Share

6. Dibawa Kembali

Author: QM
last update Last Updated: 2026-01-30 18:39:50

Selanjutnya, POV author

Di tempat lain, suasana mencekam di sebuah keluarga yang sangat kacau. Ruangan seakan ikut membeku tergerus aura kemarahan yang dahsyat.

“Kamu benar-benar membuat malu keluarga, Bela!”

Suara ayah Bela terdengar dingin dan menghantam. Bela duduk menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. Pernikahannya dibatalkan secara brutal di depan banyak orang. Rahasia yang ia jaga mati-matian kini terbuka telanjang di hadapan para tamu undangan.

“Tapi aku mencintai dia, Pa,” katanya terisak.

Plak.

Tamparan keras menggema di ruangan itu. Bela terjerembap dalam tangis, sementara ibunya segera memeluknya panik.

“Sudah, Pa!” seru sang ibu.

Namun kemarahan itu tak surut. Wajah sang ayah merah padam, harga dirinya hancur. Ia bukan pria biasa. Ia seorang walikota, calon gubernur, dan skandal ini tentu bisa menghancurkan segalanya. Berita secara daring menyebar dalam sekejap. Dering telepon dan laporan dari ajudannya terus datang.

“Kamu tahu apa akibatnya?” bentaknya. “Kamu tahu aku bisa gagal pemilihan karena ulahmu?”

Sekian tahun membangun kepercayaan publik akan eksistensinya di dunia politik seakan sia-sia. Tim sukses, anak buah yang ia pekerjaan menangani komentar publik dari segala arah. Kanal media sosialnya tidak luput dengan serangan komentar buruk.

“Maafin Bela, Pa,” isak Bela.

Tak ada yang bisa diperbaiki, nasi telah menjadi bubur. Nama baik yang telah tercoreng sudah tidak akan kembali bersih lagi.

“Tidak ada gunanya,” jawab ayahnya dingin. “Besok kamu berangkat ke Singapura. Papa tidak mau melihatmu di rumah ini.”

Bela menangis lebih keras. Dunia yang ia bangun runtuh seketika. Ia menyesal, tetapi penyesalan tidak bisa mengulang waktu.

Ketika akhirnya ia sendirian di kamar, pikirannya berputar pada satu nama.

“Amaya.”

Hanya Amaya yang tahu rahasia itu. Dan kini, rahasia itu sampai pada Delio, calon suaminya. Tangannya mengepal.

“Cari tahu di mana Amaya,” perintahnya lewat telepon. “Sekarang!” tegasnya tanpa keraguan.

Ia menatap foto lama di meja. Gambar dirinya tersenyum berdua bersama sang sahabat. Keduanya menyiratkan sebuah kedekatan yang tidak akan pernah berpisah. Senyum itu terasa menghina. Kedekatan yang terjalin sejak mereka belia membuat kemungkinan gadis lugu di foto itu membongkar rahasia nyaris tidak mampu dipercaya. Hidup terkadang selucu itu. Berkhianat atau dikhianati, adalah dua kondisi yang sangat koheren.

“Amaya,” bisiknya penuh amarah. “Jika benar kamu mengkhianati aku. Aku bersumpah akan membunuhmu.” ucapnya mantap.

Rasa benci yang lahir akibat keadaan pahit membuatnya tidak bisa lagi memaafkan. Baginya, hidupnya sudah berakhir. Masa depan indah yang dulu pernah bersinar di angannya kini padam hanya karena penghianat sahabatnya.

"Aggggh!" pekiknya menumpahkan kekesalan yang terus menghimpit jiwanya.

Hari berlalu, usai pertengkaran dengan sang ayah Bela naik pitam siang itu. Setelah mendapatkan informasi dari orang suruhannya, Bela sangat murka. Sesuai prediksinya, rahasia besar yang harusnya mengantar dirinya untuk menjadi istri pujaan hatinya telah bocor. Pelakunya pun orang yang dekat dengannya.

“Oh, jadi dia biangnya? Brian Aksara yang membuat rencanaku berantakan!” pekik Bela usai mendapatkan laporan dari orang suruhannya.

