LOGINJanice tampak ragu sejenak sebelum menjawab. Ia menatapku dengan mata penuh keyakinan, seakan benar benar percaya pada pria itu. Keyakinan itu membuatku muak. Tidak ada yang bisa membenarkan apa yang telah Brian lakukan padaku. Penculikan, intimidasi, dan teror bukanlah perlindungan.
“Nona sangat beruntung,” ucap Janice. “Tuan tidak sembarang mau melindungi.” “Disekap seperti ini disebut beruntung?” sahutku. Janice tidak membalas, hanya tersenyum kecil lalu pamit keluar. Pintu tertutup kembali, meninggalkanku sendirian. Aku menatap nampan sarapan itu cukup lama. Sejak kemarin aku tidak makan apa pun, tetapi rasa ingin hidup bebas jauh lebih kuat dari rasa lapar. Aku tidak boleh pasrah. Aku harus pergi dari sini. “Aku harus pergi,” gumamku. Aku berdiri dan membuka tirai jendela perlahan. Pandanganku langsung tertuju ke kolam renang di bawah. Dan di sanalah dia, Brian. Duduk santai di tepi kolam, tubuhnya basah, rambutnya meneteskan air. Hanya mengenakan kaus tipis dan celana pendek, membuat sosoknya tampak terlalu nyata. Dadaku berdebar tanpa alasan yang kuinginkan. “Tampan,” ucapku refleks. Aku langsung menggeleng keras, merasa berdosa. l “Astaghfirullah, sadar Amaya. Dia itu bedebah yang jahat dan berbahaya.” Seolah mendengar batinku, Brian mendongak dan menatap ke arah jendela. Tatapan itu membuatku panik. Aku segera menutup tirai dan menjauh. Jantungku berdegup liar. Tatapan matanya seperti elang, sayu namun tajam, seakan bisa menerkam kapan saja. Aku menjatuhkan diri ke ranjang, menatap langit langit putih. Kamar ini terlalu luas, terlalu mewah untuk seseorang sepertiku. Panti asuhan tempatku dibesarkan tidak semewah ini. Seharusnya aku merasa nyaman. Namun yang kurasakan hanya ketakutan dan sesak. “Bela,” bisikku. “Maafin aku.” Air mata jatuh tanpa bisa aku tahan. Rahasia itu, pengkhianatan itu, terus menghantuiku. Aku tidak pernah berniat menyakiti sahabatku. Aku hanya tidak punya pilihan. Brian tahu itu, dan ia memanfaatkannya. Dia memang jahat. “Bagaimana dengan kuliahku?” tanyaku gelisah. Belum sempat pikiranku menemukan jawaban, pintu kamar terbuka. Aku tersentak berdiri, tubuhku gemetar. Dan di sanalah dia, berdiri di ambang pintu dengan tubuh basah dan handuk melilit pinggangnya. Dadaku tercekat. Segera bangkit dari tempat tidur. Aku terpaku menatap tubuh pria itu, otakku menolak bekerja. Tatapannya terkunci padaku, penuh tekanan yang membuat kakiku melemah. Aku sadar, sejak detik ini, aku tidak hanya terkurung secara fisik. Aku sedang masuk ke dalam permainan berbahaya yang dikendalikan sepenuhnya oleh Brian. "Sial!" rutukku di dalam hati. Tubuh pria itu berdiri di ambang pintu seperti bayangan yang menelan cahaya di belakangnya. Rambutnya masih basah, tetesan air jatuh ke lantai marmer tanpa suara. Dada bidangnya naik turun pelan, seolah ia baru saja menyelesaikan sesuatu yang membuatnya santai. Handuk yang melilit pinggangnya tampak longgar, membuatku refleks menelan ludah. Jantungku berdegup tidak karuan, lebih keras dari yang kuinginkan. Ruangan yang tadi terasa luas kini mendadak sempit. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku dengan suara yang nyaris tidak stabil. Dia menatapku lama, terlalu lama, membuat kulitku merinding. Tatapannya bergerak dari wajahku ke ujung kakiku, lalu kembali naik perlahan. Aku ingin memeluk tubuhku sendiri, menutup diri dari cara ia memandangku. