Beranda / Romansa / Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya / 1. Rahasia yang Membuatku Terikat

Share

Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya
Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya
Penulis: QM

1. Rahasia yang Membuatku Terikat

Penulis: QM
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 20:04:16

Suara itu memecah kesunyian ruangan seperti petir yang jatuh tanpa peringatan. Tubuhku tersentak di kursi dingin, nafasku tercekat dan dadaku terasa sesak sekali. Pergelangan tanganku terikat kuat hingga kulitku perih dan berdenyut. Lampu di ruangan ini temaram membuat bayangan di dinding bergerak seolah hidup. Aku mencium aroma logam dan dingin yang membuat perutku mual. Pria di hadapanku berdiri terlalu dekat sehingga aku bisa merasakan nafasnya.

“KATAKAN!” perintahnya.

Aku menelan ludah dengan susah payah, lidahku terasa kelu dan kaku. Jantungku berdetak terlalu kencang sampai telingaku berdengung. Mataku perlahan naik menatap wajah pria itu yang keras dan tak berperasaan. Iris matanya berwarna madu, namun dinginnya menusuk sampai ke tulang. Ku akui, fitur wajahnya memang salah satu deretan pria tampan yang pernah aku temui. Sepertinya, pria ini tidak terbiasa ditolak.

“Aku tidak tahu apa apa,” jawabku pelan.

Dia tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menenangkan. Rahangnya mengeras, menandakan kesabarannya menipis. Tangannya terlipat di dada, memperlihatkan tubuh tinggi dan kokoh yang membuatku semakin terintimidasi. Ruangan ini terasa semakin sempit karena keberadaannya. Aku ingin menarik tubuhku menjauh, tapi kursi ini menahanku. Setiap detik berlalu terasa seperti hukuman yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

“Kamu yakin dengan jawabanmu?” tanyanya.

Aku mengangguk kecil, meski ketakutan membuat kepalaku berdenyut. Sejak pagi hidupku berubah menjadi mimpi buruk yang tidak pernah kubayangkan. Aku hanya pergi ke kampus dengan niat mengikuti kelas seperti biasa. Lalu tangan asing menarikku, mulutku dibekap, dan dunia menjadi gelap. Kini aku terikat di sini, di depan pria entah berantah dari mana. Bahkan, ia tahu namaku. Dia beberapa kali memanggilku seolah kita telah bertemu di hari yang telah lalu. Tidak ada satupun yang terasa nyata. Namun, kebenarannya aku di sini sedang bertaruh pada ujung nyawaku.

“Aku sungguh tidak tahu,” ulangku.

Pria itu mendengus pelan dan meraih ponsel dari saku celananya. Jarinya bergerak cepat di layar sebelum mengangkatnya sejajar dengan wajahku. Cahaya layar menyilaukan mataku yang masih basah oleh air mata. Detik berikutnya, sebuah video mulai diputar. Aku langsung mengenali tempat itu bahkan sebelum suara muncul. Nafasku terhenti seketika.

“Itu panti asuhan,” bisikku panik.

Di layar, adik-adikku di panti sedang duduk di ruang tamu sambil belajar. Ibu Rahmi, ibu panti berdiri di dekat pintu dengan wajah lelah namun lembut. Wajah yang selama hidupku memberikan kasih dan sayang tulus. Kamera kemudian bergeser memperlihatkan seorang pria bersenjata berdiri tak jauh dari mereka. Dunia seakan runtuh tepat di atas kepalaku. Tangan terikat ku bergetar hebat. Air mataku jatuh tanpa bisa dicegah.

“Kamu kenal mereka, bukan?” katanya datar.

Tentu, mereka keluargaku. Rumah tempatku dibesarkan. Bagaimana aku tidak mengenalnya.

“Aku mohon,” suaraku pecah. “Jangan lakukan apapun pada mereka.”

Pria itu menurunkan ponselnya perlahan dan menatapku dengan ekspresi dingin. Tidak ada rasa kasihan di sana, hanya kontrol penuh atas situasi. Aku menyadari satu hal, betapa kecil dan tidak berdayanya diriku saat ini. Nafasku seakan sulit untuk berhembus, dadaku terasa sesak seperti diremas. Mereka adalah keluargaku satu satunya di dunia ini. Jika mereka disakiti, aku tidak tahu bagaimana harus hidup.

