Home / Romansa / Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya / 2. Perlindungan yang Tidak Pernah Kuminta

Share

2. Perlindungan yang Tidak Pernah Kuminta

Author: QM
last update Last Updated: 2026-01-05 20:04:21

Aku menatapnya tajam, perasaan lega tadi langsung runtuh begitu saja. Jantungku kembali berdegup kencang dengan irama tidak beraturan. Harapan kecil yang sempat tumbuh langsung dipatahkan tanpa ampun. Aku menggigit bibirku, mencoba menahan emosi yang kembali naik. Pria ini memang tidak pernah berniat melepaskanku.

“Apa lagi yang kamu inginkan?” tanyaku putus asa.

Brian melangkah mendekat, membuat jarak di antara kami kembali menipis. Aku bisa merasakan auranya menekan, membuatku refleks menarik bahu. Tatapannya turun sesaat ke wajahku sebelum kembali mengunci mataku. Ada sesuatu di sana, campuran kontrol dan ketertarikan yang membuatku tidak nyaman. Aku merasa seperti sedang dipelajari. Perasaan itu membuat kulitku merinding.

“Aku akan melindungimu,” katanya.

Melindungi katanya? Bahkan dia menculik aku. Bagaimana dia melundungiku? Kalimat itu diucapkan seakan aku anak balita.

“Melindungi dari apa?” tanyaku cepat.

“Dari Bela,” jawabnya singkat. “Dan dari dirimu sendiri.”

Aku menggeleng keras. Kata katanya terdengar tidak masuk akal bagiku. Bagaimana mungkin pria yang menculik dan mengancam keluargaku bicara soal perlindungan. Dadaku terasa panas oleh amarah yang tertahan. Ketakutan masih ada, tapi kini bercampur dengan perlawanan. Aku tidak ingin tunduk begitu saja.

“Aku tidak butuh perlindungan darimu,” kataku.

Brian tersenyum samar, seolah jawabanku menghiburnya. Senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia mencondongkan tubuh sedikit, membuatku refleks mundur. Namun aku lupa bahwa aku masih terikat dan tidak punya kuasa untuk sekedar menghindar bahkan pergi. Kesadaran itu membuat nafasku tersendat.

“Kamu butuh,” katanya pelan.

“Aku ingin pulang,” suaraku meninggi. “Lepaskan aku sekarang.”

Brian tidak langsung menjawab. Ia menatapku lama, terlalu lama, seolah sedang mengambil keputusan penting. Keheningan di antara kami terasa berat dan menyesakkan. Aku hampir bisa mendengar detak jantungku sendiri. Setiap detik berlalu membuatku semakin gelisah.

“Aku tidak memberi pilihan,” ucapnya akhirnya.

Ia memberi isyarat kecil ke arah anak buahnya. Dua pria itu segera bergerak mendekat. Aku tersentak panik, mencoba mundur meski sia sia. Tangan kasar kembali mencengkeram lenganku. Aku merasa kepanikan mulai menguasai pikiranku. Semua terjadi terlalu cepat untuk kuproses.

“Tunggu,” teriakku. “Kamu tidak bisa melakukan ini.”

Plester hitam menutup mulutku sebelum aku sempat berkata lebih banyak. Suaraku teredam, hanya berupa gumaman tidak jelas. Aku memberontak, tapi cengkeraman mereka terlalu kuat. Pergelangan tanganku terasa semakin perih saat aku berusaha melepaskan diri. Air mataku kembali mengalir tanpa henti.

“Bawa dia,” kata Brian dingin.

Aku diseret keluar ruangan menuju sebuah mobil gelap. Suara pintu tertutup terdengar begitu final di telingaku. Di dalam mobil, aku duduk diapit dua pria berbadan besar. Jalanan di luar jendela terasa asing dan sunyi. Aku tidak tahu ke mana mereka membawaku. Ketakutan itu kembali menggerogoti pikiranku. Apakah dia akan membunuhku?

“Kalian mau membawaku ke mana?” gumamku di balik plester.

Tidak ada jawaban. Mobil melaju terus, meninggalkan kota yang kukenal. Lampu jalanan semakin jarang terlihat. Dadaku terasa sesak oleh firasat buruk yang tidak bisa kutepis. Aku menutup mata, berharap semua ini hanya mimpi.

Setelah beberapa waktu, mobil berhenti di depan gerbang besar. Bangunan di baliknya menjulang tinggi dan tampak megah. Aku dipaksa turun, kakiku hampir tidak sanggup menopang tubuhku. Gerbang terbuka perlahan, menambah kesan menyeramkan tempat ini. Rumah itu terlihat indah namun dingin. Aku merinding tanpa tahu alasannya.

