Share

154.

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-09-08 22:13:33

Keheningan yang mengendap di dalam kamar mendadak berubah menjadi kehampaan yang luar biasa dingin. Kalimat Aris yang menggantung di udara seolah menyedot seluruh oksigen di ruangan itu.

​Tangan Keiran yang memegang ponsel membeku seketika. Tatapan matanya yang tadi penuh kehangatan mendadak kehilangan fokus, menatap lurus pada dinding kamar tanpa ekspresi.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Bahkan respons paling dasar dari seorang pria tangguh. Sebuah makian atau helaan napas pun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    157. Lihat Aku

    Laju mobil Rolls-Royce perlahan melambat sebelum akhirnya berhenti total di pekarangan rumah kayu di pesisir selatan. Suara mesin mobil mati, menggantikannya dengan gemuruh ombak laut yang menghantam karang dan deru angin malam yang liar.​Keiran tidak menunggu sopir membukakan pintu. Ia mendorong pintu kabin, lalu keluar sambil membawa Shaluna di dalam bopongannya. Gaun hitam dan mantel yang melilit tubuh Shaluna hanya terpasang seadanya, membiarkan sebagian besar kulit mulusnya yang masih hangat terekspos langsung oleh terpaan angin laut malam yang dingin.​Shaluna melingkarkan kedua tangannya di leher Keiran, menyembunyikan wajahnya yang merona di balik ceruk leher pria itu saat Keiran melangkah cepat menaiki tangga teras kayu. Kunci pintu terdorong, dan pintu tebal itu terbanting menutup di belakang mereka, mengunci rapat keheningan dalam rumah dari dunia luar.​Tanpa menurunkan Shaluna, Keiran mendorong tubuh wanita itu menyandar ke pintu kayu yang tertutup. Di dalam kegelapan ru

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    156. Suasana Panas

    "Aku butuh sex."Keiran membeku sejenak, tatapannya yang semula menatap keluar jendela langsung tertambat penuh pada Shaluna. Di dalam kabin Rolls-Royce yang kedap udara dan remang, kalimat singkat itu memutus sisa hening dengan gravitasi yang teramat kuat.​Tanpa mengucap sepatah kata pun, Keiran meraih gagang panel pembatas, menaikkan kaca gelap yang memisahkan kabin penumpang dari pengemudi di depan. Begitu sekat itu tertutup rapat, Keiran menekan tombol pengunci pintu.​Pria itu memutar tubuhnya sepenuhnya, menarik Shaluna dalam satu gerakan tegas hingga wanita itu berpindah duduk di atas pangkuannya. Jas hitam pemakaman yang dikenakan Keiran terasa dingin di kulit, namun dekapan tangannya di pinggang Shaluna memancarkan kehangatan yang membakar.​"Bicara sekali lagi," bisik Keiran rendah di depan bibir Shaluna, suaranya parau dan penuh dominasi yang tak tertahankan.​Shaluna tidak menyahut dengan kata-kata. Ia meremas kerah kemeja hitam Keiran, memangkas sisa jarak dan menyambar

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    155. Pemakaman

    Hujan gerimis mengguyur pemakaman keluarga Alvareno yang terletak di perbukitan hijau yang asri. Suasana duka begitu pekat, dilingkungi barisan pohon cemara tinggi dan ribuan karangan bunga duka cita yang mengular dari pintu gerbang utama hingga ke area pemakaman privat.​Sebagai pemimpin tertinggi Alvareno Group dan satu-satunya pilar keluarga yang tersisa, Tuan Dion Alvareno dilepas dengan prosesi pemakaman Kristiani yang teramat megah dan khidmat.​Ratusan orang hadir memenuhi area pemakaman. Jajaran menteri, diplomat asing, petinggi otoritas keuangan, para CEO perusahaan multinasional, hingga jajaran kurator seni internasional berdiri merapat di bawah naungan payung-payung hitam. Awak media dan ratusan wartawan bertahan di balik garis pengaman polisi di luar gerbang, menyorotkan lensa kamera untuk mengabadikan momen bersejarah runtuhnya era sang patriarch Alvareno.​Di tengah kerumunan yang mengenakan pakaian serba hitam itu, Keiran berdiri tegak di barisan paling depan, persis d

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    154.