“Satu perintah dariku,” ucapnya tenang, “semuanya berakhir.”

Aku menggeleng keras, air mata membasahi pipiku. Ketakutan menguasai seluruh tubuhku sampai aku gemetar. Aku ingin berteriak, tapi suaraku nyaris tidak keluar. Semua keberanian yang kupunya runtuh seketika. Aku tidak pernah merasa setakut ini seumur hidupku.

“Jangan,” pintaku. “Tolong jangan.”

Dia melangkah lebih dekat hingga wajahnya hanya berjarak sejengkal dariku. Aku bisa melihat garis halus di sekitar matanya dan ketegangan di rahangnya. Tangannya bertumpu di sandaran kursiku, menjebakku tanpa jalan keluar. Suaranya merendah, namun justru setingkat terasa lebih menakutkan. Aku terperangkap sepenuhnya.

“Kalau begitu,” bisiknya, “katakan yang aku mau.”

Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menguatkan diri. Nama itu terngiang di kepalaku, membawa serta semua masalah yang menjeratku. Aku tidak pernah menyangka persahabatan bisa menyeretku sejauh ini. Lidahku terasa berat untuk bergerak. Tapi aku tahu, diam bukan lagi pilihan.

“Apa yang kamu sembunyikan tentang sahabatmu, Bela?” tanyanya.

Aku membuka mata dan menatapnya dengan putus asa nafasku keluar terbata. Aku ingin melindungi sahabatku, akan tetapi tidak dengan mengorbankan keluargaku. Pilihan itu terlalu kejam untuk diberikan padaku. Dadaku terasa sakit menahan konflik yang menghancurkan. Aku tahu, setelah ini tidak akan ada jalan kembali.

“Panggil aku Brian,” katanya tiba tiba. “Bukan tuan.”

Sebelumnya, aku memanggilnya dengan sebutan itu. Tentu, dia terlihat bukan seperti teman sebayaku. Tidak sama sekali. Bahkan, sepertinya dia lebih cocok dipanggil om.

“Baik,” jawabku lirih. “Brian.”

Dia mengangguk pelan, matanya mengawasi setiap reaksiku. Tekanan di ruangan ini semakin mencekik. Aku merasa seperti berada di ujung jurang tanpa pegangan. Kata kata berikutnya terasa seperti mengiris tenggorokanku sendiri. Namun, aku tidak punya pilihan lain lagi.

“Sekarang bicara!” perintahnya.

“Bela tidak hamil,” ucapku akhirnya.

Keheningan langsung menyelimuti ruangan. Brian menatapku tanpa berkedip, seolah menimbang kebenaran ucapanku. Jantungku berdetak liar menunggu reaksinya. Aku merasa telanjang di bawah tatapannya. Setiap detik terasa sungguh menyiksa dengan kejam. Aku sudah terlanjur melangkah terlalu jauh.

“Kamu yakin?” tanyanya dingin.

“Aku yakin,” jawabku. “Aku yang mengedit hasil medisnya.”

Brian tersenyum tipis, senyum yang membuat bulu kudukku berdiri. Tatapannya tidak lagi sekadar marah, melainkan tertarik dengan cara yang menakutkan. Aku menyesal telah membuka rahasia itu, tapi semuanya sudah terlambat. Aku bisa merasakan hidupku berubah arah dalam sekejap. Pria ini tidak akan melepaskanku begitu saja. Dan firasatku mengatakan, ini baru permulaan.

Kata katanya masih menggema di kepalaku saat aku didorong berdiri dari kursi. Kakiku terasa lemas hingga aku hampir terjatuh jika tidak ditahan oleh tangan kasar di lenganku. Pergelangan tanganku masih terikat, membuat setiap gerakan terasa menyakitkan. Ruangan ini tidak lagi terasa seperti tempat interogasi, melainkan penjara. Aku menatap Brian dengan dada berdebar, mencoba mencari celah dari sikap tenangnya. Namun wajah itu tetap datar, seolah semua yang terjadi bukan apa apa baginya.

“Apa yang akan kamu lakukan padaku sekarang?” tanyaku dengan suara bergetar.

Brian menatapku singkat sebelum mengalihkan pandangan ke ponselnya. Jarinya bergerak cepat, lalu ia menempelkan benda itu ke telinganya. Sikapnya terlalu santai untuk seseorang yang sedang mengendalikan hidup orang lain. Aku berdiri terpaku, menunggu dengan perasaan tidak menentu. Setiap detik berlalu terasa seperti hukuman yang diperpanjang. Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, ketakutan atau ketidakpastian ini.

