LOGINMalam di Rumah Sakit Sentosa berlalu dalam keheningan yang mencekam. Dion Alvareno berbaring kaku di balik kaca ketat ruang perawatan intensif, terikat pada selang dan monitor detak jantung yang berbunyi teratur. Di luar ruangan itu, Keiran dan Shaluna berdiri bersandingan. Mereka tidak mengucapkan satu patah kata pun kepada pria tua yang tak berdaya itu.Kehadiran mereka di sana hanya untuk memberikan penutup resmi, sebuah stempel akhir bahwa dinasti Alvareno kini berlanjut di bawah genggaman dan aturan mereka sendiri.Satu jam kemudian, mobil membawa mereka kembali ke penthouse Keiran di pusat kota. Begitu pintu koridor pribadi tertutup dan kunci otomatis berdetak mengunci, seluruh sisa ketegangan perang korporasi yang menumpuk bertahun-tahun seolah runtuh seketika.Di dalam remang ruang tengah yang hanya diterangi pendar lampu kota dari balik dinding kaca, Keiran melepas jasnya dan membuangnya ke sembarang tempat. Pria itu memutar badan, menatap Shaluna yang sedang berdiri melep
Julian berdiri membeku di balik meja kerja raksasa yang dulunya milik Dion Alvareno. Surat pembatalan RUPSLB di hadapannya seolah berubah menjadi vonis mati bagi seluruh ambisi yang ia pupuk selama puluhan tahun. Layar monitor di dinding ruangan masih menyala, menampilkan grafik saham Alvareno Group yang mendadak stabil akibat kembalinya kepercayaan para investor mayoritas. Seseorang telah memotong aliran dananya, mengunci ruang geraknya, dan mematikan eksekusinya hanya dalam hitungan jam.Pandangan Julian beralih dari kertas itu menuju Keiran dan Shaluna yang berdiri berdampingan. Ada keheningan yang amat pekat mendominasi ruangan, sebuah kekalahan mutlak yang tidak meninggalkan celah untuk alibi apa pun."Kalian—" Suara Julian keluar berupa desisan parau, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. "Kalian pikir kalian sudah menang?""Ini bukan soal menang atau kalah, Julian," sahut Shaluna, melangkah satu jilid ke depan. Tatapannya tidak lagi menyimpan kemaraha
Aksi pembagian tugas ini dieksekusi dengan presisi dingin tanpa memberi ruang sedikit pun bagi Julian untuk bernapas.Mobil SUV berpelat diplomatik meluncur membelah kemacetan kota. Di dalam kabin, Keiran dan Shaluna saling memeriksa dokumen terakhir sebelum berpisah di persimpangan jalan utama pusat keuangan. Tidak ada keraguan di antara mereka.Pertempuran ini tidak lagi mengandalkan emosi, melainkan perhitungan catur politik tingkat tinggi."Ingat, Keiran," bisik Shaluna sambil merapikan kerah jas hitam pria itu. "Investor cuma peduli pada angka dan stabilitas. Kasih mereka kepastian yang tidak bisa diberikan oleh dendamnya Julian."Keiran menggenggam jemari Shaluna, mendaratkan ciuman singkat namun bertekanan kuat di punggung tangannya. "Dan kamu, Shaluna. Jangankan memberi ruang, cabut seluruh fondasi finansial yang menopang pameran seni Julian di Eropa. Buat dia sadar kalau tanpa nama besar yang dia benci itu, dia bukan siapa-sapa."Mobil berhenti. Mereka membagi peran, be
Pagi hari di pelabuhan lama terasa sangat kontras dari suasana malam sebelumnya. Bau minyak solar, angin laut yang keras, dan debur ombak di antara tiang peti kemas mempertegas bahwa tidak ada tempat untuk lari dari kenyataan.Keiran berdiri di tepi dermaga, mematikan puntung rokoknya di bawah sol sepatu. Kunci rumah kayu tua di pesisir selatan yang tadi malam sempat ia pegang, kini tersimpan rapat di dalam saku dalam jasnya.Bukan sebagai tempat melarikan diri, melainkan sebagai pengingat bahwa kebebasan tidak didapat dengan cara menyerahkan kekaisaran kepada seorang pengkhianat.Ia menoleh ke arah Shaluna yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Aku tidak akan pernah melepas Alvareno Group," suara Keiran terdengar rendah, namun sarat akan otoritas yang kembali menyala utuh. "Menyerah dan biarkan Julian menang cuma bakal membuktikan kalau apa yang dia lakukan itu benar. Dan yang lebih penting, aku tidak akan membiarkan warisan keluarga ini dikuasai oleh rasa dendam."Shalu
Keiran menggeser posisi tubuhnya, memutar badan hingga sepenuhnya menghadap Shaluna. Di bawah temaram lampu gantung teras yang kekuningan, tatapan mata pria itu menggelap. Bukan oleh ketegangan, melainkan oleh keintiman yang tereskalasi tanpa cela.Ia meraih cangkir teh dari tangan Shaluna dan meletakkannya begitu saja di lantai kayu. Jemari Keiran yang lebar kemudian menyusup ke tengkuk Shaluna, menarik wanita itu perlahan hingga jarak di antara bibir mereka terkikis habis.Ciuman yang semula berupa sentuhan lembut di pelipis kini berganti menjadi pagutan yang dalam dan menuntut. Shaluna meresponsnya tanpa ragu. Kedua tangannya naik melingkari leher Keiran, meremas rambut di belakang kepala pria itu. Suara deburan ombak di bawah tebing seolah meredup, tergantikan oleh gesekan kain selimut dan deru napas mereka yang mulai memburu serak.Keiran menyapu bibir Shaluna dengan presisi, mengecap tiap sudutnya dengan kelaparan yang ditahan bertahun-tahun di balik topeng pangeran korpora
Angin laut pesisir selatan berembus membawa aroma garam dan wangi dedaunan basah. Di atas teras rumah kayu bersahaja yang menghadap langsung ke arah Samudra Hindia, derit ayunan kayu tua menjadi satu-satunya suara yang membelah sunyi, berpadu irama dengan gulungan ombak malam yang menghantam karang di kejauhan.Tidak ada kemewahan galeri seni, tidak ada kilatan lampu media, dan tidak ada lagi beban nama besar Alvareno yang saban hari mencekik leher.Keiran duduk di lantai kayu teras yang agak dingin, menyandarkan punggungnya pada tiang penyangga rumah. Mengenakan kaus katun longgar dan celana kain santai, sosok pria yang biasanya selalu dibalut jas kaku bertangan dingin itu kini tampak sepenuhnya luwes. Di jemarinya yang panjang, sebuah cangkir gerabah berisi seduhan teh jahe hangat masih mengepulkan asap tipis.Shaluna duduk tidak jauh dari sana, meringkuk santai di atas ayunan kayu dengan kain selimut tipis melilit bahunya. Wajahnya polos tanpa riasan, rambutnya yang dibiarkan







