LOGINMataku membelalak, wajahku memanas. Kata itu terdengar begitu kasar di telingaku. Aku tidak menyangka ia akan bertanya sejauh itu. Aku ingin menamparnya, tetapi tubuhku terlalu lemah. Bagaimana bisa seorang laki-laki bertanya demikian. Dasar mesum!
“Itu bukan urusanmu,” jawabku. Dia tertawa kecil lagi. Bahkan, ia tidak merasa bersalah membuatku kesal. “Biasanya gadis sepertimu yang paling cerewet,” katanya. “Dan paling rapuh.” sambungnya. Aku menggeleng keras. Benar-benar di luar prediksi. Pria macam apa dia. Apakah dia terbiasa bertanya hal yang tabu itu pada semua wanita? Jika iya, bukankah dia tergolong laki-laki predator? Pemangsa gadis di luar sana. Menjijikan! “Kita tidak boleh satu kamar,” ucapku cepat. “Kita bukan muhrim.” Dia mengamati wajahku dengan ekspresi sulit ditebak. Sejenak aku berharap kata kataku menyentuh sisi kemanusiaannya. Namun harapan itu runtuh saat ia melangkah lebih dekat. “Kalau menikah, bisa ya satu kamar?” tanyanya ringan. Aku terdiam, kaget dengan arah pembicaraan itu. Otakku berusaha mencerna kalimatnya, tetapi tidak menemukan makna yang masuk akal. Menikah. Kata itu terdengar mustahil di situasi seperti ini. Dia penculik yang memaksaku untuk tinggal dengannya, dengan dalih melindungi namun semua itu terasa janggal jika aku memikirkannya. “Aku tidak mengajakmu menikah,” ucapku tergagap. “Aku hanya…” “Hanya apa?” potongnya. Aku tidak mampu menjawab. Nafasku semakin pendek. Aku menelan ludahku banyak-banyak menghalau tenggorokanku yang mengering. Wajahnya terlalu dekat, membuat pikiranku kosong. Aku hanya ingin menjauh, tetapi kakiku seperti terpaku. Brian mengangkat tangannya, lalu perlahan membuka simpul handuk di pinggangnya. Gerakannya sengaja diperlambat. Aku menjerit tertahan, refleks menutup mata dan memalingkan wajah. “Tidak,” teriakku. “Jangan!” Dia berhenti, membuatku membuka mata perlahan. Tatapannya mengunci wajahku. Tidak ada tawa di sana. Tidak ada godaan. Hanya keseriusan yang membuatku semakin takut. “Kamu harus belajar satu hal,” ucapnya dingin. “Aku tidak suka ditentang.” Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku menggeleng lemah, tubuhku gemetar hebat. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Aku tidak tahu bagaimana caranya keluar dari situasi ini. “Aku hanya ingin pulang,” bisikku putus asa. Brian menatapku lama, lalu perlahan menjauh. Ia mengikat kembali handuknya, lalu berjalan ke kamar mandi tanpa berkata apa apa. Pintu kamar mandi tertutup, menyisakanku sendirian dengan ketakutan yang menggila. Aku terduduk di ranjang, tubuhku lunglai. Di balik pintu kamar mandi, suara air mulai mengalir. Aku menatap pintu itu dengan napas tersengal, menyadari satu hal yang membuat dadaku semakin sesak. Aku tidak hanya terjebak di rumah pria berbahaya. Aku terjebak di kamar yang sama dengannya, dan aku tidak tahu apakah aku akan keluar dari sini sebagai diriku yang utuh lagi. Aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Yang membuatku sadar kini pintu kamar terbuka, otakku memerintah bahwa aku harus pergi. Aku meraih tas ranselku dan melangkah keluar. “Aku harus pulang,” bisikku. Keajaiban seolah berpihak padaku. Penjaga pintu utama tidak terlihat. Aku berlari kecil, menahan napas, jantungku hampir pecah. Namun gerbang tinggi itu tertutup rapat. Panik, aku berbelok ke samping, bersembunyi di balik tanaman rambat yang rimbun saat dua pria lewat tak jauh dariku. “Ya Allah, lindungi