MasukNadira melangkah naik ke dalam bus. Kursi keras yang sudah usang itu berdecit saat dia menyandarkan tubuhnya. Perlahan, bus mulai berjalan. Dari kaca jendela yang buram, Nadira menatap jalanan yang mulai menjauh dari kampungnya.
Bayangan Bapak yang mabuk dan wajah Brama berkelebat di benaknya. Dia memeluk erat tas lusuh sambil menahan Isak tangis agar tidak terdengar penumpang lain. Sepanjang perjalanan, dia melihat ke luar jendela dengan tatapan kosong. Tanpa sadar, dia tertidur. Cahaya matahari pagi menerobos kaca jendela, menyinari wajah Nadira yang tertidur bersandar di jendela. Wajahnya tampak polos dan pucat. Matanya mengerjap, merasakan kehangatan di wajahnya. Dilihatnya bus sudah memasuki wilayah kota. Membawanya melewati jalan raya besar, gedung-gedung tinggi menjulang, serta papan reklame besar dengan warna-warni mencolok. Nadira menarik napas dalam. "Tempat yang akan memberi harapan sekaligus misteri," pikirnya. Entah apa yang akan dia hadapi setelah ini. Bus akhirnya sampai di terminal. Nadira berdiri dengan kaki gemetar, dia melangkah keluar dengan kerumunan penumpang lainnya. Lautan manusia yang berlalu lalang, suara klakson, dan teriakan pedagang menyambut kedatangannya. Kini, dia berdiri di trotoar, menatap sekeliling. Semua terasa asing. Ini pertama kalinya dia datang ke kota. "Ke mana aku harus pergi?" Matanya menatap kendaraan di jalanan yang tampak sibuk mengejar waktu. Kakinya membawanya, berjalan menjauh dari terminal. Tanpa arah tujuan, dia menyusuri trotoar kota yang ramai. Tanpa terasa, hari sudah gelap. Dia melihat ke kiri dan kanan, mencari tempat untuk tidur malam ini. Tidur di manapun itu tidak masalah baginya, asalkan aman. Namun, hingga kini, dia belum menemukan tempatnya. Dia ingin mencari kos, tapi uangnya tidak cukup. Rasanya Nadira hampir putus asa. Perutnya juga terasa melilit karena lapar. Dia ingat kalau perutnya hanya di isi sepotong roti yang di belinya di warung yang di laluinya tadi. Hingga akhirnya, seorang nenek penjual gorengan yang warungnya hampir tutup melihat Nadira sedang duduk murung di pinggir jalan. Nenek menghampirinya. "Nak, kamu dari tadi kelihatan bingung... Kamu lagi cari apa?" tanyanya ramah. "Saya... cari tempat untuk tidur, Nek," jawab Nadira lirih. Nenek itu tersenyum. "Kalau mau, tidur saja dulu di warung nenek malam ini." Tawaran sederhana itu seperti menemukan harta Karun bagi Nadira. Matanya berbinar. "Benarkah Nek? Saya boleh tidur di sana? Terima kasih Nek..." ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Tanpa terasa air matanya jatuh. Nenek mengangguk dan mengajak Nadira ke warungnya. "Maaf ya, Nak. Tempatnya seadanya." "Tidak apa-apa, nek. Ini sudah sangat nyaman. Sekali lagi, terima kasih karena sudah di izinkan tidur di sini Nek." Sambil menutup warung, Nenek itu mengobrol dengan Nadira. Nenek mengetahui bahwa Nadira belum memiliki tempat tinggal dan sedang mencari pekerjaan. Namun, Nadira tidak menceritakan alasan utamanya kenapa dia sampai ke kota ini. Karena baginya, cukup dia sendiri yang tahu. Sebelum nenek pergi, nenek itu memberikan sisa gorengan dagangannya yang di jualnya pada Nadira. Dia bisa menebak pasti Nadira belum makan. Malam itu, Nadira berbaring di lantai dingin dengan tas lusuh yang dijadikannya bantal. Tempat ini terasa aman dan nyaman bagi Nadira, walau pun harus tidur