تسجيل الدخول"Daisy..."
"Kalau saja waktu itu… aku tak gagal melindungimu."Adrian memejamkan mata. Dan seketika… bayangan hari saat Daisy meninggalkannya kembali memenuhi ingatannya.***Ingatannya kembali saat Adrian West yang baru berusia sembilan belas tahun, ia berdiri di tepi sebuah bukit kecil yang menghadap laut. Angin pagi berhembus lembut, membawa aroma asin khas pesisir. Matahari bahkan belum sepenuhnya muncul dari balik cakrawala.Di tangannya tergenggam“...”Nathan masih mematung menatap pemuda di hadapannya.Loraine yang sejak tadi memperhatikan reaksinya akhirnya ikut menatap pemuda tersebut. Ia mengerutkan dahi, mencoba mengingat wajah yang sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya.“Darren?”Pemuda itu yang masih berdiri di hadapan Nathan langsung menoleh kepada Loraine. Ia menyipitkan matanya sejenak. Tatapannya terlihat seperti sedang berusaha mengingat sesuatu dari masa lalu.Beberapa detik kemudian, matanya melebar.“...Kak Loraine?” Wajahnya langsung berubah cerah.“Kak Loraine!” Darren tersenyum lebar. Ia bahkan terlihat jauh lebih bersemangat daripada sebelumnya. “Kemana saja Kakak selama ini?”Loraine ikut tersenyum. “Darren... sudah lama sekali.”Namun sebelum Loraine sempat mengatakan lebih banyak, Darren tiba-tiba menoleh ke arah bawah pohon besar yang berada tidak jauh dari mereka. “Aurora!”Seorang gadis muda terlihat duduk di ba
“Apa ada orang terdekat yang akan kau undang saat pesta pernikahan kita nanti? Mengingat itu hari bahagia kita.”Pertanyaan Nathan membuat Loraine terdiam.Ia sebenarnya sudah memikirkan hal itu beberapa kali sejak mereka memutuskan untuk tetap melangsungkan pesta pernikahan. Namun setiap kali memikirkannya, ada satu nama yang selalu muncul di kepalanya.Hanya saja, entah kenapa menyebut nama itu terasa sulit.“Kenapa diam?” tanya Nathan.Loraine memainkan ujung tisu di tangannya. “Ada... satu orang.”Nathan mengangguk. “Siapa?”Loraine membuka mulut, tetapi tidak langsung menjawab. Namun setelah beberapa detik, Loraine kembali terdiam.Nathan tidak mendesaknya. Ia hanya menatap Loraine dengan tenang, menunggu wanita itu melanjutkan.“Namanya...” Loraine berpikir sejenak. “Bibi Martha Hart.”Nathan mengangguk kecil.“Beliau pemilik panti asuhan tempat saya dulu dibesarkan.” Loraine men
“Kalau begitu...” ucap Nathan. Loraine menatapnya.Nathan mengangkat alis. “Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan itu membuat pikiran Loraine yang sebelumnya sudah mulai tenang kembali berantakan.“Pesta pernikahan,” pikirnya. “Benar. Kami baru saja membicarakan berakhirnya kontrak, lalu Pak Nathan mengungkapkan perasaannya, dan sekarang bagaimana dengan pesta pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi?” batinnya sangat bergejolak. Loraine menundukkan wajah.“Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan Nathan kembali terngiang di kepalanya. Sejujurnya, Loraine sendiri tidak tahu.“Kalau menurut saya...” Loraine berhenti sejenak. “Saya akan mengikuti keputusan Anda.”Nathan mengerutkan dahi. “Mengikuti keputusanku?”Loraine mengangguk pelan.“Ya. Bagaimanapun, pesta ini awalnya diadakan karena kontrak kita.” Loraine memainkan ujung tisu di tangannya. “Jadi setelah kontraknya berakhir, saya pikir keputusan selanjutnya ada di tangan Anda.”Nathan menatapnya bebe
“Loraine, jangan menangis seperti itu. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.” Suara Nathan terdengar panik.Loraine masih menunduk. Tangannya menggenggam tisu yang diberikan Nathan, sementara air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan.Ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya menangis sebanyak ini. Padahal Nathan tidak mengatakan sesuatu yang menyakitkan, justru sebaliknya.Untuk pertama kalinya, pria itu mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Nathan mencintainya. Kalimat sederhana itu terus berputar di kepala Loraine. “Aku mencintaimu, Loraine.”Entah kenapa, mendengarnya langsung dari mulut Nathan membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat. Selama beberapa waktu terakhir, Loraine memang mulai menyadari bahwa sikap Nathan kepadanya telah berubah.Perhatian kecil yang semakin sering diberikan. Cara Nathan selalu memastikan dirinya sudah makan lalu cara pria itu memperhatikannya ketika mereka sedang berada di rumah. Ba
“Apa yang ingin Anda sampaikan?” tanya Loraine. Nathan terdiam, pertanyaan sederhana itu justru membuat seluruh keberanian yang sudah dikumpulkannya sejak tadi terasa menghilang.Ia menatap Loraine yang masih duduk di hadapannya. Wanita itu terlihat tegang. Kedua tangannya masih berada di atas pangkuan, sementara matanya menatap Nathan dengan penuh rasa penasaran.Nathan menarik napas panjang, ia sudah sampai sejauh ini. Kontrak mereka sudah berakhir. Tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikan perasaannya di balik kesepakatan. Jika ia ingin mempertahankan wanita itu, sekarang adalah satu-satunya kesempatan untuk mengatakannya.“Ada sesuatu yang sebenarnya sudah cukup lama ingin kukatakan,” kata Nathan. Loraine menunggu.Nathan menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Mungkin ini akan terdengar egois.”Loraine sedikit mengerutkan dahi. “Egois?” ulangnya. Nathan mengangguk pelan. “Karena setelah kontrak ini berakhir, seharusnya aku membiarkanmu pergi.”Jantung Loraine be
“Mengakhiri kontrak?”Nathan masih terdiam, kalimat Loraine terus berputar di kepalanya. Ia menatap wanita di hadapannya tanpa berkata apa-apa. Untuk beberapa detik, pikirannya benar-benar kosong.Lalu berbagai kemungkinan mulai bermunculan.Jika ia menyetujui permintaan Loraine, semuanya akan selesai. Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk tinggal bersama. Loraine bisa kembali menjalani hidupnya sendiri.“Lalu, bagaimana dengan diriku?” tanya Nathan dalam hati.Ia menundukkan wajahnya. “Tapi jika aku menolak? Aku membutuhkan alasan,” lanjutnya dalam hati.Ia ingin mengakui bahwa dirinya tidak ingin kontrak itu berakhir. Dan itu berarti harus mengakui perasaan yang bahkan sampai sekarang masih dipendamnya itu.Nathan mengepalkan tangannya di bawah meja.“Aku setuju,” suara dalam pikirannya berkata demikian. “Kalau memang dia ingin pergi, lepaskan.” Namun suaranya yang lain segera menyela. “Tidak.” Nathan menarik napas panjang. “Kalau aku mengatakan tidak, lalu apa yang akan kukataka







