Beranda / Romansa / Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya / 5. Akhir dari Masa Depan Amaya

Share

5. Akhir dari Masa Depan Amaya

Penulis: QM
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 20:05:42

Tidak ada jawaban. Hanya kecepatan yang bertambah. Jalanan terasa panjang dan mencekam. Aku tahu, aku dibawa kembali. Kembali ke rumah itu. Kembali ke pria itu.

Brian berdiri di ruang tengah ketika aku diseret masuk. Tatapannya tajam, wajahnya keras, dan rahangnya mengeras menahan amarah. Saat matanya menangkap tubuhku yang lemas, sudut bibirnya terangkat dingin.

“Kamu berani kabur,” katanya pelan.

Aku jatuh berlutut, tubuhku sangat lemah, di mana kekuatanku biasanya?

“Aku hanya ingin pulang,” ucapku lirih.

Brian melangkah mendekat. Sepatunya berhenti tepat di hadapanku. Ia menunduk, mencengkeram daguku, memaksaku menatap wajahnya.

“Aku sudah bilang,” bisiknya. “Aku tidak suka ditentang.”

Nafasnya hangat di wajahku. Aku menggigil, bukan karena dingin, tetapi karena ancaman nyata dalam suaranya. Matanya menyapu wajahku perlahan, seolah menilai, seolah memutuskan sesuatu yang tak bisa kutolak.

“Kali ini,” lanjutnya. “Kamu tidak akan kabur lagi.”

Tangannya melepas daguku, tetapi ancaman itu sudah terpatri dalam pikiranku. Aku tahu, ini belum selesai. Bahkan, ini baru saja dimulai.

Saat Brian memberi isyarat pada anak buahnya dan pintu besar itu tertutup di belakangku, aku sadar satu hal yang membuat darahku membeku. Kebebasanku telah dicabut sepenuhnya, dan hukuman yang menungguku mungkin jauh lebih mengerikan daripada penculikan itu sendiri.

“Kamu mau cari mati, ha!”

Bentakan itu menghantam lebih keras daripada apa pun yang pernah kurasakan sebelumnya. Tubuhku refleks gemetar meski sejak awal aku tahu, amarah pria di hadapanku bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan. Jantungku berdegup tidak beraturan, seolah ingin meloncat keluar dari dada. Aku menunduk, berusaha mengatur napas, namun udara terasa semakin menipis.

“Sudah saya katakan,” lanjutnya dengan suara penuh tekanan, “Bela mencarimu. Dia akan membunuhmu jika sampai kamu tertangkap. Kenapa kamu begitu ngeyel?”

Aku mengangkat wajah perlahan. Mataku perih oleh cairan bening yang tak mau berhenti mengalir. Kata-kata itu berputar di kepalaku, menciptakan ketakutan baru yang bahkan lebih gelap dari sebelumnya.

“Aku ingin pu… lang…” jawabku terbata, nyaris tak bersuara.

“Pulang ke liang lahat, ha!”

Bentakan kedua itu membuat tubuhku tersentak. Lututku melemas, dan aku hampir terjatuh jika tidak bersandar pada dinding di belakangku. Napasku memburu, dadaku sesak, dan pandanganku mulai buram.

“Kamu harus dihukum karena membangkang!”

Aku menggeleng panik. Mataku yang berair dipaksa menatap wajahnya yang gelap oleh amarah. Tatapan itu dingin, kejam, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk belas kasihan. Tangannya bergerak cepat, dan aku melihat benda itu di genggamannya. Gesper.

“Kamu… kamu mau apa?” suaraku nyaris hilang.

Aku mencoba mundur, namun ruang di belakangku sudah habis. Punggungku menempel pada dinding dingin, dan sebelum aku sempat bereaksi, rasa perih yang tajam menghantam tubuhku.

“Aghh…”

Aku meringis, tubuhku terhuyung saat sabetan itu mendarat lagi. Rasa sakit menyebar, membuat kakiku gemetar. Aku mencoba melindungi diri, tetapi serangan itu datang tanpa ampun. Punggungku kembali menabrak dinding, dan kali ini kakiku tak lagi kuat menopang tubuhku.

Aku terjatuh ke lantai. Dia memang tidak memiliki rasa iba sedikitpun padaku, justru dengan kasar ia meraih pinggangku dan memanggulku seperti karung beras di bahunya. Mataku menatap tangga yang ia lalui seakan pusing mencekik kepalaku. Mataku terpejam, tanpa melawan lagi ia membawaku kembali ke kamar itu

"Aghh.." lenguhku sesaat tubuhku melayang membentur kasur. Dia melempar tubuhku seperti tidak berguna.

