ログインHari itu akhirnya tiba. Hari di mana Zelena akan menjalani persalinan. Jeandra terlihat tegang. Begitu pun dengan Zelena. Hanya saja ia tidak memperlihatkannya agar tidak menambah kecemasan suaminya. “Je, aku nggak apa-apa. Kamu jangan pucat gitu," ujar Zelena, mencoba mengulas senyum paling tenang yang ia miliki. Ia sengaja menyembunyikan rasa mulas. Bukan mulas kontraksi, melainkan mulas karena kecemasan yang luar biasa. Jeandra tidak menjawab. Yang dilakukan pria itu hanyalah mengusap perut Zelena yang saat ini sedang berbaring di brankar. Siap untuk dibawa ke ruang operasi. Suami mana memangnya yang tidak akan cemas memikirkan kondisi istrinya jika seperti Zelena? Apalagi ini adalah anak pertama mereka. Rosalia pun tak kalah tegang. Setelah semua yang terjadi pada Maura, Zelena adalah satu-satunya tumpuan harapan Rosalia. "Zelena, dengar Mama baik-baik. Mama tahu kita punya masa lalu yang tidak mudah. Tapi Mama sebenarnya sayang sama kamu. Sekali lagi Mama minta maaf atas s
Dua hari sebelum jadwal persalinannya, Zelena sudah berada di LMU Klinikum. Profesor Muller bersikeras agar Zelena masuk dua hari lebih awal untuk menjalani observasi total. Mengingat riwayat kesehatannya, Profesor Muller tidak mau mengambil risiko jika Zelena tiba-tiba mengalami kontraksi di hotel. Zelena berbaring di tempat tidur rumah sakit yang canggih. Perutnya yang besar kini dipasangi sabuk elastis dari mesin Cardiotocography. Suara detak jantung bayi yang cepat dan ritmis memenuhi ruangan, menjadi satu-satunya musik yang menenangkan bagi Jeandra yang duduk di kursi samping tempat tidur. “Je, kamu kalau mau ke luar nggak apa-apa kok. Lagian baby kita launching masih dua hari lagi,” ujar Zelena yang kasihan pada Jeandra. Suaminya itu sudah mendedikasikan diri pada Zelena, menghabiskan seluruh waktunya untuk Zelena sampai-sampai mengabaikan kesenangannya sendiri. “Aku mau ke luar ke mana, Sayang?” balas Jeandra. “Ke mana aja. Kamu nggak usah cemas. Ada Mama yang jaga aku d
Hari-hari persalinan Zelena semakin dekat. Zelena mengisi waktu dengan hal-hal kecil tapi penuh makna. Mengingat kondisinya, ia tidak diperbolehkan melakukan aktivitas fisik yang berat, sehingga hari-harinya diisi dengan persiapan mental dan momen-momen yang intim bersama Jeandra.Pagi itu Jeandra bangun lebih dulu. Di sebelahnya Zelena tampak seperti dewi musim dingin yang sedang beristirahat. Rambutnya tersebar di atas bantal, dan napasnya terdengar teratur meski sesekali ia mengernyit kecil saat beban di perutnya terasa menekan. Di usia kehamilan tiga puluh lima minggu, perut Zelena membuncit sempurna. Jeandra menyibak selimut yang menutupi perut istrinya pelan-pelan. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke permukaan perut yang hangat itu. Dengan penuh kelembutanJeandra mendaratkan kecupan lembut di sana."Selamat pagi, kesayangan Papa," sapanya pelan.Seolah mendengar sapaan sang ayah, terjadi gerakan mendadak dari dalam sana. Sebuah tonjolan kecil muncul di sisi kiri perut Zel
Setelah tiga hari berada di Berlin, Zelena dan Jeandra bertolak ke Munchen. Perjalanan dari Berlin menuju Munchen sejauh hampir 600 kilometer menjadi ujian fisik tersendiri bagi Zelena. Meski Jeandra telah memesan kompartemen privat kelas satu di kereta cepat ICE agar Zelena bisa meluruskan kaki, kehamilan yang memasuki usia tiga puluh dua minggu tetap membawa beban yang berat. Setiap getaran halus roda kereta yang beradu dengan rel terasa berlipat ganda di pinggang bagian bawah Zelena. Ia menyandarkan punggungnya ke bantal ortopedi yang dibawa Jeandra dari Indonesia, namun rasa pegal tetap merambat, seolah saraf-saraf di tulang ekornya sedang berteriak. Sebenarnya Zelena bisa naik pesawat, dan penerbangannya sangat singkat. Hanya sekitar 1 jam 10 menit. Namun, bagi Zelena yang sedang hamil di minggu-minggu terakhir, dengan riwayat jaringan parut di rahim, pilihan naik pesawat untuk jarak pendek seperti Berlin-Munchen sering kali harus dihindari karena beberapa alasan krusial sepe
