Masuk"Brakkkk!!!" pria itu keluar kamar apartemen Minah sambil membanting pintu sehingga membuat Minah dan juga Widuri kaget bukan main. Widuri masih bersembunyi di balik pintu, ia memperhatikan Minah yang tampak gusar.
"Dasar tua bangka sialan! datang-datang main minta duit aja, emang dia kira gampang apa cari duit sebanyak itu!" "Dasar payah!!" umpat Minah sambil memasang wajah kesal. Widuri perlahan-lahan melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Wajahnya tegang, masih ada ketakutan yang terlihat, apa yang baru saja ia saksikan sungguh cukup mampu membuat jantungnya berdetak kencang. "Em, Minah.." "Dia bos Reno!" sambar Minah seperti sudah tahu apa yang ingin Widuri katakan. Widuri terdiam, ia tak berani lagi bicara, Minah terlihat sangat kacau. Entah berapa banyak hutang Minah pada bos Reno itu. Tapi jika Widuri nilai dari bagaimana cara bos Reno menagih tadi, sepertinya hutang Widuri cukup besar. Ah, Widuri jadi teringat akan sang ibu di kampung. Seminggu lagi juragan Sarmo akan datang untuk menagih hutang yang terakhir kalinya. Dan jika melihat kenyataan yang saat ini terjadi, Widuri jadi ragu ia akan mendapatkan uang delapan juta itu hanya dalam tempo waktu yang begitu singkat. Ia mulai merasa ragu pada Minah. Entahlah, sepertinya apa yang Minah ceritakan sewaktu di kampung, tak semuanya benar. Perlahan-lahan rasa sesal mulai merambati hati Widuri, meski tetap ada keyakin yang coba untuk terus ia hadirkan. "Em, maaf Minah.." Widuri mencoba untuk kembali bicara, ia masih belum bisa tenang. Ia belum dapat kepastian tentang nasibnya dan ia juga belum memberi kabar pada sang ibu. Hatinya masih gelisah, semua jadi serba tak jelas saat ini. "Jangan panggil gue Minah, Wid!" celetuk Minah kesal, wajahnya cemberut. "Ma-af, lalu aku harus panggil apa?" tanya Minah heran bercampur bingung. "Lu panggil gue Mona! inget ya, Mona! ga ada lagi Minah-Minah!" tukas Minah yang masih tampak jengkel dengan kejadian yang baru saja menimpa dirinya. Widuri diam, meski sejujurnya ia penasaran mengapa Minah harus mengganti namanya, tapi itu tak begitu penting saat ini. Karena yang terpenting adalah bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan kepastian tentang nasibnya, tentang pekerjaan yang dijanjikan Minah saat di kampung. "Udah Wid, gue masih males untuk ngobrol saat ini! pusing kepala gue!" "Gue mau tidur lagi!" seloroh Minah sambil ngeloyor pergi meninggalkan Widuri yang tampak bingung dan kecewa. "Tapi Min..e, Mona..!" "Apalagi?!" tanya Minah, lesu. "Em, itu..!" "Apaan?! ngomong yang jelas lu!" ketus Minah. Widuri jadi gugup saat Minah menatapnya tajam. Nyali Widuri ciut. Tapi kesempatan tak datang dua kali. Jika tak ia tanyakan sekarang, entah kapan ia akan punya kesempatan lagi. Minah tampaknya sangat kesal dengan bos Reno. Ia bisa saja akan mengurung dirinya di kamar dan entah kapan ia akan keluar dan mau bicara normal dengan Widuri. "Em, Mona, sebelumnya aku minta maaf.." suara Widuri agak bergetar seiring rasa gugup yang menyergap. Ia harus merangkai kata dengan hati-hati agar tak membuat Minah tersinggung. Bagaimanapun, saat ini Minah adalah satu-satunya orang yang Widuri kenal di tempat asing itu. "Apa?!" Minah sedikit melotot, mepertegas