LOGINSetelah sarapan usai, Jeandra dan Zelena sibuk membongkar koper oleh-oleh di ruang tengah, ditemani celoteh riang Aira. Inilah kesempatan Kavita. Ia melihat Nayaka membawa cangkir kotornya ke dapur. Meskipun ada ART, tapi Nayaka sudah terbiasa mandiri.Kavita segera berdiri, meninggalkan oatmeal-nya yang baru dimakan separuh, lalu menyusul ke belakang.Di dapur, Nayaka sedang berdiri membelakanginya, membilas cangkir di bawah kucuran air keran."Om," panggil Kavita sepelan mungkin.Gerakan tangan Nayaka terhenti beberapa detik, namun ia tidak memutar tubuhnya. Ia mematikan keran, lalu mengelap tangannya."Kenapa, Ta? Kalau mau sesuatu minta tolong Bibi," ucap Nayaka tanpa nada, suaranya sedatar aspal jalanan tadi malam."Aku nggak butuh apa-apa, cuma mau bicara sebentar," jawab Kavita cepat. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Aku mau tanya soal semalam."Nayaka akhirnya memutar tubuh mengarah pada Kavita. "Semalam apa? Kan, sudah jelas. Aku jemput kamu, ka
Nayaka masih diam, sedangkan Zelena menunggu jawaban laki-laki itu.Zelena sempat berpandangan dengan Jeandra atas reaksi Nayaka. Jeandra mengangkat bahunya sebagai tanda tidak tahu.“Naka,” panggil Zelena, mengingatkan bahwa dirinya butuh jawaban."Oh, itu..." Nayaka berdeham, berusaha menormalkan pita suaranya yang mendadak terasa kaku. Ia tetap menatap lurus pada aspal yang mengilap tertimpa lampu jalan. "Tadi aku sempat jemput Kavita ke kantornya. Dia ada lembur sampai malam. Jadi mungkin karena itu ada bau parfumnya.” Nayaka berharap jawabannya cukup logis untuk memuaskan rasa ingin tahu Zelena.Jeandra yang sedari tadi lebih banyak diam, kini membuka suara. Suaranya berat dan tenang, namun bagi Nayaka, setiap kata yang keluar dari mulut pria itu selalu memiliki bobot yang menekan. "Gimana kabar Kavita sama Aira selama kami di Jerman, Ka?”Nayaka telan salivanya. Bayangan Kavita yang menari liar di kelab malam dan ciuman panas di lampu merah tadi mendadak berputar di kepalanya.
Zelena melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah lebih dari tiga puluh menit dirinya dan Jeandra menunggu kedatangan Nayaka, tapi lelaki itu masih belum muncul juga. "Katanya on the way," Jeandra menggumam pelan. “Tahu begini mending suruh Pak Anton yang jemput,” sambungnya menyebut nama supirnya. Zelena memandang Jeandra yang duduk dengan tangan terlipat di dada. Suaminya itu tidak banyak bicara sejak tadi, tapi Zelena hafal betul cara rahang Jeandra mengatup seperti itu berarti kesabarannya sudah semakin tipis. "Sabar, Je,” Zelena mengusap lengan suaminya. Saat ini mereka sedang menanti di executive lounge. "Kamu nggak apa-apa? Capek?" Jeandra melirik perut Zelena, tatapannya menyimpan kekhawatiran yang tidak pernah benar-benar bisa ia sembunyikan. Ia tidak ingin istrinya merasa tidak nyaman sekecil apa pun itu, termasuk karena kelamaan menunggu. "Aman, Je, aku baik-baik aja." Zelena tersenyum tipis. Penerbangan first class Berlin-Jakarta memang panjang, tap
Rentetan suara klakson dari kendaraan di belakang mereka karena lampu hijau sudah menyala membuat keduanya terperanjat.Nayaka memutus ciuman dengan cepat. Ia menarik diri. Napasnya tidak teratur. Bibirnya masih terasa hangat dari bekas sentuhan Kavita, dan itu adalah masalah yang tidak boleh ia pikirkan lebih dari tiga detik.Ia menginjak gas.Kavita terdiam. Tangannya gemetar saat meraih sabuk pengaman dan mengenakannya kembali. Ia tidak berani melirik ke arah Nayaka. Tidak berani berbicara. Alkohol yang tadi terasa mengambang di kepalanya kini seperti diusir paksa oleh sesuatu yang jauh lebih memabukkan sekaligus membekukan, yaitu rasa malu yang menghantam dirinya.Kavita mengalihkan wajah ke jendela, menatap deretan lampu yang melesat, mencoba menjadikan cahaya-cahaya itu sebagai sesuatu yang bisa ia fokuskan agar tidak tenggelam dalam rasa malunya.Hanya saja Kavita tidak habis pikir. Kenapa Nayaka membalas ciumannya?Di balik kemudi, Nayaka tidak membiarkan dirinya berpikir. Itu