Dia mendapatkan kabar yang akurat dari informannya. Dirinya begitu marah, sesaat tahu asal muasal rahasianya terbongkar dan menyebabkan keluarganya malu. Lawan politik ayahnya pasti bertepuk tangan senang mendapati kemalangan ini. Sebagai sebuah serangan gratis tanpa usaha keras menumbangkan kekuasaan sang ayah. Politik memang kotor, namun selama berjalan sesuai kehendak publik mampu membingkai diri bak malaikat semua akan baik-baik saja.

“Amaya, kenapa kamu bodoh membocorkan semuanya? Hah!” teriak wanita itu.

Ia membuang seluruh make up mahal yang berada di meja riasnya. Mengikuti amarahnya yang seakan berkobar, dia melangkah ke kasurnya. Sekejap ia menarik dan membuang apapun yang ada di sana.

“Aku dikhianati orang yang aku anggap sahabat. Sial!”

Kamarnya sudah kacau seperti keadaan perasaannya yang telah hancur lebur. Dikecewakan, dibuat malu bahkan kehilangan pria pujaannya hanya karena pengkhianatan hebat dari Amaya.

“Amaya, kamu harus membayar semuanya!”

Tangannya yang memegang sebuah bingkai foto itu segera melemparkan benda itu dengan kasar. Lemparan itu mengenai tepat pada cermin riasnya. Suara cermin pecah terdengar mengerikan. Semua barangnya berhamburan tak jelas di lantai. Kemarahan itu berlanjut, tangannya menggulir ponselnya dan segera menghubungi anak buahnya.

“Cari Amaya, bawa dia padaku hidup-hidup. Cari sampai ketemu!” perintahnya di sambungan telepon.

Dia berdiri di jendela dengan menatap gedung tinggi yang terhampar di sana. Sejak dirinya gagal menikah, sang ayah mengusirnya dari rumah sehingga, saat ini Bela berada di unit apartemennya. Lusa, ia akan terbang ke Singapura. Mengikuti aturan yang diberikan ayahnya tanpa membantah lagi. Cukup beberapa hari ini menunggu proses administrasi dan perpindahannya mengulur waktu sebagai kesempatannya memastikan keingintahuannya.

“Kamu akan merasakan hancurnya aku, Amaya. Sahabat tidak tahu diuntung!” Makinya dalam kesendirian.

Tekadnya untuk membalas dendam pada sahabatnya itu begitu kuat. “Meskipun, nanti aku di luar negeri, jangan kira aku tidak bisa membuatmu membayar pengkhianatanmu, Amaya!”

Sementara itu, di rumah lotus, rumah Brian berada saat waktu beranjak sore. Brian memeriksa berkas yang dibawa Farez padanya. Pria itu dengan rambut yang lembab sehabis mandi serius meneliti setiap data yang tersaji di sana.

“Kamu urus pembayaran, Fares. Jangan sampai terlewat.” kata pria dengan jubah mandi itu.

Farez yang membawa berkah di tangannya seolah membaca suasana hati sang bos. Di ekor matanya menelisik wajah Brian dengan teliti.

“Baik, Bos. Emm, Bos bolehkah saya bertanya?” Fares ragu pada pertanyaan yang mengganjal di benaknya.

Sejak kejadian pagi tadi, Brian seakan berubah dengan cepat ketika Amaya ditemukan. Pria itu bahkan seakan tidak pernah bersikap emosi yang begitu membuat panik seluruh isi rumah. Bahkan jatuh korban atas kemurkaan pria itu.

“Katakan saja, Fares. Kamu masih saja kaku padaku.” balas Brian menutup berkas dan menaruhnya di meja.

“Bos, apakah semua yang Bos lakukan pada Nona Amaya tidak berlebihan? Bagaimana dengan Nona…” belum usai mengatakan kalimatnya, Fares terdiam seraya memperhatikan bosnya itu menginterupsi kalimatnya.

“Semua baik-baik saja. Kamu tentu tau kehidupan pribadi saya, Fares. Saya hanya merasa memiliki tanggung jawab pada gadis itu.” kilah Brian.

“Bos sangat peduli pada Nona Amaya. Bahkan tadi Tuan sangat khawatir. Bos berubah lebih hangat saat di sekitar Nona Amaya.” kata Fares di dalam hati.