ucapanya. "Jadi, bagaimana dengan pekerjaan itu?" tanya Widuri dengan rasa takut yang luar biasa hebat. Ia buru-buru menekuk wajahnya, tak ingin kontak langsung dengan dua bola mata Minah yang menyorot tajam. "Puff!!" Minah membuang nafas. Widuri diam, hembusan nafas Minah itu memberi ia dua arti, pertama itu mungkin menandakan rasa kesal karena menganggap Widuri tak percaya padanya, dan kedua, itu bisa juga berarti kalau ia merasa bingung karena bisa saja sesungguhnya pekerjaan yang ia janjikan pada Widuri tak benar-benar ada, alias fiktif belaka. Tapi jika prediksi Widuri yang kedua itu adalah benar, lalu untuk apa Minah mengajak ia pergi ke kota , ikut bersama dirinya. Widuri mulai cemas, Minah memang teman masa kecilnya, tapi mereka sudah sangat lama tak bertemu. Dan lagi, Minah kinj sudah banyak berubah, dan sayangnya, Widuri terlambat menyadari akan hal itu. Desakan hutang pada juragan Sarmo membuat Widuri tak bisa berpikir dengan jernih. Yang ada di kepalanya hanyalah bagaimana caranya agar ia bisa segera mendapatkan uang yang banyak dalam kurun waktu yang singkat. "Lu gak usah takut, gue pasti bakal kasih lu kerjaan, tapi entar, gue masih capek!" "Gue mau tidur dulu, entar kalo gue udah gak capek, kita ngobrol lagi!" ujar Minah sambil beranjak pergi. Widuri mengangguk, ia merasa sedikit lega. Setidaknya Minah tak lepas tanggung jawab. Widuri maklum, Minah mungkin sangat lelah, dan seharusnya Widuri tak mendesaknya seperti itu. _____ "Bos Reno??!!" mata Minah melotot, kaget bukan main ia saat harus mengawali hari dengan kedatangan pria berkepala plontos itu. Bos Reno nyengir kuda. "Mana janji lu jalang?!!" tanya bos Reno sambil menghisap rokok elektrik yang seketika mengepulkan asap pekat beraroma tajam itu. Minah mundur selangkah sambil tangannya sibuk mengipas-ngipas kepulan asap yang menghambur ke arah wajahnya yang masih lesu karena baru bangun tidur. "Baru juga kemaren bos! gue belum keluar rumah bos! sabar dulu dong!" elak Minah. "Semprul! enak aja bacot lu kalo ngomong! mana bisa gue harus sabar terus! duit gue udah puluhan juta yang elu pakai dan belum elu balikin!" "Gue nggak mau tau, pokoknya gue mau elu secepatnya dapetin barang bagus buat gue, atau kalo lu nggak bisa, lu cabut dari tempat ini!" ancam bos Reno. "Jangan dong bos!" rengek Minah. "Makanya, buruan lu cari!" desak bos Reno. "Ya, tapi..gak bisa buru-buru dong bos!" "Bos, kan maunya barang yang masih asli, itu gak gampang bos" celoteh Minah. "Ah, alasan aja lu!" sangkal bos Reno. "Beneran bos! agak susah kalo motor cari yang ori bos!" Bos Reno diam, tapi dalam diamnya ia seperti sedang memikirkan sesuatu. "Eh, siapa gadis yang kemaren ada disini?" tanya bos Reno setengah berbisik dengan mata yang jelalatan mengawasi kondisi sekitar. Mata Widuri melotot, darahnya mendidih berkejaran dengan detak jantung yang tiba-tiba menjadi kencang. Ia sudah paham kemana arah pertanyaan dari bos Reno itu. Kepala Minah menggeleng pelan. "Jangan bos!" ucapnya gemetar. Bos Reno menyeringai seram seperti serigala yang sudah mendapatkan mangsa dan siap untuk menerkam dan mengganyangnya bulat-bulat. Minah merinding, ia sungguh tak sanggup membayangkan apa yang ada di dalam otak bos Reno saat ini. Itu terlalu