LOGIN"Banyak hal yang kadang diluar dugaan apalagi perkiraan. Anggap saja itu sebagai Kejutan."
- Adeeva Abriana Utama -
***
Deva POV
"Dev, buruan turun, yuk? udah di tunggu Salma di bawah."
"Males jalan gue, Nad. Mau di sini aja," kataku masih sambil tiduran di kasur memeluk bantal.
"Jauh-jauh ke Bali, masa cuma mau bikin peta dibantal. Buruan, yuk, ah."
"Males gue, capek."
"Ini kita pergi ngilangin capek, Dev. Lagian kalo lo disini sendirian, gue takut Lionel datengin lo."
"Tapi gue beneran males."
"Lo tau sendiri Salma gimana orangnya, daripada lo di seret sama dia, lebih baik lo ikut gue sekarang."
Aku bangkit dari ranjang, berjalan ke kamar mandi, mematut penampilanku yang tidak terlalu tercela untuk seorang wanita yang barusan patah hati dan berniat bunuh diri.
Mau aku sedandan apapun dibanding ke dua Sahabatku, wajahku adalah yang paling tidak pantas di make up dengan model dewasa. Alhasil dari dulu hanya cream pagi dan cream malam yang menjadi skincare rutinku.
"Gue mau gini aja," kataku malas.
"Terserah, yang penting lo ikut."
Berdua bersama Nada, aku turun ke loby dan mataku membelalak ketika aku lihat Salma tidak hanya seorang diri. Ada seorang laki laki bersamanya. Seorang laki laki memakai hoodie hitam dengan celana pendek, penampilannya santai. Aku yakin usianya bahkan belum ada seperempat abad.
Tiba-tiba, aku mencekal lengan kiri Nada dan menyuruhnya berhenti berjalan ketika aku menyadari siapa laki laki itu."
"Nad...Nad...Nad, itu kenapa si Fabian ikutan nongol?" Tanyaku ketika kami barusan keluar dari lift.
Nada mengembuskan nafasnya, "Mana gue tau, mending lo tanya Salma atau langsung ke Fabian aja. Udah yuk buruan keburu malam."
Setelah kami semua bertemu kami menuju ke parkiran. Aku berjalan di belakang Salma dan Nada. Fabian berjalan di sebelahku. Asli kalo kaya gini orang yang memandang kami akan mengira kalo aku sama Fabian itu saudara, sedangkan dua sahabatku adalah kakaknya.
Tiba-tiba aku merasa tangan Fabian mencekalku dan terpaksa aku menghentikan langkah kakiku. Aku menghadap Fabian, aku melihat Fabian memaparkan senyum manisnya yang aku yakin kalo dilihat cewek-cewek ABG mereka bisa terkena diabetes karena saking manisnya senyum Fabian, sayangnya setiap dia tersenyum, bukannya perasaan dag dig dug duerr di hatiku, melainkan perasaan ingin menjadikan Fabian samsak yang timbul di diriku. Sungguh kenaehan yang nyata.
"Ada apa lagi sih?"
"Lo ikut mobil gue aja ya?" Kata Fabian yang masih belum melepaskan genggamannya dipergelangan tanganku.
"Ngapain? mobil Salma kan SUV, jadi cukup buat kita semua."
"Gue sudah bilang sama Salma kalo lo ikut sama gue."
"Sebentar- sebentar," Aku melepaskan genggaman tangan Fabian di pergelangan tanganku, kemudian aku berlari kecil menuju Salma dan Nada meninggalkan Fabian seorang diri. Setelah aku sampai di dekat mereka aku langsung menyemprot Salma.
"Sal, lo ngomong apa sama Fabian? kok dia ngajakin gue semobil? Emang mobil lo nggak cukup?"
"Bukan nggak cukup, Dev, cuma kayanya si Fabian mesti pura-pura jadi pasangan yang baik kan buat lo. Dan apa yang dilakuin pasangan pas mereka di Bali menurut lo?"
"Liburan," jawabku sekenanya.
"Kencan romantis berdua, lebih tepatnya, quality time biar makin mesra."
"Hah! Gue nggak mau, kenal Fabian juga baru tadi pagi. Lagian kita cuma pasangan jadi jadian buatan lo sama Nada."
Salma hanya memaparkan senyum tercantiknya. Memang di banding kami bertiga, Salma itu yang paling cantik. Bahkan hanya dengan tersenyum, ia bisa membuat laki-laki bertekuk lutut di hadapannya. Bukan hanya laki laki, bahkan kakek-kakek bangkotan yang sudah bau tanah saja bisa langsung jatuh hati padanya.
Tanpa aku sadari, Fabian sudah ada di sebelahku, menarikku menjauhi Salma dan Nada.
