LOGINDi tengah-tengah kota klasik dan megah, di sana lah mereka. Suasanya sejuk, sepi, dan tidak berpolusi sangat lah nyaman untuk disinggahi.
“Jika kau ingin ke tempat lain, jangan sungkan memberitahuku. Atau kau ingin ke perusahaanku?” Tawar Keeiko yang memandang Myli. “Sederhana saja, aku tidak terlalu suka keramaian. Mungkin… di waktu lain saja ke tempatmu.” “Saat itu kita sudah menjadi suami– istri. Tentu saja kau wajib ikut untuk menemani dan mendampingiku, kalau kau mau tapi…” Balasan pria itu sukses membuat jantung Myli dipenuhi lampu disko, alias ajep-ajep dan jedag-jedug terpesona. Perempuan mana yang kuat mendengar kalimat manisnya. Bukankah itu sekaligus jebakan? “Ada saatnya aku mau dan tidak, tergantung suasana hati.” Begitu jawab Myli. Ya sebagai wanita, mood itu mudah sekali berubah-ubah di setiap menitnya. “Biar kau tidak hilang.” Keeiko lagi dan lagi menatapnya intens. Sangat tidak baik untung jantungnya. Dilihat lah tangannya, digenggam erat oleh Keeiko. “KAKAK AWASSSSS, KAKAKK!!!” Teriak dua anak laki-laki dari arah taman dan kelima temannya kabur dari sana. Ada bola melambung tinggi ke arah mereka. Dengan sigap Keeiko merapatkan tubuhnya, kedua tangannya melindungi kepala Myli dan mendekatkannya ke dada. Ia tangkis kuat-kuat bola itu. Myli mendadak kaku, entah karena aroma pria itu atau karena kedekatan mereka yang tanpa jarak itu. Hingga tidak mendengar kata permintaan bola dari salah satu anak itu. Dasar! “Bocil zaman sekarang rata-rata nakal sekali.” Ujar Keeiko. Dia begitu karena pernah merasakannya, diumpati oleh bocah ketika sedang minum di dalam mobilnya, tepat saat lampu merah. Keeiko tersenyum kecil pada Myli, “untungnya bukan dirimu yang terluka…” Myli sekarang paham mengapa Ibunya begitu memaksa dirinya untuk menerima Keeiko, dulu. Sikapnya begitu hangat, perhatian, nadanya selalu halus dalam berbicara. “Aku harap anak kita nanti tahu caranya meminta maaf dan berterima kasih…” “Eh? A-anak?” Keeiko menekankan ucapan, “kita akan membuatnya nanti.” •••• Rasa lelah dan energi habis yang ia rasakan sesampainya di rumah. Kemudian Myli mengejutkan Ibunya dari belakang dengan bawaannya tadi. Reimma menunduk, menatap benda-benda itu, lalu tatapannya berpusat ke arah Myli. “Apa itu? Kau yang membelinya sendiri?” Ah, tidak mungkin. Punya uang saja tidak, dirinya juga jarang sekali memberinya uang. Paling 2 atau 3 bulan sekali, itupun sebesar 20ribu. Myli mengangkat kedua bahunya untuk menjawabnya. Ia biarkan Ibunya berasumsi sendiri, orang tua kan selalu mencurigai anaknya. Seketika matanya membelalak sangat lebar, sesudah membuka box persegi panjang dari tas hologram itu. Reimma letakkan sebentar di sebelahnya dan ia pukuli anaknya. “APAKAH KAU MENCURI? LIHAT, INI ADA SURATNYA JUGA YANG MENYATAKAN BAHWA INI ASLI.” Ibunya mengambil kertas yang ukurannya tebal dan kaku, tertulis jelas jika set perhiasan dan heels di dalamnya 100% asli berlian. “Ini sangat mahal sekali Myli… sekarang katakan, kau dapat darimana?! Jangan bilang kau melakukan pencurian di tokonya? Astaga Myli… Ibu sudah bilang jangan pernah melakukan hal menjijikkan itu walaupun kita sangat-sangat kesusahan. Dan kau membawa banyak sekali makanan bermerk dan mahal. Kau ini habis darimana sebenarnya.” Reimma sampai meraup wajahnya sendiri, pikiran negatif-negatif saling bersahutan dan muncul memenuhi kepalanya. “Ibu, hentikan… dengarkan aku terlebih dahulu.” Myli mengambil napas banyak-banyak. Menguatkan hatinya untuk mengungkapkan semuanga pada sang Ibu. Tidak mudah untuknya berkata langsung seperti ini. Banyak keraguan yang menggerogoti dirinya namun keputusan itu sudah terjadi dan sudah bulat. Maka tidak ada kata atau tindakan untuk mundur apalagi membatalkannya. Semuanya sudah terputuskan hari ini dengan persetujuannya dan pria itu. “Ibu. Semua yang ku bawa, semuanya adalah pemberian dari Keeiko. Kau mengenalnya bukan? Dan… dan aku…” Myli berhenti sebentar, menetralkan jantungnya. “Keeiko?” Reimma mengernyitkan dahinya. Tumben sekali menitipkannya