Nafasku tersengal, tubuhku terasa panas dan nyeri di banyak tempat. Aku mendengar suara benda itu dilempar sembarangan, lalu langkah kaki mendekat. Aku mendongak dengan mata membelalak saat melihatnya mulai membuka kancing bajunya.

"Kamu mau apa?" tanyaku di ujung sisa tenagaku.

Rasa takut yang berbeda merayap cepat, lebih dalam, lebih mematikan. Ternyata ia menggunakan kaos di dalamnya. Aku pun lega.

“Berdiri!”

Suara itu seperti guntur di telingaku. Aku menggeleng keras, air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku tahu apa arti tatapannya. Aku tahu apa yang mengintai di balik perintah itu. Rasa sakit di tubuhku tiba-tiba terasa kecil dibandingkan ancaman yang kini berdiri tepat di depanku.

“Kamu mau apa?” ujarku gemetar. “Jangan mendekat.” aku masih ingin ada sedikit rasa kasihan darinya agar tidak melakukan hal-hal yang lebih lagi.

Aku mencoba merangkak menjauh, mencari celah, mencari jalan keluar yang sebenarnya tidak ada. Namun langkahnya lebih cepat. Tangannya mencengkeram pinggangku, kuat dan mengekang. Tubuhku ditarik mendekat tanpa ampun.

“Kamu harus membayar,” katanya rendah, dingin. “Atas rasa khawatir yang kamu timbulkan.”

Aku membeku. Kepalaku kosong. Tubuhku kaku seolah bukan milikku lagi. Aku ingin berteriak, ingin melawan, tetapi suaraku terperangkap di tenggorokan. Dunia seakan menyempit, menyisakan nafasnya yang terasa terlalu dekat. Aku berada di dunia mana?

Aku memejamkan mata erat-erat.

Dalam gelap itu, aku berdoa.

Aku tidak tahu berapa lama waktu berlalu ketika kesadaranku kembali utuh. Yang kutahu, aku tergeletak di atas ranjang kamar, tubuhku terasa berat dan lelah. Nyeri masih ada, tetapi lebih tumpul. Udara terasa dingin menyentuh kulitku, membuatku menggigil.

Aku menarik nafas pendek. Setiap tarikan terasa menyakitkan, bukan hanya di tubuh, tetapi juga di dalam dada. Ada sesuatu yang pecah di dalam diriku, sesuatu yang tidak bisa kembali seperti semula. Aku tidak bisa berfikir barang sekecil apapun.

cekellek

Pintu terbuka.

Aku tersentak, tubuhku menegang seketika. Namun yang masuk bukan dirinya. Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan wajah datar. Tatapannya singkat, tanpa emosi.

“Mandi,” katanya singkat. “Bos tidak suka melihatmu seperti ini.” katanya.

Aku menatapnya dengan mata kosong. Kata-kata itu terasa seperti vonis. Wanita itu meletakkan pakaian di kursi lalu pergi tanpa menunggu jawabanku. Pintu kembali tertutup, meninggalkan aku sendirian. Dimana maid yang beberapa kali aku temui? Wanita itu belum pernah aku temui sebelumnya.

Aku bangkit perlahan, setiap gerakan terasa menyiksa. Kakiku gemetar saat melangkah ke kamar mandi. Air dingin menyentuh kulitku, membuatku terisak pelan. Tanganku menempel di dinding, menopang tubuh yang hampir runtuh.

“Ya Allah…” bisikku lirih.

Aku menunduk, air mata bercampur air membasahi wajahku. Dalam cermin buram di depanku, aku hampir tidak mengenali pantulan diriku sendiri. Gadis itu tampak rapuh, matanya kosong, dan bahunya turun seolah memikul beban yang terlalu berat. Amaya yang dulu ceria dan penuh harapan, kini telah lenyap ditelan peristiwa demi peristiwa ya g memukulkannya tanpa ampun.

Saat aku keluar dari kamar mandi, pintu kamar sudah terbuka. Jantungku kembali berdegup liar.

Brian berdiri di sana, bersandar santai pada kusen pintu. Tatapannya menyapu diriku perlahan, membuat bulu kudukku meremang.

“Ini belum selesai,” katanya pelan namun tegas. “Dan kamu harus ingat satu hal.”

Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depanku.

“Selama kamu di rumah ini,” lanjutnya, “hidupmu milikku.”

Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada pukulan apa pun. Aku tahu, mulai saat ini, aku bukan hanya terjebak. Aku berada di dalam kendali penuh pria ini.

Dan entah hukuman apa lagi yang menungguku setelah ini, aku merasa… aku tidak akan sanggup menghindarinya.

Matanya yang tajam dengan kilatan amarah yang sangat tampak mengerikan itu terus mendekat padaku.

"Kamu mau apa?" tanyaku.

Meskipun batinku berteriak bahwa, hal jelas yang tidak bisa aku hindari lagi. Ya Allah, siapa saja tolonglah aku.

"Kamu harus mematuhi ku, Amay!" kalimat itu menjadi hal terakhir yang aku dengar.

Benda kenyal hangat itu menempel di bibirku. Tubuhku seakan tidak bertulang. Kepalaku kosong tidak mampu berpikir apapun. Ciuman pertamaku, diriku sudah tidak utuh lagi.

Aku mengatupkan bibirku sekuat tenaga, namun pagutan bibirnya terus memaksaku untuk andil. Brian menggigit bibirku pelan hingga memaksaku membukanya. Lidahnya menelusup, mengabsen setiap bagian dari mulutku. Sesaat oksigen seakan habis tak mampu aku hirup, Brian melepasnya membebaskan ku untuk bernafas.

"Manis," katanya seraya mengusap bibirku. Ia kemudian menarik kaus hitamnya menampilkan tubuhnya di hadapanku.

Apakah ini akhir dari masa depan yang aku kejar selama ini?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   6. Dibawa Kembali

    Selanjutnya, POV author Di tempat lain, suasana mencekam di sebuah keluarga yang sangat kacau. Ruangan seakan ikut membeku tergerus aura kemarahan yang dahsyat. “Kamu benar-benar membuat malu keluarga, Bela!” Suara ayah Bela terdengar dingin dan menghantam. Bela duduk menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. Pernikahannya dibatalkan secara brutal di depan banyak orang. Rahasia yang ia jaga mati-matian kini terbuka telanjang di hadapan para tamu undangan. “Tapi aku mencintai dia, Pa,” katanya terisak. Plak. Tamparan keras menggema di ruangan itu. Bela terjerembap dalam tangis, sementara ibunya segera memeluknya panik. “Sudah, Pa!” seru sang ibu. Namun kemarahan itu tak surut. Wajah sang ayah merah padam, harga dirinya hancur. Ia bukan pria biasa. Ia seorang walikota, calon gubernur, dan skandal ini tentu bisa menghancurkan segalanya. Berita secara daring menyebar dalam sekejap. Dering telepon dan laporan dari ajudannya terus datang. “Kamu tahu apa akibatnya?” bent

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   5. Akhir dari Masa Depan Amaya

    Tidak ada jawaban. Hanya kecepatan yang bertambah. Jalanan terasa panjang dan mencekam. Aku tahu, aku dibawa kembali. Kembali ke rumah itu. Kembali ke pria itu. Brian berdiri di ruang tengah ketika aku diseret masuk. Tatapannya tajam, wajahnya keras, dan rahangnya mengeras menahan amarah. Saat matanya menangkap tubuhku yang lemas, sudut bibirnya terangkat dingin. “Kamu berani kabur,” katanya pelan. Aku jatuh berlutut, tubuhku sangat lemah, di mana kekuatanku biasanya? “Aku hanya ingin pulang,” ucapku lirih. Brian melangkah mendekat. Sepatunya berhenti tepat di hadapanku. Ia menunduk, mencengkeram daguku, memaksaku menatap wajahnya. “Aku sudah bilang,” bisiknya. “Aku tidak suka ditentang.” Nafasnya hangat di wajahku. Aku menggigil, bukan karena dingin, tetapi karena ancaman nyata dalam suaranya. Matanya menyapu wajahku perlahan, seolah menilai, seolah memutuskan sesuatu yang tak bisa kutolak. “Kali ini,” lanjutnya. “Kamu tidak akan kabur lagi.” Tangannya melepas daguk

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   4. Ketika Kebebasan Hanya Tipuan

