로그인Zaidan tidak bisa marah. Dia melepaskan pelukannya dan berkata lembut, "Pergi ke kamar dan jalan dengan hati-hati. Jangan sampai kamu tersandung."Gadis itu tidak menghiraukan peringatan kakaknya dan masuk ke dalam sambil berlari. Zaidan hanya bisa menghela nafas karena adiknya sangat sulit diatur. Sedangkan Danis, dia tercengang melihat sikap Zaidan yang tidak berubah. Pria itu benar-benar pintar memperlakukan wanita. Pantas, banyak wanita yang memujanya.Saat Zaidan menarik tatapannya dari adiknya yang sedang menaiki tangga, dia menoleh menatap sahabatnya. Ekspresi Zaidan langsung masam saat melihat tatapan julid Danis."Kenapa melihatku seperti itu?"Danis menjawab dengan sinis, "Cih!! Aku sekarang tahu kenapa kamu mendapatkan gelar 'Buaya Darat kelas kakap."Zaidan tersipu, dia mengangkat kedua alisnya dengan bangga. Pria itu merangkul bahu Danis dan berbisik, "Singkirkan ekspresimu yang menyebalkan itu! Jika ingin dapat restu.""Memangnya aku perduli!""Huh! Dasar!"Danis menyin
Danis memekik, "Akkkhhh! Gadis sinting!" Karena pembatas mobil sudah diturunkan, Robi dan sopir tidak tahu apa yang terjadi di balik pembatas itu. Jambakan Zahira memang sakit dan pedih. Tapi kekuatan Danis jauh lebih besar. Dengan geram, Danis menarik kedua tangan Zahira yang penuh dengan rambutnya. Dan dengan satu gerakan, posisi dan keadaan mereka sudah berbalik. Danis menindih gadis itu, tubuhnya yang besar menutupi tubuh kecil Zahira. Zahira yang terhimpit di kursi langsung panik dan sesak nafas, "Akhhh! Berat sekali! Kakak mau apa?"Danis tersenyum miring, ekspresinya sangat mengerikan. "Apa lagi? Tentu saja mendidikmu!"Pria itu menarik dasinya dengan kuat, tatapannya terlihat lapar. Zahira menelan ludah sambil menggelengkan kepalanya, "Aku nggak mau di unboxing!"Danis mengabaikan ocehan gadis itu. Dia menarik kedua tangan gadis yang sedang histeris dan mulai mengikatnya dengan dasi. Danis menggunakan simpul khusus. Semakin Zahira bergerak, ikatannya semakin kuat.Zahira me
Emran tersentak. Sorot mata Emran goyah, saat melihat Zahira yang berdiri menatapnya dengan kecewa. Dengan malu dia berkata, "Aku tidak bermaksud begitu. Ra ... Kakak bisa jelaskan."Zahira tersenyum getir, "Aku tidak menyangka, kamu ternyata tega sekali."Emran mengusap wajahnya dengan kasar dan mulai kehilangan kendali. Pria itu berteriak seperti orang gila, "Aku tidak seperti itu! Aku tidak egois ataupun kejam! Ini semua gara-gara kamu Danis! Kamu yang sudah mencuci otak Zahira agar dia membenciku! Sialan! Aku akan membunuhmu!"Emran yang sudah seperti kesurupan langsung menerjang Danis dan melayangkan sebuah pukulan di wajahnya.Bug!Danis terhuyung, wajahnya tertoleh. Zahira menangkap tubuh Danis, saking beratnya dia hampir ikut terjatuh.Melihat darah segar mengalir dari sudut bibir Danis, Zahira merasa sakit hati. Gadis itu merasa Emran sudah keterlaluan. Dia langsung berjalan maju untuk menghardik pria itu. Dia langsung berteriak tepat di depan wajahnya."Emran, cukup! Kamu s
"Cukup! Berhenti sampai di sini, Emran!" gadis itu menarik kembali tangannya dengan sekuat tenaga. Tapi tetap saja, pria itu tidak mau mengalah. Emran meremas tangan gadis itu hingga otot tangannya menegang. Biarpun wajahnya terlihat khawatir, tapi sikapnya sangatlah kejam. "Aku peduli padamu! Aku satu-satu orang yang peduli padamu!" ujarnya. Zahira meringis, matanya memerah dan berair. Sekujur tubuhnya merinding karena rasa sakit di tangannya. Sepuluh jari jemarinya rasanya akan remuk. Hingga seseorang berteriak dengan lantang, "Lepaskan pacarku!" Zahira tersentak, wajahnya semakin pucat, tenggorokannya terasa kering. Dia telah ketahuan berbohong. Emran melirik ke sumber suara, matanya langsung menggelap. Seorang pria dengan setelan baju mahal, rapi dan terlihat elegan berjalan mendekat dengan langkahnya yang panjang. Melihat Emran menggenggam kedua tangan gadisnya, dia pun menyipit. "Lepaskan!" suara Danis terdengar berat dan dominan. Emran melepaskan genggamannya bukan karena t
