Masuk
Suara itu memecah kesunyian ruangan seperti petir yang jatuh tanpa peringatan. Tubuhku tersentak di kursi dingin, nafasku tercekat dan dadaku terasa sesak sekali. Pergelangan tanganku terikat kuat hingga kulitku perih dan berdenyut. Lampu di ruangan ini temaram membuat bayangan di dinding bergerak seolah hidup. Aku mencium aroma logam dan dingin yang membuat perutku mual. Pria di hadapanku berdiri terlalu dekat sehingga aku bisa merasakan nafasnya.
“KATAKAN!” perintahnya. Aku menelan ludah dengan susah payah, lidahku terasa kelu dan kaku. Jantungku berdetak terlalu kencang sampai telingaku berdengung. Mataku perlahan naik menatap wajah pria itu yang keras dan tak berperasaan. Iris matanya berwarna madu, namun dinginnya menusuk sampai ke tulang. Ku akui, fitur wajahnya memang salah satu deretan pria tampan yang pernah aku temui. Sepertinya, pria ini tidak terbiasa ditolak. “Aku tidak tahu apa apa,” jawabku pelan. Dia tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menenangkan. Rahangnya mengeras, menandakan kesabarannya menipis. Tangannya terlipat di dada, memperlihatkan tubuh tinggi dan kokoh yang membuatku semakin terintimidasi. Ruangan ini terasa semakin sempit karena keberadaannya. Aku ingin menarik tubuhku menjauh, tapi kursi ini menahanku. Setiap detik berlalu terasa seperti hukuman yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. “Kamu yakin dengan jawabanmu?” tanyanya. Aku mengangguk kecil, meski ketakutan membuat kepalaku berdenyut. Sejak pagi hidupku berubah menjadi mimpi buruk yang tidak pernah kubayangkan. Aku hanya pergi ke kampus dengan niat mengikuti kelas seperti biasa. Lalu tangan asing menarikku, mulutku dibekap, dan dunia menjadi gelap. Kini aku terikat di sini, di depan pria entah berantah dari mana. Bahkan, ia tahu namaku. Dia beberapa kali memanggilku seolah kita telah bertemu di hari yang telah lalu. Tidak ada satupun yang terasa nyata. Namun, kebenarannya aku di sini sedang bertaruh pada ujung nyawaku. “Aku sungguh tidak tahu,” ulangku. Pria itu mendengus pelan dan meraih ponsel dari saku celananya. Jarinya bergerak cepat di layar sebelum mengangkatnya sejajar dengan wajahku. Cahaya layar menyilaukan mataku yang masih basah oleh air mata. Detik berikutnya, sebuah video mulai diputar. Aku langsung mengenali tempat itu bahkan sebelum suara muncul. Nafasku terhenti seketika. “Itu panti asuhan,” bisikku panik. Di layar, adik-adikku di panti sedang duduk di ruang tamu sambil belajar. Ibu Rahmi, ibu panti berdiri di dekat pintu dengan wajah lelah namun lembut. Wajah yang selama hidupku memberikan kasih dan sayang tulus. Kamera kemudian bergeser memperlihatkan seorang pria bersenjata berdiri tak jauh dari mereka. Dunia seakan runtuh tepat di atas kepalaku. Tangan terikat ku bergetar hebat. Air mataku jatuh tanpa bisa dicegah. “Kamu kenal mereka, bukan?” katanya datar. Tentu, mereka keluargaku. Rumah tempatku dibesarkan. Bagaimana aku tidak mengenalnya. “Aku mohon,” suaraku pecah. “Jangan lakukan apapun pada mereka.” Pria itu menurunkan ponselnya perlahan dan menatapku dengan ekspresi dingin. Tidak ada rasa kasihan di sana, hanya kontrol penuh atas situasi. Aku menyadari satu hal, betapa kecil dan tidak berdayanya diriku saat ini. Nafasku seakan sulit untuk berhembus, dadaku terasa sesak seperti diremas. Mereka adalah keluargaku satu satunya di dunia ini. Jika mereka disakiti, aku tidak tahu bagaimana harus hidup. “Satu perintah dariku,” ucapnya tenang, “semuanya berakhir.” Aku menggeleng keras, air mata membasahi pipiku. Ketakutan