seadanya. Dia teringat bahwa saat berjalan tadi, dia sempat melihat beberapa kertas yang tertempel dengan tulisan lowongan pekerjaan. Namun, hampir semua pekerjaan itu mencantumkan syarat "lulusan kuliah", sedangkan dia hanya lulusan SMA. Di sebuah warung makan sederhana yang di lewatinya tadi, dia berhenti sejenak. "Permisi, Bu... Apa butuh pekerja tambahan?" Seorang ibu setengah baya yang sedang meracik nasi goreng menatapnya dari atas kepala sampai ujung kaki. "Tidak ada," jawabnya singkat. Di beberapa warung dan tempat lain yang di singgahinya, juga memberi jawaban yang sama. "Ternyata sulit mencari pekerjaan untuk lulusan SMA... Tapi aku harus berusaha. Apa pun itu akan ku kerjakan," tekadnya dalam hati.Semua karyawan yang ada di kantin terdiam seketika, mengetahui siapa yang datang. Pria yang tengah dibicarakan saat ini.Rama berjalan mendekati meja yang di duduki Nadira dan teman-temannya. "Ada apa ini, rame banget?" Nadira tertunduk dan menggeleng pelan, berusaha menutupi matanya yang mulai berkaca. "Tidak ada apa-apa, Kak.""Ada yang fitnah Dira, Pak Rama." ucap Sinta pelan dengan nada sedikit gugup. Pandangannya tertuju pada karyawan dari divisi lain yang duduk di belakang Nadira.Rama menatap para karyawan itu, ekspresinya tetap tenang tapi ada ketegasan di matanya. "Apa ada yang ingin kalian ketahui tentang saya dan Dira? Kalau ada, kalian bisa tanyakan pada saya langsung. Tidak perlu berspekulasi hingga akhirnya menyebarkan fitnah." Karyawan dari divisi lain itu tersentak, mulutnya terbuka tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka.Rama mengangkat alis tinggi, seolah memberi isyarat pada mereka "cepat katakan."Karyawan tersebut langsung menunduk, tidak ber
Sesuai perintah Vino, yang tidak menerima bantahan, Nadira akhirnya tidak pernah lagi memesan ojek online.Pada pagi hari, sopir keluarga mengantarnya ke kantor. Dan sore harinya, ketika para karyawan mulai memenuhi lobby, selalu ada sosok Rama.Rama turun dari mobil, melambai santai ke arah Nadira sambil menyandarkan punggung di samping mobil. Sikapnya tampak natural, ramah, tidak terlihat seperti sebuah tugas dari atasan.Namun bagi karyawan yang ada di lobby, melihatnya seperti sebuah bahan cerita baru. Bagaimana tidak... Nadira yang biasanya keluar sambil merapatkan jaket dan langsung memesan ojek, kini berjalan santai ke arah pria yang terkenal sebagai sekretaris CEO.Bisik-bisik pun bermunculan."Eh, itu anak divisi administrasi umumkan?" bisik salah satu karyawan dari divisi marketing."Iya deh, dia pulang bareng Sekretaris Rama?" "Iya, setiap hari loh, kemarin aku juga lihat mereka pulang bareng.""Mereka kelihatan dekat banget, ya?"Oh, jadi karena itu dia pindah ke kantor
Langit sudah mulai menjingga, cahayanya terlihat tipis di ujung gedung. Para karyawan mulai keluar satu persatu melalui lobby utama gedung Putra Corporation.Vino keluar dari lift langsung menuju ke tempat mobilnya terparkir. Saat keluar dari parkiran, mobilnya tiba-tiba berhenti, begitu dia melihat sosok yang sangat dia kenali, berdiri sambil memeluk tas dan memakai jaket tipis."Dira..." gumamnya pelan.Nadira menunduk sebentar sambil mengecek ponselnya. Lalu beberapa menit kemudian , sebuah motor berhenti di depannya. Pengendara ojek online menurunkan standar motornya, dan memanggil nama Nadira."Nadira ?" tanyanya sopan.Nadira mengangguk dan tersenyum sopan, lalu mendekat ke tukang ojek.Melihat pemandsangan itu, tanpa sadar Vino menggenggam setirnya lebih kuat. Seketika dadanya mengeras, dia tidak suka pemandangan itu, sama sekali tidak suka.Cara tukang ojek itu menatap Nadira, saat memastikan penumpangnya benar. Cara Nadira tersenyum kecil pada tukang ojek. Motor itu perlahan