    Keheningan yang mengendap di dalam kamar mendadak berubah menjadi kehampaan yang luar biasa dingin. Kalimat Aris yang menggantung di udara seolah menyedot seluruh oksigen di ruangan itu.​Tangan Keiran yang memegang ponsel membeku seketika. Tatapan matanya yang tadi penuh kehangatan mendadak kehilangan fokus, menatap lurus pada dinding kamar tanpa ekspresi. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Bahkan respons paling dasar dari seorang pria tangguh. Sebuah makian atau helaan napas pun sama sekali tidak ada.​Ponsel di tangannya perlahan meluncur dari genggaman, jatuh menimpa kasur busa dengan bunyi puk yang pelan. Suara Aris yang masih memanggil-manggil nama Keiran dari pengeras suara terdengar makin jauh dan sayup, sampai Shaluna meraih ponsel itu dan mematikannya.​"Keiran," bisik Shaluna pelan, suaranya sarat ketakutan melihat keheningan pria di hadapannya.​Dion Alvareno memang seorang manipulatif. Dia adalah sosok ayah yang kejam, dingin, dan menjadikan anak-anaknya seka

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    153. Kabar

    Malam di Rumah Sakit Sentosa berlalu dalam keheningan yang mencekam. Dion Alvareno berbaring kaku di balik kaca ketat ruang perawatan intensif, terikat pada selang dan monitor detak jantung yang berbunyi teratur. Di luar ruangan itu, Keiran dan Shaluna berdiri bersandingan. Mereka tidak mengucapkan satu patah kata pun kepada pria tua yang tak berdaya itu.Kehadiran mereka di sana hanya untuk memberikan penutup resmi, sebuah stempel akhir bahwa dinasti Alvareno kini berlanjut di bawah genggaman dan aturan mereka sendiri.​Satu jam kemudian, mobil membawa mereka kembali ke penthouse Keiran di pusat kota. Begitu pintu koridor pribadi tertutup dan kunci otomatis berdetak mengunci, seluruh sisa ketegangan perang korporasi yang menumpuk bertahun-tahun seolah runtuh seketika.​Di dalam remang ruang tengah yang hanya diterangi pendar lampu kota dari balik dinding kaca, Keiran melepas jasnya dan membuangnya ke sembarang tempat. Pria itu memutar badan, menatap Shaluna yang sedang berdiri melep

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    152. Sudah Selesai

    Julian berdiri membeku di balik meja kerja raksasa yang dulunya milik Dion Alvareno. Surat pembatalan RUPSLB di hadapannya seolah berubah menjadi vonis mati bagi seluruh ambisi yang ia pupuk selama puluhan tahun. Layar monitor di dinding ruangan masih menyala, menampilkan grafik saham Alvareno Group yang mendadak stabil akibat kembalinya kepercayaan para investor mayoritas. Seseorang telah memotong aliran dananya, mengunci ruang geraknya, dan mematikan eksekusinya hanya dalam hitungan jam.​Pandangan Julian beralih dari kertas itu menuju Keiran dan Shaluna yang berdiri berdampingan. Ada keheningan yang amat pekat mendominasi ruangan, sebuah kekalahan mutlak yang tidak meninggalkan celah untuk alibi apa pun.​"Kalian—" Suara Julian keluar berupa desisan parau, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. "Kalian pikir kalian sudah menang?"​"Ini bukan soal menang atau kalah, Julian," sahut Shaluna, melangkah satu jilid ke depan. Tatapannya tidak lagi menyimpan kemaraha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status