INICIAR SESIÓNRama buru-buru menyambar kaosnya yang tergeletak di lantai, memakainya dengan gerakan asal sambil telinganya masih mendengarkan suara ketukan di pintu depan yang tak kunjung berhenti."Sinta! Buka pintunya, ini penting banget!"Sinta bangkit dengan panik mendengar suara Pak RT yang terus berteriak dengan heboh. Ia meraih daster yang tersampir di kursi dekat ranjang, jarinya sedikit gemetar saat mengancingkan bajunya, sementara rambutnya masih berantakan khas orang bangun tidur."Mas, sebaiknya kamu diam aja di sini," bisik Sinta cemas, menahan lengan Rama yang hendak keluar kamar. "Kalau Pak RT lihat kamu di sini, nanti dia malah curiga dan bisa jadi bahan gosip warga sekampung."Rama mengangguk cepat, meski dalam hati ia mendecak kesal. Sudah bukan pertama kali ia harus bersembunyi seperti maling di rumah orang yang ia cintai.Dengan berat hati, Rama kembali duduk di ujung tempat tidur, menatap pintu kamar yang ditutup kembali oleh Sinta."Mau ngapain sih dia pagi-pagi begini udah ng
Malam itu, rumah Nenek Ratna sudah sepenuhnya gelap. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang mengisi kesunyian, menemani Rama yang berbaring di kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya.Berulangkali ia mengubah posisi tidurnya, namun matanya tidak juga mau terpejam. Semenjak kejadian di gudang itu, hatinya selalu gelisah dan tidurnya menjadi tak nyenyak.Preman yang sempat mengintai rumah Sinta beberapa hari lalu memang sudah tidak terlihat lagi sejak Pak RT mengerahkan beberapa warga untuk ronde malam bergiliran. Tapi ketegangan itu tetap meninggalkan bekas terutama di dada Rama, yang terus memikirkan bagaimana keadaan Sinta di tengah semua kekacauan ini.Rama bangkit dari kasurnya, mengintip ke luar jendela kamar. Nenek Ratna sudah lama terlelap di kamar sebelah, suara dengkurannya samar-samar terdengar dari balik dinding bambu."Bodo amat, ah," gumamnya pelan, mengambil kaos yang tergantung di kursi dan memakainya cepat-cepat."Daripada gue gak bisa tidur malem ini, mending
Matahari belum sepenuhnya naik di balik pegunungan di belakang desa, tapi Rama sudah berdiri di depan rumah Sinta.Ia sengaja datang lebih awal, bahkan sebelum jadwalnya kerja di kebun Pak Karman, karena semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak memikirkan gudang penuh dokumen itu."Eh, Mas Rama udah dateng aja," sapa Rina dengan suara serak khas bangun tidur. Matanya langsung cerah seketika kala melihat Rama."Mas Rama pasti mau ketemu Kak Sinta, kan? Dia lagi siapin kopi, sebentar lagi juga selesai," lanjutnya sambil tersenyum manis.Gadis itu melangkah lebih dekat, lalu tanpa ragu menggamit tangan Rama. "Kamu kemana aja sih, Mas? Kok sekarang kamu jarang ke sini," katanya sambil memeluk erat lengan Rama."Rin, jangan mulai deh. Nanti ketahuan Mbak Sinta," ucap Rama sambil berusaha melepaskan tangannya dari pelukan Rina.Sadar dengan penolakan Rama, gadis itu langsung menjauhkan dirinya. "Kamu sama kak Sinta terus, sama akunya kapan?" ungkapnya kesal lalu menggembungkan pipinya.Melihat
Ruang tengah rumah Sinta terasa lebih sempit dari biasanya malam itu. Empat orang duduk melingkari meja kayu tua, Rama, Sinta, Rina, dan Nenek Ratna duduk saling berhadapan, sementara Lina tidak pulang malam ini, menginap di rumah temannya.Tak ada yang bicara selama beberapa saat. Hanya suara isak tangis Sinta yang sesekali masih terdengar, meski sudah jauh lebih tenang dibanding sore tadi.Rama diam-diam memperhatikan Sinta. Keberadaan neneknya diantara mereka membuatnya tidak bisa leluasa untuk sekedar menenangkan wanita itu. Padahal, ingin sekali ia memeluknya, karena beberapa hari kemarin ia terlalu sibuk bekerja bersama Pak Karman."Nek, tadi Nenek bilang kenal salah satu pengacara itu. Sekarang, tolong jelasin. Nenek kenal dia dari mana?" tanya Rama memecah keheningan.Nenek Ratna menghela napas panjang, tangannya yang keriput meraih cangkir teh di depannya, tapi tidak langsung diminum. Wanita tua itu menatap jauh ke depan, seolah pikiranny
Napas Rama masih terengah-engah saat ia sampai di depan rumah Sinta. Benar saja, sebuah mobil sedan hitam yang sama seperti waktu itu terparkir sembarangan di depan pagar, dan suara teriakan Dewi sudah terdengar jelas bahkan dari kejauhan. "Aku bilang, ini surat resmi! Kalian gak bisa nolak lagi!" Rama mempercepat langkahnya, mendorong pagar kayu yang setengah terbuka. Di halaman rumah, Sinta berdiri dengan wajah pucat, memeluk Rina yang menangis ketakutan di sampingnya. Nenek Ratna juga sudah ada di sana, entah kapan datangnya, berdiri dengan tongkat kayu di tangan seolah siap menghadapi apa pun. Dan di depan mereka semua, Dewi berdiri dengan gaun ketat berwarna hijau botol, tangannya memegang map cokelat tebal yang ia kibas-kibaskan dengan angkuh. Di belakangnya, bukan empat preman bertato seperti sebelumnya, melainkan dua orang pria berjas rapi yang wajahnya terlihat lebih terpelajar, dan Rama bisa menebaknya kedua pria itu adalah peng
Sejak kejadian di sudut kebun itu, ada yang berubah dari cara Pak Karman memperlakukan Rama. Bukan berubah jadi dingin atau menjauh, justru sebaliknya bapak tua itu jadi jauh lebih perhatian, bahkan menurut Rama hampir berlebihan. "Mas Rama, udah capek? Istirahat dulu gih, di sana ada kelapa muda," ujar Pak Karman pagi itu, buru-buru menyodorkan gelas berisi air kelapa segar bahkan sebelum Rama sempat mengeluh kehausan. Rama menerimanya dengan senyum polos, seolah tidak menyadari kalau perlakuan istimewa ini muncul tepat sehari setelah insiden di sudut kebun. "Wah, makasih, Pak. Pak Karman baik banget deh emang." "Ya... namanya juga pekerja rajin, harus dihargai," jawab Pak Karman gelagapan, matanya menghindar dari tatapan Rama. Rama menyesap air kelapanya pelan-pelan, menikmati momen di mana Pak Karman berdiri kikuk di depannya, tidak tahu harus bicara apa lagi. Sebenarnya, ada seribu pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Soal kemarin, soal Mbak Jun, soal yang terjadi di sudut keb