Vino duduk di kursinya cukup lama, menatap layar komputer yang sudah menyala namun tidak satu pun file laporan yang dia baca.Seluruh fokusnya tertarik kekejadian saat di lobby tadi. Nadira yang tampak santai tertawa dengan pria lain, tanpa sedikit pun terlihat beban karena kejadian tadi malam. Seperti memperlihatkan kalau hatinya merasa tidak nyaman dengan perlakuannya, sifat dinginnya yang mengabaikannya semalaman. Nadira tetap terlihat santai...Dia memijat pelipisnya berkali-kali. Tubuhnya terasa panas oleh perasaan yang sebelumnya selalu dia tepis. Cemburu... perasaan itu sudah lama dia rasakan namun dia menepis kuat-kuat. Sejak acara tahunan perusahaan, saat dia melihat Nadira mengobrol hangat dengan pria yang sama saat di lobby tadi.Karena menyadari perasaan itulah akhirnya Vino memilih sering ke luar kota dengan alasan mengurusi beberapa pabrik. Padahal dia hanya ingin menghindar.Ironis, memang... Dia yang membuat kesepakatan pernikahan tanpa berharap cinta darinya, tapi si
Matahari sudah menembus sela tirai ruang kerja, yang membuat Vino membuka matanya pelan, dia mengerjap beberapa kali. Menggeliat pelan, lehernya terasa kaku, bahunya pegal, dan punggungnya protes karena semalaman dia tidur di sofa kecil yang pernah dirancang untuk tidur. Vino duduk perlahan, mengusap wajahnya. Napasnya masih terasa berat, seperti beban semalam masih menempel utuh di bahunya. Dan rasa bersalah yang menekan dadanya.Dia meraih ponsel di atas meja kerja, menyalakannya, lalu melihat jam, 07.15 pagi.Dia membuka pintu ruang kerja dengan tarikan pelan, seolah takut melihat apa yang menunggunya di luar.Biasanya jam segini Nadira masih berada di kamar, bersiap-siap. Kadang berdiri di depan cermin sambil memoles tipis wajahnya dengan bedak atau mengikat rambutnya. Kadang duduk di sofa sambil merapikan dan menyiapkan tas untuk bekerja. Rutinitas pagi Nadira yang selama ini dia anggap biasa.Dan pagi ini setelah pintu terbuka, segala rutinitas yang dia lihat selama ini, tiba-
POV VinoBegitu pintu ruang kerja tertutup di belakangnya, Vino menyandarkan punggung ke permukaan dinding. Napasnya tersengal, seperti habis lari marathon. Padahal dia cuma berjalan cepat dari ranjang ke dalam ruang kerjanya.Tangannya terangkat, menekan wajah dengan kuat.Dingin...Gemetar...Dan dadanya terasa sesak, terlalu penuh untuk menampung perasaan ini."Kenapa tadi aku mengucapkan itu? Kenapa aku malah pergi meninggalkan dia?" Vino mengumpat dalam hati, pelan tapi penuh penyesalan.Dia melangkah ke meja kerjanya dengan langkah kacau. Kursi kerjanya di tarik asal, tubuhnya didudukkan dengan berat. Dia menyalakan laptop, cahaya dari layar laptop memantul di wajah Vino yang masih dipenuhi gelisah. Dia tidak benar-benar melihat isi layar, matanya terpaku, tapi pikirannya melayang pada Nadira.File yang terbuka adalah laporan proyek, namun huruf-hurufnya terlihat seperti blok hitam yang tidak bisa dia pahami. Jari-jarinya mengetik satu baris, lalu berhenti...Hapus... Mengetik







