Share

Bagian ke-7

Author: Queen Sando
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-26 22:46:01

"Brakkkk!!!" pria itu keluar kamar apartemen Minah sambil membanting pintu sehingga membuat Minah dan juga Widuri kaget bukan main. Widuri masih bersembunyi di balik pintu, ia memperhatikan Minah yang tampak gusar.

"Dasar tua bangka sialan! datang-datang main minta duit aja, emang dia kira gampang apa cari duit sebanyak itu!"

"Dasar payah!!" umpat Minah sambil memasang wajah kesal.

Widuri perlahan-lahan melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Wajahnya tegang, masih ada ketakutan yang terlihat, apa yang baru saja ia saksikan sungguh cukup mampu membuat jantungnya berdetak kencang.

"Em, Minah.."

"Dia bos Reno!" sambar Minah seperti sudah tahu apa yang ingin Widuri katakan.

Widuri terdiam, ia tak berani lagi bicara, Minah terlihat sangat kacau. Entah berapa banyak hutang Minah pada bos Reno itu. Tapi jika Widuri nilai dari bagaimana cara bos Reno menagih tadi, sepertinya hutang Widuri cukup besar.

Ah, Widuri jadi teringat akan sang ibu di kampung. Seminggu lagi juragan Sarmo akan datang untuk menagih hutang yang terakhir kalinya. Dan jika melihat kenyataan yang saat ini terjadi, Widuri jadi ragu ia akan mendapatkan uang delapan juta itu hanya dalam tempo waktu yang begitu singkat.

Ia mulai merasa ragu pada Minah. Entahlah, sepertinya apa yang Minah ceritakan sewaktu di kampung, tak semuanya benar. Perlahan-lahan rasa sesal mulai merambati hati Widuri, meski tetap ada keyakin yang coba untuk terus ia hadirkan.

"Em, maaf Minah.." Widuri mencoba untuk kembali bicara, ia masih belum bisa tenang. Ia belum dapat kepastian tentang nasibnya dan ia juga belum memberi kabar pada sang ibu. Hatinya masih gelisah, semua jadi serba tak jelas saat ini.

"Jangan panggil gue Minah, Wid!" celetuk Minah kesal, wajahnya cemberut.

"Ma-af, lalu aku harus panggil apa?" tanya Minah heran bercampur bingung.

"Lu panggil gue Mona! inget ya, Mona! ga ada lagi Minah-Minah!" tukas Minah yang masih tampak jengkel dengan kejadian yang baru saja menimpa dirinya.

Widuri diam, meski sejujurnya ia penasaran mengapa Minah harus mengganti namanya, tapi itu tak begitu penting saat ini. Karena yang terpenting adalah bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan kepastian tentang nasibnya, tentang pekerjaan yang dijanjikan Minah saat di kampung.

"Udah Wid, gue masih males untuk ngobrol saat ini! pusing kepala gue!"

"Gue mau tidur lagi!" seloroh Minah sambil ngeloyor pergi meninggalkan Widuri yang tampak bingung dan kecewa.

"Tapi Min..e, Mona..!"

"Apalagi?!" tanya Minah, lesu.

"Em, itu..!"

"Apaan?! ngomong yang jelas lu!" ketus Minah.

Widuri jadi gugup saat Minah menatapnya tajam.

Nyali Widuri ciut. Tapi kesempatan tak datang dua kali. Jika tak ia tanyakan sekarang, entah kapan ia akan punya kesempatan lagi. Minah tampaknya sangat kesal dengan bos Reno. Ia bisa saja akan mengurung dirinya di kamar dan entah kapan ia akan keluar dan mau bicara normal dengan Widuri.

"Em, Mona, sebelumnya aku minta maaf.." suara Widuri agak bergetar seiring rasa gugup yang menyergap. Ia harus merangkai kata dengan hati-hati agar tak membuat Minah tersinggung. Bagaimanapun, saat ini Minah adalah satu-satunya orang yang Widuri kenal di tempat asing itu.

"Apa?!" Minah sedikit melotot, mepertegas ucapanya.

"Jadi, bagaimana dengan pekerjaan itu?" tanya Widuri dengan rasa takut yang luar biasa hebat. Ia buru-buru menekuk wajahnya, tak ingin kontak langsung dengan dua bola mata Minah yang menyorot tajam.

