Share

10| Oh, Kau Pialaku!

Author: Kay Liavin
last update Huling Na-update: 2025-03-04 12:47:18

LILIANA

Ryder tiba-tiba menangkap pergelangan tanganku dengan sangat cepat dan menjepitnya sekuat jepitan baja. Dia langsung menjauhkan tanganku dari pistol di pinggangnya.

"Jangan coba-coba," bisiknya tajam.

Aku mengerang kesakitan, bahkan menjerit kesal karena kalah. Aku benar-benar merasa sangat frustrasi. Mata kami bertemu, dan dalam kilatan sekilas, aku bisa melihat peringatan di matanya. Ia tahu apa yang kupikirkan.

Aku menggertakkan gigi, berusaha menyembunyikan keterkejutanku. "Kau ... mungkin salah paham. Aku hanya... haus dan ingin ke toilet."

Aku tidak punya ide lain, hanya alasan itu yang terlintas di dalam kepalaku saat ini.

Ryder tidak menjawab. Sebagai gantinya, dia hanya menatapku lebih dalam, sebelum akhirnya melepaskan genggamannya perlahan.

Aku menarik tanganku dengan hati-hati, lalu menegakkan punggung. "Aku bilang ingin ke toilet... dan haus."

Dia menghela napas, seolah mempertimbangkan jawabannya. "Tahanlah sebentar lagi. Kau bukan anak kecil. Tidak jauh lagi kit
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Diculik Musuh Mantan Suamiku   44| Merasa Istimewa

    LILIANA“Ayo, sudah saatnya kembali!” Suara Ryder terdengar tegas, seperti perintah yang tak bisa diganggu gugat.Aku masih berdiri di sana, tubuhku menolak untuk bergerak. Udara dingin mulai menusuk kulit, tapi pikiranku jauh lebih ribut daripada rasa dingin itu. Dia hendak pergi begitu saja, tanpa menjawab pertanyaanku? Tidak. Aku tidak akan membiarkannya mengabaikanku kali ini.“Aku tidak ingin pertanyaanku diabaikan,” ucapku pelan, nyaris berbisik, tapi cukup untuk menghentikan langkahnya.Ryder tidak menoleh. Bahunya sedikit menegang, lalu kembali rileks. Dia pura-pura tidak mendengar, pura-pura sibuk menyalakan mobil.Dengan nekat, aku melangkah mendekat dan menarik ujung kemejanya. Tarikanku cukup kuat untuk membuatnya berbalik. Sepasang matanya menatapku, tajam, namun ada sesuatu di balik tatapan itu yang tidak bisa kuartikan.“Mengapa kau memanggilku Ana?” tanyaku, suaraku bergetar, entah karena gugup atau karena rasa ingin tahu yang sudah terlalu lama kupendam.Wajah Ryder m

  • Diculik Musuh Mantan Suamiku   43| Kau Memanggilku Ana

    LILIANA“Ryder…” bisikku, setengah ingin memprotes, setengah tak tahu lagi harus berkata apa.Dia tidak menjawab. Satu tangannya bergerak ke punggungku, menahan, membuatku tak punya pilihan selain tetap berada di sana. Aku mencoba menggeliat, tapi genggamannya terlalu kuat—tidak kasar, tapi tak memberi celah.Jarak di antara kami nyaris hilang sepenuhnya. Aku bisa merasakan detak jantungnya, cepat dan mantap, menghantam dinding dadanya. Air di sekitar kami bergoyang pelan, seolah ikut merespons ketegangan ini.“Apa ini… juga bagian dari hukuman?” tanyaku, suaraku lirih dan nyaris tak terdengar.Dia menatapku lama, begitu lama hingga aku mulai gelisah. Lalu ia berkata pelan namun tegas, “Ini… bagian dari mengingatkanmu. Bahwa aku memegang kendali.”Tubuhku menegang. Ada amarah di sana, tapi juga rasa aneh yang tak bisa kujelaskan.Aku mencoba memalingkan wajah, namun tangan Ryder di pinggangku tetap tak bergerak. Dan aku benci mengakuinya—aku tidak sepenuhnya ingin ia melepaskanku.Ket