aku,” doaku dalam hati. Ketika mereka pergi, aku melanjutkan langkah. Jalanan terasa asing, rumah-rumah berjauhan, dan aku tidak tahu di mana aku berada. Aku bersembunyi saat melihat mobil yang pernah membawaku kemari. Saat mobil itu berlalu, kakiku nyaris lunglai. “Alhamdulillah.” Aku menyalakan ponselku dan hendak menelepon, namun perasaan tidak enak tiba-tiba menyerang. Hingga aku segera menaruh kembali ponselku. Perasaan tidak enak itu semakin kuat saat kakiku melangkah menjauh dari rumah megah tersebut. Setiap langkah terasa terlalu ringan, seolah kebebasan ini datang terlalu mudah untuk menjadi nyata. Jalanan yang ku lewati terasa asing, rumah-rumah besar berdiri berjauhan seperti wilayah yang sengaja diasingkan dari dunia luar. Angin pagi menyentuh kulitku, tetapi tidak memberi rasa aman sedikit pun. Aku menoleh berkali-kali, takut melihat sosok yang mengejar ku dari belakang. Jantungku terus berdetak liar, menolak untuk tenang. “Aku harus cepat,” gumamku panik. Tanganku gemetar saat merogoh ponsel dari saku tas. Layar menyala, sinyal ada, dan harapan itu muncul sekejap. Aku berjalan lebih cepat, hampir berlari, sambil menekan nomor yang aku hafal di luar kepala. Namun sebelum panggilan tersambung, seseorang memanggilku dari kejauhan. Aku tidak tahu bahwa kebebasanku hanya bertahan hitungan menit. Saat aku menekan nomor di ponsel, sebuah tangan asing meraih lenganku dari belakang, dan dunia kembali runtuh dalam satu tarikan napas. “Nona.” Langkahku terhenti. Napasku membeku. Suara itu asing, tetapi cukup membuat tubuhku kaku. Aku menoleh perlahan dan mendapati pos satpam kecil di pinggir jalan. Seorang pria berseragam berdiri di depan pintu, menatapku dengan ekspresi sulit ditebak. “Nona mau ke mana?” tanyanya datar. “Aku… aku tersesat,” jawabku gugup. “Boleh numpang duduk sebentar?” Pria itu menatapku lama sebelum akhirnya membuka pintu pos. Aku masuk dengan perasaan campur aduk. Begitu pintu tertutup, jantungku berdebar tidak wajar. Ada sesuatu yang tidak benar. Aku berdiri, menoleh ke pintu, lalu mencoba membukanya kembali. “Pak?” panggilku. Tidak ada jawaban. Aku menarik gagang pintu itu, namun terkunci. Panik merayap cepat. Aku menggedor pintu dengan keras, nafasku mulai terengah. “Pak, buka pintunya!” Tidak ada siapa-siapa di luar. Sunyi. Terlalu sunyi. Kecurigaan itu berubah menjadi ketakutan nyata. Aku menendang pintu dengan emosi yang tak lagi tertahan. “Sialan!” Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Harapan sempat muncul, tetapi lenyap seketika saat dua pria berdiri di hadapanku. Salah satunya berwajah asing, bertubuh kekar, dan sorot matanya tajam. Pria di belakangnya adalah wajah yang sangat kukenal. Pria yang mengikatku tempo hari. “Nona Amaya,” ucap pria asing itu tenang. “Saya Fares.” Dadaku seperti diremas. Kakiku gemetar hebat. Aku mundur satu langkah. "Mari kembali pulang ke rumah," ajaknya. “Rumah… pulang ke panti asuhan, kan?” tanyaku putus asa. Fares menoleh sekilas ke temannya. Tatapan itu sudah cukup menjadi jawaban. Harapan terakhirku runtuh. Aku menggeleng keras. “Tidak,” tolakku dengan suara bergetar. “Aku mau pulang.” “Nona,” kata Fares rendah. “Jangan paksa kami.” Aku menerobos mereka hendak lari, tetapi tangan besar mencengkeram lenganku. Tubuhku terangkat kasar. Aku berteriak sekuat tenaga. “Lepaskan aku!” Aku meronta, menendang, memukul apa pun yang bisa kuraih. Namun kekuatan mereka jauh di atasku. Dunia terasa