“Masuk,” salah satu pria berkata singkat.

l

Aku digiring ke dalam rumah dengan langkah gontai. Lantai marmer memantulkan cahaya lampu dengan dingin. Ruangan luas ini terasa kosong meski perabotannya lengkap. Tangga besar berdiri di tengah, mengarah ke lantai atas yang gelap. Bau rumah ini terasa asing, tidak hangat sama sekali. Aku merasa seperti memasuki wilayah yang bukan duniaku.

“Kenapa aku di sini?” tanyaku saat plester dilepas.

Tidak ada jawaban. Tanganku dilepaskan dari ikatan, tapi dua pria itu tetap berdiri di kanan kiriku. Aku mengusap pergelangan tanganku yang memerah, menahan rasa perih. Kebebasan kecil itu tidak membuatku merasa aman. Justru membuatku semakin waspada.

“Jangan coba kabur,” salah satu dari mereka berkata.

Brian muncul dari arah belakang beberapa saat kemudian. Kehadirannya langsung mengubah atmosfer ruangan. Aku menoleh cepat ke arahnya, jantungku kembali berdegup kencang. Ia terlihat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menculik orang lain. Tatapannya langsung tertuju padaku.

“Rumah ini aman,” katanya. “Tidak ada yang bisa menyentuhmu.”

“Termasuk kamu?” tanyaku tajam.

Brian tersenyum tipis, seolah menikmati perlawanan kecilku. Ia melangkah mendekat hingga berdiri tepat di depanku. Jarak kami kembali terlalu dekat. Aku bisa mencium aroma khasnya yang asing bagiku. Perasaan tidak nyaman kembali menjalar.

“Aku justru yang paling berbahaya,” jawabnya jujur.

“Aku membencimu,” kataku tanpa berpikir panjang.

Brian tidak terlihat marah. Sebaliknya, matanya justru terlihat lebih hidup. Ia menunduk sedikit, menyamakan tinggi kami. Tatapannya mengunci mataku dengan intens. Aku merasa napasku kembali kacau.

“Kebencian itu akan berubah,” katanya pelan.

“Tidak,” sahutku cepat.

“Kita lihat nanti,” ucapnya tenang.

Aku berdiri terpaku, menyadari satu hal yang membuatku semakin takut. Aku tidak lagi berada di dunia lamaku. Aku terjebak di rumah pria berbahaya yang mengklaim melindungiku. Jalan keluar tidak terlihat, dan masa depanku terasa kabur. Brian Aksara bukan sekadar ancaman. Ia adalah sangkar yang kini mengurungku. Dan aku baru saja masuk ke dalamnya.

*

Sinar matahari mengintip malu malu di balik jendela besar yang tertutup tirai putih tipis. Kehangatan lembut menyentuh kulitku, tetapi tidak pernah berhasil mencapai hatiku. Ketakutan masih membelit dadaku, menekan napas dan membuat pikiranku kacau. Aku duduk meringkuk di sudut dekat jendela, memeluk lutut dengan tangan gemetar. Ruangan ini terlalu sunyi untuk disebut aman. Keheningan justru membuat ingatanku kembali pada kejadian kemarin.

“Ya Allah, aku ingin pulang,” bisikku lirih.

Sejak sore kemarin aku diseret ke tempat ini, dan kini aku masih terjebak di sini. Aku tidak tahu di mana tepatnya rumah ini berada, tetapi kemewahannya tidak bisa disangkal. Dinding tinggi berwarna putih bersih, lantai mengilap, dan perabot mahal mengelilingiku. Semua terlihat sempurna, terlalu sempurna untuk menjadi tempat perlindungan. Bagiku, tempat ini lebih mirip penjara yang dibungkus kenyamanan. Penjara yang membuatku semakin sadar betapa kecil dan tidak berdayanya aku.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan, mencoba menahan air mata.

Ceklek.

Suara pintu terbuka membuat tubuhku menegang seketika. Aku refleks mengangkat kepala, jantungku berdetak lebih cepat. Seorang gadis muda masuk ke dalam kamar dengan langkah ringan. Ia mengenakan seragam hitam dengan celemek putih, wajahnya cerah dan tampak ramah. Kontras dengan suasana hatiku yang penuh kecurigaan. Kehadirannya sama sekali tidak membuatku lega.