“Em, saya hanya ingin tahu, apakah Bos ingin bermain pada gadis itu atau justru…”

“Tidak, biasa saja.” bantahnya lagi. “Sudah, saya mau istirahat. Kerjakan tugasmu saja. Jangan hiraukan yang lainnya!” titah Brian kemudian pergi dari sana.

Fares memandang punggung kekar pria itu menjauh. Mengenal sang bos sejak remaja membuatnya merasakan hal lain. Dia tahu betul, tabiat bos juga sahabatnya itu. Dia tidak ingin membuat bosnya terlalu banyak masalah.

“Semoga, instingku salah kali ini,” gumam Fares penuh harap.

Sedang di kamar, mata Amaya begitu berat untuk sekedar terbuka. Namun, memejamkan mata pun ia tidak mampu. Peristiwa yang ia alami sungguh membuat air matanya terkuras. Tubuhnya terasa remuk redam.

“Kalau aku ditakdirkan mati, aku ingin hal itu dipercepat saja.” katanya dengan mencengkeram ujung bajunya. Gadis itu duduk di ranjang dengan lulut kaki menjadi tumpuan kepalanya.

Suara pintu dibuka membuatnya menoleh. Rasa takutnya berangsur menghilang ketika ia menatap siapa yang ada di ambang pintu.

“Nona, makan dulu.” katanya.

Suara familiar yang selama beberapa hari ini mengisi telinganya. Hanya gadis itu yang bisa berbicara padanya. Di rumah ini semua orang awakan robot mesin yang enggan beramah-tamah padanya. Menyebalkan!

Amaya kembali pada posisinya saat mengetahui Janice-lah yang datang. Maid itu membawa nampan berisi makanan seperti yang dirinya tawarkan pada Amaya.

“Aku tidak lapar.” katanya lirih nyaris tidak terdengar.

Amaya menjawab dengan kepala menoleh berlawanan arah posisi Janice. Maid yang ditugaskan untuk merawat Amaya itu melihat tangan gadis di hadapannya ini, memar. Beberapa bagian juga terlihat membiru. Ia bergegas mengambil kotak obat dan segera meraih tangan Amaya.

“Permisi Nona,” pinta Janice saat mengoleskan krim di luka Amaya.

“Biarkan saja, Janice. Aku lebih baik mati saja.”

Rasa frustasinya kini seakan di ujung dari keputusan. Amaya tidak mampu berpikir jernih lagi.

“Jangan Nona, jangan berkata begitu. Nona Amaya tahu, bagaimana Tuan Brian marah tadi saat tahu kamu pergi?”

Amaya menegakkan kepalanya. Dia bisa mengira bagaimana kemarahan Brian, sebab ia telah menghadapi kemurkaan pria itu. Mungkin, pria itu takut kehilangan mainan barunya. Apa artinya gadis sepertinya? Pria itu bahkan bisa membeli puluhan gadis jika itu untuk kepuasannya. Begitu kiranya pikiran Amaya.

“Non, Tuan bahkan memukul penjaga pintu. Nona tau Pak Ramli, orang paling tua di rumah ini. Sekarang berada di rumah sakit. Kasihan dia, punya anak masih kecil dan istrinya sakit. Sekarang siapa yang akan menanggung mereka?”

Amaya terkejut mendengarnya. Gadis itu setengah percaya dan selebihnya ragu untuk mempercayai semua yang diceritakan Janice. Namun, jika hal buruk terjadi dikarenakan dirinya sungguh hatinya terusik.

“Saya berani bersumpah, apapun yang saya sampaikan adalah kebenaran. Tidak ada kebohongan sedikitpun. Saya ditugaskan untuk menjaga Nona,” lanjut maid itu lagi.

Sedikit saja Amaya bisa berlaku tega, maka cerita Janice akan menjadi angin lalu. Namun, tindakannya yang memang ingin kabur justru menjatuhkan banyak korban. Bagaimanapun, dia yang salah dalam posisi ini.

Seperti paham, Janice meyakinkan Amaya akan keberadaan dirinya. Maid satu ini memang terkenal loyal, namun jika sang tuan sudah memerintahkan maka dia akan tunduk. Ya, Janice ditugaskan untuk menjadi penjaga serta sahabat untuk Amaya. Sehingga, dirinya ingin menanamkan kepercayaan sebagai pondasinya untuk bersahabat dengan gadis berambut hitam legam ini.

