เข้าสู่ระบบDua bulan kemudian...
Tangan Arumi membuka kran washtafel dan menyeka mulutnya dengan air secara perlahan. Mual ini begitu menyiksa. Ingin muntah, tapi tak ada satupun yang bisa ia keluarkan. Membuat perutnya sakit saja. Nafsu makan ini menurun drastis, begitu juga dengan berat badannya yang ikut turun. Arumi menatap dirinya di cermin yang memiliki retak di bagian sana sininya. Wajahnya pucat, matanya sayu.. entah sampai kapan penderitaan ini berakhir. Dia hanya bisa memasrahkan takdirnya pada Yang Kuasa. Satu bulan yang lalu, Arumi resmi berpisah dari suaminya dan saat itu pula dia baru tahu jika dirinya tengah berbadan dua. Kini kehamilannya sudah menginjak usia 9 minggu. Arumi ingin datang ke rumah mantan suaminya. Memberi tahu Alvin dan juga Nurlela mengenai kehamilan ini. Untuk menepis anggapan mereka jika Arumi adalah wanita mandul. Tapi.. bisakah mereka menerima Arumi kembali? "Mbak Arumi! Ada yang mau beli nasi uduk!" Seru seorang ibu paruh baya dari luar. "Oh.. tunggu sebentar." Arumi segera keluar dari toilet umum yang tak jauh dari tempat ia berjualan. Ya, semenjak tak berlindung di kaki Alvin. Arumi belajar hidup mandiri. Dia berjualan sarapan pagi di sebuah kantin yang terletak di pinggir jalan. Tempat strategis karena ada kantor dan universitas disana. Yang dijual Arumi pun macam-macam. Dari nasi uduk, donat hingga srikaya. Bersama penjual yang lain, Arumi bergabung di kantin ini. Untung saja pemilik kantin ini baik dan mau menerima Arumi. "Nasi uduknya satu bungkus ya, mbak." Ucap seorang perempuan kuliahan kepada Arumi. Arumi mengangguk dan membungkus nasi uduk tersebut sesekali melihat perempuan yang ada di hadapannya. Perempuan ini memakai ransel besar. Ditangannya juga ada sebuah buku tebal. Arumi jadi iri. Dia juga ingin berkuliah jika diberi kesempatan. "Ini, mbak." Arumi menyerahkan satu bungkus nasi. "Terima kasih." Perempuan ini lekas pergi setelah membayar nasinya. Arumi menutup mulutnya lagi. Astaga, mual sekali! Wanita ini memilih duduk dan menyenderkan tubuhnya di kursi. "Kasihan banget.. udah tutup aja! Istirahat di rumah sana!" Seru seorang ibu paruh baya yang berjualan gorengan. Lilis. Arumi menggeleng sambil tersenyum. "Nanggung, bu. Dikit lagi abis." "Udah periksa ke dokter? Coba minta obat penghilang mual." "Bukannya mual muntah itu wajar ya kalo hamil?" Celetuk Wati, ibu yang menjual bakso. "Nggak apa-apa, Arumi. Tahanin aja." Arumi hanya tersenyum mendengar nada perhatian dari orang-orang yang berjualan disini. Ia bersyukur masih didekatkan dengan orang-orang yang baik. Sekitar pukul 11 siang, Arumi menutup lahan jualannya. Ia lalu pulang ke kamar sewanya yang terletak di sebuah gang tak jauh dari tempat dia berjualan. Sebelum sampai ke kamar sewanya, Arumi mampir terlebih dahulu ke warung sayur yang tak jauh dari sana. Membeli bahan pokok yang akan dimasak untuk besok berjualan. "Pucat sekali wajahmu, Arumi.." tegur Indah, pemilik kost-kost an. Ia baru saja keluar dari rumahnya ketika Arumi sampai. "Iya, bu. Kecapekan." Arumi terkekeh tak enak. "Kamu istirahat aja dulu. Jangan forsir tenagamu, kasihan.. kamu lagi hamil, nak." "Nggak apa-apa, bu. Kalau aku kebanyakan istirahat nanti gimana caranya aku bayar kontrakan disini?" Indah menatap wanita hamil ini dengan iba. Dia lalu berjalan mendekat. "Kenapa kamu nggak ngasih tahu mantan suamimu aja kalau kamu hamil?" Arumi terkesiap mendengar pertanyaan Indah. "Itu.. aku nggak mau membebaninya." Jawab Arumi pelan. "Kamu hamil anaknya, gimana bisa dia memanggil anak sendiri sebagai beban? Coba saja dulu, Arumi. Jika mantan suamimu tidak mau kembali padamu, dia bisa bertanggung jawab atas anakmu. Setidaknya dia harus tahu kalau kamu mengandung anaknya." Indah memberikan nasehatnya. Arumi berpikir sejenak. Ada betulnya ucapan Indah barusan. Jika Alvin tak tahu mengenai anaknya, maka yang rugi adalah anak yang dikandung olehnya saat ini. Setidaknya walaupun tak bisa bersama, Alvin harus tahu bahwa di dalam rahim