menguasai seluruh tubuhku sampai aku gemetar. Aku ingin berteriak, tapi suaraku nyaris tidak keluar. Semua keberanian yang kupunya runtuh seketika. Aku tidak pernah merasa setakut ini seumur hidupku. “Jangan,” pintaku. “Tolong jangan.” Dia melangkah lebih dekat hingga wajahnya hanya berjarak sejengkal dariku. Aku bisa melihat garis halus di sekitar matanya dan ketegangan di rahangnya. Tangannya bertumpu di sandaran kursiku, menjebakku tanpa jalan keluar. Suaranya merendah, namun justru setingkat terasa lebih menakutkan. Aku terperangkap sepenuhnya. “Kalau begitu,” bisiknya, “katakan yang aku mau.” Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menguatkan diri. Nama itu terngiang di kepalaku, membawa serta semua masalah yang menjeratku. Aku tidak pernah menyangka persahabatan bisa menyeretku sejauh ini. Lidahku terasa berat untuk bergerak. Tapi aku tahu, diam bukan lagi pilihan. “Apa yang kamu sembunyikan tentang sahabatmu, Bela?” tanyanya. Aku membuka mata dan menatapnya dengan putus asa nafasku keluar terbata. Aku ingin melindungi sahabatku, akan tetapi tidak dengan mengorbankan keluargaku. Pilihan itu terlalu kejam untuk diberikan padaku. Dadaku terasa sakit menahan konflik yang menghancurkan. Aku tahu, setelah ini tidak akan ada jalan kembali. “Panggil aku Brian,” katanya tiba tiba. “Bukan tuan.” Sebelumnya, aku memanggilnya dengan sebutan itu. Tentu, dia terlihat bukan seperti teman sebayaku. Tidak sama sekali. Bahkan, sepertinya dia lebih cocok dipanggil om. “Baik,” jawabku lirih. “Brian.” Dia mengangguk pelan, matanya mengawasi setiap reaksiku. Tekanan di ruangan ini semakin mencekik. Aku merasa seperti berada di ujung jurang tanpa pegangan. Kata kata berikutnya terasa seperti mengiris tenggorokanku sendiri. Namun, aku tidak punya pilihan lain lagi. “Sekarang bicara!” perintahnya. “Bela tidak hamil,” ucapku akhirnya. Keheningan langsung menyelimuti ruangan. Brian menatapku tanpa berkedip, seolah menimbang kebenaran ucapanku. Jantungku berdetak liar menunggu reaksinya. Aku merasa telanjang di bawah tatapannya. Setiap detik terasa sungguh menyiksa dengan kejam. Aku sudah terlanjur melangkah terlalu jauh. “Kamu yakin?” tanyanya dingin. “Aku yakin,” jawabku. “Aku yang mengedit hasil medisnya.” Brian tersenyum tipis, senyum yang membuat bulu kudukku berdiri. Tatapannya tidak lagi sekadar marah, melainkan tertarik dengan cara yang menakutkan. Aku menyesal telah membuka rahasia itu, tapi semuanya sudah terlambat. Aku bisa merasakan hidupku berubah arah dalam sekejap. Pria ini tidak akan melepaskanku begitu saja. Dan firasatku mengatakan, ini baru permulaan. Kata katanya masih menggema di kepalaku saat aku didorong berdiri dari kursi. Kakiku terasa lemas hingga aku hampir terjatuh jika tidak ditahan oleh tangan kasar di lenganku. Pergelangan tanganku masih terikat, membuat setiap gerakan terasa menyakitkan. Ruangan ini tidak lagi terasa seperti tempat interogasi, melainkan penjara. Aku menatap Brian dengan dada berdebar, mencoba mencari celah dari sikap tenangnya. Namun wajah itu tetap datar, seolah semua yang terjadi bukan apa apa baginya. “Apa yang akan kamu lakukan padaku sekarang?” tanyaku dengan suara bergetar. Brian menatapku singkat sebelum mengalihkan pandangan ke ponselnya. Jarinya bergerak cepat, lalu ia menempelkan benda itu ke telinganya. Sikapnya terlalu santai untuk seseorang yang sedang mengendalikan hidup orang lain. Aku berdiri terpaku, menunggu dengan perasaan tidak menentu. Setiap detik berlalu terasa seperti hukuman yang diperpanjang. Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, ketakutan atau ketidakpastian ini. “Batalkan semuanya,” ucap Brian singkat ke arah ponsel. Ia memutus sambungan dan kembali menatapku. Tatapannya kini sulit kuterjemahkan, tidak sepenuhnya dingin namun juga tidak hangat. Aku mencoba membaca maksud di balik sorot matanya, tapi gagal. Pria ini seperti dinding tertutup yang tidak bisa kutembus. Aku menahan napas, menunggu kalimat berikutnya. Jantungku berdetak semakin cepat. “Mereka aman,” katanya akhirnya. “Apa?” aku tersentak. “Ibu panti dan adikku di panti itu?” Brian mengangguk pelan. Untuk sesaat, beban berat di dadaku sedikit terangkat. Nafasku terlepas begitu saja, diikuti air mata yang mengalir tanpa bisa kutahan. Lututku hampir menyerah, membuat tubuhku limbung. Rasa lega itu begitu kuat sampai membuatku hampir lupa pada keadaanku sendiri. Namun kesadaran itu kembali menghantamku dengan cepat. “Terima kasih,” ucapku lirih. “Tapi jangan salah paham,” lanjut Brian tenang. “Itu tidak berarti kamu bebas.” “Kamu gadis yang menarik,” katanya. “Dan sekarang, kamu milikku.” Detik ini juga duniaku terasa hancur seketika.Selanjutnya, POV author Di tempat lain, suasana mencekam di sebuah keluarga yang sangat kacau. Ruangan seakan ikut membeku tergerus aura kemarahan yang dahsyat. “Kamu benar-benar membuat malu keluarga, Bela!” Suara ayah Bela terdengar dingin dan menghantam. Bela duduk menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. Pernikahannya dibatalkan secara brutal di depan banyak orang. Rahasia yang ia jaga mati-matian kini terbuka telanjang di hadapan para tamu undangan. “Tapi aku mencintai dia, Pa,” katanya terisak. Plak. Tamparan keras menggema di ruangan itu. Bela terjerembap dalam tangis, sementara ibunya segera memeluknya panik. “Sudah, Pa!” seru sang ibu. Namun kemarahan itu tak surut. Wajah sang ayah merah padam, harga dirinya hancur. Ia bukan pria biasa. Ia seorang walikota, calon gubernur, dan skandal ini tentu bisa menghancurkan segalanya. Berita secara daring menyebar dalam sekejap. Dering telepon dan laporan dari ajudannya terus datang. “Kamu tahu apa akibatnya?” bent
Tidak ada jawaban. Hanya kecepatan yang bertambah. Jalanan terasa panjang dan mencekam. Aku tahu, aku dibawa kembali. Kembali ke rumah itu. Kembali ke pria itu. Brian berdiri di ruang tengah ketika aku diseret masuk. Tatapannya tajam, wajahnya keras, dan rahangnya mengeras menahan amarah. Saat matanya menangkap tubuhku yang lemas, sudut bibirnya terangkat dingin. “Kamu berani kabur,” katanya pelan. Aku jatuh berlutut, tubuhku sangat lemah, di mana kekuatanku biasanya? “Aku hanya ingin pulang,” ucapku lirih. Brian melangkah mendekat. Sepatunya berhenti tepat di hadapanku. Ia menunduk, mencengkeram daguku, memaksaku menatap wajahnya. “Aku sudah bilang,” bisiknya. “Aku tidak suka ditentang.” Nafasnya hangat di wajahku. Aku menggigil, bukan karena dingin, tetapi karena ancaman nyata dalam suaranya. Matanya menyapu wajahku perlahan, seolah menilai, seolah memutuskan sesuatu yang tak bisa kutolak. “Kali ini,” lanjutnya. “Kamu tidak akan kabur lagi.” Tangannya melepas daguk