“Tuan Brian menghukum Pak Ramli karena ceroboh ke kamar mandi tanpa menunggu penggantinya, sehingga membuat kamu kabur. Tuan sangat peduli padamu, Amaya. Dia ingin melindungi kamu. “

“Melindungi dengan berlagak menjadi malaikat penyiksa aku, Janice? Ini yang kamu bilang melindungi?”

Amaya menunjukkan lukanya yang memanjang di tangan bahkan kakinya. Janice melihatnya terkejut. Namun, dia lebih mengutamakan hal yang sedikit privasi untuk ia pertanyakan.

“Tuan memukulmu karena kamu tidak patuh padanya.”

“Aku tau kamu akan membelanya. Sebab, dialah bosmu. Dia memukulku tanpa belas kasihan. Dia memukuliku dan…” Amaya berhenti berbicara.

Suasana sekejap hening. Janice menatap penuh gadis yang saat ini meneteskan air matanya. Bibirnya bergetar menahan perasaan perih di hatinya. Mengapa nasib buruk menimpanya?

“Dan apa, Nona? Dia merenggut kehormatanmu?”

Sekejap ruangan sunyi. Denting jam yang begitu nyaring terdengar. Amaya menatap mata Janice dengan diam, tubuhnya membeku air mata yang berderai di wajahnya kini kian deras membasahi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   52. Kegelisahan Brian

    Angin malam yang berembus dari celah balkon membawa aroma petrichor yang tajam, sisa-sisa hujan yang membasahi aspal Jakarta. Di dalam kamar, keheningan terasa begitu padat, hanya dipecah oleh suara gesekan ritsleting koper yang ditarik pelan oleh Amaya. Wanita itu, dengan gerak-gerik yang masih sedikit kaku akibat luka jahitan yang belum pulih sempurna, tampak seolah tengah menyusun kepingan masa depan di dalam tas kecilnya. "Brian, apa baju ini terlalu tebal untuk dipakai di Tokyo nanti?" tanya Amaya lembut. Suaranya bening, membelah lamunan Brian yang tengah terpaku menatap lampu-lampu mansion yang buram oleh kabut tipis. Brian menoleh. Cahaya lampu kamar yang kekuningan jatuh di wajah Amaya, memberikan rona yang begitu hangat, sebuah pemandangan yang kontras dengan dinginnya pikiran yang tengah berkecamuk di kepala Brian. Ada rasa sesak yang merayap di dadanya, sebuah perasaan yang tidak memiliki istilah dalam kamus bisnisnya. Ia ingin sek

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   51. Tunangan

    Brian mengeratkan genggamannya. Keangkuhannya kembali mencuat, namun kali ini terasa seperti pelindung yang hangat. "Kehilangan segalanya? Amay, dengar baik-baik. Lentera Maritim, saham, atau pelabuhan itu... semuanya bisa aku beli lagi. Tapi darah yang mengalir di tubuhmu sekarang, itu adalah investasiku yang paling berharga. Selama jantungmu berdetak, aku tidak pernah merasa rugi. Aksara Group tidak akan runtuh hanya karena tikus seperti Gevani mencuri satu gudang." Amaya terdiam, merasakan kekuatan dari kata-kata suaminya. Meskipun Brian tetaplah pria sombong yang angkuh, namun di balik kata-kata itu, ada janji perlindungan yang absolut. "Kamu terantuk apa, Brian? Banyak sekali kosak kata yang kluar dari bibirmu?" gerutu Amaya masih terdengar. Brian menoleh mendengarnya."Jangan kira aku tidak dengar, Amay!" Amaya yang mendengar hal itu segera menoleh ke sembarang arah. "Fares, lanjutkan instruksiku di ruang sebelah. Jangan ganggu istriku lagi," usir Brian dengan nada yang t

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   50. Di Ambang Kebangkrutan