Zelena tidak pernah berencana melakukan maternity photoshoot.Ide itu datang dari Kavita. Pagi itu mereka sedang sarapan. Zelena sedang mengeluh betapa susahnya menemukan posisi duduk yang nyaman. Dan Kavita dengan roti dan selai di tangannya tiba-tiba mengatakan, "Kak, bikin maternity photoshoot gitu yuk? Kapan lagi perutnya sebesar ini?”“Terus fotografernya gimana, Ta? Mana bisa dadakan.”“Tenang aja, Kak. Aku bisa kok.”Jeandra langsung setuju sebelum Zelena sempat menolak.Jadilah mereka bertiga, Zelena, Jeandra, dan Kavita keluar di pagi hari Berlin yang dingin, menuju dua lokasi yang Kavita sudah riset dari malam sebelumnya.Mereka tiba pukul sembilan pagi, tepat saat kabut tipis Berlin belum sepenuhnya pergi.Istana Charlottenburg berdiri di depan mereka dengan tenang. Bangunan Baroque abad ke-17 yang warna putih kremnya memudar cantik di bawah langit November yang kelabu. Pohon-pohon di taman depannya sudah gundul, ranting-rantingnya hitam dan telanjang membentuk siluet yang
Suara Kavita yang muncul tiba-tiba dari layar membuat Aira langsung menjerit kegirangan."Tante Kavita! Tante ada di sana juga?""Ada dong. Tante sengaja ke sini buat nunggu Mama.” Kavita mendekat pada Zelena, wajahnya mengisi separuh layar di sebelah Zelena. Pipinya lebih tirus dari yang Nayaka ingat. Rambutnya sedikit lebih panjang. Ia tersenyum ke arah kamera. Ke arah Aira. Bukan pada Nayaka. Dan ia sama sekali tidak terkejut mengetahui ada Nayaka di layar."Tante, kapan balik ke Indonesia? Aku kangen.""Hmm." Kavita menggoda, telunjuknya mengetuk dagu pura-pura berpikir. "Belum tahu. Tante masih sibuk di London.""Ih, lama banget.""Kan, udah ada Om Nayaka, jadi Aira nggak kesepian lagi."Kalimat itu keluar ringan, natural, seperti tidak bermakna apa-apa.Di Indonesia, di ruang keluarga yang remang karena hanya dinyalakan satu lampu, Nayaka tidak bergerak. Ia duduk sedikit di belakang Aira. Cukup masuk ke frame tapi tidak cukup dekat untuk menjadi fokus kamera. Posisi yang aman. P
Satu tahun kemudian ... Tidak mudah bagi Zelena bekerja di Sea Architects. Ini bukan perkara pekerjaannya, melainkan rekan kerjanya yang tidak suka padanya. Siapa lagi kalau bukan Sandra dan gengnya. Kebencian perempuan itu sudah berada di titik yang mengkhawatirkan hanya karena Zelena dekat den
Acara terus berlanjut dan Jeandra masih berada di tempat itu. Walau raganya duduk di kursi, tapi jiwanya tidak di sana. Pikirannya mengelana ke mana-mana. Lebih tepatnya pada masa lalu.Jeandra tidak habis pikir pada perubahan Zelena yang begitu drastis. Bagaimana bisa dia berubah secepat itu?Dan
Kantor hari ini cukup sepi. Hanya beberapa orang yang hadir. Nayaka, Yuri serta Bayu sudah memulai cuti tahunan mereka. Meski begitu mereka belum pergi liburan ke mana-mana karena menunggu Zelena dulu.Ironisnya, hari ini justru terasa lebih panjang.Zelena hanya bertiga di ruangan bersama Sandra d
Mobil Nayaka melaju meninggalkan area Mutiara Mall. Suasana di dalam mobil jauh lebih tenang dibanding hiruk-pikuk acara tadi.Zelena menyandarkan punggung, melepas heels-nya sedikit, melepaskan napas panjang.“Capek?” tanya Nayaka sambil melirik sekilas lalu fokus ke jalan.“Lumayan,” jawab Zelena