Arumi ada darah dagingnya. "Terima kasih sarannya, bu. Hari minggu nanti aku akan ke rumah mantan suamiku." Sahut Arumi tersenyum tulus. Hari minggu tiba, Arumi pergi ke rumah mantan suaminya berada. Ketika hendak pergi tadi, Arumi sampai sholat sunnah dulu dan beristighfar sepanjang jalan. Firasatnya berkata tidak enak, kakinya ini mengajaknya berlari tapi.. dia sudah berjanji untuk pergi ke rumah Alvin hari ini. Menguatkan tekadnya, Arumi pergi ke rumah Alvin dan terkejut ketika tenda berwarna biru terbentang di sekitar rumah mantan suaminya. "Selamat berbahagia..." Arumi membaca papan bunga yang berjejer disana. "Alvin dan Raisa." Langkah Arumi tertahan ketika melihat nama mantan suaminya yang tertulis disana. Benarkah itu Alvinnya? "Ya, Tuhan.. ngapain kamu disini?" Arumi menoleh ketika mendengar suara tersebut. Suara lengkingan yang dulu begitu dihapalinya. "Ibu.. mas Alvin.." Mata Arumi memerah ketika melihat rombongan manusia yang berdiri disana. Yaitu mantan suaminya, Alvin yang begitu gagah dengan jas putihnya. Tak lupa peci putih yang menghias mahkotanya. Leher itu juga terkalung dengan bunga melati. Tak hanya itu, Nurlela dan keluarga yang lain tampak serasi dengan memakai baju berwarna senada. Mereka terlihat ingin menaiki sebuah mobil yang dihias oleh bunga. "Sedang apa kamu disini? Perasaan kami nggak mengundangmu!" Nurlela menatap tajam. "Aku.. aku ingin bicara dengan mas Alvin." Jawab Arumi terbata. "Nanti saja. Alvin harus pergi menunaikan akad nikah dulu pagi ini." Deg! Tubuh Arumi menjadi lemas seketika. Ternyata benar firasatnya. Seharusnya ia tak perlu datang kemari hari ini."Ini.. namanya test pack, kan?" Tanya Paris setelah kesadarannya kembali. Arumi mengangguk. "Garis dua itu.. artinya hamil?" Kali ini, Arumi mengedikkan bahu. Dia pura-pura tak tahu saja untuk melihat ekspresi suaminya. Dahi Paris mengkerut. Ia memang orang awam tapi pernah mendengar makna garis dua yang tertulis di atas benda pipih ini. Dan untuk memastikannya, Paris harus melakukan sesuatu. "Ganti bajumu!" Paris beranjak dari duduknya. Ia menarik tangan Arumi dan mengajaknya berjalan ke lemari. "Mau kemana, mas?" Tanya Arumi keheranan. "Periksa ke tante Winda. Aku ingin memastikannya." Yang membuat sebal adalah tanggapan Paris saat ini. Suaminya Arumi ini tak berjingkrak senang atau memeluk istrinya. Membuat Arumi jadi curiga kalau sebenarnya Paris terbebani dengan kehamilan ini.
Tidak ada yang kekal. Semua akan kembali ke Sang Pencipta di saat yang telah ditentukan. Inilah akhir kisah Nurlela. Tak lama kepergian dari Arumi, wanita itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Wanita yang dulu sombong namun segera memikul penyakit untuk menebus dosa-dosanya di masa lalu. Di akhir hayatnya, diri ini terkunci karena kesalahan yang belum sempat diutarakannya. Hingga keikhlasan keluar dari mulut wanita yang disakitinya, Nurlela akhirnya bisa melepas beban yang menjeratnya selama ini. Berita duka ini sampai kepada pengantin baru. Padahal keduanya baru sampai ke rumah, Arumi baru saja bermain dengan Hannan. Tapi kabar kesedihan ini didapatkannya dari Alvin. Oleh karena sudah melihat tadi di rumah sakit, Paris dan Arumi akan pergi ke rumah duka saja. Kebetulan almarhumah juga akan dimakamkan besok pagi. Tak hanya pasangan suami istri ini, Lesti
Malam pertama dan kedua selesai. Waktunya Paris kembali ke rumah bersama istrinya. Kali ini dia tinggal di rumah warisan neneknya, ibu dari Lesti. "Kalian nggak mau bulan madu?" Tanya Lesti saat mengantar Paris pindahan. "Mau sih. Tapi aku cuma cuti seminggu." "Pergi saja bulan madu kemana kek. Kasihan istrimu masak dikurung terus dirumah." Arumi jadi tersenyum. "Nggak apa-apa kok, ma. Kasihan mas Paris capek juga." "Apa karena Hannan?" Lesti menebak. "Nggak usah risau. Ada papa dan mama yang menjaganya." Paris menatap ibunya lekat, terutama ayahnya. "Beneran nggak apa-apa kami titipkan Hannan?" "Nggak masalah. Ya kan, pa?" Wirawan mengangguk. "Bersenang-senanglah. Jangan kerja terus yang kamu pikirkan!" Senyuman Paris mengembang. Sekarang tinggal membujuk Arumi untuk berbulan madu saja. Ya, dia