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuatku merasa seperti benda mati. Sesuatu yang membuatku ingin berteriak dan lari. “Kamu ini lucu,” ucapnya akhirnya. “Ini rumahku, aku ingatkan jika lupa,” jawabnya mencibir. Aku menguatkan diri, meski kakiku gemetar. Aku tidak boleh terlihat lemah di hadapannya. Pria ini sudah cukup merasa berkuasa. Aku tidak ingin memberinya kepuasan melihatku takut. “Tapi ini kamar yang aku tempati sekarang,” balasku. “Kamu tidak bisa seenaknya masuk.” aku mencoba mengutarakan keberatanku. Dia tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. Senyum yang sama seperti kemarin, sebelum semuanya berubah menjadi mimpi buruk. Aku membenci senyum itu. Senyum yang membuatku merasa kecil dan tidak berdaya. “Kamu tahu ini kamar siapa?” tanyanya sambil melangkah masuk. Aku mundur satu langkah tanpa sadar. “Tidak,” jawabku singkat. Dia berhenti tepat di depan pintu kamar mandi, lalu menoleh ke arahku. Jarak kami tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk membuat nafasku terasa berat. Aku bisa mencium aroma sabun dari tubuhnya. Hangat dan asing. Aku membenci kenyataan bahwa inderaku menangkap hal hal remeh seperti itu. “Kamar ini kamarku, gadis kecil cerewet,” katanya datar. “Jadi saya berhak ada di sini.” Dadaku serasa runtuh. Aku berada di kamar pria ini sejak tadi malam? Pikiran itu membuat kepalaku pusing. Aku merasa kotor hanya dengan memikirkannya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. “Kalau begitu aku pindah kamar,” ucapku cepat. Aku melangkah ke samping, berniat menjauh darinya. Namun kakiku membentur ranjang, membuat tubuhku terhenti. Brian bergerak lebih cepat dari dugaanku. Ia mendekat, membuat jarak kami hampir tidak ada. Aku bisa merasakan panas tubuhnya. “Kamu tidak akan pergi ke mana-mana,” katanya pelan. Aku mendongak, menatap wajahnya dengan napas memburu. Jantungku terasa seperti ingin melompat keluar. Aku takut, tetapi aku juga ingin marah. Marah karena ia memperlakukanku seperti ini. Marah karena aku tidak punya pilihan. “Aku sudah melakukan apa yang kamu mau,” ucapku dengan suara bergetar. “Aku sudah memberi tahu rahasia itu. Ini tidak adil bagiku!" Dia mengangkat satu alis, seolah terhibur. “Dan?” tanyanya. “Lepaskan aku,” pintaku. “Biarkan aku pulang.” Brian tertawa kecil, suara rendahnya membuat bulu kudukku berdiri. Tawanya tidak terdengar hangat. Justru sebaliknya. Seolah permintaanku adalah lelucon yang sangat menghibur baginya. “Kamu pikir dunia sesederhana itu?” ucapnya. Aku menggeleng, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku tidak ingin menangis di depannya. Aku tidak ingin terlihat lemah. Tapi tubuhku tidak sekuat tekadku. “Aku tidak mau melayani nafsumu,” bentakku tiba-tiba. Kata kata itu keluar begitu saja, didorong oleh ketakutan yang sudah menumpuk. Ruangan mendadak hening. Senyumnya menghilang, digantikan tatapan tajam yang membuat jantungku nyaris berhenti. “Nafsu?” ulangnya pelan. Ia mendekatkan wajahnya, begitu dekat hingga napasnya menyentuh pipiku. Aku bisa melihat detail wajahnya dengan jelas. Garis rahang yang tegas, mata madu yang sayu namun tetap saja. Dia Brian Aksara, pria penculik, jahat dan seenaknya sendiri. Pria ini terlalu nyata untuk disebut mimpi buruk. Dia adalah monster berbadan manusia. “Kamu terlalu percaya diri,” lanjutnya. “Aku tidak kekurangan wanita.” Sombong sekali! Sudah ku