“Pagi, Nona Amaya,” sapanya riang.

Aku menatapnya tanpa senyum, penuh waspada. Semua orang di rumah ini terasa berbahaya bagiku. Setelah apa yang kulihat kemarin, aku tidak bisa lagi percaya pada siapa pun. Pria itu, darah di lantai, dan tatapan dingin yang menghantuiku masih terlalu nyata. Trauma itu membuatku ingin berteriak setiap kali ada orang mendekat.

“Mau apa kamu?” tanyaku ketus.

Gadis itu tidak tersinggung, justru tersenyum kecil. Ia berjalan ke meja dekat ranjang dan meletakkan nampan berisi makanan. Aroma hangat dari sarapan itu menyebar, tetapi perutku tidak bereaksi. Aku terlalu takut untuk merasa lapar. Terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya kabur dari rumah ini.

“Nona, perkenalkan saya Janice,” katanya lembut. “Saya ditugaskan menemani Nona di sini.”

Aku membuang napas kasar, mengingat nama itu. Brian menyebutnya kemarin. Ingatan itu membuat dadaku semakin sesak. Aku mengalihkan pandanganku ke lantai putih yang bersih, mencoba menenangkan diri. Namun kecurigaan tetap mengendap di benakku.

“Jangan pura pura baik,” ucapku dingin.

Janice terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. Ekspresinya tetap tenang, seolah ia sudah terbiasa menghadapi sikap sepertiku. Sikapnya justru membuatku semakin bingung. Bagaimana bisa seseorang setenang itu bekerja untuk pria seperti Brian. Atau mungkin, semuanya hanya sandiwara.

“Nona, Tuan Brian ingin melindungi Nona,” katanya hati hati.

Aku terkekeh lirih, getir.

“Melindungi atau mencari keuntungan dariku?” balasku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   52. Kegelisahan Brian

    Angin malam yang berembus dari celah balkon membawa aroma petrichor yang tajam, sisa-sisa hujan yang membasahi aspal Jakarta. Di dalam kamar, keheningan terasa begitu padat, hanya dipecah oleh suara gesekan ritsleting koper yang ditarik pelan oleh Amaya. Wanita itu, dengan gerak-gerik yang masih sedikit kaku akibat luka jahitan yang belum pulih sempurna, tampak seolah tengah menyusun kepingan masa depan di dalam tas kecilnya. "Brian, apa baju ini terlalu tebal untuk dipakai di Tokyo nanti?" tanya Amaya lembut. Suaranya bening, membelah lamunan Brian yang tengah terpaku menatap lampu-lampu mansion yang buram oleh kabut tipis. Brian menoleh. Cahaya lampu kamar yang kekuningan jatuh di wajah Amaya, memberikan rona yang begitu hangat, sebuah pemandangan yang kontras dengan dinginnya pikiran yang tengah berkecamuk di kepala Brian. Ada rasa sesak yang merayap di dadanya, sebuah perasaan yang tidak memiliki istilah dalam kamus bisnisnya. Ia ingin sek

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   51. Tunangan

    Brian mengeratkan genggamannya. Keangkuhannya kembali mencuat, namun kali ini terasa seperti pelindung yang hangat. "Kehilangan segalanya? Amay, dengar baik-baik. Lentera Maritim, saham, atau pelabuhan itu... semuanya bisa aku beli lagi. Tapi darah yang mengalir di tubuhmu sekarang, itu adalah investasiku yang paling berharga. Selama jantungmu berdetak, aku tidak pernah merasa rugi. Aksara Group tidak akan runtuh hanya karena tikus seperti Gevani mencuri satu gudang." Amaya terdiam, merasakan kekuatan dari kata-kata suaminya. Meskipun Brian tetaplah pria sombong yang angkuh, namun di balik kata-kata itu, ada janji perlindungan yang absolut. "Kamu terantuk apa, Brian? Banyak sekali kosak kata yang kluar dari bibirmu?" gerutu Amaya masih terdengar. Brian menoleh mendengarnya."Jangan kira aku tidak dengar, Amay!" Amaya yang mendengar hal itu segera menoleh ke sembarang arah. "Fares, lanjutkan instruksiku di ruang sebelah. Jangan ganggu istriku lagi," usir Brian dengan nada yang t

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   50. Di Ambang Kebangkrutan