mengerikan, apalagi untuk seorang Widuri yang lugu dan polos itu. Minah tak ingin apa yang dahulu menimpa dirinya kini harus dialami oleh Widuri. Terlalu banyak resiko yang harus ia tanggung nantinya. "Lu mau utang lu lunas atau..lu angkat kaki dari tempat ini dan kembali hidup jadi gembel?" bisik bos Reno sambil mendesah seram sehingga mampu membuat bulu kuduk Minah berdiri semuanya. Minah diam, ia dilanda bimbang yang luar biasa hebat. ####Langkah pria yang bersama Widuri terhenti saat di depan sebuah pintu. Widuri celingukan, ia tak fokus pada pintu itu, tapi matanya terus berkeliling untuk mengamati area sekitar yang tampak begitu menakjubkan. "Dengarkan aku, kau cepat masuk, lalu rapikan dirimu!" ucap pria itu tiba-tiba. Widuri terhenyak, ia buru-buru mengalihkan pandangan pada pria itu. "Masuk kemana?!" tanya Widuri polos. "Kedalam sini!" ujar pria itu. Widuri diam, ia menatap pintu kayu berwarna cokelat yang ada di hadapannya. "Ini tempat apa?" tanyanya penasaran. "Jangan banyak tanya! cepat masuk!" celetuk pria itu, mulai kesal ia. Widuri menelan ludah, merasa tak enak hati ia mendengar celetukan pria itu. Pria itu segera membukakan pintu, Widuri dengan ragu mulai melangkah masuk. "Kau cuma punya waktu lima menit!" pesan pria itu. Widuri mengangguk pelan. Widuri sudah masuk ke tempat itu. Harum aroma lemon segera menyambut indera penciumannya, suasana yang dingin nan sunyi lun segera datang
Widuri benar-benar sudah tak tahan, kepala yang pusing dan perut yang mual membuat ia tak mampu lagi untuk terus menahan agar tak munta*. Namun saat ia nyaris menyerah, tiba-tiba mobil berhenti. Widuri mengurungkan niatnya, ia masih menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Matanya yang sayu kini coba untuk ia buka lebar-lebar. Dan betapa terkejutnya ia saat ia menyadari dimana ia saat ini. Mobil itu ternyata berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang besar dan tinggi serta terlihat mewah, tapi bukan karena kemegahan gedung itu yang membuat Widuri terkejut dan bengong, melainkan pemandangan di sekitar gedung itu berdiri. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan hutan yang dipenuhi aneka pepohonan, dan satu-satunya tempat yang terlihat bersih hanyalah sebuah jalan aspal yang terlihat lurus tapi sepi tanpa satupun terlihat kendaraan melintas selain dari mobil yang Widuri tumpangi saat ini. Ketika ia menyadari bahwa ia kini sungguh sudah berada di antah berantah, Widuri panik buka
Dengan diantar Minah, Widuri turun ke bawah, menuju ke tempat parkir mobil yang menjemput dirinya. Sepanjang menyusuri lantai demi lantai apartemen, pikirannya terus melayang tak tentu arah. Rasa bahagia karena akhirnya ia akan segera bekerja, kini berubah jadi rasa takut akan ketidakpastian pada apa yang nanti akan ia hadapi di tempat barunya, apalagi setelah Minah menegaskan jika ia tak bisa mengantar Widuri sampai ke tempatnya. Kalimat-kalimat bijak nan penuh penghiburan dan semangat yang terus dilontarkan Minah, nyatanya tak sedikitpun mampu membuat hati Widuri merasa tenang. Bayang-bayang akan hal-hal baru yang aneh dan mengerikan, kini terus bergelayut kasar di kedua netra indahnya yang menyorotkan rasa takut yang luar biasa. "Ayo masuk!" pinta si pria pada Widuri. Widuri tersentak dari lamunannya mendengar suara pria itu, saat ia tersadar, rupanya mereka sudah sampai di parkiran, dan di hadapannya sudah ada sebuah mobil hitam merek kenamaan. "Wid, buruan masuk, semakin cepa