duga. Ia pria buruk yang hanya terjebak pada tubuh yang sempurna. Memiliki uang dan kekuasaan, maka dia memperlakukan wanita seenak hati. Bahkan, mengukurnya dengan uang. “Kalau begitu jangan sentuh aku,” ucapku cepat. Tanganku refleks menepis tangannya saat ia menyentuh pipiku. Sentuhan itu membuatku merinding, bukan karena nyaman, tetapi karena takut. Aku tidak ingin ada bagian dari diriku yang ia klaim. Sudah cukup dia berikan tekanan dan akhirnya aku membuka rahasia Bela. Entah, bagaimana nasib Bela. Hal yang aku inginkan setelah keluar dari penculik ini adalah menemui Bela. Tentu, aku akan menjelaskan semua yang terjadi. Ia pasti pahami itu. Sesaat semua lamunanku buyar. Brian yang terdiam sejak tadi maju lebih dekat lalu tersenyum miring. “Kamu masih perawan?” tanyanya tanpa rasa bersalah.Selanjutnya, POV author Di tempat lain, suasana mencekam di sebuah keluarga yang sangat kacau. Ruangan seakan ikut membeku tergerus aura kemarahan yang dahsyat. “Kamu benar-benar membuat malu keluarga, Bela!” Suara ayah Bela terdengar dingin dan menghantam. Bela duduk menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. Pernikahannya dibatalkan secara brutal di depan banyak orang. Rahasia yang ia jaga mati-matian kini terbuka telanjang di hadapan para tamu undangan. “Tapi aku mencintai dia, Pa,” katanya terisak. Plak. Tamparan keras menggema di ruangan itu. Bela terjerembap dalam tangis, sementara ibunya segera memeluknya panik. “Sudah, Pa!” seru sang ibu. Namun kemarahan itu tak surut. Wajah sang ayah merah padam, harga dirinya hancur. Ia bukan pria biasa. Ia seorang walikota, calon gubernur, dan skandal ini tentu bisa menghancurkan segalanya. Berita secara daring menyebar dalam sekejap. Dering telepon dan laporan dari ajudannya terus datang. “Kamu tahu apa akibatnya?” bent
Tidak ada jawaban. Hanya kecepatan yang bertambah. Jalanan terasa panjang dan mencekam. Aku tahu, aku dibawa kembali. Kembali ke rumah itu. Kembali ke pria itu. Brian berdiri di ruang tengah ketika aku diseret masuk. Tatapannya tajam, wajahnya keras, dan rahangnya mengeras menahan amarah. Saat matanya menangkap tubuhku yang lemas, sudut bibirnya terangkat dingin. “Kamu berani kabur,” katanya pelan. Aku jatuh berlutut, tubuhku sangat lemah, di mana kekuatanku biasanya? “Aku hanya ingin pulang,” ucapku lirih. Brian melangkah mendekat. Sepatunya berhenti tepat di hadapanku. Ia menunduk, mencengkeram daguku, memaksaku menatap wajahnya. “Aku sudah bilang,” bisiknya. “Aku tidak suka ditentang.” Nafasnya hangat di wajahku. Aku menggigil, bukan karena dingin, tetapi karena ancaman nyata dalam suaranya. Matanya menyapu wajahku perlahan, seolah menilai, seolah memutuskan sesuatu yang tak bisa kutolak. “Kali ini,” lanjutnya. “Kamu tidak akan kabur lagi.” Tangannya melepas daguk
Mataku membelalak, wajahku memanas. Kata itu terdengar begitu kasar di telingaku. Aku tidak menyangka ia akan bertanya sejauh itu. Aku ingin menamparnya, tetapi tubuhku terlalu lemah. Bagaimana bisa seorang laki-laki bertanya demikian. Dasar mesum! “Itu bukan urusanmu,” jawabku. Dia tertawa kecil lagi. Bahkan, ia tidak merasa bersalah membuatku kesal. “Biasanya gadis sepertimu yang paling cerewet,” katanya. “Dan paling rapuh.” sambungnya. Aku menggeleng keras. Benar-benar di luar prediksi. Pria macam apa dia. Apakah dia terbiasa bertanya hal yang tabu itu pada semua wanita? Jika iya, bukankah dia tergolong laki-laki predator? Pemangsa gadis di luar sana. Menjijikan! “Kita tidak boleh satu kamar,” ucapku cepat. “Kita bukan muhrim.” Dia mengamati wajahku dengan ekspresi sulit ditebak. Sejenak aku berharap kata kataku menyentuh sisi kemanusiaannya. Namun harapan itu runtuh saat ia melangkah lebih dekat. “Kalau menikah, bisa ya satu kamar?” tanyanya ringan. Aku terdiam, k