Mataku membelalak, wajahku memanas. Kata itu terdengar begitu kasar di telingaku. Aku tidak menyangka ia akan bertanya sejauh itu. Aku ingin menamparnya, tetapi tubuhku terlalu lemah. Bagaimana bisa seorang laki-laki bertanya demikian. Dasar mesum! “Itu bukan urusanmu,” jawabku. Dia tertawa kecil lagi. Bahkan, ia tidak merasa bersalah membuatku kesal. “Biasanya gadis sepertimu yang paling cerewet,” katanya. “Dan paling rapuh.” sambungnya. Aku menggeleng keras. Benar-benar di luar prediksi. Pria macam apa dia. Apakah dia terbiasa bertanya hal yang tabu itu pada semua wanita? Jika iya, bukankah dia tergolong laki-laki predator? Pemangsa gadis di luar sana. Menjijikan! “Kita tidak boleh satu kamar,” ucapku cepat. “Kita bukan muhrim.” Dia mengamati wajahku dengan ekspresi sulit ditebak. Sejenak aku berharap kata kataku menyentuh sisi kemanusiaannya. Namun harapan itu runtuh saat ia melangkah lebih dekat. “Kalau menikah, bisa ya satu kamar?” tanyanya ringan. Aku terdiam, k
Janice tampak ragu sejenak sebelum menjawab. Ia menatapku dengan mata penuh keyakinan, seakan benar benar percaya pada pria itu. Keyakinan itu membuatku muak. Tidak ada yang bisa membenarkan apa yang telah Brian lakukan padaku. Penculikan, intimidasi, dan teror bukanlah perlindungan. “Nona sangat beruntung,” ucap Janice. “Tuan tidak sembarang mau melindungi.” “Disekap seperti ini disebut beruntung?” sahutku. Janice tidak membalas, hanya tersenyum kecil lalu pamit keluar. Pintu tertutup kembali, meninggalkanku sendirian. Aku menatap nampan sarapan itu cukup lama. Sejak kemarin aku tidak makan apa pun, tetapi rasa ingin hidup bebas jauh lebih kuat dari rasa lapar. Aku tidak boleh pasrah. Aku harus pergi dari sini. “Aku harus pergi,” gumamku. Aku berdiri dan membuka tirai jendela perlahan. Pandanganku langsung tertuju ke kolam renang di bawah. Dan di sanalah dia, Brian. Duduk santai di tepi kolam, tubuhnya basah, rambutnya meneteskan air. Hanya mengenakan kaus tipis dan celana
Aku menatapnya tajam, perasaan lega tadi langsung runtuh begitu saja. Jantungku kembali berdegup kencang dengan irama tidak beraturan. Harapan kecil yang sempat tumbuh langsung dipatahkan tanpa ampun. Aku menggigit bibirku, mencoba menahan emosi yang kembali naik. Pria ini memang tidak pernah berniat melepaskanku. “Apa lagi yang kamu inginkan?” tanyaku putus asa. Brian melangkah mendekat, membuat jarak di antara kami kembali menipis. Aku bisa merasakan auranya menekan, membuatku refleks menarik bahu. Tatapannya turun sesaat ke wajahku sebelum kembali mengunci mataku. Ada sesuatu di sana, campuran kontrol dan ketertarikan yang membuatku tidak nyaman. Aku merasa seperti sedang dipelajari. Perasaan itu membuat kulitku merinding. “Aku akan melindungimu,” katanya. Melindungi katanya? Bahkan dia menculik aku. Bagaimana dia melundungiku? Kalimat itu diucapkan seakan aku anak balita. “Melindungi dari apa?” tanyaku cepat. “Dari Bela,” jawabnya singkat. “Dan dari dirimu sendiri.”
Suara itu memecah kesunyian ruangan seperti petir yang jatuh tanpa peringatan. Tubuhku tersentak di kursi dingin, nafasku tercekat dan dadaku terasa sesak sekali. Pergelangan tanganku terikat kuat hingga kulitku perih dan berdenyut. Lampu di ruangan ini temaram membuat bayangan di dinding bergerak seolah hidup. Aku mencium aroma logam dan dingin yang membuat perutku mual. Pria di hadapanku berdiri terlalu dekat sehingga aku bisa merasakan nafasnya. “KATAKAN!” perintahnya. Aku menelan ludah dengan susah payah, lidahku terasa kelu dan kaku. Jantungku berdetak terlalu kencang sampai telingaku berdengung. Mataku perlahan naik menatap wajah pria itu yang keras dan tak berperasaan. Iris matanya berwarna madu, namun dinginnya menusuk sampai ke tulang. Ku akui, fitur wajahnya memang salah satu deretan pria tampan yang pernah aku temui. Sepertinya, pria ini tidak terbiasa ditolak. “Aku tidak tahu apa apa,” jawabku pelan. Dia tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menenangkan. R