pada Myli dan juga tumben sekali anaknya mau menerimanya. “Dan kau kenapa? Mengapa berbicaramu setengah-setengah begitu?” “Aku menerima lamarannya dan kami akan menikah.” Kata Myli. Selayaknya tubuh yang ditaruh di tengah-tengah salju tanpa jaket. Reimma dibuat membeku dan tidak percaya dengan ungkapannya itu. “Kau jangan membohongiku!!!” “Tidak, Ibu…” “Apakah aku bermimpi dan salah mendengar?” Reimma menampar dan mencubiti tangannya sendiri. “Sudah lah hentikan itu Ibu. Aku benar-benar serius.” Myli yang sudah lelah itupun menarik tangan Ibunya agar berhenti menyakiti dirinya. “Perbuatan baik apa yang telah ku lakukan sampai-sampai akan memiliki menantu mapan dan dewasa seperti Keeiko.” Ucapnya yang kegirangan itu. Ia ciumi seluruh permukaan wajah anaknya itu dan tidak lupa berkata, “terima kasih. Aku benar-benar bahagia karena keputusanmu itu.” “Kau berlebihan Ibu, aku hanya menerimanya tapi kau sangat bangga sekali.” “Bagaimana tidak, aku sangat bahagia karena anakku akan memiliki masa depan yang cerah di tangan lelaki yang tepat. Itu membuatku sangat lega dan tidak berat apalagi khawatir menyerahkanmu padanya. Hatiku akan hancur jika kau memilih pasangan yang buruk, aku telah membesarkanmu dengan keringat dan uangku sendiri. Hati Ibu mana yang tidak akan sakit melihat anaknya disakiti nantinya?” Reimma yang lebih berpengalaman dengan kehidupan pahit dan manis. Juga gagalnya pernikahan pertamanya membuatnya takut, takut apabila Myli mengalaminya juga. Itu sangat menyakitkan, biarkan dirinya saja yang merasakannya. Anaknya jangan. Jadi, Ayahnya yang sekarang adalah Ayah sambung Myli dan pria itu sedang berada di Kota lain di rumah saudaranya. Darah Myli rasanya berhenti berdesir. Perkataan Ibunya itu sangat membuatnya tersentuh hingga terdengar begitu menyedihkan. Tapi apakah benar bahwa masa depannya akan cerah? “Jadi kapan pernikahannya akan dilaksakan?” Tanyanya, dirinya sudah tidak sabar. Myli menggeleng, “besok dia dan keluarganya akan datang ke sini untuk membahasnya.” “APAAAA? MENGAPA MENDADAK SEKALI.”Ini lah yang tidak disukai Myli, belum cerita sampai habis tapi sudah ingin menangis duluan. Dia menangis karena tidak menyangka mampu bertahan bertahun-tahun hingga sekarang. Tidak bund1r di saat sedang setres sudah pencapaian yang luar biasa. Keeiko menangkap inti ceritanya, tentang pembullyan di masa lalu dan Sereya salah satu pelakunya. “Tidak apa-apa. Jangan dilanjutkan kalau tidak kuat cerita. Omong-omong kejadian yang kau alami tidak lah alay. Stop berbicara jika itu hanya biasa saja yang tidak perlu dibesar-besarkan.” Keeiko langsung menarik Myli ke dekapannya. Gadis itu kekeuh ingin cerita tapi selalu mengatakan jika takut dicap lebay dan biasa saja. Entah ini termasuk dari ucapan Ibunya juga yang selalu menyuruhnya diam dan jangan menangis kalau sedang sakit hati. Jika ketahuan langsung kena amarah berjam-jam. Akibatnya anak tidak bisa meluapkan apa yang sedang dirasakannya. Dipendam hingga menjadi setres berkepanjangan dan sulit mengontrol emosi dalam diri. “Kalau it
“Kau kurang gerak cepat! Kalah sekali dengan perempuan badan kecil. Padahal kau lebih tinggi dan jalan mu lebih cepat darinya. Memang kau itu tidak becus!!” Sereya memukul pahanya dengan kesal. Olla berdiri dengan ekspresi yang sengaja dijelek-jelekkan. Lebih tepatnya mengejek kakaknya. Halah! Banyak komen dan modal protes. Sereya mendatangi apartement adiknya untuk mengetahui hasilnya. Zonk dan memancing amarahnya. “Semua di luar prediksi aku. Daripada kena mending aku pergi. Kau ini berbicara seakan tidak ada hari lain atau besok, agar rencana lain terealisasikan.” Kata Olla memutar bola matanya. Situ enak tinggal berbicara dan memerintahkan. Tanpa ikut ada di sisinya, jadinya tidak tahu bagaimana suasananya. “Aku tidak mau tahu! Intinya aku ingin hubungan mereka retak.” Sereya duduk di kasur dengan kasar serta anaknya yang ada di gendongannya. “Pikirkan cara lain kalau begitu. Kau kan yang punya masalah dengan mereka. Kalau aku sih santai saja dan terima jadinya.” Mendengar