“Batalkan semuanya,” ucap Brian singkat ke arah ponsel.

Ia memutus sambungan dan kembali menatapku. Tatapannya kini sulit kuterjemahkan, tidak sepenuhnya dingin namun juga tidak hangat. Aku mencoba membaca maksud di balik sorot matanya, tapi gagal. Pria ini seperti dinding tertutup yang tidak bisa kutembus. Aku menahan napas, menunggu kalimat berikutnya. Jantungku berdetak semakin cepat.

“Mereka aman,” katanya akhirnya.

“Apa?” aku tersentak. “Ibu panti dan adikku di panti itu?”

Brian mengangguk pelan. Untuk sesaat, beban berat di dadaku sedikit terangkat. Nafasku terlepas begitu saja, diikuti air mata yang mengalir tanpa bisa kutahan. Lututku hampir menyerah, membuat tubuhku limbung. Rasa lega itu begitu kuat sampai membuatku hampir lupa pada keadaanku sendiri. Namun kesadaran itu kembali menghantamku dengan cepat.

“Terima kasih,” ucapku lirih.

“Tapi jangan salah paham,” lanjut Brian tenang. “Itu tidak berarti kamu bebas.”

“Kamu gadis yang menarik,” katanya. “Dan sekarang, kamu milikku.”

Detik ini juga duniaku terasa hancur seketika.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   52. Kegelisahan Brian

    Angin malam yang berembus dari celah balkon membawa aroma petrichor yang tajam, sisa-sisa hujan yang membasahi aspal Jakarta. Di dalam kamar, keheningan terasa begitu padat, hanya dipecah oleh suara gesekan ritsleting koper yang ditarik pelan oleh Amaya. Wanita itu, dengan gerak-gerik yang masih sedikit kaku akibat luka jahitan yang belum pulih sempurna, tampak seolah tengah menyusun kepingan masa depan di dalam tas kecilnya. "Brian, apa baju ini terlalu tebal untuk dipakai di Tokyo nanti?" tanya Amaya lembut. Suaranya bening, membelah lamunan Brian yang tengah terpaku menatap lampu-lampu mansion yang buram oleh kabut tipis. Brian menoleh. Cahaya lampu kamar yang kekuningan jatuh di wajah Amaya, memberikan rona yang begitu hangat, sebuah pemandangan yang kontras dengan dinginnya pikiran yang tengah berkecamuk di kepala Brian. Ada rasa sesak yang merayap di dadanya, sebuah perasaan yang tidak memiliki istilah dalam kamus bisnisnya. Ia ingin sek

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   51. Tunangan

    Brian mengeratkan genggamannya. Keangkuhannya kembali mencuat, namun kali ini terasa seperti pelindung yang hangat. "Kehilangan segalanya? Amay, dengar baik-baik. Lentera Maritim, saham, atau pelabuhan itu... semuanya bisa aku beli lagi. Tapi darah yang mengalir di tubuhmu sekarang, itu adalah investasiku yang paling berharga. Selama jantungmu berdetak, aku tidak pernah merasa rugi. Aksara Group tidak akan runtuh hanya karena tikus seperti Gevani mencuri satu gudang." Amaya terdiam, merasakan kekuatan dari kata-kata suaminya. Meskipun Brian tetaplah pria sombong yang angkuh, namun di balik kata-kata itu, ada janji perlindungan yang absolut. "Kamu terantuk apa, Brian? Banyak sekali kosak kata yang kluar dari bibirmu?" gerutu Amaya masih terdengar. Brian menoleh mendengarnya."Jangan kira aku tidak dengar, Amay!" Amaya yang mendengar hal itu segera menoleh ke sembarang arah. "Fares, lanjutkan instruksiku di ruang sebelah. Jangan ganggu istriku lagi," usir Brian dengan nada yang t

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   50. Di Ambang Kebangkrutan