Janice tampak ragu sejenak sebelum menjawab. Ia menatapku dengan mata penuh keyakinan, seakan benar benar percaya pada pria itu. Keyakinan itu membuatku muak. Tidak ada yang bisa membenarkan apa yang telah Brian lakukan padaku. Penculikan, intimidasi, dan teror bukanlah perlindungan. “Nona sangat beruntung,” ucap Janice. “Tuan tidak sembarang mau melindungi.” “Disekap seperti ini disebut beruntung?” sahutku. Janice tidak membalas, hanya tersenyum kecil lalu pamit keluar. Pintu tertutup kembali, meninggalkanku sendirian. Aku menatap nampan sarapan itu cukup lama. Sejak kemarin aku tidak makan apa pun, tetapi rasa ingin hidup bebas jauh lebih kuat dari rasa lapar. Aku tidak boleh pasrah. Aku harus pergi dari sini. “Aku harus pergi,” gumamku. Aku berdiri dan membuka tirai jendela perlahan. Pandanganku langsung tertuju ke kolam renang di bawah. Dan di sanalah dia, Brian. Duduk santai di tepi kolam, tubuhnya basah, rambutnya meneteskan air. Hanya mengenakan kaus tipis dan celana
Aku menatapnya tajam, perasaan lega tadi langsung runtuh begitu saja. Jantungku kembali berdegup kencang dengan irama tidak beraturan. Harapan kecil yang sempat tumbuh langsung dipatahkan tanpa ampun. Aku menggigit bibirku, mencoba menahan emosi yang kembali naik. Pria ini memang tidak pernah berniat melepaskanku. “Apa lagi yang kamu inginkan?” tanyaku putus asa. Brian melangkah mendekat, membuat jarak di antara kami kembali menipis. Aku bisa merasakan auranya menekan, membuatku refleks menarik bahu. Tatapannya turun sesaat ke wajahku sebelum kembali mengunci mataku. Ada sesuatu di sana, campuran kontrol dan ketertarikan yang membuatku tidak nyaman. Aku merasa seperti sedang dipelajari. Perasaan itu membuat kulitku merinding. “Aku akan melindungimu,” katanya. Melindungi katanya? Bahkan dia menculik aku. Bagaimana dia melundungiku? Kalimat itu diucapkan seakan aku anak balita. “Melindungi dari apa?” tanyaku cepat. “Dari Bela,” jawabnya singkat. “Dan dari dirimu sendiri.”
Suara itu memecah kesunyian ruangan seperti petir yang jatuh tanpa peringatan. Tubuhku tersentak di kursi dingin, nafasku tercekat dan dadaku terasa sesak sekali. Pergelangan tanganku terikat kuat hingga kulitku perih dan berdenyut. Lampu di ruangan ini temaram membuat bayangan di dinding bergerak seolah hidup. Aku mencium aroma logam dan dingin yang membuat perutku mual. Pria di hadapanku berdiri terlalu dekat sehingga aku bisa merasakan nafasnya. “KATAKAN!” perintahnya. Aku menelan ludah dengan susah payah, lidahku terasa kelu dan kaku. Jantungku berdetak terlalu kencang sampai telingaku berdengung. Mataku perlahan naik menatap wajah pria itu yang keras dan tak berperasaan. Iris matanya berwarna madu, namun dinginnya menusuk sampai ke tulang. Ku akui, fitur wajahnya memang salah satu deretan pria tampan yang pernah aku temui. Sepertinya, pria ini tidak terbiasa ditolak. “Aku tidak tahu apa apa,” jawabku pelan. Dia tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menenangkan. R