    Malam kian merambat di lorong-lorong rumah sakit yang sunyi, namun di dalam ruangan VVIP yang disulap menjadi benteng kedap informasi itu, ketegangan justru baru saja dimulai. Brian Aksara, meski tubuhnya masih terasa seperti dihimpit beton akibat kehilangan volume darah yang signifikan, tetap memaksakan indranya untuk bekerja tajam. Matanya tak lepas dari jemari Amaya yang berada dalam genggamannya. Getaran halus dari kulit istrinya adalah satu-satunya kompas yang memastikan Brian bahwa ia belum kehilangan segalanya. Fares berdiri mematung di sudut ruangan. Bayangan tubuhnya memanjang di bawah lampu temaram, menciptakan kesan suram yang tak tertolong. Ia memegang ponselnya dengan cengkeraman yang terlalu erat, sesekali melirik ke arah Brian dengan sorot mata yang dipenuhi kegelisahan. Sebagai orang kepercayaan yang telah bertahun-tahun mengabdi, Fares tahu kapan sang raja bisa diganggu dan kapan ia harus diam. Namun, kabar yang baru saja masuk ke perangkat komu

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   49. Pasca Transfusi Darah

    Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Brian, membawa kesadarannya kembali dari kegelapan yang pekat. Kelopak matanya terasa seberat timah, namun ia memaksanya terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih yang membosankan dan pendar lampu neon yang menyilaukan. Kepalanya berdenyut hebat, dan seluruh tubuhnya terasa seringan kapas, sebuah sensasi asing yang menyiksa bagi pria yang terbiasa memiliki kendali penuh atas raganya. Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya, namun rasa lemas yang luar biasa menghantamnya. "Amaya..." Suara Brian keluar hanya berupa bisikan parau yang kering, nyaris tidak terdengar. Ingatannya berputar liar seperti potongan film yang rusak; kilatan belati di toko bunga, teriakan histeris Bela, darah yang merembes di kemeja hitamnya, hingga detik-detik saat ia merasakan nyawanya seolah tersedot keluar melalui selang donor. Dengan sisa tenaga yang ada, Brian menolehkan kepalanya ke samping kiri. Di sana, hanya terpisah oleh jarak

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   48. Rhesus Negatif

    Lantai rumah sakit yang biasanya steril dan tenang kini terasa seperti lorong menuju neraka bagi Brian Aksara. Langkah kakinya yang panjang dan tegas menyapu lantai koridor IGD, meninggalkan jejak-jejak darah yang mulai mengering di atas ubin putih. Kemeja hitamnya yang tadinya rapi kini basah dan lengket, bukan oleh keringat, melainkan oleh darah Amaya yang belum berhenti merembes. Bugh Tiba-tiba tinjuan mengenai perut Brian hingga membuatnya jatuh ke lantai. Fares yang berada di ujung koridor segera memegangi sayang pemukul bosnya. "Brengsek kamu, Brian!" makinya. "Jangan kurang ajar, Amran!" bentak Fares sambil memegangi pria yang sedang murka itu. Brian bangun dan menatap wajah Amran yang penuh kemarahan. Matanya sayu seakan tidak peduli dengan apa yang dilakukan Amran. "Kamu tidak usah ikut campur, Fares! Dan kamu, Brian. Sumber malapetaka buat Amaya. Baru saja dia sembuh setelah hampir dibunuh musuhmu, sekarang dia..." Amran terduduk menumpu lututnya di lantai.

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   47. Lili dan Mawar

    “Tas biasa begitu, kenapa tidak bilang dari semalam? Tau begitu belikan di store terkenal.” celetuk Brian setelah fokusnya beralih melihat tas yang disebut Amaya. “Itu bagus, Brian. Ibu tidak akan mau memakai jika tahu kamu belikan tas mahal.” balas Amaya jujur. “Ok,” setelah kata singkatnya itu, Brian menerima telepon dan menjauh sedikit. Amaya masih memilih bunga untuk dirangkai. Brian melangkah menjauh beberapa meter dari Amaya, menempelkan ponsel ke telinganya. Suaranya terdengar dingin dan tajam saat berbicara dengan rekan bisnisnya di seberang sana. Pria itu sibuk menanggapi laporan audit, sementara matanya masih sesekali melirik ke arah Amaya yang sedang asyik memilih rangkaian bunga lili putih yang mekar sempurna. Brian tidak menyadari bahwa di antara rimbunnya kelopak peony dan mawar yang memenuhi toko, maut tengah mengintai dalam sunyi. Amaya baru saja berbalik, hendak menunjukkan sebuah tas kulit berwarna cokelat tanah yang menurutnya cocok untuk Rahmi. "Brian…" Kata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status