Tujuh hari kemudian.. Sebuah acara pernikahan akan dilaksanakan di sebuah hotel berbintang lima dengan pengawalan yang ketat. Maklum saja. Yang akan menikah adalah anak dari seorang jenderal, Wirawan. Apalagi Paris merupakan seorang manajer perusahaan asing yang terkenal karena prestasinya. Masih muda namun bisa duduk di jabatan eksekutif. Ayat dari kitab suci mulai disenandungkan, sebagai tanda bahwa mulainya acara ijab qabul sebentar lagi akan dilaksanakan. Hingga akhirnya qabul terdengar dan dinyatakan SAH! Arumi keluar dari tempat persembunyiannya. Menemui sang pangeran yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Paris tersenyum penuh haru ketika istrinya muncul ditemani dayang-dayangnya. Arumi menerima uluran tangan Paris dan menciuminya dengan takzim. Begitu juga dengan Paris yang langsung memberikan do'a di pucuk kepala istrinya. Paris dan Arumi saling melempar senyuman. Merek
"Mas Paris.."Aduh.. wajah ini sudah memerah. Mata ini mulai menjalar hangat hingga menumpuk cairan. Apa-apaan ini Paris? Pria ini memberi kejutan untuknya.Percuma mencari Paris di dalam kerumunan sana, dia rupanya muncul dari panggung belakang sambil mengulum senyum.Di layar sana sudah ada kata-kata romantis bertuliskan bahasa inggris. Yang pasti ada nama Arumi disana hingga membuatnya tersipu malu.Arumi ingin bersembunyi saja. Jika ada lubang semut dia ingin kesana. Menyembunyikan wajah yang mulai gerah karena kejutan dari pria ini.Paris berjalan dari arah belakang. Mengenakan kaos polo itu dia nampak gagah. Sebuah mic diberikan kepadanya.Pria ini mendekat bahkan berdiri di samping Arumi.Astaga... Arumi mau pingsan saja! Terlebih detak jantungnya sudah mengajaknya berlari."Arumi.." ucapnya.Arumi menutup mulutnya menahan malu, sementara semua mata penonton sekarang tertuju padanya. Belum lagi r
Di sisi lain, Paris sejak tadi mengulum senyumnya. Alvin sudah tahu rencana pernikahan mereka. Itu artinya pasti tadi Arumi sudah cerita.Rapat itu hanya bualan. Paris sengaja berbohong tak bisa menemani Arumi dan Hannan bertemu dengan Alvin. Dia ingin memberi waktu pada Arumi menyelesaikan masa lalunya. Percakapan mereka juga sudah Paris dengar. Syukurlah, hati Arumi tak goyah atas rayuan mantan suaminya."Mas masih marah padaku?" Tanya Arumi ketika Paris hanya diam di perjalanan."Untuk apa aku marah padamu?""Abisnya aku tahu kalau kamu marah soal kemarin. Sikapmu berubah, mas.." lirih Arumi. "Padahal maksudku nggak ingin merepotkanmu aja.. aku takut menjadi beban untukmu padahal kamu bisa mendapatkan wanita baik selain aku.""Kamu mulai lagi.." gumam Paris menggelengkan kepalanya. Daripada meladeni Arumi lebih baik dia diam saja.Sesampainya di rumah, Arumi dan Hannan turun lebih dulu dan Paris menyusul."M
Ah, sudah berapa lama ini. Mungkin dua bulan semenjak Arumi pergi tanpa kabar. Sudah kemana-mana Paris mencarinya, bahkan meminta bantuan ayahnya, Wirawan. Tapi batang hidung Arumi masih tak kelihatan. Sial! Paris jadi menyesal. Harusnya Paris m
"Kamu mencari pak Paris? Mau apa? Ah.. kamu pasti ingin melamar pekerjaan disini, kan? Kebetulan sekali kalau kami memang membutuhkan cleaning service. Kamu bisa melamar disini." Mata Arumi memerah karena mendengar ucapan Raisa barusan. Bukan karena perkataannya tapi lebih pada tat
Arumi dilewati begitu saja oleh rombongan yang akan menghantarkan Alvin ke kehidupan barunya. Sebelum Alvin mencapai pintu mobil, pria ini menoleh sekilas dan menatap Arumi.Kedua mata itu saling bertemu, Arumi yang begitu berharap seakan ingin mengatakan sesuatu membuat langkah Alvin berhenti."Bi
Bergegas Alvin pergi ke ruang NICU yang berada di lantai 2 rumah sakit ini. Sesampainya disana, ia hanya bisa melihat bayi-bayi yang tertidur di inkubator. Alvin pun sampai mencari yang mana buah hatinya. "Orang tua dari siapa, pak?" Tanya perawat yang hendak masuk ke ruangan