    Malam kian merambat di lorong-lorong rumah sakit yang sunyi, namun di dalam ruangan VVIP yang disulap menjadi benteng kedap informasi itu, ketegangan justru baru saja dimulai. Brian Aksara, meski tubuhnya masih terasa seperti dihimpit beton akibat kehilangan volume darah yang signifikan, tetap memaksakan indranya untuk bekerja tajam. Matanya tak lepas dari jemari Amaya yang berada dalam genggamannya. Getaran halus dari kulit istrinya adalah satu-satunya kompas yang memastikan Brian bahwa ia belum kehilangan segalanya. Fares berdiri mematung di sudut ruangan. Bayangan tubuhnya memanjang di bawah lampu temaram, menciptakan kesan suram yang tak tertolong. Ia memegang ponselnya dengan cengkeraman yang terlalu erat, sesekali melirik ke arah Brian dengan sorot mata yang dipenuhi kegelisahan. Sebagai orang kepercayaan yang telah bertahun-tahun mengabdi, Fares tahu kapan sang raja bisa diganggu dan kapan ia harus diam. Namun, kabar yang baru saja masuk ke perangkat komu

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   49. Pasca Transfusi Darah

    Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Brian, membawa kesadarannya kembali dari kegelapan yang pekat. Kelopak matanya terasa seberat timah, namun ia memaksanya terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih yang membosankan dan pendar lampu neon yang menyilaukan. Kepalanya berdenyut hebat, dan seluruh tubuhnya terasa seringan kapas, sebuah sensasi asing yang menyiksa bagi pria yang terbiasa memiliki kendali penuh atas raganya. Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya, namun rasa lemas yang luar biasa menghantamnya. "Amaya..." Suara Brian keluar hanya berupa bisikan parau yang kering, nyaris tidak terdengar. Ingatannya berputar liar seperti potongan film yang rusak; kilatan belati di toko bunga, teriakan histeris Bela, darah yang merembes di kemeja hitamnya, hingga detik-detik saat ia merasakan nyawanya seolah tersedot keluar melalui selang donor. Dengan sisa tenaga yang ada, Brian menolehkan kepalanya ke samping kiri. Di sana, hanya terpisah oleh jarak

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   48. Rhesus Negatif

    Lantai rumah sakit yang biasanya steril dan tenang kini terasa seperti lorong menuju neraka bagi Brian Aksara. Langkah kakinya yang panjang dan tegas menyapu lantai koridor IGD, meninggalkan jejak-jejak darah yang mulai mengering di atas ubin putih. Kemeja hitamnya yang tadinya rapi kini basah dan lengket, bukan oleh keringat, melainkan oleh darah Amaya yang belum berhenti merembes. Bugh Tiba-tiba tinjuan mengenai perut Brian hingga membuatnya jatuh ke lantai. Fares yang berada di ujung koridor segera memegangi sayang pemukul bosnya. "Brengsek kamu, Brian!" makinya. "Jangan kurang ajar, Amran!" bentak Fares sambil memegangi pria yang sedang murka itu. Brian bangun dan menatap wajah Amran yang penuh kemarahan. Matanya sayu seakan tidak peduli dengan apa yang dilakukan Amran. "Kamu tidak usah ikut campur, Fares! Dan kamu, Brian. Sumber malapetaka buat Amaya. Baru saja dia sembuh setelah hampir dibunuh musuhmu, sekarang dia..." Amran terduduk menumpu lututnya di lantai.

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   47. Lili dan Mawar

    “Tas biasa begitu, kenapa tidak bilang dari semalam? Tau begitu belikan di store terkenal.” celetuk Brian setelah fokusnya beralih melihat tas yang disebut Amaya. “Itu bagus, Brian. Ibu tidak akan mau memakai jika tahu kamu belikan tas mahal.” balas Amaya jujur. “Ok,” setelah kata singkatnya itu, Brian menerima telepon dan menjauh sedikit. Amaya masih memilih bunga untuk dirangkai. Brian melangkah menjauh beberapa meter dari Amaya, menempelkan ponsel ke telinganya. Suaranya terdengar dingin dan tajam saat berbicara dengan rekan bisnisnya di seberang sana. Pria itu sibuk menanggapi laporan audit, sementara matanya masih sesekali melirik ke arah Amaya yang sedang asyik memilih rangkaian bunga lili putih yang mekar sempurna. Brian tidak menyadari bahwa di antara rimbunnya kelopak peony dan mawar yang memenuhi toko, maut tengah mengintai dalam sunyi. Amaya baru saja berbalik, hendak menunjukkan sebuah tas kulit berwarna cokelat tanah yang menurutnya cocok untuk Rahmi. "Brian…" Kata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status