berputar ketika dahiku terbentur dinding. “Ahh…” Pandangan mataku mengabur. Tubuhku diangkat seperti benda tak bernilai. Aku merasakan pundak seseorang di bawah perutku, tubuhku terguncang saat mereka berjalan cepat. Suara langkah, napas berat, dan bau asing memenuhi inderaku. “BODOH!” maki Fares. “Bos akan murka!” Kesadaranku perlahan memudar. Aku ingin melawan, ingin berteriak, tetapi tubuhku tak lagi menuruti kehendak ku. Gelap merayap pelan, menelan segalanya. Ketika mataku terbuka samar, aku merasakan getaran mesin. Bau bensin dan terik matahari siang hari menyentuh wajahku. Tubuhku seakan terikat, duduk di jok motor dengan tubuh seseorang menahan punggungku. Aku tidak berani bergerak. Takut. Sangat takut. “Bangun?” suara dingin itu terdengar dekat di telingaku. Namun, aku tak mampu bangun dengan tegak. Mataku terasa sangat berat. “Tolong… lepaskan aku,” pintaku lirih di sisa kekuatanku yang kian melemah.Angin malam yang berembus dari celah balkon membawa aroma petrichor yang tajam, sisa-sisa hujan yang membasahi aspal Jakarta. Di dalam kamar, keheningan terasa begitu padat, hanya dipecah oleh suara gesekan ritsleting koper yang ditarik pelan oleh Amaya. Wanita itu, dengan gerak-gerik yang masih sedikit kaku akibat luka jahitan yang belum pulih sempurna, tampak seolah tengah menyusun kepingan masa depan di dalam tas kecilnya. "Brian, apa baju ini terlalu tebal untuk dipakai di Tokyo nanti?" tanya Amaya lembut. Suaranya bening, membelah lamunan Brian yang tengah terpaku menatap lampu-lampu mansion yang buram oleh kabut tipis. Brian menoleh. Cahaya lampu kamar yang kekuningan jatuh di wajah Amaya, memberikan rona yang begitu hangat, sebuah pemandangan yang kontras dengan dinginnya pikiran yang tengah berkecamuk di kepala Brian. Ada rasa sesak yang merayap di dadanya, sebuah perasaan yang tidak memiliki istilah dalam kamus bisnisnya. Ia ingin sek
Brian mengeratkan genggamannya. Keangkuhannya kembali mencuat, namun kali ini terasa seperti pelindung yang hangat. "Kehilangan segalanya? Amay, dengar baik-baik. Lentera Maritim, saham, atau pelabuhan itu... semuanya bisa aku beli lagi. Tapi darah yang mengalir di tubuhmu sekarang, itu adalah investasiku yang paling berharga. Selama jantungmu berdetak, aku tidak pernah merasa rugi. Aksara Group tidak akan runtuh hanya karena tikus seperti Gevani mencuri satu gudang." Amaya terdiam, merasakan kekuatan dari kata-kata suaminya. Meskipun Brian tetaplah pria sombong yang angkuh, namun di balik kata-kata itu, ada janji perlindungan yang absolut. "Kamu terantuk apa, Brian? Banyak sekali kosak kata yang kluar dari bibirmu?" gerutu Amaya masih terdengar. Brian menoleh mendengarnya."Jangan kira aku tidak dengar, Amay!" Amaya yang mendengar hal itu segera menoleh ke sembarang arah. "Fares, lanjutkan instruksiku di ruang sebelah. Jangan ganggu istriku lagi," usir Brian dengan nada yang t
Malam kian merambat di lorong-lorong rumah sakit yang sunyi, namun di dalam ruangan VVIP yang disulap menjadi benteng kedap informasi itu, ketegangan justru baru saja dimulai. Brian Aksara, meski tubuhnya masih terasa seperti dihimpit beton akibat kehilangan volume darah yang signifikan, tetap memaksakan indranya untuk bekerja tajam. Matanya tak lepas dari jemari Amaya yang berada dalam genggamannya. Getaran halus dari kulit istrinya adalah satu-satunya kompas yang memastikan Brian bahwa ia belum kehilangan segalanya. Fares berdiri mematung di sudut ruangan. Bayangan tubuhnya memanjang di bawah lampu temaram, menciptakan kesan suram yang tak tertolong. Ia memegang ponselnya dengan cengkeraman yang terlalu erat, sesekali melirik ke arah Brian dengan sorot mata yang dipenuhi kegelisahan. Sebagai orang kepercayaan yang telah bertahun-tahun mengabdi, Fares tahu kapan sang raja bisa diganggu dan kapan ia harus diam. Namun, kabar yang baru saja masuk ke perangkat komu
Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Brian, membawa kesadarannya kembali dari kegelapan yang pekat. Kelopak matanya terasa seberat timah, namun ia memaksanya terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih yang membosankan dan pendar lampu neon yang menyilaukan. Kepalanya berdenyut hebat, dan seluruh tubuhnya terasa seringan kapas, sebuah sensasi asing yang menyiksa bagi pria yang terbiasa memiliki kendali penuh atas raganya. Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya, namun rasa lemas yang luar biasa menghantamnya. "Amaya..." Suara Brian keluar hanya berupa bisikan parau yang kering, nyaris tidak terdengar. Ingatannya berputar liar seperti potongan film yang rusak; kilatan belati di toko bunga, teriakan histeris Bela, darah yang merembes di kemeja hitamnya, hingga detik-detik saat ia merasakan nyawanya seolah tersedot keluar melalui selang donor. Dengan sisa tenaga yang ada, Brian menolehkan kepalanya ke samping kiri. Di sana, hanya terpisah oleh jarak
Lantai rumah sakit yang biasanya steril dan tenang kini terasa seperti lorong menuju neraka bagi Brian Aksara. Langkah kakinya yang panjang dan tegas menyapu lantai koridor IGD, meninggalkan jejak-jejak darah yang mulai mengering di atas ubin putih. Kemeja hitamnya yang tadinya rapi kini basah dan lengket, bukan oleh keringat, melainkan oleh darah Amaya yang belum berhenti merembes. Bugh Tiba-tiba tinjuan mengenai perut Brian hingga membuatnya jatuh ke lantai. Fares yang berada di ujung koridor segera memegangi sayang pemukul bosnya. "Brengsek kamu, Brian!" makinya. "Jangan kurang ajar, Amran!" bentak Fares sambil memegangi pria yang sedang murka itu. Brian bangun dan menatap wajah Amran yang penuh kemarahan. Matanya sayu seakan tidak peduli dengan apa yang dilakukan Amran. "Kamu tidak usah ikut campur, Fares! Dan kamu, Brian. Sumber malapetaka buat Amaya. Baru saja dia sembuh setelah hampir dibunuh musuhmu, sekarang dia..." Amran terduduk menumpu lututnya di lantai.
“Tas biasa begitu, kenapa tidak bilang dari semalam? Tau begitu belikan di store terkenal.” celetuk Brian setelah fokusnya beralih melihat tas yang disebut Amaya. “Itu bagus, Brian. Ibu tidak akan mau memakai jika tahu kamu belikan tas mahal.” balas Amaya jujur. “Ok,” setelah kata singkatnya itu, Brian menerima telepon dan menjauh sedikit. Amaya masih memilih bunga untuk dirangkai. Brian melangkah menjauh beberapa meter dari Amaya, menempelkan ponsel ke telinganya. Suaranya terdengar dingin dan tajam saat berbicara dengan rekan bisnisnya di seberang sana. Pria itu sibuk menanggapi laporan audit, sementara matanya masih sesekali melirik ke arah Amaya yang sedang asyik memilih rangkaian bunga lili putih yang mekar sempurna. Brian tidak menyadari bahwa di antara rimbunnya kelopak peony dan mawar yang memenuhi toko, maut tengah mengintai dalam sunyi. Amaya baru saja berbalik, hendak menunjukkan sebuah tas kulit berwarna cokelat tanah yang menurutnya cocok untuk Rahmi. "Brian…" Kata