  • Diculik Musuh Mantan Suamiku   42| Uap dan Rasa yang Tak Terucapkan

    LILIANADi balik celah sempit yang awalnya kurutuki karena harus merayap seperti ular, aku melihat sesuatu yang membuat napasku tercekat.Bukan aurora. Bukan langit malam yang dilukis Tuhan.Sesuatu yang lebih ajaib dari itu.Kolam. Kolam air panas alami yang tersembunyi di antara batu-batu raksasa. Uapnya mengepul seperti kabut di pagi buta, membelai permukaan air dengan manja. Di sekelilingnya, lumut hijau menggantung, dan bebatuan granit membentuk semacam pelindung alami, seakan tempat ini disembunyikan Tuhan sendiri dari dunia.Aku terpaku. Mulutku sedikit menganga. Bahkan aku sempat lupa cara berkedip. Sampai seseorang di sampingku berdeham pelan.“Tidak buruk, kan?”Ryder—makhluk misterius yang baru saja menyeretku dari pondok, yang membuatku hampir menyumpahinya dalam sepuluh bahasa berbeda—sekarang berdiri dengan dagu terangkat. Senyum tipis sombong terselip di wajahnya seolah ia baru saja menunjukkan keajaiban dunia ketujuh dan dia adalah arsiteknya.“Ini... tempat apa?” tan

  • Diculik Musuh Mantan Suamiku   41| Akhir dari Sebuah Hukuman?

    LILIANAAku tak bisa tenang. Hati ini gelisah sejak pagi buta. Duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Aku meremas jemariku sendiri, menatap keluar jendela kayu pondok Ryder yang dingin dan tak berjiwa. Hari-hari di sini seperti menunggu eksekusi. Hening, sunyi, dan penuh rasa tak pasti.Apa yang mereka lakukan di luar sana? Apa yang terjadi pada anak-anak itu? Terutama... pada bayi kecilku? Aku tahu mereka bisa melakukan apa saja untuk memenuhi ambisi mereka—para serigala itu. Mereka tak pernah benar-benar peduli pada siapa pun kecuali diri sendiri dan kawanan mereka.Apalagi kalau sampai Ethan Darnell tahu tentang bayi itu…Aku menggigit bibir. Lelaki itu punya hati yang hanya berdetak untuk kekuasaan. Dan kalau dia tahu aku memiliki darah keturunannya—walau hanya setetes yang mengalir di urat anakku—aku tak bisa membayangkan seperti apa neraka yang akan dia ciptakan.Dan Ryder… lelaki keras kepala, kejam, dan penuh rahasia. Aku tak pernah tahu apa yang dipikirkannya. Pagi ini pun, dia han

  • Diculik Musuh Mantan Suamiku   40| Sampai Kapan Hukuman Ini?

    LILIANA"Sarah, aku tahu kau punya banyak pekerjaan lain yang harus kau selesaikan. Kau tidak harus tinggal di sini dan menungguiku," kataku, mencoba terdengar setenang mungkin. Aku hanya ingin sedikit ruang untuk diriku sendiri, jauh dari tatapan menghakimi—atau penuh rasa iba.Sarah yang baru saja mengantarkanku kembali ke pondok milik Ryder, menatapku dengan heran. "Kau sudah mencoba melarikan diri," katanya tegas.Nada suaranya membuatku mengerutkan kening. Memang benar. Tapi aku tak menyangka dia akan terus mengungkitnya.Seharusnya memang Serina yang menjagaku hari ini, tapi karena aku membuat dia marah, dia pergi begitu saja dan meninggalkanku hanya dengan bibi Sarah."Aku takkan mencobanya lagi," kataku meyakinkan.Sarah mendesah. "Seharusnya kau tahu Ryder akan menemukanmu."Aku menunduk. "Kurasa aku tahu... tapi aku merasa harus mencobanya."Ada sesuatu dalam tatapan Sarah yang mengatakan bahwa dia tidak benar-benar mengerti, dan mungkin memang tak bisa. Dia hidup dalam ling

  • Diculik Musuh Mantan Suamiku   39| Apa yang Dicari Ryder?

    LILIANAAku melemparkan kentang yang sudah aku kupas ke dalam baskom berisi air bersih. Airnya memercik sedikit ke bajuku, tapi aku tidak peduli. Tanganku sudah mulai pegal, tapi entah kenapa, pikiranku jauh lebih lelah.“Sarah…” gumamku akhirnya. “Aku sulit menerima ceritamu tentang Ryder. Maksudku… aku jarang melihat kebaikan hatinya.”Sarah tidak langsung menjawab. Dia sibuk memotong wortel, mata tajamnya fokus ke talenan, seolah sayuran itu menyimpan jawaban hidup. Lalu, pelan-pelan dia menggumam, “Oh, itu…”Aku mengangkat alis, menunggu.“Dia hanya masih belum bisa melepaskan kematian kakek dan adik perempuannya,” lanjut Sarah. “Mereka meninggal saat konflik perebutan tanah di Hutan Merah. Saat itu... keluarga kami benar-benar di ujung tanduk.”Aku mendadak diam. Jantungku terasa melambat.“Waw,” gumamku. “Apakah sang kakek adalah panutan dalam hidupnya?”Sarah mengangguk pelan. “Ya. Ryder sangat mengidolakan kakeknya. Tapi tidak dengan ayahnya. Mereka hampir selalu bertengkar… t

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status