"Puff!!" Minah membuang nafas.

Widuri diam, hembusan nafas Minah itu memberi ia dua arti, pertama itu mungkin menandakan rasa kesal karena menganggap Widuri tak percaya padanya, dan kedua, itu bisa juga berarti kalau ia merasa bingung karena bisa saja sesungguhnya pekerjaan yang ia janjikan pada Widuri tak benar-benar ada, alias fiktif belaka. Tapi jika

prediksi Widuri yang kedua itu adalah benar, lalu untuk apa Minah mengajak ia pergi ke kota , ikut bersama dirinya.

Widuri mulai cemas, Minah memang teman masa kecilnya, tapi mereka sudah sangat lama tak bertemu. Dan lagi, Minah kinj sudah banyak berubah, dan sayangnya, Widuri terlambat menyadari akan hal itu. Desakan hutang pada juragan Sarmo membuat Widuri tak bisa berpikir dengan jernih. Yang ada di kepalanya hanyalah bagaimana caranya agar ia bisa segera mendapatkan uang yang banyak dalam kurun waktu yang singkat.

"Lu gak usah takut, gue pasti bakal kasih lu kerjaan, tapi entar, gue masih capek!"

"Gue mau tidur dulu, entar kalo gue udah gak capek, kita ngobrol lagi!" ujar Minah sambil beranjak pergi.

Widuri mengangguk, ia merasa sedikit lega. Setidaknya Minah tak lepas tanggung jawab. Widuri maklum, Minah mungkin sangat lelah, dan seharusnya Widuri tak mendesaknya seperti itu.

_____

"Bos Reno??!!" mata Minah melotot, kaget bukan main ia saat harus mengawali hari dengan kedatangan pria berkepala plontos itu.

Bos Reno nyengir kuda.

"Mana janji lu jalang?!!" tanya bos Reno sambil menghisap rokok elektrik yang seketika mengepulkan asap pekat beraroma tajam itu.

Minah mundur selangkah sambil tangannya sibuk mengipas-ngipas kepulan asap yang menghambur ke arah wajahnya yang masih lesu karena baru bangun tidur.

"Baru juga kemaren bos! gue belum keluar rumah bos! sabar dulu dong!" elak Minah.

"Semprul! enak aja bacot lu kalo ngomong! mana bisa gue harus sabar terus! duit gue udah puluhan juta yang elu pakai dan belum elu balikin!"

"Gue nggak mau tau, pokoknya gue mau elu secepatnya dapetin barang bagus buat gue, atau kalo lu nggak bisa, lu cabut dari tempat ini!" ancam bos Reno.

"Jangan dong bos!" rengek Minah.

"Makanya, buruan lu cari!" desak bos Reno.

"Ya, tapi..gak bisa buru-buru dong bos!"

"Bos, kan maunya barang yang masih asli, itu gak gampang bos" celoteh Minah.

"Ah, alasan aja lu!" sangkal bos Reno.

"Beneran bos! agak susah kalo motor cari yang ori bos!"

Bos Reno diam, tapi dalam diamnya ia seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Eh, siapa gadis yang kemaren ada disini?" tanya bos Reno setengah berbisik dengan mata yang jelalatan mengawasi kondisi sekitar.

Mata Widuri melotot, darahnya mendidih berkejaran dengan detak jantung yang tiba-tiba menjadi kencang. Ia sudah paham kemana arah pertanyaan dari bos Reno itu.

Kepala Minah menggeleng pelan.

"Jangan bos!" ucapnya gemetar.

Bos Reno menyeringai seram seperti serigala yang sudah mendapatkan mangsa dan siap untuk menerkam dan mengganyangnya bulat-bulat.

Minah merinding, ia sungguh tak sanggup membayangkan apa yang ada di dalam otak bos Reno saat ini. Itu terlalu mengerikan, apalagi untuk seorang Widuri yang lugu dan polos itu.

Minah tak ingin apa yang dahulu menimpa dirinya kini harus dialami oleh Widuri. Terlalu banyak resiko yang harus ia tanggung nantinya.

"Lu mau utang lu lunas atau..lu angkat kaki dari tempat ini dan kembali hidup jadi gembel?" bisik bos Reno sambil mendesah seram sehingga mampu membuat bulu kuduk Minah berdiri semuanya.

Minah diam, ia dilanda bimbang yang luar biasa hebat.