    Malam kian merambat di lorong-lorong rumah sakit yang sunyi, namun di dalam ruangan VVIP yang disulap menjadi benteng kedap informasi itu, ketegangan justru baru saja dimulai. Brian Aksara, meski tubuhnya masih terasa seperti dihimpit beton akibat kehilangan volume darah yang signifikan, tetap memaksakan indranya untuk bekerja tajam. Matanya tak lepas dari jemari Amaya yang berada dalam genggamannya. Getaran halus dari kulit istrinya adalah satu-satunya kompas yang memastikan Brian bahwa ia belum kehilangan segalanya. Fares berdiri mematung di sudut ruangan. Bayangan tubuhnya memanjang di bawah lampu temaram, menciptakan kesan suram yang tak tertolong. Ia memegang ponselnya dengan cengkeraman yang terlalu erat, sesekali melirik ke arah Brian dengan sorot mata yang dipenuhi kegelisahan. Sebagai orang kepercayaan yang telah bertahun-tahun mengabdi, Fares tahu kapan sang raja bisa diganggu dan kapan ia harus diam. Namun, kabar yang baru saja masuk ke perangkat komu

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   49. Pasca Transfusi Darah

    Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Brian, membawa kesadarannya kembali dari kegelapan yang pekat. Kelopak matanya terasa seberat timah, namun ia memaksanya terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih yang membosankan dan pendar lampu neon yang menyilaukan. Kepalanya berdenyut hebat, dan seluruh tubuhnya terasa seringan kapas, sebuah sensasi asing yang menyiksa bagi pria yang terbiasa memiliki kendali penuh atas raganya. Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya, namun rasa lemas yang luar biasa menghantamnya. "Amaya..." Suara Brian keluar hanya berupa bisikan parau yang kering, nyaris tidak terdengar. Ingatannya berputar liar seperti potongan film yang rusak; kilatan belati di toko bunga, teriakan histeris Bela, darah yang merembes di kemeja hitamnya, hingga detik-detik saat ia merasakan nyawanya seolah tersedot keluar melalui selang donor. Dengan sisa tenaga yang ada, Brian menolehkan kepalanya ke samping kiri. Di sana, hanya terpisah oleh jarak

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   48. Rhesus Negatif

    Lantai rumah sakit yang biasanya steril dan tenang kini terasa seperti lorong menuju neraka bagi Brian Aksara. Langkah kakinya yang panjang dan tegas menyapu lantai koridor IGD, meninggalkan jejak-jejak darah yang mulai mengering di atas ubin putih. Kemeja hitamnya yang tadinya rapi kini basah dan lengket, bukan oleh keringat, melainkan oleh darah Amaya yang belum berhenti merembes. Bugh Tiba-tiba tinjuan mengenai perut Brian hingga membuatnya jatuh ke lantai. Fares yang berada di ujung koridor segera memegangi sayang pemukul bosnya. "Brengsek kamu, Brian!" makinya. "Jangan kurang ajar, Amran!" bentak Fares sambil memegangi pria yang sedang murka itu. Brian bangun dan menatap wajah Amran yang penuh kemarahan. Matanya sayu seakan tidak peduli dengan apa yang dilakukan Amran. "Kamu tidak usah ikut campur, Fares! Dan kamu, Brian. Sumber malapetaka buat Amaya. Baru saja dia sembuh setelah hampir dibunuh musuhmu, sekarang dia..." Amran terduduk menumpu lututnya di lantai.

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   47. Lili dan Mawar

    “Tas biasa begitu, kenapa tidak bilang dari semalam? Tau begitu belikan di store terkenal.” celetuk Brian setelah fokusnya beralih melihat tas yang disebut Amaya. “Itu bagus, Brian. Ibu tidak akan mau memakai jika tahu kamu belikan tas mahal.” balas Amaya jujur. “Ok,” setelah kata singkatnya itu, Brian menerima telepon dan menjauh sedikit. Amaya masih memilih bunga untuk dirangkai. Brian melangkah menjauh beberapa meter dari Amaya, menempelkan ponsel ke telinganya. Suaranya terdengar dingin dan tajam saat berbicara dengan rekan bisnisnya di seberang sana. Pria itu sibuk menanggapi laporan audit, sementara matanya masih sesekali melirik ke arah Amaya yang sedang asyik memilih rangkaian bunga lili putih yang mekar sempurna. Brian tidak menyadari bahwa di antara rimbunnya kelopak peony dan mawar yang memenuhi toko, maut tengah mengintai dalam sunyi. Amaya baru saja berbalik, hendak menunjukkan sebuah tas kulit berwarna cokelat tanah yang menurutnya cocok untuk Rahmi. "Brian…" Kata

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status