Danis menunduk menatap kopi yang tinggal setengah dan masih mengepul. Dia sebenarnya ingin sekali membahas soal pertunangan. Tapi Zahira sudah bangun dari kursinya dan berkata, "Aku masuk ke kamar dulu. Sebelum pergi, habiskan dulu kopinya."Suaranya tidak dingin tapi juga tidak hangat. Datar!Sambil meregangkan pinggangnya, Zahira masuk ke dalam kamar. Gadis itu berdiri di balik pintu dengan dahi berkerut.Sorot mata Danis menggelap, dia marah dan kecewa. Walaupun dia kehilangan sebagian ingatannya. Tapi dia sangat yakin bahwa seumur hidupnya, dia pasti tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh seorang wanita.Buktinya, banyak wanita yang mengaku mengenal dan bahkan mengaku menjadi pacarnya setelah keadaannya yang amnesia bocor keluar. Setelah dia sadar dari koma, tersebar rumor bahwa dia kehilangan ingatan. Untungnya rumor itu sudah dibersihkan.Pria itu bangkit dan mengangkat cangkirnya dan cangkir Zahira dan mencucinya. Setidaknya, saat gadis kejam itu bangun, dia tidak perlu me
Emran hanya berbalik tanpa mengucapkan apa-apa. Sedangkan Talitha, dia hanya tersenyum getir. Karena tujuan Talitha sebenarnya bukan untuk menemui Emran, gadis itu berjalan menuju toilet sambil mengirim pesan.[Aku di toilet.]Tidak lama kemudian, pesan balasan itu datang.Ting![Ya.]Talitha tersenyum, dia masuk ke dalam toliet dan menaruh papan peringatan di depan toilet agar tidak ada yang masuk kecuali orang yang dia tunggu. Gadis itu bersandar di wastafel sambil menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dengan hidmat.Klekk!Seorang wanita memakai pakaian seragam suster masuk mendekat dan menyapa, "Selamat pagi, Nona Talitha."Talitha tidak menjawab, dia hanya sibuk menghisap rokoknya. Asap keabuan itu mengepul menutupi ekspresi wajahnya. Hingga perlahan asap itu memudar, wajah yang selalu tampak hangat dan lembut itu terlihat dingin. Talitha mengambil amplop coklat di dalam tasnya dan melemparnya tanpa aba-aba.Bela menangkap amplop yang cukup tebal itu. Wanita itu membukanya t
"Ya! Lagian perawat itu kekasihku. Dia hanya sedang merajuk." Emran kembali menegakkan punggungnya, kedua tangannya terlipat di dada dan mengangkat wajahnya dengan bangga. Revan mendengkus dan membuang muka. Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka,. Zahira datang sambil membawa nampan yang ber
Ucapan Zahira begitu lembut dan sopan, namun setiap katanya mengandung duri yang tajam. Wulan membeku di tempat, wajah ramahnya hilang tak berjejak. Namun sekali lagi, dia menahan diri demi status dan kemewahan. Wulan meraih gelas minumnya dan meneguknya hingga tandas. Wulan mengelap bibirnya den
Pertanyaan itu cukup membuat Zahira termangu beberapa detik, "Maksudnya?"Wulan mengerutkan bibirnya dan wajahnya berubah murung lalu berkata dengan nada sedih, "Ehhh ... Talitha sangat sibuk, dia tidak pernah di rumah dan tidak pernah mengurus putraku. Jika di rumah dia hanya malas-malasan."Wulan
Karena terlalu hanyut dalam suasana, Danis dan Zahira tidak mendengar ketukan pintu. Mereka masih tenggelam dalam perasaan yang menggebu-gebu.Setelah beberapa ketukan tidak ada respon, Zaidan pun menjadi panik. Dia takut hal buruk terjadi pada adik kesayangannya. Zaidan pun membuat ancang-ancang d