####

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian ke-36

    "Hei! mana gadis tadi?!" tanya Zeka dengan nada suara tinggi, tatapan yang tajam dan raut wajah yang dingin. "Maaf tuan, dia bersama nyonya besar" jawab seorang wanita paruh baya yang sedang merapikan meja makan. "Kemana mereka?" "Saya tidak tau tuan, tapi tadi setelah sarapan nyonya turun ke lantai bawah" ucap si wanita dengan kepala tertunduk tak berani untuk menatap Zeka. "Pufff!" Zeka membuang nafas, terlihat kecewa dia dan membuat si wanita menjadi serba meski sebenarnya itu tak ada kolerasinya dengan dirinya. Dengan terburu-buru Zeka bergegas turun ke lantai bawah. "Kakkkk!!!???!!!!" teriak Zeka dengan suara lantang yang menggema di ruangan luas yang merupakan ruang tamu itu, dua orang pegawai yang sedang bersih-bersih seketika menghentikan pekerjaannya dan berdiri dengan sikap tegap. "Hei! apa kalian melihat nyonya?!" tanya Zeka pada dua orang itu. "Ta-di nyonya besar keluar" jawab salah satu dari mereka dengan suara yang hati-hati takut salah. "Apa dia bersam

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian ke-35

    "Nona, ayo perkenalkan dirimu pada nyonya besar!" pinta si wanita berseragam. Widuri tampak takut dan malu. "Ayo!" desak si wanita. Widuri maju perlahan, kini posisinya sejajar dengan wanita berseragam yang tadi membawa dirinya ke tempat itu. "Sa-ya..." suara Widuri terdengar lirih dan terbata. "Dia hendak melamar pekerjaan disini!" celetuk pria yang duduk di hadapan si wanita. Wanita itu langsung melihat pada si pria yang tetap tenang dan asyik menikmati makanannya. Begitu juga Widuri, ia sama tersentak nya dengan wanita itu hanya saja ekspresinya jelas berbeda dengan wanita itu. Jika wanita itu langsung menatap aneh pada si pria secara langsung, Widuri hanya berani menggerutu tak jelas di dalam hati dengan kepala yang masih tertunduk, takut dan malu. "Oh, begitu rupanya, jadi, siapa namamu?" tanya si wanita lagi yang kini kembali mengalihkan tatapan pada Widuri yang masih tetap membenamkan wajahnya. "E..." "Aku menolaknya!" serobot si pria, entah mengapa ia seolah

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-34

    Sepeninggal pria itu, Widuri masih duduk di atas tempat tidur dengan tubuh yang belum jua kembali terbalut pakaian sepenuhnya. Ia masih terguncang dengan peristiwa tak terduga yang baru saja terjadi. Seperti mimpi, ia terbangun dari tidur dengan perasaan bingung dan berharap semua yang sempat terjadi itu sungguh hangat sebuah ilusi. Bagaimana bisa ia dengan sengaja memamerkan tubuhnya di hadapan pria asing dan tanpa sedikitpun rasa malu, ia secara terang-terangan rela menukar tubuh polosnya itu dengan sejumlah uang. "Krekk!" pintu berderit pelan, Widuri gugup, ia yang belum sempat mengenakan kembali pakaiannya buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang nyaris bug*l itu, kedua matanya menyorot tajam ke arah pintu, memastikan siapa yang datang. "Maaf nona, sebaiknya nona segera bersiap" seorang wanita berseragam yang datang. "Pufff!" Widuri membuang nafas, agak lega, sebab semula ia pikir jika itu adalah pria tadi. Selesai bicara, wanita berseragam itu bergegas pergi

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-33

    "Tuan, saya rela melakukan apapun, ya, apapun asal anda mau membantu saya" ujar Widuri tiba-tiba sambil beranjak menuju ke tempat tidur, pikirnya semua pria di kota itu sama, sebab dari dua pria yang ia temui sebelumnya, mereka semua menginginkan hal yang sama dari Widuri. Dan mungkin saja pria yang ini juga demikian. Widuri sudah tak perduli pada apapun saat ini, bahkan satu-satunya harta yang ia miliki juga akan ia berikan pada pria itu yang penting ia bisa segera mendapatkan uang demi membayar hutang pada juragan Sarmo. Waktu Widuri tak banyak saat ini. Widuri duduk di atas tempat tidur dengan posisi tubuh yang ia atur sedemikian rupa agar terlihat sensual, dan seolah benar-benar sedang berpacu dengan waktu, gadis itu mulai menurunkan secara perlahan bagian atas dari bajunya yang kusut itu. Pemandangan yang cukup miris, beberapa waktu yang lalu ia mati-matian mempertahankan mahkota yang hanya akan ia serahkan suatu hari nanti pada pria yang benar-benar ia cintai, tapi kini tidak