"Mon?! apa semua baik-baik saja?!" tegur Widuri yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Minah. "A, e, enggak a-da..!!" Minah kaget bukan main, ia tak menduga jika Widuri sudah ada di belakangnya. Ia mulai cemas, takut kalau ternyata Widuri sudah ada disitu sejak tadi dan ia mendengar percakapan Minah dan pria utusan bos Reno itu. "Sejak kapan kau disitu?!" tanya Minah gusar, jantungnya berdegup kencang. "Baru aja, aku dengar ada suara orang berbincang, makanya aku kesini. Apa aku menggangu?" Widuri tampak tak enak. "Oh, gak, gak kok!" Minah tersenyum kecut sambil geleng kepala, ia merasa lega karena ternyata dugaannya salah. "Kau sudah siap, kan?" "Iya, aku siap!" ucap Widuri sambil terus menutupi area dadanya dengan kedua telapak tangannya, ia merasa risih dengan belahan dada baju yang ia pakai, itu terlalu rendah baginya. "Kau tunggu saja,kembali ke dalam, aku masih belum selesai!" perintah Minah. "Heh, mana bisa begitu Mona?!" serobot pria itu geram. "Gadis itu su
"Lu mau apa sih?! gue udah setuju sama permintaan elu buat tukar tu gadis sama hutang lu yang segunung! terus lu sekarang minta gue yang jemput tuh gadis?! sialan lu! jalang licik!" "Cihh!!" umpat bos Reno, ia murka karena merasa terus dipermainkan oleh Minah. Minah yang tahu kelemahan pria paruh baya itu tak ingin membuang kesempatan yang tak datang dua kali. "Maaf bos! bos, kan punya banyak anak buah, bos gak usah repot-repot datang kesini, cukup kirim orang aja untuk jemput Widuri!" ujar Minah, sok menasehati seolah dialah yang paling tahu segalanya. "Bocah tengik! nggak usah ngajarin gue! ingat, lu masih bisa makan enak dan tidur nyenyak, itu karena gue! jadi lu jangan coba-coba mempermainkan gue!" ancam bos Reno. "Sorry bos! jangan sensi gitu dong, bos ngerti lah, gue gak mau ambil resiko bos, gue gak mau Widuri curiga sama rencana kita!" "Please bos, bos kirim orang ya kesini!" Minah memohon. "Arggh! sial!" "Oke, gue kirim orang sekarang!" "Em,bos tunggu dulu!" "Apala
"Nah, gitu dong! itu baru cocok!" Minah menyeringai melihat Widuri yang mengenakan baju san sepatu yang tadi ia berikan. Sementara Widuri tampak tak nyaman, ia sibuk menarik bagian bawah bajunya agar menutupi kedua pahanya yang kuning Langsat dan mulus itu. Ia merasa malu memakai baju semacam itu. Belum lagi ia juga jadi tak leluasa bergerak karena kedua kakinya yang kini memakai sepatu hak tinggi, ia harus sangat hati-hati saat melangkah, seperti anak kecil yang sedang belajar berjalan. Sungguh situasi yang sangat merepotkan. "Jadi, lu udah siap?" tanya Minah sambil memperhatikan Widuri dari ujung kaki sampai ujung kepala,ia ingin memastikan bahwa penampilan Widuri sudah sempurna. "I-ya, aku siap!" jawab Widuri tegang. Ia tak tahu pekerjaan macam apa yang akan ia dapatkan nanti sehingga ia harus berpenampilan aneh seperti itu. Tapi Widuri tak bisa lagi protes, Minah memang benar, saat ini nasib sang ibu berada di tangan Widuri. Jika Widuri egois dan tetap pada prinsipnya untuk