    Mataku membelalak, wajahku memanas. Kata itu terdengar begitu kasar di telingaku. Aku tidak menyangka ia akan bertanya sejauh itu. Aku ingin menamparnya, tetapi tubuhku terlalu lemah. Bagaimana bisa seorang laki-laki bertanya demikian. Dasar mesum! “Itu bukan urusanmu,” jawabku. Dia tertawa kecil lagi. Bahkan, ia tidak merasa bersalah membuatku kesal. “Biasanya gadis sepertimu yang paling cerewet,” katanya. “Dan paling rapuh.” sambungnya. Aku menggeleng keras. Benar-benar di luar prediksi. Pria macam apa dia. Apakah dia terbiasa bertanya hal yang tabu itu pada semua wanita? Jika iya, bukankah dia tergolong laki-laki predator? Pemangsa gadis di luar sana. Menjijikan! “Kita tidak boleh satu kamar,” ucapku cepat. “Kita bukan muhrim.” Dia mengamati wajahku dengan ekspresi sulit ditebak. Sejenak aku berharap kata kataku menyentuh sisi kemanusiaannya. Namun harapan itu runtuh saat ia melangkah lebih dekat. “Kalau menikah, bisa ya satu kamar?” tanyanya ringan. Aku terdiam, k

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   3. Kamar yang Bukan Milikku

    Janice tampak ragu sejenak sebelum menjawab. Ia menatapku dengan mata penuh keyakinan, seakan benar benar percaya pada pria itu. Keyakinan itu membuatku muak. Tidak ada yang bisa membenarkan apa yang telah Brian lakukan padaku. Penculikan, intimidasi, dan teror bukanlah perlindungan. “Nona sangat beruntung,” ucap Janice. “Tuan tidak sembarang mau melindungi.” “Disekap seperti ini disebut beruntung?” sahutku. Janice tidak membalas, hanya tersenyum kecil lalu pamit keluar. Pintu tertutup kembali, meninggalkanku sendirian. Aku menatap nampan sarapan itu cukup lama. Sejak kemarin aku tidak makan apa pun, tetapi rasa ingin hidup bebas jauh lebih kuat dari rasa lapar. Aku tidak boleh pasrah. Aku harus pergi dari sini. “Aku harus pergi,” gumamku. Aku berdiri dan membuka tirai jendela perlahan. Pandanganku langsung tertuju ke kolam renang di bawah. Dan di sanalah dia, Brian. Duduk santai di tepi kolam, tubuhnya basah, rambutnya meneteskan air. Hanya mengenakan kaus tipis dan celana

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   2. Perlindungan yang Tidak Pernah Kuminta

    Aku menatapnya tajam, perasaan lega tadi langsung runtuh begitu saja. Jantungku kembali berdegup kencang dengan irama tidak beraturan. Harapan kecil yang sempat tumbuh langsung dipatahkan tanpa ampun. Aku menggigit bibirku, mencoba menahan emosi yang kembali naik. Pria ini memang tidak pernah berniat melepaskanku. “Apa lagi yang kamu inginkan?” tanyaku putus asa. Brian melangkah mendekat, membuat jarak di antara kami kembali menipis. Aku bisa merasakan auranya menekan, membuatku refleks menarik bahu. Tatapannya turun sesaat ke wajahku sebelum kembali mengunci mataku. Ada sesuatu di sana, campuran kontrol dan ketertarikan yang membuatku tidak nyaman. Aku merasa seperti sedang dipelajari. Perasaan itu membuat kulitku merinding. “Aku akan melindungimu,” katanya. Melindungi katanya? Bahkan dia menculik aku. Bagaimana dia melundungiku? Kalimat itu diucapkan seakan aku anak balita. “Melindungi dari apa?” tanyaku cepat. “Dari Bela,” jawabnya singkat. “Dan dari dirimu sendiri.”

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   1. Rahasia yang Membuatku Terikat

    Suara itu memecah kesunyian ruangan seperti petir yang jatuh tanpa peringatan. Tubuhku tersentak di kursi dingin, nafasku tercekat dan dadaku terasa sesak sekali. Pergelangan tanganku terikat kuat hingga kulitku perih dan berdenyut. Lampu di ruangan ini temaram membuat bayangan di dinding bergerak seolah hidup. Aku mencium aroma logam dan dingin yang membuat perutku mual. Pria di hadapanku berdiri terlalu dekat sehingga aku bisa merasakan nafasnya. “KATAKAN!” perintahnya. Aku menelan ludah dengan susah payah, lidahku terasa kelu dan kaku. Jantungku berdetak terlalu kencang sampai telingaku berdengung. Mataku perlahan naik menatap wajah pria itu yang keras dan tak berperasaan. Iris matanya berwarna madu, namun dinginnya menusuk sampai ke tulang. Ku akui, fitur wajahnya memang salah satu deretan pria tampan yang pernah aku temui. Sepertinya, pria ini tidak terbiasa ditolak. “Aku tidak tahu apa apa,” jawabku pelan. Dia tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menenangkan. R

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status