"Bi, gue titip Deva, ya?" kata Salma sedikit berteriak ketika aku sudah cukup jauh darinya bersama Fabian yang terus menggeretku mendekati mobilnya.
Akhirnya Fabian berhenti melangkah ketika kami sudah sampai di dekat sebuah mobil sport. Aku biasa saja melihatnya, kalo di kira aku bakalan percaya dengan umurnya yang masih muda dan mobilnya sebagus ini dengan hasil kerja kerasnya, dia salah besar. Aku lebih percaya kalo dia adalah boy toy alias laki-laki simpanan Tante-Tante. Tante-tante yang kesepian dan butuh belaian dedek gemes macam si Fabian ini.
"Mobil lo mana?" Tanyaku padanya.
"Ini," katanya menunjuk McLaren 570 S 2021 warna hijau di depanku.
Aku tertawa mendengarnya.
"Lo kalo lagi berkhayal jangan ketinggian, sakit kalo jatuh nantinya."
Fabian menatapku dengan kening berkerut.
Tidak lama kemudian, ia membuka pintu mobil itu. Kini giliranku yang shock menatapnya. Fabian kemudian masuk ke mobilnya, aku masih menatapnya dengan ketidakpercayaan."Nggak usah udik gitu ngelihat mobil McLaren gue. Bisa pingsan lo kalo lihat Bugatti Veyron sama chiron gue dirumah."
Kenapa setiap aku bisa mengejek bahkan menghina Fabian, Fabian selalu bisa membalasnya bahkan terkadang lebih telak. Aku masih menatapnya dengan ketidak percayaan.
"Buruan masuk, gue udah ditunggu sugar mommy gue di pantai Seminyak."
Aku akhirnya menuruti keinginan Fabian karena aku penasaran dengan Sugar mommy yang begitu baik, bahkan sampai memberikan sebuah mobil sport kepada boy toy-nya, seperti apa wajahnya. Aku penasaran dan aku harus melihatnya.
"Iya-iya, gue masuk," kataku melangkah masuk ke kursi penumpang di sebelah Fabian.
Kemudian Fabian tancap gas meninggalkan parkiran menuju pantai Seminyak yang tidak terlalu jauh dari hotel tempatku menginap.
***
"Aku tidak memilih milih apapun, kecuali apa yang akan masuk kedalam perutku."- Fabian Alaric Kawindra -***Fabian POVMalam ini aku puas mengerjai Deva habis habisan. Apalagi ketika Deva selesai membayar tagihan makanan kami. Sebenarnya aku sudah melakukan reservasi sejak aku balik ke hotel setelah menemaninya untuk menjadi pasangan jadi jadian. Aku ingin menghiburnya dengan melihat pemandangan yang indah berbonus makanan enak dan asli, aku sama sekali tidak berniat untuk makan gratisan ketika bersama dengan Deva. Aku yang berniat mentraktir Deva makan, bukan sebaliknya, tapi entah kenapa pada akhirnya semua rencana berubah.Tadi ketika makan aku menatap Deva dalam diam hingga Deva yang aku tatap pun tidak sadar karena fokus pada makanannya. Aku baru sadar, dengan Deva, aku tidak memberi tahukan jati diriku yang sebenarnya kepadanya. Deva hanya mengetahui nama depanku saja. Bahkan Deva tidak tahu kalo keluargaku salah satu konglomerat, bahkan masuk jajaran salah satu orang berpunya
"Kalo traktir orang, sebaiknya lo yang pilih tempat dan menunya."- Adeeva Abriana Utama-***Deva POVAku di seret lagi oleh Fabian keluar dari restoran ini ketika aku sedang asyik asyiknya menikmati sunset. Fabian mengajakku ke parkiran dan tancap gas dari tempat ini, aku menyadari jika kini perjalananku dan Fabian menuju daerah Nusa Dua."Kita kok ke arah Nusa dua ya?" Tanyaku padanya ketika Fabian fokus menyetir mobil sport hijaunya."Iya, restorannya ada di daerah sana."Setelah itu aku diam. Tidak berminat basa basi padanya. Tapi Fabian sepertinya memang tipikal orang yang suka berbasa basi bila itu denganku, entah dengan orang lain bagaimana, karena aku tidak mengenalnya."Dev, lo kok diem aja sih, sakit gigi?""Nggak, cuma lagi mikir doang.""Mikir apa?" Tanyanya padaku.Asli si Fabian ini kepo pakai banget sih jadi cowok. Enggak ada keren-kerennya menurutku."Bukan urusan lo," Pungkasku karena aku malas berbasa basi dengannya."Lo kok kalo sama gue jutek banget sih, Dev, gue