Nayaka melirik jam digital di dasbor.23.45.Hanya ada waktu sekitar dua jam sebelum pesawat yang membawa Jeandra dan Zelena menyentuh landasan bandara.Nayaka menghitung cepat dalam kepala. Tiga puluh menit lagi untuk sampai ke kelab, tiga puluh menit untuk mencari dan menyeret Kavita keluar, lalu satu jam untuk memacu mobil ke bandara. Waktunya sangat mepet, nyaris mustahil jika ia harus mengantar Kavita pulang ke rumah terlebih dahulu.Sesampainya di depan kelab malam yang penuh dengan lampu neon mencolok, Nayaka langsung turun. Nayaka mengabaikan sapaan ramah di lobi depan. Ia melewati detektor logam dengan langkah lebar, bahkan tidak sabar saat penjaga memintanya berhenti sejenak untuk diperiksa.Begitu pintu kedap suara kedua terbuka, dentuman musik, bau asap rokok, uap vape, dan alkohol yang tajam menyeruak. Cahaya lampu strobe yang berkedip cepat membuat laki-laki itu merasa sedikit pening, namun matanya dengan tajam menyapu setiap sudut ruangan.Di sebuah sofa VIP yang t
[Ka, aku dan Jeandra pulang ke Indonesia hari ini. Kalau semuanya lancar, kemungkinan tiba di sana jam 2 malam. Nggak usah kasih tahu Aira ya, Ka, Biar dia nggak nunggu.] Pesan itu dikirimkan Zelena pada Nayaka sebelum keberangkatan. Seluruh keluarga besar Jeandra melepas keberangkatan mereka dengan sedikit berat hati karena keduanya hanya sebentar di sana. Tapi setelah Jeandra mengatakan kemungkinan besar akan kembali lagi, senyum di wajah Oma Helga dan para tante baru benar-benar muncul kembali. Penerbangan panjang pun dimulai. Setelah melewati proses check in yang kilat, mereka kini sudah berada di dalam first class suite. Kabin tersebut hanya berisi 8 kursi, namun saat itu hanya terisi 4 orang, termasuk Zelena dan Jeandra. Setiap suite memiliki pintu geser setinggi 1,5 meter yang memberikan privasi mutlak seolah mereka berada di kamar hotel pribadi di atas awan. Kursi kulit yang sangat lebar itu bisa direbahkan 180 derajat menjadi tempat tidur full flat yang empuk. Zelena
“Lagi apa kamu di sini, Bi?” tanya Jeandra dengan suara rendah namun penuh tekanan. Ia tidak melepaskan tatapannya dari Abi.Abi tidak gentar. Ia justru menyunggingkan senyum tipis, sengaja memancing emosi Jeandra. “Aku lagi menemani Zelena yang hampir pingsan gara-gara ulah ‘romantis’ kamu, Je. Ka
Meski Zelena sudah terang-terangan menolaknya, tetapi Jeandra tidak patah arang. Ia percaya, batu karang yang kokoh sekalipun pasti lama-lama akan rapuh oleh tetesan air yang menyiramnya terus-menerus. Begitu juga dengan Zelena. Hatinya yang keras pasti akan luluh juga asalkan Jeandra tidak menyera
Videotron Zelena benar-benar viral dan tersebar dengan cepat di sosial media. Orang-orang terus membicarakannya. Gelombang viralitas itu seperti tsunami yang tak terbendung. Tagar #ZelenaJeandra dan #MaafkanJeandra mulai memuncaki tren, namun publik justru dibuat frustrasi karena ‘tembok’ yang me
Jeandra salah kalau menduga Zelena akan luluh oleh segala aksi romantisnya. Di saat rekan-rekannya membesuk Pak Dani, Zelena melipir mencari area tenang untuk menelepon Jeandra.Zelena berdiri di ujung koridor rumah sakit yang sepi, tangannya gemetar hebat menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-u