Setelah Myli masuk, Olla mengumpat kasar dan terpaksa pergi. Tinggal sedikit lagi loh. Oh my... ada saja cobaannya.Myli melempar bantal itu dengan sembarangan. “Keeiko, ada apa?” Dia duduk di samping laki-laki itu yang kini memejamkan matanya dan Myli mengikuti arah posisi tangan Keeiko... Waduh lumayan ++ ya pemirsa. Tidak biasanya. Tebakannya ada sesuatu yang tidak beres hingga kelakukannya yang soft positif jadi melenceng begini. Bukan jawaban yang diberikan pria itu. Saat matanya terbuka, dia langsung menempel pada Istrinya. Dimabuk cinta kah...?Myli bergidik merinding merasakan tangan Keeiko bermain-main di lehernya. Tapi juga membiarkannya. Penting bukan dilakukan ke orang lain. “Tadi kau mengajak ku pulang sekarang malah begini. Jadi atau tidak?” Tanya Myli yang entah Keeiko masih ingat apa sudah lupa. “Aku ingin ke hotel!” Hotel yang dimaksud Keeiko adalah yang tepat di depan perusahaannya. Tinggal menyebrang saja dengan mobil yang terparkir di sini. Anti ribet dan re
Benar saja sesuai dugaannya. Di saat dirinya tenang dan biasa saja. Justru yang heboh adalah seisi kantor. Lebih tepatnya khawatir akan ada pertengkaran besar yang menghambat pekerjaan mereka. “Oh itu ya Istri Pak Keeiko. Aku baru tahu, karena memang tidak diundang!” Tatapannya pun tertuju padanya. “Sstt, jangan keras-keras. Aku kan juga sudah bilang jangan menoleh. Kapok deh aku memberitahumu.” Temannya merasa malu. Derita punya teman yang blak-blakan dan suka nyeplos tanpa mau tahu kondisi ataupun perasaan orang. “Untung ya tidak ada drama Indosiar. Karena aku muak dengan film itu. Membosankan.” “Sudah! Kau mending diam saja.” Myli sudah setengah perjalanan menuju ke Olive. Karena mendapatkan tatapan tidak biasa dari banyaknya orang ditambah Keeiko yang kembali ke ruang meeting. Menjadikan Myli goyah. Dia pun memutuskan kembali ke ruangan Keeiko. Sesampainya di sana ia langsung menutup pintunya. Tidak ada yang boleh melihatnya. Myli gelisah dan tubuhnya mendadak panas dingin.
Berbanding terbalik dengan sikapnya yang tadi arogan. Mereka berdua saat ini justru berdiri terdiam dan tidak berdaya. Keeiko berjalan ke sana ke mari di sekitaran mereka. Begitu Keeiko hadir, seakan bagai penampakkan bagi keduanya. Menyeramkan sekaligus mengagetkan. “Sudah merasa bangga menghina dan memarah-marahi Istri ku?” Keeiko marah. “Siapa yang menyuruh kalian menginjakkan kaki di ruangan ku?” Matanya tertuju pada mereka yang menunduk. “Jangan masuk kalau belum atau tidak dipersilakan. Itu yang namanya etika.” Myli bernapas normal, ternyata pemikirannya salah. “Aku kira kau pergi meninggalkan ku karena puas melihat ku diserang mereka.” Ucapnya pada Olive. Mereka memilih menjauh dan berdiri di depan pintu. “Negatif sekali pemikiran mu terhadap ku. Astaga aku tersinggung...” Balasnya mendramatis. Dia tidak bersungguh-sungguh dan Myli paham jika itu candaan semata. “Kau tersenyum misterius.” Olive tertawa kecil. Disalah artikan atas senyumnya. “Karena aku yakin. Kalau a
Sebenarnya bukan hanya sekedar bosan dan mengantuk. Tapi matanya memanas dan kepalanya mendidih jika menatap perempuan itu. Dirinya tidak akan pernah lupa sampai kapanpun. Jadi… penglihatannya tidak salah. Wanita itu yang bersama Hexa kapan lalu. Sekarang ia sedang menunggu Olive. Perempuan yang sudah disuruhnya ke sini. “Tidak ku sangka kau selangkah lebih maju dari ku. Oh atau mungkin sudah dua atau tiga langkah?” “Bagaimana kalau kau enyah saja? Bukan kah aku yang akan menang?” Mendengar suara yang Myli dengar dia pun mendongak ke arah pintu. “Adab lebih penting daripada ilmu. Kau dilarang menginjakkan kaki di sini tanpa seizin ku.” Balas Myli sinis. Tidak, tidak. Ia hanya mewakili Keeiko. Ini kan ruangan pribadi laki-laki itu. “Aku tidak butuh izin mu untuk melakukan apapun. Semuanya terserah aku dan aku tidak suka diatur...” Ujarnya. Sereya langsung mencontohkannya dengan duduk di kursi single milik Keeiko. Hell! Apa-apaan ini? Myli saja duduk di sofa loh.Apa itu aturan?