"Yang terlihat oleh mata, terkadang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada."- Fabian Alaric Kawindra -***Fabian POVMimpi apa aku semalam hingga bertemu dan berkenalan dengan perempuan yang otaknya mikir negatif melulu seprti Deva. Yang saat ini sedang duduk dimobilku dengan bibir yang dimonyongkan, aku yakin aku bisa mengucir bibir Deva itu dengan karet gelang. Tapi sayangnya aku tidak akan tega menyakiti perempuan seimut Deva, aku tidak mungkin juga menambah rasa sakit hatinya akibat kejadian gagal nikahnya.Saat ini Deva menggunakan hotpants jeans, dengan atasan yang memperlihatkan lengannya, sungguh penampilan Deva laksana anak SMA yang mau kencan bareng gebetan. Padahal Deva sudah berumur 28 tahun lebih."Dev, Lo nanti mau nggak gue kenalin sama sugar mommy gue?" Tanyaku di tengah perjalanan kami menuju Pantai Seminyak."Nggak mau, nanti lo jadi gembel kalo gue kenalan sama sugar mommy lo."Aku tertawa mendengarnya. Entah kenapa sejak awal bertemu denganku Deva sama sekali jau
"Banyak hal yang kadang diluar dugaan apalagi perkiraan. Anggap saja itu sebagai Kejutan."- Adeeva Abriana Utama -***Deva POV"Dev, buruan turun, yuk? udah di tunggu Salma di bawah.""Males jalan gue, Nad. Mau di sini aja," kataku masih sambil tiduran di kasur memeluk bantal."Jauh-jauh ke Bali, masa cuma mau bikin peta dibantal. Buruan, yuk, ah.""Males gue, capek.""Ini kita pergi ngilangin capek, Dev. Lagian kalo lo disini sendirian, gue takut Lionel datengin lo.""Tapi gue beneran males.""Lo tau sendiri Salma gimana orangnya, daripada lo di seret sama dia, lebih baik lo ikut gue sekarang."Aku bangkit dari ranjang, berjalan ke kamar mandi, mematut penampilanku yang tidak terlalu tercela untuk seorang wanita yang barusan patah hati dan berniat bunuh diri.Mau aku sedandan apapun dibanding ke dua Sahabatku, wajahku adalah yang paling tidak pantas di make up dengan model dewasa. Alhasil dari dulu hanya cream pagi dan cream malam yang menjadi skincare rutinku."Gue mau gini aja,"
"Jika aku tidak bisa menjadi pemeran utama, ijinkan aku menjadi pemeran pendukung untuk kisahmu." - Fabian Alaric Kawindra -***Fabian POVSetelah acara ijab Qobul di langsungkan, para tamu dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Sebagai pasangan yang baik walau pura-pura, aku tetap mesra bersama Deva. Bahkan banyak orang yang percaya bahwa Deva secepat itu move on dari mantan pacarnya yang brengsek itu. Kami berjalan bersama, bahkan tangan Deva menggandeng lenganku, senyum bahagia selalu terpampang di wajahnya. Yang seketika akan menjadi tatapan membunuh kepadaku ketika tidak ada orang lain di sekitar kami. Untuk meyakinkan orang-orang, aku memperlakukan Deva bak wanita paling spesial di hidupku. Aku mengelus tangannya yang memeluk lengan kiriku dengan tangan kananku. Curi-curi kesempatan sedikit tidak ada masalahkan? Apalagi Deva imut banget kalo lagi marah dan luar biasa cantik ketika memaparkan senyum palsunya di hadapan para tamu undangan."Dev, Deva," panggil sebuah s
"Ketika engkau sanggup mencintai, jangan lupa untuk belajar patah hati."- Adeeva Abriana Utama -***Deva POVIde gila apa yang ada dikepala para sahabatku itu. Bisa bisanya mereka memintaku untuk menggandeng laki-laki asing yang aku temui bahkan belum ada 1 jam yang lalu. Lebih parahnya lagi aku harus berakting bahagia untuk pernikahan Lionel dan Sekar hari ini. Ngadi-adi pakai banget mereka. Mana ada perempuan yang bisa secepat kilat dapat pengganti pacarnya selama 15 tahun yang ia cintai dengan sepenuh hati, tapi kesalahanku juga kenapa aku sanggup mencintai tapi tidak mempersiapkan diri untuk patah hati. Seharusnya aku tidak menginvestasikan cintaku 100% pada Lionel, kalo tiba-tiba seperti saat ini. Woww... Hatiku porak poranda bagai pantai setelah arus tsunami menerjang. Kalo bukan karena kedua sahabatku yang setiap malam menemaniku bisa aku pastikan namaku saat ini sudah terukir di atas batu nisan kuburan. Karena satu-satunya sahabat laki-lakiku sibuk di rumah sakit dan itu mem







