangan kerja terus yang kamu pikirkan!" Senyuman Paris mengembang. Sekarang tinggal membujuk Arumi untuk berbulan madu saja. Ya, dia
Tujuh hari kemudian.. Sebuah acara pernikahan akan dilaksanakan di sebuah hotel berbintang lima dengan pengawalan yang ketat. Maklum saja. Yang akan menikah adalah anak dari seorang jenderal, Wirawan. Apalagi Paris merupakan seorang manajer perusahaan asing yang terkenal karena prestasinya. Masih muda namun bisa duduk di jabatan eksekutif. Ayat dari kitab suci mulai disenandungkan, sebagai tanda bahwa mulainya acara ijab qabul sebentar lagi akan dilaksanakan. Hingga akhirnya qabul terdengar dan dinyatakan SAH! Arumi keluar dari tempat persembunyiannya. Menemui sang pangeran yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Paris tersenyum penuh haru ketika istrinya muncul ditemani dayang-dayangnya. Arumi menerima uluran tangan Paris dan menciuminya dengan takzim. Begitu juga dengan Paris yang langsung memberikan do'a di pucuk kepala istrinya. Paris dan Arumi saling melempar senyuman. Merek
"Mas Paris.."Aduh.. wajah ini sudah memerah. Mata ini mulai menjalar hangat hingga menumpuk cairan. Apa-apaan ini Paris? Pria ini memberi kejutan untuknya.Percuma mencari Paris di dalam kerumunan sana, dia rupanya muncul dari panggung belakang sambil mengulum senyum.Di layar sana sudah ada kata-kata romantis bertuliskan bahasa inggris. Yang pasti ada nama Arumi disana hingga membuatnya tersipu malu.Arumi ingin bersembunyi saja. Jika ada lubang semut dia ingin kesana. Menyembunyikan wajah yang mulai gerah karena kejutan dari pria ini.Paris berjalan dari arah belakang. Mengenakan kaos polo itu dia nampak gagah. Sebuah mic diberikan kepadanya.Pria ini mendekat bahkan berdiri di samping Arumi.Astaga... Arumi mau pingsan saja! Terlebih detak jantungnya sudah mengajaknya berlari."Arumi.." ucapnya.Arumi menutup mulutnya menahan malu, sementara semua mata penonton sekarang tertuju padanya. Belum lagi r
Di sisi lain, Paris sejak tadi mengulum senyumnya. Alvin sudah tahu rencana pernikahan mereka. Itu artinya pasti tadi Arumi sudah cerita.Rapat itu hanya bualan. Paris sengaja berbohong tak bisa menemani Arumi dan Hannan bertemu dengan Alvin. Dia ingin memberi waktu pada Arumi menyelesaikan masa lalunya. Percakapan mereka juga sudah Paris dengar. Syukurlah, hati Arumi tak goyah atas rayuan mantan suaminya."Mas masih marah padaku?" Tanya Arumi ketika Paris hanya diam di perjalanan."Untuk apa aku marah padamu?""Abisnya aku tahu kalau kamu marah soal kemarin. Sikapmu berubah, mas.." lirih Arumi. "Padahal maksudku nggak ingin merepotkanmu aja.. aku takut menjadi beban untukmu padahal kamu bisa mendapatkan wanita baik selain aku.""Kamu mulai lagi.." gumam Paris menggelengkan kepalanya. Daripada meladeni Arumi lebih baik dia diam saja.Sesampainya di rumah, Arumi dan Hannan turun lebih dulu dan Paris menyusul."M
"Ke rumahmu?" Seketika jantung Arumi ingin copot. "Kenapa, mas? Ibu sakit?" "Nggak. Cuma mau ngenalin kamu aja sama papaku." "Bukannya kami sudah saling mengenal?" "Itu berbeda." Paris berharap Arumi jangan banyak pertanyaan. Ia belum bi
"Aku melanggar janjiku untuk membayar biaya rumah sakit anak kita. Maafkan, aku.. kondisiku saat ini sedang sulit. Pengobatan ibu dan juga kemoterapi Raisa tidaklah murah. Ini saja aku harus menjual mobilku." Alvin lalu mengambil nafas panjang. "Ketiga kakakku tidak mau tahu menahu soal penyakit
Keesokan harinya, jagoan Arumi sudah diperbolehkan pulang. Bayi kecil ini sudah ditutup dengan topi lucu dan selimut berwarna biru. Melihat itu, Lesti menjadi gemas. "Apa boleh ibu menggendongnya?" Tanya Lesti ragu. "Boleh, bu." Arumi menyerahkan bayinya ke dalam pel
"Aduh! Tolong!" Teriak Raisa begitu kuat.Dua orang pria masuk begitu saja ketika mendengar teriakan wanita dari kamar rawat VIP ini."Raisa!" Alvin terkejut ketika melihat istrinya tergeletak di lantai dengan memegang perut.Sementara pria satunya berjalan santai ke ar