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-32

    Widuri tertegun, saat pria itu melangkah perlahan, seketika ia kembali teringat akan satu hal penting, ibunya. Wanita tua nan malang itu tak tahu seperti apa kini nasibnya. Seumur hidup tak pernah barang sedetikpun mereka berpisah apalagi tanpa ada kabar dan juga kejelasan. Bahkan disaat-saat yang paling sulit paska meninggalnya sang ayah, Widuri tetap setia berada di samping sang ibu, memberikan dukungan luar biasa agar wanita itu tetap mau berjuang agar tetap hidup, meski dengan segala keterbatasan. Dan kini, sudah beberapa hari, jangankan uang delapan juta, kabar lun tak kunjung Widuri berikan pada ibunya yang entah apa masih sehat atau justru sudah terbaring sakit akibat tak sanggup menahan rasa takut dan sedih yang teramat karena tak kunjung mendapat kabar tentang sang anak. Dan juragan Sarmo, tinggal menghitung hari, pria arogan itu akan datang untuk menyita rumah milik orang tua Widuri, Widuri tak sanggup membayangkan ketakutan yang akan menyerang sang ibu, seorang diri mengh

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-31

    Wanita itu tak menjawab pertanyaan Widuri, ia sekali lagi hanya tersenyum dan kemudian berpamitan pergi, meninggalkan Widuri yang takut dan bingung bukan main. Widuri celingukan, ia mencoba untuk mengingat-ingat kejadian yang terakhir kali sebelum pada akhirnya ia berada di tempat asing itu. "Aku semalam ada di mobil bersama pria aneh itu, dan sekarang aku ada disini...apa jangan-jangan pria itu.." "Ya Tuhan, apa ini terjadi lagi padaku?" Widuri bergidik, takut, sepertinya kali ini hidupnya benar-benar akan hancur. Pria itu ternyata tak jauh beda dengan beberapa manusia yang ia temui di kota ini, semuanya tak ada yang baik, mereka semua jahat dan menginginkan kesengsaraan pada diri Widuri. Widuri terduduk lemas di lantai yang terasa sangat dingin, air mata yang hangat mulai menetes membasahi wajahnya yang lelah itu. Hidupnya sudah berakhir, begitulah ia menyimpulkan apa yang terjadi saat ini, tak akan ada harapan untuk bisa kembali pulang ke kampung halaman bertemu dengan sa

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-15

    Tangan bos Reno yang kekar dengan sigap dan begitu cepat langsung meraih tangan Widuri, dan dengan memaksa ia menarik tangan mungil itu. Widuri meringis sambil melenguh menahan sakit. "Jangan takut cantik! aku bukan Monster!" ucap bos Reno sambil terus menatap Widuri yang ketakutan. Ia berusaha

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-14

    Langkah pria yang bersama Widuri terhenti saat di depan sebuah pintu. Widuri celingukan, ia tak fokus pada pintu itu, tapi matanya terus berkeliling untuk mengamati area sekitar yang tampak begitu menakjubkan. "Dengarkan aku, kau cepat masuk, lalu rapikan dirimu!" ucap pria itu tiba-tiba. Widur

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-13

    Widuri benar-benar sudah tak tahan, kepala yang pusing dan perut yang mual membuat ia tak mampu lagi untuk terus menahan agar tak munta*. Namun saat ia nyaris menyerah, tiba-tiba mobil berhenti. Widuri mengurungkan niatnya, ia masih menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Matanya yang sayu kini

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-12

    Dengan diantar Minah, Widuri turun ke bawah, menuju ke tempat parkir mobil yang menjemput dirinya. Sepanjang menyusuri lantai demi lantai apartemen, pikirannya terus melayang tak tentu arah. Rasa bahagia karena akhirnya ia akan segera bekerja, kini berubah jadi rasa takut akan ketidakpastian pada a

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status